
Rebecca langsung mengambil sebelah tangan Arturo untuk digenggamnya setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil yang kedap suara. Raut wajah Rebecca dibuat panik, seakan tengah ketakutan akan sesuatu.
"Art, aku takut. Tadi ada yang mengancamku dengan foto-foto Dayana dan dia bilang akan mempermalukan aku. Kau lihat berita? Semuanya terus menyebut kalau aku punya adik yang gatal dengan banyak lelaki."
"Rebecca," panggil Arturo seraya melepaskan genggaman itu. Rebecca termenung memandangi tangannya yang terasa kosong karena dilepas Arturo begitu saja.
"Berhenti membicarakan istriku. Kau juga tidak seharusnya mengotori bibirmu dengan kalimat barusan."
"Art, kenapa kau jadi begini?" protes Rebecca. "Apa Dayana sudah berhasil menggodamu menjadi seorang lelaki yang berbeda begini? Apa yang dia tawarkan padamu? Selangkangannya? Dia selalu melakukan itu pada semua lelaki agar mendapat--"
"Aku bilang berhenti membicarakan istriku seperti itu! Apa kau tak dengar?" geram Arturo dengan rahang menggertak yang membuat Rebecca termangu melihatnya.
"Art..." lirih Rebecca mulai berkaca-kaca.
Arturo mengusap wajahnya kasar. "Rebecca, kalau aku tahu foto itu ada hubungannya denganmu, aku tak akan bisa memaafkanmu lagi."
"What?" Rebecca tertohok. "Kenapa kau malah menuduhku? Kau mengira aku yang mengambil gambar menjijikan itu?"
"Aku bersungguh-sungguh," tegas Arturo memberitahunya lagi. "Aku sudah memaafkanmu yang pergi dari acara pernikahan kita saat itu dan sekarang aku sudah menerima semuanya, hidup bersama Dayana. Tapi jika aku tahu kau yang ternyata berusaha menyakiti Dayana saat ini... Aku tak akan bisa memaafkanmu lagi, Rebecca."
Sementara itu, Dayana menyeret kopernya dengan langkah terburu-buru. Ia berusaha bersikap tenang memasuki lift, meski caci maki Rebecca yang menyebutnya wanita murahan terus terngiang melukai harga diri.
Sekarang Dayana memilih untuk pergi saja dari sana, enggan mengganggu keduanya dan dituduh menggoda Arturo. Meski sekarang Dayana ragu di mana tempat singgahnya karena dia tak punya tempat lain lagi dan di luar hujan begitu deras.
Ting!
Lift terbuka. Dayana buru-buru menyeka air matanya yang sempat keluar saat ada seseorang di depan sana hendak masuk.
"Miss Harvey?" panggil Sebastian terheran.
Dayana mulai mengangkat wajah sambil berusaha tersenyum. "Mr. Reeves. Aku tak menyangka kita bertemu lagi."
Lift bergerak. Kini hanya ada mereka berdua di dalam sana. Diam-diam Sebastian melihat Dayana dari tembok cermin pintu di depannya. Matanya juga beralih pada koper merah muda yang berdiri tegak di tengah-tengah mereka berdua.
"Kau menangis?" tanya Sebastian.
Dayana kembali mengulas senyum. "Tidak. Tentu saja tidak."
"Matamu terlihat sedih dan sembab. Aku pernah melihatnya pada seseorang." Anabela.
"Aku hanya kelilipan." Alasan klise.
"Mau kubantu?" tawar Sebastian meski tak tahu masalah apa yang sedang Dayana hadapi saat ini sampai menangis.
"Tidak. Aku hanya... sedang membereskan beberapa barangku," sangkalnya.
__ADS_1
Ting!
Pintu terbuka di lantai pertama. Dayana mulai mengambil gagang kopernya untuk ditarik pergi, tapi tiba-tiba Sebastian ikut keluar lalu menahan sebelah tangan Dayana yang membuatnya menoleh.
"Mr. Reeves?"
Sebastian menghela nafas kecil. "Kau mau pergi di tengah hujan deras begini?"
"Aku bisa pesan taksi." Dayana tak yakin mengambil mobilnya di basement karena sepertinya Rebecca dan Arturo masih ada di sana. Alhasil, dia berniat pergi pakai taksi saja.
"Aku tidak tahu apa masalahmu sekarang, Miss Harvey. Kau mungkin bisa menceritakannya padaku."
Dayana terdiam. Kakinya perlahan melangkah seakan tengah terhipnotis untuk mengikuti Sebastian kembali.
Mereka berdua menunggu di depan lift yang kini terbuka. Sayangnya, di dalam lift itu ternyata ada Arturo yang sudah hendak kembali ke atas. Mata lelaki itu mengarah pada sebelah tangan Dayana yang dipegang oleh Sebastian.
"Kenapa kau berani memegang tangan istriku?" tanya Arturo yang mencengkram kerah baju Sebastian begitu saja keluar dari lift.
"Apa?" Sebastian mengerutkan kening bingung lalu menatap Dayana seperti meminta penjelasan.
"Arturo, lepaskan dia! Mr. Reeves hanya--"
"Reeves?" Arturo melonggarkan cengkramannya perlahan. Mata biru dengan sorot tajamnya kini mengamati wajah Sebastian yang sudah pernah ia lihat di beberapa berita.
