MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
03. Wow, Ketahuan!


__ADS_3

Keringat dingin mulai terasa membasahi telapak tangan. Dayana berpikir jika pertemuan mendadak ini rasanya lebih menegangkan dibanding ketahuan selingkuh dengan lelaki lain oleh pacar sendiri.


Senyum canggung turut Dayana lemparkan pada dua wanita yang hanya diam mengamatinya. Yang satu mengamati dengan tatapan meneliti sampai ke akar-akarnya. Satunya lagi mengamati dengan tatapan sendu dari balik wajah pucatnya.


"Jadi kalian sudah menikah?" tanya Ingrid Rivera Camucho, wanita berwajah pucat yang merupakan ibunya Arturo.


"Aku membawanya menemui kalian, berarti kami memang sudah menikah," sahut Arturo.


"Aku terkejut dengan seleramu dalam memilih wanita, Art," celetuk Olivia Camucho agak sinis.


"Jangan pedulikan seleraku. Pikirkan seleramu dulu dalam memilih lelaki agar kau tak dibohongi lagi oleh mereka," cibir Arturo pada sang adik.


Olivia mendelik dengan decisan tajam ke arah Arturo. Dia meneguk minumannya yang tersedia untuk meredakan panas di dada karena kalimat Arturo memang benar.


Dayana tak mengetahui apapun yang didebatkan kakak beradik itu. Dia malah menatap sekitar untuk mengalihkan kecanggungan sampai dirinya tak sengaja melihat sesuatu yang membuat tubuhnya tak sadar bangkit.


"Kau mau ke mana?" tanya Arturo seraya menggenggam sebelah tangan Dayana yang tergantung di sebelahnya.


Dayana terkejut dengan sentuhan itu. Ia hendak mengomeli Arturo, tapi segera sadar dengan kehadiran Ingrid dan Olivia di sana.


"Aku... ingin ke toilet dulu. Boleh, kan?" pintanya sambil nyengir, menunjukkan deretan giginya yang berbaris.


"Sure," sahut Ingrid tersenyum ramah.


Dayana pun berjalan pergi dari meja tersebut. Bukannya ke toilet, dia malah belok ke pintu keluar yang membuat Olivia tak sengaja melihat hal itu sehingga kecurigaan muncul dalam pikirannya.


"Rebecca!" panggil Dayana cukup hati-hati saat dirinya menyusul sampai ke luar restoran.


"Shuttt!" Rebecca langsung membungkam mulut Dayana lalu menyeretnya ke sudut gelap dekat restoran.


"Jangan keras-keras. Nanti mereka tahu kalau aku ada di sini," katanya sambil menatap sekitar penuh waspada.


"Kau ke mana saja? Tiba-tiba kau menghilang saat kita bertukar pakaian di hari--"


"Itu tidak penting," sela Rebecca menengok ke arah pintu restoran, takut Arturo muncul. "Bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?" sewot Dayana membuat Rebecca lagi-lagi membungkam mulutnya.


"Kau dengan Arturo. Bagaimana?" tanya Rebecca lebih jelas.


"Dia cukup menyebalkan, Bec. Kenapa kau bisa berpacaran dengan lelaki seperti itu, sih?"


"Kau hanya belum tahu Arturo, Day. Dia lelaki yang sangat baik, perhatian, romantis dan bisa mempertaruhkan apapun untuk mempertahankan apa yang menjadi impiannya."


Dayana berdecih meremehkan. "Bagaimana bisa kau menyebut dia baik? Kau tidak marah melihat kekasihmu menerima menikah denganku? Malah aku yang ingin marah pada kalian berdua sekarang."


"Oh, Day. Kau nanti akan merasa beruntung," ucap Rebecca sambil sedikit mengacak-acak rambut sang adik.


"Salah satu impian Arturo adalah menikah. Saat aku meninggalkannya kemarin, aku merasa sangat bersalah karena merusak mimpinya tentang pernikahan yang selama ini ia idamkan. Makannya, Arturo memilih untuk menerima menikah denganmu daripada mempermalukan impiannya karena aku," tutur Rebecca dengan tatapan sedikit berbinar membayangkan sosok Arturo.


