MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
04. Syarat Antara Keduanya


__ADS_3

Pintu taksi ditutup dengan keras sampai sang sopir tersentak kaget sambil bergumam memarahi Dayana. Namun Dayana malah berjalan pergi setelah membayar ongkosnya. Ia ingin segera berendam di bathtub lalu istirahat.


Ting!


Pintu lift terbuka. Dengan langkah gontai, Dayana masuk untuk bisa sampai ke unit apartemennya yang ada di lantai atas.


"What the...?" Kening Dayana berkerut dalam melihat Arturo yang ikut masuk ke lift begitu saja. Raut wajahnya datar, seakan tak punya masalah apapun dengan Dayana.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau menguntitku?" tuduh Dayana tak menyangka.


"Apa salahnya aku mengikuti istri sendiri?" jawabnya santai.


Dayana tersenyum meremehkan. "Kau sepertinya sangat mendalami peran, Sir."


"Peranku adalah sebagai seorang suami yang bertanggung jawab," kata Arturo bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


Dayana tak mau melayaninya lagi dengan berjalan duluan dari hadapan Arturo. Lelaki itu melangkah santai mengekori Dayana yang kini menekan beberapa tombol pin unitnya sehingga pintu terbuka. Tanpa disadari, Arturo sempat melirik dan melihat gerakan jari Dayana menekan pin.


"Excuse me. Kau mau terus mengikutiku?"


"Ada dua opsi untukmu sekarang, Miss Harvey. Pertama, kau ikut denganku tinggal di kediamanku. Kedua, aku yang akan tinggal di kediamanmu sekarang. Mana yang kau pilih?"


Kerutan heran muncul di wajah Dayana. Tangannya kini membuka pintu lebih lebar lalu masuk dengan gumaman merutuk Arturo secara terang-terangan.


"Biar aku perjelas!" tegas Dayana saat mereka sudah berada di dalam unit. "Pertama, kau bukan tipeku. Kedua, aku tak pernah mau menikah dengan lelaki yang merupakan kekasih kakakku sendiri. Itu menjijikan. Jelas sampai di sini?"


Arturo menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku akan jujur padamu. Kami tidak pernah melakukan hal jauh seperti yang kau lakukan dengan banyak lelaki di luar sana. Bercinta. Jadi tubuhku masih suci untukmu."


Dayana tergelak begitu saja. "Really? Jadi kau sekarang mau disebut sebagai dewa perawan? Congrats! Kalian berdua serasi sebagai dewa dan dewi perawan," ejeknya.


"I'm serius, Miss Harvey." Arturo melemparkan tatapan dengan air muka serius yang membuat senyum mengejek Dayana surut.


"Lupakan itu. Cepat tetapkan pilihanmu. Aku akan menunggu di sini," kata Arturo yang kini mendaratkan bokong di sofa.


"Astaga," desah Dayana frustasi. "Jujur padaku, Mr. Camucho. Kau jatuh cinta padaku makannya kau mempertahankan aku untuk menjadi istrimu sekarang?"


Satu sudut bibir Arturo sedikit terangkat. "Aku memang hanya ingin memanfaatkanmu untuk menjadi istri di depan keluargaku. Masalah aku jatuh cinta padamu nantinya, itu bonus."


"What?" Dayana semakin tak habis pikir dengan keputusan Arturo sekarang.


Ding! Dong!


Bel pintu berbunyi yang sukses memotong adu mulut Dayana dengan Arturo. Kaki jenjangnya kini melangkah mendekati interkom untuk melihat tamu yang berkunjung.


"****!" Dayana panik setengah mati melihat seorang lelaki tengah berdiri di luar, menekan-nekan bel agar pintu segera dibuka.


"Bagaimana ini?" gumam Dayana mulai gelisah.

__ADS_1


Ponselnya berdering, mengubah kebingungan menjadi keterkejutan. Ia menatap kontak di layar yang menunjukkan nama Damien.


"Ma chéri, kau ada di dalam?" panggil Damien yang kini mengetuk-ngetuk pintu lalu kembali menekan bel.


Dayana kembali mengintip, melihat Damien yang mulai menekan-nekan tombol pin untuk membuka pintu. Dengan cepat, Dayana berlari menarik Arturo masuk ke dalam kamar. Ia kebingungan sendiri mencari tempat untuk menyembunyikan lelaki itu agar tak dilihat Damien.


"Masuk ke sini!" titah Dayana yang membuka pintu kamar mandinya.


Kening Arturo membentuk kerutan kecil. "Untuk apa aku sembunyi?"


"Kau bodoh? Kau tidak memahami situasi ini? Di luar ada kekasihku yang akan segera--"


Ceklek!


Pintu terdengar dibuka. Dayana langsung menarik tangan Arturo lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi. Pintu ditutup dengan cepat sebelum akhirnya Dayana lompat ke ranjang lalu menyelimuti tubuh, pura-pura tidur.


"Chérie, kau sudah tidur?" tanya Damien Bonhomme yang merangkak mendekati tubuh Dayana.


Saat merasa elusan di lengan, Dayana melenguh kecil lalu membuka mata seakan-akan tidurnya terbangun karena sentuhan Damien.


"Mon Chérie, kenapa kau...?"


"Aku memanggilmu dari tadi. Ternyata kau sedang tidur," kata Damien seraya mengelus sisi wajah Dayana.


"Y-ya. Aku... Aku sedikit lelah, makannya ketiduran."


"Benarkah?" Dayana mengelus tangan Damien yang menangkup sisi wajahnya. "Aku juga merindukanmu."


