MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
26. Saling Mencintai


__ADS_3

Kepala Dayana bergerak hendak jatuh ke samping sebelum akhirnya dia bangun. Seluruh tubuhnya terasa sakit, apalagi di bagian tengkuk leher karena posisi tidur yang tak nyaman.


"Mile!" Dayana sontak berdiri saat melihat Miley yang sudah berdiri menjulang di depannya, entah dari kapan.


"Kau menghalangi pintu rumahku," sinis Miley lalu membuka kunci pintu unitnya.


Dayana mengekori Miley hingga masuk ke dalam. "Aku menunggumu semalaman, Mile. Aku sudah memberimu pesan dan panggilan untuk kita bertemu."


"Sudah tahu aku masih di kamp," gumam Miley dengan dingin. "Mau apa kau datang kemari?"


"Mile, aku ingin menjelaskan semuanya. Aku tidak bermaksud untuk tidak mengundang dan memberitahumu tentang pernikahan. Ini... terjadi secara tiba-tiba."


Miley tersenyum pahit. "Tiba-tiba? Apa maksudmu? Kau menyukai seseorang pada pandangan pertama lalu tiba-tiba kalian menikah?"


Kepala Dayana menggeleng. "Aku hanya menggantikan Rebecca untuk menikah dengan kekasihnya."


Ungkapan itu membuat Miley menoleh dan mengamati Dayana cukup lama. "Apa maksudmu menggantikan?"


"Jadi yang akan menikah itu Rebecca. Namun waktu itu ada banyak wartawan yang membuat Rebecca tidak jadi menikah dan menyuruhku menggantikannya saja. Alhasil kami menjalani pernikahan ini. Aku tidak memberitahumu karena kupikir sebentar lagi ini akan berakhir karena pernikahannya hanya kulakukan tak serius. Tapi..."


"Tapi kalian malah saling jatuh cinta sungguhan, begitu?" imbuh Miley yang membuat Dayana hanya menatapnya tapi penuh arti.


"Kau benar menyukai kekasih kakakmu itu, Day?" tanya Miley dengan kening berkerut penasaran.


"Aku tidak tahu."


"Tidak ada salahnya kalau kalian memang saling menyukai tanpa paksaan apapun. Jalani saja pernikahannya," usul Miley.


Dayana memicingkan mata. "Kau... sudah tidak marah padaku?"


"Aku masih marah padamu karena kau tidak menjelaskan semua ini padaku dari awal, Day."


"Tapi sekarang aku menjelaskan semuanya dan memberitahumu. Kau masih marah?"


Miley memutar bola mata malas. "Aku tak bisa marah padamu, Day. Hanya kau sahabat yang kupunya."


Betapa senangnya Dayana mendapati Miley sudah tidak marah padanya. Dia langsung memeluk tubuh ramping dan tinggi Miley dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu, Mile."


Miley membalas, "Aku juga, Day. Maafkan aku."


"Aku yang minta maaf."


Pelukan mereka berdua terlepas. "No. Aku yang minta maaf."


"Aku yang salah, Mile."


"Ini salahku, Day. Karena tidak mau mendengarkanmu terlebih dahulu."


"Kita yang salah. Aku minta maaf," ucap mereka berdua berbarengan lalu tertawa terbahak-bahak menikmati kekonyolan mereka yang kembali tercipta.


"Wait. Kenapa kau sudah pulang?" tanya Dayana yang menghentikan tawa mereka.


Miley menghembuskan nafas kecil seraya duduk di sofa dekatnya. "Aku tereliminasi."


"Kau tereliminasi? Apa Rebecca yang melakukannya?"


"Aku gagal saat melakukan pemotretan di dalam air. Kau tahu aku takut kedalaman. Aku bahkan merengek seperti anak kecil pada mereka untuk berhenti."

__ADS_1


"Sorry..." lirih Dayana lalu duduk memeluk sisi tubuh Miley.


"It's okay, Day. Aku akan mencari jalan lain untuk menjadi model yang terkenal seperti kakakmu."


