
"Jadi kau seorang aktris dan model?" tanya Ingrid yang nampak tertarik menguak diri Rebecca saat mereka bertiga berkumpul di ruang makan.
"Yes, Ma'am." Rebecca tersenyum cantik.
"Maafkan aku karena kurang update tentangmu. Aku tak menyangka jika istri putraku ternyata memiliki kakak seorang model cantik sepertimu."
"Terimakasih, Mrs. Camucho. Kau juga sangat cantik. Aku tak menyangka Arturo memiliki ibu secantik dirimu."
"Kau bisa saja." Ingrid terkekeh. "Adiknya Arturo, Olivia, dia ingin sekali menjadi model dan aktris. Sayangnya dia banyak mendapat penolakkan karena aktingnya dianggap kurang bagus. Kau bisa membantunya belajar, Miss Harvey?"
"Sure. Aku akan dengan senang hati membantu keinginan Olivia."
Di tengah pembicaraan itu, Dayana hanya terdiam canggung dan merasa dirinya hanyalah obat nyamuk di sana. Tapi jika dipikir lagi, memang sudah seharusnya Rebecca lah yang dekat dengan Ingrid saat ini dibandingkan dirinya.
Ceklek!
Pintu terdengar dibuka. Dayana sontak bangun melihat Arturo masuk ke dalam ruang makan. Mata biru lelaki itu langsung terarah pada sosok Rebecca yang kini ikutan bangun dari duduk.
"Arturo..." lirih Rebecca dengan tatapan penuh kerinduan.
"Mom, kau sendirian datang ke sini?" tanya Arturo mencoba mengabaikan tatapan sendu Rebecca padanya barusan. Ia membungkuk memberi kecupan di pipi Ingrid.
"Olivia tak bisa hadir karena ada pertemuan dengan teman-temannya," sahut Ingrid.
Arturo kini berjalan mendekati Dayana yang nampak bingung. Tak disangka, satu kecupan mendarat juga di pipinya dari Arturo sebelum lelaki itu memilih duduk di kursi tengah.
"Kau tidak memberitahuku kalau Dayana memiliki seorang kakak," kata Ingrid.
Arturo tersenyum tipis. "Aku tidak sempat karena dia juga orangnya sibuk. Ayo kita makan."
Makan malam pun berlangsung cukup tegang bagi Dayana sendiri. Melihat Arturo dekat Rebecca membuat Dayana resah dan gemas. Tapi kelihatannya Arturo berusaha bersikap tenang, seolah tak memiliki hubungan apapun dengan Rebecca selain hanya sebagai kakak ipar.
Setelah makan malam, Dayana bertugas untuk menjadi istri yang baik di depan Ingrid dengan membereskan dapur dan semua piring kotor meski sebenarnya hal itu jarang ia lakukan.
"Aku akan mengantar Rebecca dulu," pamit Arturo.
"Hati-hati di jalan, Rebecca." Ingrid berpelukan dengan Rebecca.
Dayana menatap kepergian Arturo dan Rebecca dalam keadaan tangannya yang masih berbusa habis mencuci piring.
Sementara itu, Arturo dan Rebecca hanya saling diam di sepanjang lorong sampai akhirnya mereka masuk ke dalam lift.
"Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku selama ini? Kau masih marah padaku?" tanya Rebecca saat mendapat kesempatan berdua dengan Arturo di dalam lift.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jangan terus menghubungiku," sahut Arturo dengan air muka dingin.
Rebecca mendaratkan sebelah tangannya di lengan Arturo. "Art, aku minta maaf tentang pernikahan kita. Aku akan kembali padamu saat semuanya selesai. Aku akan perlahan bilang ke media bahwa kita adalah sepasang kekasih yang saling mencintai."
"Aku suaminya Dayana. Adikmu sendiri. Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi pada semua orang karena kau sendiri yang sudah menjelaskan posisiku dalam wawancaramu."
__ADS_1
Rebecca tak mau menyerah begitu saja. Ia berjinjit sambil menarik leher Arturo agar bisa mencium bibirnya. Sayang, Arturo melepas tangan Rebecca darinya lalu menegakkan kepala sehingga wajah mereka berdua saling menjauh.
"Aku bukan milikmu, Rebecca. Aku hanya milik Dayana. Kuperingatkan untuk tidak berbuat hal barusan lagi kalau kau tidak ingin menyakiti adikmu sendiri. Aku mencintainya dan aku tak ingin ada siapapun yang menyakiti istriku, termasuk kakaknya sendiri."
Ting!
Pintu lift terbuka. Arturo masih menatap Rebecca dengan sorot berbeda, tak ada rasa cinta lagi di dalamnya. Malah sorot dingin yang terlihat begitu jelas di wajahnya.
Menyadari keberadaannya tak disambut hangat, Rebecca pun melangkah keluar dari lift. Ia berbalik melihat Arturo yang memilih untuk tetap di tempatnya sampai pintu kembali tertutup.
"Sial!" geram Rebecca frustasi sambil berjalan keluar dari gedung apartemen itu.
Pikirnya Arturo akan membalas rasa rindu saat mereka bertemu seperti barusan. Tapi sepertinya lelaki itu benar-benar sudah berubah.
Rebecca menatap tajam ke luar saat sudah ada di dalam taksi. Pikirannya kini mengarah pada satu orang yang mungkin membuat Arturo berubah seperti sekarang.
Dayana.
...----------------...
