
Keesokan harinya di pagi yang cerah.
Dayana sudah terbangun duluan dan menyadari jika saat ini kepalanya tengah terbaring di lengan kekar Arturo. Dia bahkan memeluk tubuh telanjang lelaki itu yang membuat kulit mereka berdua saling bersentuhan.
Mengingat betapa panasnya mereka semalam membuat pipi Dayana menciptakan semburat merah. Dia tak pernah merasa semalu dan sejijik ini setelah tidur dengan lelaki.
"Aku menjijikan sudah tidur dengan kekasih kakakku sendiri," gumam Dayana begitu menyesali perbuatannya hanya karena tergoda.
Bagaimana jika Rebecca tahu?
Dayana tak bisa membayangkan amukan yang akan Rebecca berikan padanya. Apalagi mengingat Rebecca yang bilang masih menginginkan Arturo dan akan kembali padanya nanti.
"Good morning," sapa Arturo dengan suara berat nan seraknya khas bangun tidur yang membuat Dayana menelan ludah.
"K-kau sudah bangun?" Dayana tergagap tanpa berani menatap Arturo yang kini mengelus lengannya lembut dengan tangan yang Dayana jadikan bantalan kepalanya.
"Untuk seukuran merasa jijik, kau semalam tak terlihat ingin meludahiku," goda Arturo.
"Shut up! Aku hanya terbawa suasana karena kau tiba-tiba menciumku. Aku tak ingin Rebecca tahu ini. Dia akan marah besar padaku kalau tahu kau tidur denganku," ujar Dayana mendongak dengan tatapan tajam.
Arturo membalas tatapan itu selama beberapa saat sebelum akhirnya menundukkan kepala untuk mencium bibir Dayana.
"Apa masalahnya?" kata Arturo di depan bibir Dayana saat tubuhnya bergerak hingga kini berada di atas Dayana.
"Sudah kubilang, aku tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan kekasih kakakku sendiri," ungkap Dayana menatap ke arah lain karena gugup.
"Aku bukan kekasihnya. Aku suamimu," bisik Arturo di telinga Dayana yang membuat bulu kuduknya merinding dalam seketika.
Dayana membiarkan Arturo mencium bibirnya lagi, bahkan sekarang dia membalas tak kalah agresif seperti semalam. Tubuh mereka yang masih telanjang kini saling bersentuhan, menyatu kembali, dan menciptakan suara kenikmatan yang meramaikan pagi di kamar tersebut.
Ponsel berdering. Dayana sedikit menoleh ke arah nakas di mana ponselnya tersimpan. Ia tak bisa menggapai benda pipih itu karena kini kedua tangannya sedang ditahan di atas kepala oleh Arturo yang sedang menghujamnya tiada henti.
"Ponselku..." lenguh Dayana memberitahu.
Arturo bergerak kecil mengambil ponsel yang ia serahkan langsung pada Dayana. Kepanikan pun melanda saat melihat kontak Rebecca tertera di layar. Dia tak mungkin mengangkat panggilan kakaknya dalam keadaan sedang bergulat panas bersama Arturo di belakangnya.
"Fokus padaku," pinta Arturo yang mengambil alih ponsel dari tangan Dayana lalu melemparnya ke sisi mereka yang kosong.
Dayana terengah sambil melingkarkan tangan di leher Arturo yang sedang sibuk menciumi tulang selangkanya. Tak disangka Dayana merasa senang dan ketagihan dengan kegiatan ini, tidak seperti saat dirinya dengan Damien atau kekasihnya yang lain.
Kegiatan itu pun akhirnya selesai.
Dayana terbaring lelah di atas ranjang yang kini Arturo tutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Pagi itu sangat erotis sampai udara sekitar yang awalnya dingin segar menjadi panas.
"Kau mau berangkat kerja?" tanya Dayana melihat Arturo yang mengenakan celananya dan memungut pakaian mereka di lantai.
"Kenapa? Kau masih mau bermain denganku?"
Dayana terbatuk. "Bu-bukan begitu. Aku hanya penasaran, apa pekerjaanmu?"
"Kau harusnya sudah tahu saat masuk ke dalam ruang kerjaku," sahut Arturo tanpa memberi jawaban jelas pada pertanyaan Dayana.
__ADS_1
"Ibuku bilang akan ke sini malam ini. Kau bisa memasak?" tanya Arturo seraya mengenakan kaosnya sehingga Dayana diam-diam merasa kecewa karena matanya tak bisa lagi melihat tubuh berotot Arturo.
"Aku hanya bisa menghabiskan uang," sahut Dayana seadanya.
"Seperti yang aku duga," gumam Arturo lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Mrs. Hansen, kau bisa datang ke sini sore nanti? Ya, aku ingin kau memasak untukku di sini," pinta Arturo pada orang yang dihubunginya sehingga Dayana merasa penasaran.
"Siapa yang kau hubungi?" tanya Dayana setelah Arturo mengakhiri panggilan.
"Bukan wanita yang bisa kuajak tidur sepertimu, Miss Harvey."
Dayana memutar bola mata malas mendengar candaan datar dari Arturo.
...----------------...
Bola mata Dayana terus mengarah pada punggung wanita berambut cepol yang sedang memasak di dapur dengan leluasa. Tangannya bahkan sudah lihai menggapai ini-itu di sekitar seakan ini bukan pertama kalinya datang ke apartemen Arturo.
