
Langit sudah kembali gelap, berhias taburan bintang dan bulan berbentuk bulat utuh. Udara dingin dari jendela berhembus membelai wajah Dayana yang kini terbangun dari tidurnya. Ia mengangkat kecil kepalanya untuk menatap sekitar yang terasa begitu sepi.
Kedua kakinya pun mendarat di lantai dingin kamar. Dayana berjalan menuju pintu ruang kerja Arturo yang setengah terbuka.
"Kau tidak tidur?" tanya Dayana menyandarkan sisi tubuhnya ke sisi pintu.
Arturo yang dari tadi fokus menatap komputer pun mengalihkan perhatian pada Dayana.
"Aku harus menyelesaikan ini sedikit lagi," balas Arturo lalu memundurkan kursinya. "Kemarilah."
Dayana berjalan mendekati Arturo yang menuntunnya dengan lembut untuk duduk menyisi bak seorang anak di pangkuan ibunya.
"Kenapa kau bangun? Kau harusnya tidur saja seharian ini supaya aku tidak melihat wajah sedihmu," kata Arturo mendongak.
Dayana menunduk surut. "Apa ini karmaku?"
Kening Arturo berkerut. "Karma apa maksudmu?"
"Aku sudah sering mempermainkan banyak lelaki. Sekarang, aku diberikan karma karena itu."
"Hei, jangan mengatakan itu," tegur Arturo sambil menyeka rambut kecil Dayana ke belakang telinga.
"Aku harusnya malu karena sekarang aku sadar tak ada bedanya dengan wanita murahan di luar sana."
"Jaga mulutmu. Aku tak suka mendengarnya," ucap Arturo dengan tatapan tegas. "Aku akan menemukan lelaki itu dan mencari tahu semuanya."
"Kalau sudah menemukannya... Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dayana dengan kepala menoleh pada Arturo.
"Bukan sesuatu yang bagus. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti istriku," sahutnya.
Dayana menangkup wajah Arturo sambil memberi elusan kecil selama mereka terdiam beberapa saat sebelum kembali memulai perbincangan.
"Apa kau serius ingin menjadi suamiku?" tanyanya dengan tatapan saling bertemu.
"Aku sudah bilang tak akan main-main dengan pernikahan, apalagi tugasku sebagai seorang suami."
Kedua sudut bibir Dayana sedikit terangkat, seakan merasa senang dan puas mendengar jawaban itu.
"Hei, kau mau berjanji satu hal padaku?" tanya Arturo dengan air muka tenang dan serius.
"Apa?"
"Lihatlah aku mulai sekarang."
Dayana sedikit mundur tapi matanya masih terarah menanggapi hazel biru Arturo.
"Jadikan aku satu-satunya lelaki untukmu dan kita bisa mulai menjalani pernikahan ini dengan semestinya," lanjut lelaki itu membawa sebelah tangan Dayana untuk dicium.
"Aku..." Entah kenapa Dayana merasa bimbang. Harusnya mudah mengatakan "tidak mau" mengingat Arturo adalah kekasih Rebecca dan alasan Dayana ada di sana hanyalah pengganti sang kakak.
"Jangan pikirkan Rebecca. Pikirkan perasaanmu sendiri padaku," sela Arturo di tengah perdebatan Dayana antara hati dan pikirannya.
__ADS_1
Arturo lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Meski awalnya memanfaatkan Dayana hanya untuk menyenangkan sang ibu, tapi semakin ke sini ketulusannya mulai terlihat.
Belum ada lelaki setulus Arturo saat ia meminta untuk hanya melihatnya. Semua kekasih Dayana dari dulu hingga sekarang hanya menggunakan Dayana untuk kepuasan mereka memiliki wanita yang dibayar hanya dengan uang, perhiasan, mobil, tas mahal, sepatu berkerlip, dan apartemen.
Tapi Arturo memberikan semuanya, termasuk sekarang... memberikan kepedulian dan cinta.
"Kau tahu? Kau satu-satunya lelaki yang membuatku mau duduk lama seperti ini," ungkap Dayana seraya mengelus-elus bibir bawah Arturo yang terlihat menggodanya sedari tadi.
"Biasanya aku tak suka duduk seperti anak kecil begini di pangkuan seseorang," tambahnya.
Arturo mengelus sisi wajah Dayana sebelum menariknya perlahan untuk menunduk hingga bibir keduanya bertemu.
Dayana membalas ******* lembut itu. Kedua tangannya mendarat di bahu lebar Arturo lalu bergerak memegang lehernya selama mereka berciuman.
"Apa ini artinya iya?" tanya Arturo saat ciuman mereka terlepas.
Dayana menempelkan keningnya pada kening Arturo sambil tersenyum lalu menciumnya lagi.
"Apa ada opsi lain?" jawab Dayana mengecup-ngecup kecil bibir Arturo beberapa kali dengan gemas.
"The answer just a yes," kata Arturo lalu kembali saling memagut seakan tak merasa bosan.
"Alright. Enough," pungkasnya yang menggendong tubuh Dayana dengan mudah ala bridal style.
Kedua tangan Dayana sontak melingkar di leher Arturo untuk berpegangan. Ia terheran saat dibawa lelaki itu keluar dari ruang kerja.
"Kau mau apa?" tanya Dayana.
...----------------...
Pagi kali ini dirundung hujan yang sudah membasahi jalanan kota. Udara menjadi begitu dingin, membuat orang yang ada di atas ranjang semakin bergelung selimut untuk menghangatkan tubuh.