Dayana mengangguk. Ia tiba-tiba terpikirkan seseorang sampai tubuhnya kembali tegak dengan senyuman lebar.


Damien.


Dayana sudah meminta bantuan lelaki itu untuk memasukkan Miley ke dalam agensi model pamannya di Prancis.


"Kau mau ke Prancis, Mile?" tanya Dayana.


"Prancis? Kau mengajakku liburan?"


Dayana menggelengkan kepala dengan senyum penuh akalnya.


Beberapa jam setelah itu, di tempat lain, Arturo terduduk menatap model karakter gamenya yang sudah dibuat menyerupai Rebecca. Dia dulu meminta Rebecca untuk menjadi model gamenya dan itu menjadi awal mula hubungan mereka berdua.


Namun saat ini, meski mata terarah pada karakter game yang ditampilkan di layar komputer, pikiran Arturo tertuju pada Dayana. Ia kembali meneguk botol wine-nya untuk meredakan panas di dada.


"Hai," sapa seseorang berdiri di ambang pintu.


Arturo hanya terdiam, berpikir bahwa saking mabuknya ia sampai membayangkan Dayana ada di sana. Mungkin kenyataannya wanita itu memang sudah pergi darinya.


Langkah kaki pun terdengar menapaki lantai. Sosok Dayana terduduk menyamping begitu saja di pangkuan Arturo. Belum ada kalimat yang terucap. Mimpi ini terasa begitu nyata, pikir Arturo.


"Ada apa dengan wajahmu? Kau sudah sangat merindukanku, ya?" tanya Dayana membelai wajah Arturo lalu memberi kecupan di sudut bibirnya.


"Kau mabuk? Berapa banyak yang kau minum?" lanjutnya bertanya.


Arturo masih diam. Dia meletakkan botol minumannya ke atas meja sebelum melingkarkan kedua tangan di pinggang Dayana.


Dayana tersenyum seraya mengelus kepala Arturo. "Aku memang kembali padamu, Mr. Camucho."


...----------------...


Tubuh Arturo yang terbaring menyamping kini menggeliat kecil di bawah selimut. Ia mulai membuka mata dan langsung diarahkan pada wajah pulas Dayana sebagai hal yang pertama kali dilihatnya pagi itu.


Enggan membangunkan, Arturo hanya diam agar bisa terus memandangi wajah itu sampai puas. Ia tak pernah merasa setakut ini kehilangan seorang wanita selain saat kehilangan ibunya.


Dada Arturo bergetar hebat, menunjukkan kegembiraannya melihat Dayana kini berada di ranjang yang sama dengannya.


"Good morning," sapa Arturo ketika Dayana terbangun.


Senyuman kecil yang cerah tersirat di wajah Dayana. Ia memajukan wajahnya untuk memberi kecupan di bibir Arturo.


"Good morning. Bagaimana tidurmu? Kau semalam mabuk sampai melantur," tutur Dayana.


"Aku tak pernah tidur dan bangun dalam kondisi senyaman ini," ungkapnya dengan tatapan lekat. "Kenapa kau pergi? Kau tahu? Aku terus memikirkanmu seharian itu."


"Aku hanya menemui orang tuaku dan Miley untuk memberitahu mereka tentang pernikahan kita."


"Bagaimana?" tanyanya seraya mengelus-elus rambut kecil Dayana di dekat telinga.


"Awalnya mereka marah dan mengira aku menyembunyikan semuanya. Aku sudah menjelaskannya pada mereka jadi kita tidak perlu khawatir lagi."


Arturo bernafas lega. Bukan karena Dayana berhasil meyakinkan orang tua dan sahabatnya, melainkan kehadiran Dayana kembali yang bisa dia lihat membuatnya lega.


Tangan Arturo tergerak menarik tubuh Dayana untuk di dekapnya. Ia menaruh dagu di atas pucuk kepala wanita itu dan sesekali memberi kecupan.

__ADS_1


"Kau semalam terus bicara mencintaiku, merindukanku, dan menginginkanku. Apa kau semabuk itu?"


