
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 10. Saat itu juga Dayana melihat Anabela yang berdiri lalu masuk ke dalam lift untuk sama-sama ke lantai bawah.
"Kau sudah mengunjungi Mr. Reeves?" tanya Dayana dalam rangka menghilangkan keheningan di antara mereka berdua.
"Iya. Aku sudah memasak untuknya. Dia jarang sekali makan, makannya tubuhnya sekarang terlihat agak kurus."
"Kau sangat peduli padanya," gumam Dayana. "Ana, apa kau punya perasaan lebih pada Mr. Reeves?"
"Kenapa kau menanyakan itu tiba-tiba?" Anabela terkekeh kecil. "Aku masih menganggapnya adikku. Dia adik dari mendiang suamiku."
Kepala Dayana menggeleng. "Aku tak yakin kau menganggapnya seperti seorang adik. Kepedulianmu berbeda, Ana. Kau mengurus Mr. Reeves seperti mengurus orang terkasih. Kau tahu? Mr. Reeves bahkan rela belanja banyak barang untuk menghias apartemennya agar kau betah ada di sana dan tidak mengomelinya lagi karena terasa kosong."
"Apa dia memberitahumu?" Anabela meringis membayangkan dirinya yang memang selalu mengomel dan mengeluh jika apartemen Sebastian kosong tak bernyawa.
"Dia sangat peduli padamu. Pada perasaanmu. Kau pun sama. Kalian berdua sama-sama saling peduli tapi masih terbayang sosok lain yang mungkin membuatmu trauma untuk membuka hati pada seseorang. Tapi tidak kah kau berpikir kalau Sebastian sangat serius padamu melihatnya bertahan di sisimu sampai sekarang?"
Anabela masih diam mendengarkan penjelasan Dayana.
"Dia bahkan rela pindah kemari hanya untuk mengejarmu. Apa kau tidak peduli akan hal itu? Dia sangat ingin berada di dekatmu, Ana."
"Dia hanya... terlalu khawatir dan takut aku kenapa-kenapa, Dayana."
"Itu poinnya." Dayana menghembuskan nafas lelah. "Memendam perasaan itu tidak enak, Ana. Kau akan merasa gelisah di setiap kegiatanmu ketika memikirkannya. Kau merasakan hal itu, kan?"
Anabela menelan ludah. Dia memang selalu memikirkan Sebastian, apalagi kepedulian lelaki itu tak hentinya membuat Anabela luluh jika saja tak diperingatkan dengan sosok Jonathan.
"Adik kakak bukan berarti mereka sama. Sebastian orang yang baik dilihat dari caranya memperlakukanmu."
"Tapi pada awalnya Jonathan juga lelaki yang baik. Dan lihat akhirnya?" Anabela tersenyum miris ketika membayangkan setiap perlakuan kasar dan toxic Jonathan ketika masih hidup.
"Oh, Ana. Apa kau tidak melihat perbedaan keduanya? Kau yang paling tahu mereka berdua."
Dayana menepuk bahu Anabela sehingga kepalanya menoleh. Dia memberikan senyum penuh semangat pada Anabela, mendorongnya untuk melakukan apapun yang perasaannya inginkan.
"Kau tidak ingin kehilangannya, kan?" tanya Dayana bersamaan dengan pintu lift terbuka.
Anabela tak mau membalas dan berjalan keluar dari lift, tapi kakinya terasa berat dan ragu.
"Jangan menundanya terlalu lama. Kau akan lebih sakit jika melihatnya bersama wanita lain seperti saat kau melihatku dengannya," lontar Dayana hingga akhirnya pintu lift tertutup.
__ADS_1
Anabela terdiam, bimbang dengan perasaannya sendiri. Setelah lama berpikir, ia kembali pergi ke lift satunya lagi yang bergerak ke atas. Dirinya berhenti di lantai 10, berjalan menyusuri lorong ke unit Sebastian.
Ding! Dong!
Sebastian yang hanya duduk sendirian tanpa menyantap makanan buatan Anabela pun beranjak membukakan pintu.
"Ana, apa ada barangmu yang--"
Anabela langsung berjinjit melingkarkan tangan di leher Sebastian lalu mencium bibirnya. Sebastian yang awalnya diam karena terkejut, kini bergerak membalas ciuman itu dengan tangan memeluk erat tubuh Anabela seakan tak mau lepas.
"Apa yang terjadi?" tanya Sebastian seraya menempelkan keningnya pada Anabela dengan nafas terengah mereka berdua saling bersahutan.
Anabela mengulum bibir bawahnya sambil mengelus rahang tegas Sebastian.
"Aku hanya tidak ingin membuang waktu," sahut Anabela.
Sebastian tersenyum lalu kembali memagut bibir Anabela dengan dalam seakan begitu menginginkannya. Perasaan ini yang terus Sebastian nantikan dari dulu. Diterima menjadi seseorang oleh Anabela yang bisa membuatnya punya alasan untuk terus berada di sisi dan melindunginya.
Di sisi lain, Arturo muncul di depan Rebecca yang sedang merias diri di ruang make up. Beberapa karyawan yang ada di sana pun keluar atas perintah Rebecca agar membiarkannya berdua bersama Arturo.
"Art, kau kemari untuk melihatku?" tanyanya berbinar senang.
"Kau... menikah dengan Dayana?"
"Aku akan menikahinya lagi dengan benar. Kau bisa datang jika mau."
"Bagaimana dengan kita, Art? Apa kau tak mencintaiku lagi?" tanya Rebecca menghentikan langkah Arturo yang hendak menggapai pintu.