Arturo sudah berada di dapur untuk memasak sesuatu yang hangat di tengah cuaca dingin itu. Tanpa lelaki itu sadari, sepasang kaki mengendap menapaki lantai di belakangnya.
"Kau memasak apa?" tanya Dayana yang memeluk tubuhnya dari belakang dengan kepala sedikit menyembul untuk melihat apa yang Arturo lakukan.
Menyadari saat ini Dayana hanya mengenakan selimut ke dapur membuat Arturo ingin mengomelinya. Namun ketika tubuhnya berbalik, bukan omelan yang ia berikan melainkan malah ciuman hangat di bibirnya.
"Good morning," sapa Arturo mengusap lembut bibir Dayana yang basah.
"Apa aku sudah boleh makan? Perutku mulai lapar," kata Dayana mengecap-ngecap lidahnya sendiri seakan sedang makan sesuatu.
Arturo merengkuh pinggang Dayana sehingga tubuh mereka berdua saling menempel. Sebelah tangan kekarnya menangkup sisi wajah polos wanita itu agar mendongak untuk mempermudah pagutan di bibir.
Dayana tersenyum di sela ciuman itu. Ia mengalungkan tangan di leher Arturo sehingga selimut terbuka dan tubuh depannya yang tak tertutup apapun menempel pada Arturo.
"Sepertinya aku harus sarapan yang lain sekarang," bisik Arturo di depan bibir Dayana.
Tubuhnya diangkat ke meja pantri. Kedua kaki Dayana kini terbuka mengapit pinggang Arturo yang menekannya terus-terusan.
"Apa kau sengaja seperti ini?" tanya Arturo menghentikan lumatannya di bibir Dayana.
__ADS_1
"Apa?" Dayana menatapnya polos.
"Kenapa tidak pakai bajumu saat ke sini?" kata Arturo sambil menciumi ceruk leher Dayana.
Kekehan geli tercipta dari mulut Dayana saat Arturo mengecup-ngecup lehernya yang sekarang mau turun ke tempat lain di depannya.
Ding! Dong!
Suara bel ternyata tak menghentikan aksi Arturo yang kini kembali ******* bibir Dayana habis-habisan. Tangannya bahkan sudah bergerak menarik selimut itu agar lepas dari tubuh Dayana sehingga tak menghalangi kegiatan mereka berdua.
Ding! Dong!
Arturo terdengar menggeram. Ia menghentikan aksinya lalu mengatur selimut untuk kembali menutupi tubuh telanjang sang istri.
"Wait. Biar aku yang membukanya," kata Arturo lalu berjalan menuju pintu.
Bukannya langsung membuka pintu, Arturo malah terdiam menatap tamu yang mengunjungi apartemennya pagi ini melalui interkom.
Setelah lama diam karena bel terus berbunyi, Arturo pun membukakan pintu. Tepukan keras dari beberapa lembar foto yang dilempar ke dadanya membuat mata Arturo terpejam mencoba sabar.
"Lihat itu! Sangat menjijikan! Dia sepertinya sengaja mau menghancurkan reputasiku," geram Rebecca yang masuk begitu saja ke dalam seakan izin Arturo bukanlah apa-apa.
Arturo membungkuk mengambil salah satu fotonya yang memperlihatkan Dayana terbaring lelap, di bawah seorang lelaki yang seakan tengah bermesraan.
"Kau tahu? Aku sampai kewalahan dikejar wartawan yang ingin tahu pekerjaan adikku sebagai wanita murahan begini."
Arturo hanya diam, tak mau memberikan komentar apapun sehingga Rebecca menatap aneh ke arahnya.
"Kenapa kau hanya diam?" tanya Rebecca seakan mendesak respon Arturo saat ini. "Dia berusaha menghancurkan karirku dengan perbuatannya. Dia mempermalukanku. Lihatlah ulahnya! Publik jadi memberiku cap sebagai kakak yang gagak karena tidak bisa menjaga adiknya sendiri. Apa dia tidak malu?"
"Apa maksudmu, Rebecca?" imbuh Dayana setelah mendengar semua itu.
Rebecca mengamati penampilan Dayana yang berjalan hanya bergelungkan selimut di tubuh. Senyuman sinis pun tercipta di sudut bibir Rebecca.
"See? Kau begitu menghayati pekerjaanmu sebagai seorang wanita murahan sampai kau menggoda kekasihku sendiri, Day," hina Rebecca.
Manik mata Dayana terarah pada kumpulan foto yang tergeletak di dekat kaki Arturo.
"Bec, ini tidak seperti yang kau lihat di foto. Entah kenapa kemarin aku tiba-tiba sudah terbangun--"
"Berhentilah cari alasan, Day!" potong Rebecca tak mau tahu. "Kau sepertinya memang punya niat untuk mempermalukanku. Merusak reputasiku."
"Apa?"
Rebecca menatap jijik pada Dayana. "Kau menjijikan, Day. Kau tidak malu menjajakan dirimu sendiri pada banyak lelaki? Hanya karena kau ingin uang mer--"
"Rebecca!" bentak Arturo dengan suaranya yang menggelegar menghentikan kalimat Rebecca dalam seketika.
"Kau membentakku?" Rebecca menatap tak percaya.
"Ikut denganku. Kita harus bicara di tempat lain," ajaknya pergi duluan dari sana.
__ADS_1
Rebecca melemparkan tatapan sinisnya pada Dayana sebelum akhirnya keluar hingga pintu tertutup dengan begitu keras.