Sementara itu, Arturo berdiri berkacak pinggang di depan pintu kamar mandi dengan raut yang sudah menggertak menahan kesal. Rasanya seperti seorang selingkuhan yang sedang disembunyikan.


...----------------...


Kaki telanjang Dayana mendarat di lantai dengan penuh kehati-hatian. Dia segera mengenakan kemeja milik Damien yang teronggok di lantai bersama bajunya untuk menutupi tubuh polosnya saat ini.


Dibukalah pintu kamar mandi dengan pelan agar tak menimbulkan suara yang bisa membuat Damien terbangun dari tidur lelapnya.


"Mengurungku di sini hanya untuk bercinta dengan lelaki lain. Sikapmu sangat tidak sopan, Miss Harvey," kata Arturo yang sontak membuat Dayana mendekat untuk membungkam mulut Arturo dengan sebelah tangannya.


"Jangan bicara keras. Kau bisa membangunkan Damien. Kau harus segera keluar dari sini," bisik Dayana.


Arturo menarik lepas tangan itu dari bibirnya dengan mudah. Tetra birunya mengarah pada wajah Dayana yang cukup dekat dengannya.


"Aku suamimu sekarang, Miss Harvey. Tapi kenapa kau malah memperlakukanku seperti seorang selingkuhan dengan disembunyikan begini? Kau pikir aku akan menerima semua penghinaan ini?"


"Jangan banyak bicara lagi. Ayo keluar dari sini!" ajak Dayana. Tangannya mengambil sebelah tangan Arturo untuk menariknya keluar dari sana.


Arturo tak beranjak, malah melepas pegangan tangan Dayana darinya.

__ADS_1


"Kita harus membicarakan semua ini besok," ucapnya lalu melangkah pergi dengan santai keluar dari kamar mandi.


Dayana berlari mengikuti untuk memarahi Arturo agar melangkah mengendap saja. Tapi langkah Arturo syukurnya tak membuat Damien terbangun, bahkan pintu kamarnya ditutup agak keras oleh Arturo saat dia keluar dari kamar.


"Gosh! Lelaki itu benar-benar... Argh!" geram Dayana mengepal kedua tangannya gemas.


Keesokan harinya, Dayana pergi menemui Arturo dengan datang ke kediamannya. Tak disangka, Arturo ternyata tinggal di sebuah apartemen tak kalah mewah dari apartemen yang Dayana tempati saat ini. Ya meski unit apartemen itu sebenarnya milik Damien yang diberikan pada Dayana untuk ditinggali setelah mereka berdua berpacaran.


"Alright, Mr. Camucho. Aku akan menegaskan hal ini padamu," kata Dayana sesampainya di sana, bahkan dia enggan duduk dulu karena harus segera pergi.


Arturo berjalan menuju sofa sambil membawa segelas kopi buatannya untuk diminum. Dia tak berniat menyajikan kudapan apapun untuk Dayana karena tahu wanita itu tak akan mau berlama-lama di tempatnya ini.


"Kau tidak mau duduk dulu?" tawar Arturo.


Dayana menggeleng tegas. "Aku tak akan lama."


"Baiklah kalau begitu." Arturo menyesap kopinya dengan tenang.


"Aku akan tetap menjadi istrimu, seperti yang kau mau. Kau bisa memanfaatkanku di depan keluargamu. Tapi dengan satu syarat," jelas Dayana.


"Apa yang kau mau?" tanya Arturo penasaran juga.


"Jangan mempedulikan hidup satu sama lain. Kau dengan urusanmu, dan urusanku adalah milikku. Kita hanya akan menjadi suami istri jika ada keluargamu. Apa kau mengerti?"


Arturo manggut-manggut. "Oke," balasnya singkat.


Meski heran dengan jawaban enteng itu, Dayana cukup lega dan puas karena Arturo tak akan lagi mengikuti kehidupannya termasuk seperti kejadian semalam.


"Satu lagi," tambah Dayana yang direspon tenang oleh Arturo. "Karena aku istrimu, kau harus menepati janji untuk menafkahiku. Kau harus tetap memberiku uang belanja dan apapun yang kumau dengan uangmu."


"Seperti yang kuduga, kau hanya tertarik pada uangku," gumam Arturo cukup keras didengar oleh telinga Dayana.


"Kau bilang hanya satu syarat, tapi sekarang meminta lebih," tutur Arturo.


"Satu tidak cukup," balas Dayana sambil berbalik menuju pintu keluar.


"Miss Harvey," panggil Arturo yang sukses membuat Dayana menghentikan pergerakan.


Tubuh Dayana berputar untuk melihat Arturo yang kini berjalan ke arahnya dengan langkah dan tatapan seperti hanya tertuju pada dirinya. Tak disangka, Dayana disambut dengan kegugupan sampai kakinya sedikit mundur untuk memberi jarak.


"Bilang pada kakakmu, aku baik-baik saja," ujarnya melintas setengah membungkuk untuk membuka pintu yang ada di belakang tubuh Dayana.


"Kau bisa keluar," kata Arturo dengan nada rendah yang membuat suaranya terasa berat.


Dayana sedikit meliriknya sebelum keluar dari unit apartemen tersebut. Dia mempercepat langkah melintasi koridor berkarpet merah sambil merutuk kegugupannya saat dekat dengan Arturo.


"Sial! Bodohnya aku sempat merasa dia seksi barusan," gumam Dayana memukul-mukul kepalanya sendiri.

__ADS_1


Pintu lift pun terbuka.


__ADS_2