"Woah. Kalian berdua benar-benar gila!" decak Dayana tak percaya. "Kau memilih membatalkan pernikahan dan menyuruh adiknya menjadi pengganti hanya karena ada wartawan. Dan dia memilih menikah dengan wanita lain hanya karena tidak mau merusak impian pernikahannya. Ini benar-benar gila!"


"Day, kau sudah lihat ibunya Arturo, kan?" tanya Rebecca sambil menggenggam tangan Dayana.

__ADS_1


"Iya," balas Dayana agak ketus.


"Dia juga salah satu alasan kenapa Arturo mempertahankan pernikahan ini." Rebecca menutup wajahnya yang memakai kacamata hitam dengan sebelah tangan.


"Oh, aku makin merasa bersalah. Arturo pasti akan sangat marah padaku bila kita bertemu nanti," lanjutnya bergumam.


"Apa maksudmu?"


"Arturo pernah memberitahuku kalau... ibunya punya penyakit serius yang membuat hidupnya tidak akan lama lagi. Keinginannya adalah melihat Arturo menikah dan berdampingan dengan seorang wanita yang akan merawatnya dengan setulus hati suatu hari nanti jika dia tak ada. Kau tahu kenapa kami melakukan pernikahan mendadak kemarin?"


Dayana menggeleng polos, tanda dia memang tidak tahu apapun.


"Ibunya hampir di ujung maut, sampai Arturo buru-buru mengajakku menikah. Dia ingin segera memperkenalkan dan menunjukkan aku sebagai wanitanya di hadapan Mrs. Camucho. Arturo tidak ingin mengecewakan ibunya, Day. Dia sangat menyayangi Mrs. Camucho."


Dayana menjadi paham kenapa wajah Ingrid pucat dan agak lesu saat dilihatnya tadi.


"Berjanjilah padaku, Day. Bertahanlah dengan pernikahan ini. Hanya sementara. Sampai Mrs. Camucho--"


"What? Apa maksudmu?" Dayana terheran dengan permintaan aneh Rebecca.


"Ini tidak akan lama. Aku janji akan kembali padanya dan kau bisa kembali pada kehidupanmu."


"Tapi, Bec. Aku-- Becca! Rebecca!"


Sayangnya, Rebecca sudah melesat pergi dari hadapannya.


...----------------...


Makan malam canggung itu akhirnya selesai. Dayana bisa bernafas lega saat mereka keluar dari restoran untuk bersiap pulang.


"Y-ya?"


Ingrid mengulas senyum ramah pada Dayana, membiarkan Olivia yang sudah membukakan pintu mobil untuknya masuk.


"Aku senang bisa bertemu denganmu," ungkapnya tulus.


Dayana melempar senyum kecil. "Aku juga, Mrs. Camucho."


"Selama ini Arturo hanya diam, tak mau mengatakan apapun perihal kekasihnya kalau ku tanya. Setelah tahu dia punya wanita sepertimu, aku merasa begitu lega. Aku harap kau bisa merawatnya dengan baik." Ingrid sedikit mendekati Dayana untuk membisikkan, "Arturo kadang sedikit rewel dan susah diatur."


"Mom, come on!" desak Olivia yang sudah pegal memegangi pintu mobil agar tetap terbuka.


Ingrid memeluk Dayana sebagai salam perpisahaan mereka di sana. Hal itu menarik fokus Arturo yang baru saja keluar dari restoran.


"Art, Mama pulang dulu," pamit Ingrid pada Arturo.


"Hati-hati," sahut Arturo setelah berpelukan dengan Ingrid. Untuk kesekian kalinya, Ingrid memberi pelukan pada Dayana yang hanya bersikap canggung dan kebingungan.


Setelah Ingrid dan Olivia pergi, kini tersisa Arturo dan Dayana yang masih terdiam di tempat memandangi kepergian dua wanita itu.


"Alright. Apa kita sudah selesai?" tanya Dayana menatap Arturo. "Aku ingin pulang dan istirahat untuk menghilangkan semua kegilaan ini."


Arturo tak menjawab apapun, kakinya malah melenggang duluan untuk pergi dari sana. Kesal karena pertanyaannya tidak dijawab, Dayana mengikuti dari belakang untuk melemparkan protesan karena dirinya yang mendadak dipertemukan dengan keluarga lelaki itu tanpa rencana apapun.