"Jauhi istriku!" seru Arturo yang kini menghempas Sebastian.
...----------------...
Hembusan nafas lelah turut Dayana ciptakan setelah dirinya kembali berdiri di unit apartemen Arturo. Lelaki itu terlihat sedang ada di dapur, menyajikan kembali sarapan yang sudah dia buat.
"Duduklah," titah Arturo seraya menyeret kursi untuk Dayana.
Dengan perlahan, Dayana duduk di kursi tersebut lalu Arturo bergerak ke kursi lain yang ada di depan.
"Kenapa kau tadi pergi?" tanya Arturo.
Dayana mulai menyuapi mulut dengan makanan sebelum menjawab, "Aku memang tidak sepatutnya ada di sini. Rebecca benar, aku hanya wanita penggoda. Aku bahkan menggodamu hanya karena ingin uangmu."
"Apa salahnya menggoda suamimu sendiri?" balas Arturo tanpa menoleh pada Dayana. "Tidak ada salahnya kau menggoda dan menginginkan uangku. Mungkin kau memang salah karena punya banyak lelaki di luar sana, tapi aku yakin kau bisa merubah itu. Aku menawarkanmu untuk hanya melihatku. Aku bisa memberikan apapun yang kau mau, Dayana."
Dayana mengamati Arturo cukup lama tanpa mengeluarkan sepatah dua patah kata. Kepalanya terpikirkan sesuatu yang ingin sekali ia ketahui jawabannya.
"Kenapa kau memilih untuk bersamaku? Mempertahankan pernikahan ini dan menahanku agar tetap menjadi istrimu?" tanya Dayana seraya memijat kecil pelipisnya.
"Apa kau tidak merasa bersalah pada Rebecca? Dia mencintaimu, dan kau mencintainya. Tapi sekarang kau tiba-tiba beromong kosong dengan bilang hanya aku satu-satunya wanita yang ada di hatimu. Tidak kah kau berpikir kalau kau ini lelaki kejam? Kau mempermainkan aku dan saudariku."
__ADS_1
Kini Arturo mengalihkan tatapannya pada Dayana dengan mulut yang masih mengunyah kecil sarapannya.
"Rebecca bukan wanita yang tepat untukku," jawabnya.
Dayana berdecih. "Jadi wanita yang tepat untukmu adalah wanita murahan? Yang menggoda banyak lelaki, tidak malu membuka selangkangannya unt-- "
"Jika kau tidak ingin menjadi murahan seperti apa yang kau pikirkan, maka berubahlah untukku!" tegas Arturo yang beranjak berdiri menyudahi sarapannya yang masih tersisa banyak.
"Berhentilah dekat dengan lelaki lain seperti apa yang kulihat tadi. Aku tak menyukainya," tambahnya lalu melangkah lebar menuju ke dalam kamar.
Dayana merenungi sikap Arturo padanya barusan. Dia menyelesaikan makan malam lalu berjalan masuk ke dalam kamar dengan hati-hati.
Ternyata Arturo tak ada di sana. Akan tetapi pintu ruang kerja terbuka yang membuat Dayana berjalan ke sana, melihat Arturo yang sedang berdiri berkacak pinggang di depan rak bukunya yang menempel di dinding.
"Hei," panggil Dayana lembut berdiri di belakang Arturo. "Aku... tidak pernah berdebat seperti tadi. Semua pacarku tidak terlalu peduli dengan sikapku asalkan aku ada untuk mereka."
Tak ada respon dari Arturo yang masih berdiri membelakanginya. Hal itu membuat Dayana memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di perut Arturo. Kepalanya bersandar nyaman di punggung keras lelaki itu hingga Dayana memejamkan mata untuk menikmati kenyamanannya.
"Asal kau tahu, aku tak pernah melakukan ini," gumam Dayana.
Arturo melepas kedua tangan Dayana lalu berbalik sehingga pelukan itu merubah mereka menjadi saling berhadapan.
"Kau melakukannya padaku," timpal Arturo melembut seraya membelai sisi wajah Dayana yang mendongak lalu menyeka rambut kecilnya ke belakang telinga.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Dayana tiba-tiba dengan mata yang lurus terarah pada manik biru Arturo.
"Itu privasi," balas Arturo.
"It's not privacy if you love someone, Art. Itu antara dua orang, kecuali kau memang hanya mencintai dirimu sendiri."
Arturo tersenyum tipis. "Jika aku mencintaimu, kau mau menerimanya?"
Raut wajah Dayana terdiam seakan tengah berpikir. "Aku sudah terlalu sering menerima banyak cinta," candanya.
Arturo menunduk mencium bibir Dayana yang juga mendapat balasan. "Kau menerima ciumanku, aku asumsikan kau juga menerima cintaku."
"No way! Kau curang."
Arturo memberi kecupan kecil beberapa kali di bibir Dayana. "Tidak apa-apa curang jika kau menyukainya."
Dayana tersenyum. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Arturo lalu berjinjit agar mereka berdua bisa saling memagut bibir dengan mudah.
Senyuman muncul di bibir Dayana. Dia merasa senang, tak seperti saat menerima ciuman dari semua kekasihnya.
Arturo berbeda.
__ADS_1
Dayana berpikir, apakah dirinya memang sudah mulai tulus menyukai dan mencintai lelaki ini?