Arturo menunduk mengelus dagu Dayana yang diapitnya dengan telunjuk dan ibu jari.


"Aku semabuk itu padamu, Dayana. Oleh karena itu, jangan meninggalkanku lagi. Kau jadi satu hal yang kubutuhkan saat ini untuk berada di sisiku."


Dayana membasahi bibir bawahnya sebelum mengangkat wajah untuk menggapai bibir Arturo yang hanya menempel cukup lama tanpa ada pergerakan.


"Aku juga mencintaimu, Mr. Camucho. Aku merindukanmu. Aku menginginkanmu," ungkap Dayana.


Kedua tatapan mereka saling bertemu dengan penuh kelembutan dan memiliki sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Cinta satu sama lain.


Arturo puas mendengar ungkapan hati Dayana. Ia setengah bangun lalu menunduk untuk mencium bibir Dayana dengan lembut, hati-hati, seakan dirinya mudah pecah. Tangan lelaki itu bahkan bergerak mengelus lengan dan rahang Dayana sebelum akhirnya mengatur posisi hingga kini tubuh atletisnya ada di atas wanita itu.


"Aku pikir tidak salahnya pernikahan ini kita lanjutkan saja. Aku punya suami tampan dan juga kaya. Jadi tidak ada salahnya," canda Dayana nyengir.


Arturo mengecup sudut bibir Dayana. "Aku tidak pernah berpikir untuk mengakhirinya."


"Baguslah." Dayana kembali menarik tengkuk Arturo sehingga mereka bisa saling ******* bibir tanpa ada rasa bosan.


"I love you," ungkap Arturo saat ciuman mereka berdua terlepas.


Dayana tersenyum seraya menarik ujung kaos yang Arturo kenakan agar lepas dari tubuh lelaki itu.


"I love you," balasnya.


Arturo kembali menurunkan tubuh untuk memberikan cintanya pada Dayana. Pagi itu, mereka habiskan untuk saling memadu cinta dengan panas dan penuh kelembutan.


Dayana menjadi sangat menginginkan Arturo. Pikiran untuk berpisah darinya kini menghilang. Semuanya sudah terjadi dan mereka saling jatuh cinta. Jadi tidak ada salahnya mereka berdua melangsungkan kehidupan yang baru.


"Jadi kapan kita akan pindah ke Brooklyn?" tanya Dayana.


Arturo menutup buku yang dibacanya lalu menunduk menatap Dayana yang sedang membaringkan kepala di pahanya.


"Kukira kau tidak mau pindah."


"Kau bilang akan pindah bersama istrimu."


"Kau istriku?" Arturo malah terlihat mempertanyakan yang membuat Dayana melemparkan tatapan kesal padanya.


"Sepertinya kita memang belum menikah dari dulu. Aku hanya menggantikan kakakku untuk menikah denganmu, pasti semuanya masih atas nama Reb--"


Arturo tiba-tiba menunjukkan sebuah kotak berwarna merah ke atas wajah Dayana lalu dibuka untuk menunjukkan apa yang ada di dalamnya. Cincin berkilau.


"Kau mau menikah denganku lagi?" ajak Arturo.


Dayana terdiam menatap cincin itu. Dia beranjak bangun seraya melemparkan tatapan bingung pada Arturo.


"Kau sedang... melamarku?"


Kepala Arturo mengangguk. "Dayana Harvey, maukah kau menikah denganku lagi?"


Senyum perlahan muncul menghiasi bibir merah mudanya. Dayana beranjak duduk begitu saja di paha Arturo lalu memberi ciuman yang begitu dalam sampai kepala mereka berputar dengan lidah saling membelit.


"Apa ini artinya iya?" tanya Arturo.


Dayana menggigit bibirnya gemas. "Kita hanya menikah seadanya dengan seorang pendeta. Mungkin kita bisa menikah lagi dengan adanya tamu?"


"As you wish," balasnya lalu mereka berdua berpelukan.

__ADS_1


Kini cincin itu tersemat di jari Dayana, menggantikan cincin pernikahan yang seharusnya untuk Rebecca.


__ADS_2