__ADS_1


"Oh, gosh! Siapa yang meneleponku?" rutuk Dayana lalu merogoh ponselnya yang berdering.


"Hai, baby!" sapa Dayana mendadak merubah wajahnya menjadi manja saat mengangkat panggilan Liam.


"Kau di mana?"


"Aku?" Dayana melirik Arturo yang sudah membuka pintu untuk masuk ke dalam mobilnya. "Aku masih di rumah sakit. Kenapa?"


"Di rumah sakit, huh?" Terdengar kekehan kecil di sebrang sana. "Berbaliklah ke arah kananmu."


Dayana terheran, tapi badannya bergerak untuk berbalik menghadap ke sebelah kanan. Manik matanya pun langsung terarah pada seorang lelaki yang berdiri dekat sebuah mobil sambil menempelkan ponsel di telinga sama sepertinya.


"Li-Liam?" Tangan Dayana turun secara perlahan.


Liam berjalan menghampiri setelah mengakhiri panggilannya. "Sedang apa kau di sini? Kau bilang tak bisa datang karena ada di rumah sakit."


"Hei, Liam. Tenang dulu. Kita akan bicarakan ini baik-baik. Okay?" bujuk Dayana merangkul lengan Liam untuk mengajaknya pergi dari sana agar mereka berdua bisa bicara dengan tenang.


"No! Kau membohongiku. Aku sudah melihatmu, Day. Kau bersama lelaki lain sedari tadi," kata Liam yang melepaskan rangkulan Dayana.


"Kau salah paham. Aku--" Mata Dayana langsung terarah pada noda agak kemerahan di ujung kerah dekat leher Liam. "Apa ini lipstik?"


Liam langsung menutupi hal yang dilihat Dayana. "Jangan mengalihkan topik. Aku-- Dayana!"


Liam panik setengah mati saat Dayana berjalan ke mobilnya lalu menempelkan wajah untuk mengintip dalamnya melalui kaca jendela.


Saat itu juga, seorang wanita yang sedang menunduk ketahuan oleh Dayana. Ia langsung mengulas cengiran dan melambaikan tangan pada Dayana.


"Kau bermesraan bersama wanita lain? Di dalam mobilmu?"


Liam mencoba menggapai tangan Dayana untuk menggenggamnya. "Kau salah paham, Honey. Dia hanya asisten baruku yang ikut--"


"Aku tidak bodoh, Liam. Ada noda lipstik di kerahmu. Ada bau parfum lain menempel di bajumu. Aku harusnya mengerti bau aneh setiap kali masuk ke mobilmu. Ternyata kau selalu bersama dengan wanita lain di dalam sana."


"Honey, ayolah. Kenapa kau jadi menyalahkanku? Aku yang harusnya marah padamu karena kau--"


"Apa kau masih akan lama?" potong Arturo yang tiba-tiba datang menghampiri di tengah perdebatan itu.


Liam langsung menunjuk Arturo. "Lelaki ini! Kau harusnya yang menjelaskan padaku, siapa dia? Kenapa kau bisa datang ke sini bersamanya?"


"Aku suaminya," sahut Arturo dengan entengnya yang membuat Dayana melotot kaget.


"Suami?" Liam menatap Dayana tak menyangka. "Kau sudah menikah?"


"Liam, aku--"


"No! Jangan sentuh aku!" bentaknya ketika Dayana mencoba meraih lengan. "Sekarang kita sama-sama punya orang lain. Jadi hubungan kita sampai di sini."


Dayana melongo mendengar dirinya yang diputuskan begitu saja, bahkan Liam masuk ke dalam mobil dan melaju melewati tubuh Dayana yang masih mematung.


"LIAM! BAGAIMANA DENGAN MOBIL ALPHARD YANG KAU JANJIKAN? TAS CHANNEL-KU?" teriak Dayana sementara mobil Liam sudah menjauh dari pandangan.


"Sial!" erang Dayana menghentakkan sebelah kaki ke tanah dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Aku turut bersedih melihatmu kehilangan satu sumber keuangan sekarang," ejek Arturo dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.


"Ini semua gara-gara kau!" tuduh Dayana melirik tajam pada Arturo, seakan ingin membunuhnya sekarang juga.


__ADS_2