"Dari awal memang tidak ada kita, hanya ada kau. Aku tak memiliki perasaan apapun, Rebecca. Aku sudah melepaskanmu saat itu, begitu pun dirimu. Sekarang aku bersama Dayana. Kuharap kau bisa menerimanya dengan baik."
Rebecca menitikan air mata memandangi hilangnya sosok Arturo dari balik pintu yang tertutup, meninggalkannya sendiri dengan keheningan dan kecewa di dalam sana.
...----------------...
Hari bahagia pun tiba.
Semua tamu undangan telah duduk di kursinya masing-masing, antusias menyambut sebuah pernikahan yang begitu sakral dan penuh cinta.
Terlihat Arturo yang sedang berdiri di atas altar, dibantu oleh Olivia yang sedang mengatur pakaiannya agar terlihat lebih rapi lagi.
"Kau kelihatan tegang," kata Olivia yang menggoda kakaknya itu.
__ADS_1
Arturo berdeham mengatur tenggorokan ketika Olivia sedang mengatur dasi kupu-kupu di lehernya.
"Entah kenapa ini lebih menegangkan," gumamnya.
Olivia melirik Arturo dengan senyuman kecil. "Kau terlihat tak sabar melihatnya. Kau sangat mencintainya, Art."
"Tidak perlu dibicarakan lagi," kata Arturo lalu berdiri tegak, bersiap menyambut kedatangan Dayana masuk dari pintu sana.
"MEMPELAI WANITA SUDAH SIAP!" teriak seorang lelaki yang menbuat semua tamu menoleh ke belakang, ke arah pintu yang mulai terbuka lebar.
Ujung gaun panjang terseret di lantai mengiringi setiap langkah. Di sebelah wanita bergaun pengantin dengan penutup kepala itu, ada Benjamin yang senantiasa menuntun putrinya untuk diberikan pada Arturo.
Dada Arturo berdebar begitu kencang, apalagi wanita di depannya sudah dalam jarak dekat. Disambutnya sebelah tangan untuk membantu wanita itu agar berada di depannya dalam keadaan saling menggenggam tangan. Benjamin menatap Arturo dan Dayana selama beberapa saat sebelum ia memilih untuk kembali ke kursinya.
Wedding Vow pun dimulai. Arturo tak bisa mengalihkan tatapan dari Dayana yang masih memakai penutup wajah, seperti saat mereka bertemu. Lelaki itu mulai mengambil nafas dalam-dalam untuk mengucapkan janjinya.
"Aku Arturo Camucho, mengambilmu Dayana Harvey, sebagai istriku. There are a million reasons why I love you. Kau membuatku tertawa, kau sangat mempedulikanku ketika aku sakit, kau memberiku pelukan menenangkan sebagai obat untuk sakitku, you're sweet, caring, dan kau suka duduk di pangkuanku seperti anak kecil. Aku suka semua yang ada padamu. Aku suka saat kau tersenyum, mengedipkan mata, marah, merayu, merengek, manja... Aku mencintai apa yang ada padamu. Tapi alasan sebenarnya aku mencintaimu karena kau adalah Dayana Harvey, wanita yang kunikahi untuk kedua kalinya. Dayana Harvey, wanita yang selalu membuatku takut akan kehilangan dan mulai merasakan betapa berharganya mempertahankan cinta. I love you."
Semua orang yang ada di sana mulai terharu dengan janji tersebut. Di bangku paling belakang sana, terlihat Rebecca yang duduk sendirian menahan sedih dan kesal karena kini Arturo benar-benar bukan miliknya lagi.
"Aku, Dayana Harvey... Mengambilmu, Arturo Camucho, sebagai suamiku. Kau adalah orang yang kutunggu sepanjang hidupku, dan aku sangat bangga bisa berdiri di sini, di depan teman dan keluarga kita, untuk memastikan mereka tahu betapa beruntungnya aku menemukanmu, dan betapa aku mencintaimu. Dari jutaan lelaki di dunia ini, hanya kau yang membuatku tak pernah merasa bosan, melakukan beberapa hal untuk pertama kalinya, membuatku ingin terus memeluk dan tetap tinggal, membuatku merasakan dekapan hangat penuh cinta, kepedulian, dan memberikan semua yang kuinginkan tanpa pikir panjang. Kau merubah pemikiranku tentang cinta dan merubahku menjadi wanita yang baik. Aku mencintaimu yang selalu mengatakan bahwa kau mencintaiku, menginginkanku. I love you, Arturo Camucho," tutur Dayana.
Janji pernikahan selesai diucapkan. Arturo mulai mengangkat penutup wajahnya ke belakang sehingga wajah cantik dan menawan Dayana bisa terlihat begitu jelas.
Bibirnya tersenyum secantik wajahnya, menunjukkan deretan giginya yang rapi dengan pipi bersemu merah.
Arturo mendaratkan sebelah tangannya di pinggang Dayana dan sebelah lagi di lehernya.
"I love you," ungkap Arturo berbisik.
Dayana memajukan wajahnya. "I love you."
Mereka berdua pun saling berciuman di depan semua tamu undangan yang kini bertepuk tangan setelah melihat acara yang begitu penuh haru dan cinta antara Dayana dengan Arturo.
Ciuman lembut keduanya terlepas. Arturo mengecup kening Dayana sebelum akhirnya mereka berdua menghadap ke depan, menerima tatapan cinta dari semua tamu yang hadir.
Kebahagiaan itu tak bisa disembunyikan sama sekali. Dayana menoleh ke arah Arturo seraya merangkul lengannya lembut.
"Welcome back, Mr. Camucho," kata Dayana nyengir.
Arturo memiringkan wajah memberi kecupan singkat di bibirnya. "Welcome back, Mrs. Camucho."
__ADS_1