"Mrs. Hansen, jika sudah selesai masak, kau bisa pergi. Biar istriku yang menyajikan makanannya ke atas meja," titah Arturo yang datang ke dapur.
Wanita berumur 50-an bernama Mandy Wall Hansen itu mengangguk. Dia sekilas melirik Dayana sebelun akhirnya kembali memasak.
"Wait!" panggil Dayana menyusul Arturo yang sudah mau menggapai pintu keluar.
"Apa?"
"Aku malam ini harus pergi menemui Thomas. Aku tak akan bisa menyambut ibumu yang akan datang," ungkap Dayana agak berbisik agar Mandy tak dengar.
"Tersisa berapa kekasihmu?" tanya Arturo malah membuat Dayana bingung.
Arturo malah menunduk untuk memberikan kecupan hangat di bibir Dayana.
"Tetaplah di sini dan aku akan memberikan apapun yang kau mau, termasuk seperti yang semalam," bisik Arturo di depan bibirnya.
Dayana merasa nafasnya tercekat. Ia tak bisa lagi berkomentar setelah terpengaruh bujuk rayu dari Arturo yang kini sudah tak terlihat saat pintu tertutup.
Tidak peduli sekaya apa Arturo, Dayana malah merasa lebih bersemangat untuk memilih tinggal di rumah malam ini setelah mendengar bisikan menggoda Arturo tadi.
Namun berada di tempat yang sama dengan Mandy membuat Dayana tegang dan canggung. Dia ragu untuk mengajak bicara wanita dengan wajah tajam seperti marah itu.
"Biasanya aku hanya melihat Rebecca Harvey di sini. Sepertinya Mr. Camucho tidak seperti yang aku kira," cetus Mandy sambil menyajikan makanan buatannya ke atas piring.
Dayana berdeham kecil. "Wow. Sepertinya kau sudah... kenal dekat dengan Rebecca."
Mandy menghentikan gerakannya untuk menaruh fokus pada Dayana.
"Kami dekat. Aku kira yang akan menjadi istri Mr. Camucho adalah Miss Harvey. Aku tak menyangka dia menikahimu. Apa yang kau lakukan sampai bisa merebut Mr. Camucho dari Miss Harvey seperti ini?"
Tapi aku juga Harvey.
Tuduhan itu membuat Dayana terdiam. Dia tak mungkin memberitahu Mandy kalau Rebecca adalah kakaknya. Wanita itu akan lebih merendahkan Dayana yang mungkin saja dituduh sebagai wanita perebut kekasih kakaknya sendiri.
__ADS_1
Malam pun tiba.
Mandy sudah pergi tanpa pamit sepatah kata pun, sementara Dayana sibuk mengatur piring di atas meja dengan rapi sebelum Ingrid datang.
Ding! Dong!
Suara bel yang berbunyi membuat Dayana beranjak membuka pintu masuk. Ia menyambut kedatangan Ingrid dengan senyuman lebar yang manis.
"Aku senang kau ke sini, Mom." Dayana memeluk Ingrid.
"Aku juga." Pelukan mereka terlepas. "Apa Arturo masih belum pulang?"
"Belum. Mungkin sebentar lagi."
Mereka berdua pun duduk di ruang tamu sambil menunggu Arturo pulang.
"Dayana, aku ingin memberikan sesuatu untuk kalian berdua."
Ingrid merogoh dua buah tiket dari tasnya yang ia letakkan di atas meja. Mata Dayana melebar melihat dua tiket honeymoon itu.
"Kalian bisa pergi berbulan madu dengan tiket ini. Tolong bujuk Arturo agar kalian bisa pergi. Kau bisa, kan?"
"Tapi, Mom. Sepertinya--"
"Aku mohon, Dayana. Ajaklah Arturo pergi untuk bersenang-senang denganmu," pinta Ingrid dengan wajah penuh harap.
"Baiklah. Aku akan membicarakan ini dengannya nanti."
Ding! Dong!
Bel kembali berbunyi. Dayana merasa heran karena ada tamu lain yang berkunjung selain Ingrid.
Dayana pun pamit pergi membukakan pintu yang ia kira untuk Olivia. Mungkin saja Arturo juga mengundang adiknya untuk makan malam.
"Rebecca?" Dayana tercengang melihat sosok Rebecca.
"Gosh! Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku tadi?"
Dayana panik saat Rebecca masuk begitu saja ke dalam apartemen tanpa menyadari ada Ingrid di ruang tamu.
"Apa Arturo sudah pulang? Di mana dia? Aku ingin bicara dengannya," kata Rebecca lalu terbeku melihat Ingrid yang sudah berdiri melemparkan tatapan penasaran padanya.
"Siapa dia, Dayana?" tanya Ingrid.
Dayana tersenyum canggung sambil saling melirik dengan Rebecca.
"Di-dia..."
"Halo, Mrs. Camucho. Aku Rebecca Harvey, kakaknya Dayana," cetus Rebecca yang memotong penjelasan gugup Dayana.
"Kakak?" Ingrid mengalihkan tatapan pada Dayana. "Kau punya kakak? Ternyata aku belum tahu banyak tentangmu, Dayana."
__ADS_1
"I-iya, Mom. Dia kakakku..." gumamnya di akhir.
Suasana pun dirasa canggung dan mencekam apalagi saat Dayana membayangkan Arturo mengetahui keberadaan Rebecca di rumahnya saat ini.