
Deretan nomor tak dikenal telah diketik dalam ponsel sebelum akhirnya Dayana hubungi. Dia menempelkan ponsel di telinga, menunggu jawaban dari yang dihubunginya.
"Hello. Apa ini Sebastian Reeves?" sapa Dayana saat Sebastian mengangkat panggilan.
"Hello. Dengan siapa ini?"
"Ah, aku Dayana Harvey. Waktu itu... aku terbangun di hotel dan ketika kutanyai pegawai, katanya kau yang membawaku ke sana. Saat itu aku sedang mabuk, jadi tidak ingat apapun. Kau ingat aku, kan?"
"Iya, aku ingat. Kau wanita yang memuntahi mobilku."
"Memuntahi?" Dayana tertawa canggung. "Aku sepertinya mabuk berat. Maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Aku senang kau menghubungiku karena aku lupa untuk meminta nomormu. Mobilmu masih ada padaku, kau bisa ambil. Aku membawanya ke bengkel untuk diperbaiki."
"Begitu." Dayana menggigit bibir bawahnya menimbang sesuatu. "Bisa kita bertemu? Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu secara langsung."
"Okay."
"Kalau sekalian makan malam?" tawar Dayana.
"Baiklah, Miss Harvey. Aku sekalian akan mengantar mobilmu yang sudah diperbaiki."
"Kalau begitu nanti malam pukul 8 di Treasure Resto."
Pukul 8 malam, Dayana sudah melesat ke restoran tempat pertemuannya dengan Sebastian. Dia duduk di salah satu kursi dekat dinding menunggu Sebastian yang belum datang. Dayana sudah memberitahu lelaki itu perihal warna baju yang digunakannya sekarang untuk mempermudah pertemuan mereka.
"Miss Harvey?" panggil seseorang yang membuat Anabela menoleh.
Amazing!
Anabela langsung terpesona saat pertama melihat sosok Sebastian. Bertubuh cukup tinggi, dengan kumis dan janggut rapi di sekitar bibirnya yang menambah kesan seksi.
"Maaf aku terlambat," katanya lalu mendaratkan bokong di kursi depan Dayana.
"It's okay." Dayana berusaha memfokuskan diri. "Aku ingin minta maaf padamu jika aku berbuat ulah malam itu, apalagi sampai memuntahi mobilmu. Dan juga, terimakasih sudah membawaku ke hotel alih-alih meninggalkanku yang mabuk di jalanan."
"Sama-sama." Sebastian menyodorkan kunci mobil ke atas meja. "Ini kunci mobilmu. Saat itu aku sekalian saja membawa mobilmu untuk diperbaiki."
"Kalau boleh tahu... Apa yang terjadi?" tanya Dayana hati-hati.
"Kau berkendara dalam keadaan mabuk hingga menabrak mobilku saat kau mau parkir."
Dayana tak bisa berkomentar apapun dengan kebodohannya sendiri. "I'm sorry for that. Aku akan mengganti biaya perbaikan mobil dan bayar hotel."
"Tidak perlu," cegah Sebastian saat Dayana hendak merogoh dompet dalam tasnya. "Kau tak perlu bayar apapun."
"Tapi kau sudah memperbaiki mobilku, mobilmu, bahkan memesankan hotel untukku."
"Tidak apa-apa. Itu juga kesalahanku parkir tidak benar karena terburu-buru."
__ADS_1
Wow. Sepertinya Sebastian adalah lelaki yang tidak bisa diremehkan melihat lelaki itu membiarkan diri sendiri membayar semuanya. PadahalĀ biaya perbaikan mobil dan sewa hotel mahal.
"Alright, Mr. Reeves. Aku tidak ingin berhutang uang dan budi padamu. Aku selalu merasa tak enak. Bisakah kita bertemu lagi? Aku akan mentraktirmu apapun yang kau mau," tawar Dayana mencoba memberi bujukan pada Sebastian agar mereka berdua bisa bertemu lagi. Dia tak ingin menyia-nyiakan makanan segar seperti Sebastian.
"Baiklah," jawab Sebastian pada akhirnya. "Kau suka musik klasik?"
"Musik klasik?" Dayana termenung sejenak untuk berpikir. "Uhm... Suka. Aku suka semua jenis musik kecuali rock. Itu sangat berisik."
"Okay. Aku ingin menghadiri sebuah konser klasik. Kau bisa mentraktir tiketnya."
"Ide yang bagus," gumam Dayana tersenyum puas. "Aku akan membeli tiketnya untuk kita pergi."
"It's clear now. Mau makan?" tanya Sebastian.
Dayana menepuk pelan jidatnya. "Ow, sorry. Aku lupa memesan makanan. Kita pesan saja sekarang, aku yang akan membayarnya."
Sebastian mengangguk setuju. Mereka berdua pun makan bersama seraya berbincang ringan tentang kegiatan yang mereka lakukan dan berbagai ketertarikan atau hobi.
Semakin lama berbincang dengan Sebastian, semakin tertarik Dayana untuk mendekati lelaki itu seperti lelaki lain yang sudah menjadi kekasihnya.
Meski kelihatannya Sebastian akan susah untuk digoda, Dayana akan berusaha untuk menarik perhatiannya sebisa mungkin.
Sampai Sebastian menjadi salah satu koleksi pria tampan dan kaya yang Dayana miliki.
...----------------...