Dayana menggerakkan matanya mengikuti sosok Arturo yang berjalan memasuki kamar. Raut lelaki itu terlihat serius sepulangnya mengantarkan Ingrid. Apalagi saat muncul setelah mengantar Rebecca tadi, Dayana sampai tak berani mengajak lelaki itu bicara sedikit pun.
Ditaruhnya minuman hangat yang dia teguk sampai tersisa setengah. Dayana ingin berbicara dengan Arturo terlebih dahulu.
"Kau sepertinya perang dingin dengan Rebecca. Apa kalian selalu melakukan itu?"
Arturo menoleh sambil melepas kancing kemejanya. "Kenapa kau membiarkan dia masuk?"
"Kalian harus membicarakan semua ini baik-baik. Bukankah akan lebih bagus jika... kalian berdua bertemu di tempat yang tenang lalu memperbaiki hubungan dan kembali bersama?"
Arturo menunduk dengan tatapan tanpa bisa diartikan yang membuat Dayana salah tingkah dan merasa bersalah mengatakan hal itu.
"Kau menyuruhku menemuinya?"
Dayana menatap ke arah lain. "Aku hanya... mencoba memberi saran."
Semua kancing kemeja Arturo kini sudah lepas sehingga terbuka memperlihatkan sebagian dada dan perut berototnya.
"Okay, Miss Harvey. Here's the deal," ucap Arturo menatap angkuh dan memberikan rasa mendominasi yang bisa membuat Dayana gemetar.
"Aku akan bertemu dan bicara dengan kakakmu seperti yang kau inginkan..."
Dayana merasa puas mendengar jawaban itu, tapi sepertinya kalimat Arturo belum selesai.
"... Tapi dengan syarat kau ikut pergi bersamaku untuk berbulan madu menggunakan tiket itu."
"Apa?" Kening Dayana berkerut dalam.
"Jika kau tidak menerima syarat itu, aku juga tak akan melakukan apa yang kau sarankan barusan."
__ADS_1
"Tapi... Bulan madu?" Dayana berkacak pinggang. "Apa karena kemarin kita tidur bersama, kau merasa pernikahan ini nyata?"
Dayana tersenyum miris. "Ayolah, Mr. Camucho. Aku bahkan sudah tidur dengan banyak lelaki, bukan hanya dirimu. Aku juga sama sekali tidak berniat menjadi istrimu. Kau-bukan-tipeku. That's it!"
"Masalah tipe, kau juga bukan tipe wanita yang aku inginkan."
"Kalau begitu jelas. Untuk apa kita berbulan madu?"
"Untuk membuatmu mengerjakan tugasmu. Aku sudah memberikan apapun yang kau mau, Miss Harvey. Giliranmu yang bekerja sekarang. Lagipula ini keinginan ibuku untuk kita pergi, bukan aku."
Dayana menghembuskan nafas kasar. "Baiklah. Aku akan pergi. Tapi kau janji harus menemui Rebecca, ya. Awas saja kalau kau tidak menemuinya!"
"Lihat saja nanti," sahut Arturo berjalan menuju kamar mandi dengan kemeja yang sudah ia lepas sepenuhnya dari tubuh.
"Kau mau ikut?" tawar Arturo tiba-tiba dengan jari menunjuk ke arah kamar mandi.
"A-apa maksudmu?" Kedua tangan Dayana bersilang di depan dada dengan raut yang horor.
"Jangan berlebihan. Aku bahkan sudah lihat semuanya. Kau sok malu ku ajak mandi bersama," decih Arturo.
"Hei, kau benar-benar menyebalkan!"
Kedua bahu lebar Arturo terangkat santai dengan kaki bergerak mundur memasuki kamar mandi. Dia hanya bermaksud menggoda Dayana karena ingin mendengar omelannya.
Malam semakin larut.
Dayana terbangun dari tidurnya sehingga keadaan sepi menyambut. Tidak ada Arturo, tapi pintu ruangan kerja yang terbuka membuat Dayana menapakkan kaki ke lantai untuk memastikan sesuatu.
"Kau seorang perancang game?" tanya Dayana yang bersandar di sisi pintu terbuka.
Arturo yang sedari tadi fokus pada komputer, kini mengalihkan tatapan pada Dayana.
"Kenapa kau bangun? Tidurmu tidak nyenyak karena aku tak ada di sampingmu?"
Dayana melempar senyum mengejek. "Kau terlalu percaya diri, Sir."
"Aku akan bicara dengannya besok," tutur Arturo sambil membagi fokus dengan yang dikerjakannya saat ini. "Jadi kau harus ikut denganku untuk berbulan madu."
"Wow. Kau sepertinya tidak sabar untuk berbulan madu denganku," ejek Dayana. "Aku turut bersedih karena seharusnya kau pergi dengan Rebecca."
Gerakan Arturo tiba-tiba berhenti. Ia beranjak bangun sambil sedikit merapikan meja kerja untuk mengakhiri kegiatannya.
Tubuh Dayana yang bersandar santai di pintu mendadak tegang melihat Arturo yang mulai melangkahkan kaki lurus ke arahnya.
"Kau pikir aku juga suka bulan madu jauh ke negeri orang hanya untuk bercinta? Kita bisa melakukan itu sepuasnya di sini."
Kaki Dayana sedikit mundur saat Arturo sudah berdiri tegak di depannya. Pikiran Dayana menjadi tak jernih apalagi saat Arturo kini memegang kedua lengannya.
"Kau menghalangi jalanku," bisiknya menyeringai diam-diam.
__ADS_1
Dayana tercengang menatap Arturo yang melewatinya begitu saja setelah puas menggoda.
"Lelaki sialan itu!" cacinya kesal.