Dayana memasuki sebuah bar sambil menyisir sekitar untuk menemui Miley yang sudah ada di sana. Setelah menemukan keberadaan wanita tinggi itu, Dayana menghampirinya dan langsung memesan minuman pada sang bartender.
Miley menenggak minumannya sambil menoleh sebelum bicara dengan Dayana.
"Makanan apa?"
"Pria yang tampan, seksi, dan sepertinya kaya juga. Dia sesuai dengan tipeku," ungkapnya berbinar antusias.
"Beruntungnya dirimu. Kau bisa berikan saja padaku satu?"
Dayana terkekeh. "Kau kan sudah punya Derek, Mile."
"Aku putus dengan Derek. Semalam kami bertengkar hebat," ungkapnya membuat Dayana hampir tersedak saat minum.
"What? Really? Why?"
"Derek tak ingin aku ikut acara America's Next Top Model. Dia bilang aku akan dipermalukan banyak orang jika aku kalah dan membuat kesalahan di sana. Katanya aku tidak akan cocok menjadi model."
"Damn!" umpat Dayana. "Beraninya dia bilang begitu padamu. Itu impianmu, Mile. Kau jangan mendengarkan omong kosong Derek. Lanjutkan saja mimpimu untuk ikut acaranya. Menang atau kalah, itu urusan belakang."
"Terimakasih selalu mendukungku," ucap Miley lalu memeluk Dayana.
"Aku lebih tahu dirimu daripada Derek, Mile. Aku tak ingin hidupmu terhambat oleh lelaki sepertinya."
__ADS_1
Miley tersenyum haru. Ia mengambil gelas lalu sedikit mengangkatnya ke arah Dayana.
"Cheers!"
Dayana menubrukkan gelas minumannya pada gelas Miley. "Cheers!"
Dayana mengurangi konsumsi minumannya untuk saat ini, takut membuat masalah lagi seperti yang ia lakukan pada Sebastian. Tapi syukurnya berkat itu, Dayana kini menemukan permata tersembunyi yang selama ini belum dia lihat.
Setelah bersenang-senang bersama Miley, Dayana pun pulang ke rumah. Lebih tepatnya ke apartemen Arturo yang sekarang juga ditempatinya.
"Kau masuk ke ruang kerjaku?" tanya Arturo sesampainya Dayana di sana.
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar. Aku tidak mencuri apapun, jangan khawatir."
"Ini tentang privasi. Kau sendiri yang bilang untuk tidak mengurusi kehidupan masing-masing, tapi lihatlah sekarang. Kau masuk ke ruang pribadiku tanpa izin. Kau kira kau siapa?"
"I'm your wife," balas Dayana enteng. "Seorang istri tidak perlu bilang pada suaminya untuk masuk ke ruang kerja yang berada di dalam kamar mereka."
"Sekarang kau mau membahas tentang peranmu sebagai seorang istri?" Arturo berjalan lurus menuju Dayana.
"Berarti aku juga tidak perlu izin untuk melakukan ini."
"What--"
Dayana terbelalak kaget saat Arturo menarik tengkuk lalu ******* bibirnya begitu dalam tanpa pemanasan apapun. Saking terkejutnya, Dayana merasa nafasnya terkuras habis sehingga kedua tangannya meremas lengan Arturo yang hanya terbalut kaos putih pendek.
"Art--" Kalimat Dayana terputus karena Arturo tak memberikan kesempatan untuk Dayana lepas dan bernafas.
Lelaki itu bahkan membuat Dayana terdorong masuk ke dalam kamar sampai punggungnya tak sengaja menabrak lemari laci yang membuat akuarium ikannya jatuh ke lantai.
"Ikanku!" seru Dayana saat ciuman mereka lepas.
Arturo mengukung sisi tubuh Dayana dengan kedua tangannya memegang sisi lemari laci di dua sisi. Dia menunduk dengan nafas terengah, begitu pun Dayana yang dibalut dengan emosi.
"Kau membunuh ikanku!" bentak Dayana kesal.
"Aku akan membuang semua barang itu," ucap Arturo yang membuat Dayana terbujuk untuk menghadapkan wajahnya berhadapan dengan lelaki itu.
"Aku hanya tak suka orang lain melihat sebagian kenanganku dengannya. Itu tidak bisa dibiarkan jika mereka bukan siapa-siapa bagiku," lanjut Arturo yang membuat mata birunya bertemu dengan Dayana.
Diam beberapa saat, Dayana mencoba menyelam di netra biru Arturo yang cukup dekat dengannya. Tenggorokan pun terasa kering sampai naik turun menelan ludah saat melihat bibir Arturo yang menggoda dengan sedikit noda lipstik dari bibirnya ketika berciuman tadi.
"Kau tidak bisa melebihi batas privasi kehidupanku, seperti yang kita sepakati," tambah Arturo dengan nada rendah seperti berbisik.
Ini efek mabuk.
Dayana memajukan wajahnya dengan ragu untuk menggapai bibir Arturo. Tapi dia tersadar akan harga dirinya yang tak ingin menjilat ludah sendiri setelah bilang tak tertarik pada Arturo yang bukan tipenya.
Persetan dengan nanti.
__ADS_1
"Kau harus mengganti ikanku," kata Dayana menatap Arturo sebelum akhirnya tergoda untuk mencium bibir itu.
Arturo menegakkan tubuh saat kedua tangannya kini memegang pinggang Dayana selama mereka berciuman. Suara decakan penuh hasrat itu terdengar di dalam sana, menciptakan hawa panas saling menggoda di antara keduanya.