MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
23. Luluh Hati


__ADS_3

Ding! Dong!


Suara bel membuat Sebastian berjalan membukakan pintu untuk Dayana dan Arturo yang sudah datang menyanggupi undangan makan malamnya waktu itu.


"Masuklah." Sebastian menyisi, memberikan jalan bagi sepasang suami istri itu agar bisa masuk.


Di sana ternyata sudah Ada Anabela yang sedang menyajikan makan malam buatannya ke atas meja. Ia melemparkan senyum ramah pada Dayana dan Arturo yang mulai mendaratkan bokongnya di kursi.


"Jika Sebastian tak memberitahuku, aku tidak akan tahu kalau kau sudah menikah, Dayana," ucap Anabela ikut duduk di kursi sebelah Sebastian.


Dayana melirik Arturo dengan hati-hati. "Art, dia Anabela Hoover."


Arturo saling bersalaman dengan Anabela. "Arturo Camucho."


"Senang bertemu denganmu, Mr. Camucho."


"Okay. Mungkin kita bisa mulai makan malamnya? Semua ini buatan Anabela. Dia pandai memasak tapi aku tidak tahu akan seenak apa makan malam ini," lontar Sebastian meliriknya bercanda.


Mereka pun makan malam dengan tenang. Tapi Sebastian sedikit terganggu dengan sikap Dayana yang terus diam bahkan makan seperti tak bersemangat sama sekali.


"Mr. Camucho, kau terlihat familiar. Apa kita pernah bertemu?" tanya Anabela yang berusaha memecah keheningan di antara mereka.


"Aku pernah menghadiri acara ulang tahun Tobias King dan melihatmu dengan suamimu juga ada di sana," jawab Arturo yang membuat Sebastian terdiam, begitu pun Anabela.


"A-ah, kau pernah melihat suamiku ternyata," gumamnya menunduk lalu kembali makan dengan sikap berbeda.


"Aku mengenal Jonathan Reeves. Aku pernah bertemu dengannya untuk membicarakan pembelian rumah di Brooklyn," ungkap Arturo.


"Kau punya rumah di sana?" imbuh Sebastian bertanya.


Arturo mengangguk.


"Kenapa kau sekarang tidak tinggal di rumahmu itu?" tanya Anabela penasaran.


"Aku akan tinggal di sana dengan istriku. Kami mungkin akan pindah satu minggu lagi."


Ucapan Arturo yang secara tiba-tiba itu membuat Dayana sontak menoleh sampai terbangun dari duduknya. Ia menyadari tatapan heran dari Sebastian, Anabela, bahkan Arturo sedang terarah padanya.


"A-ah, maafkan aku." Dayana memijit kecil pelipisnya. "Mr. Reeves, apa aku bisa menggunakan toiletmu sebentar?"


"Sure," kata Sebastian. Tatapanya terus mengarah pada kepergian Dayana karena wanita itu bersikap aneh sedari tadi.


Sesampainya di toilet, Dayana memandangi dirinya sendiri di cermin. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan perasaan.


Meminta Arturo untuk berpisah dengannya adalah hal yang tidak mudah. Apalagi setelah mendengar kesungguhan Arturo yang bahkan ingin menempati rumah yang sudah dibeli dari lama bersamanya, membuat Dayana semakin berat untuk melakukan pilihan itu.


"Okay. Aku akan membicarakan semua ini dengannya," tekad Dayana mencoba menguatkan hatinya yang ternyata mulai luluh.


Makan malam pun selesai.


Dayana dan Arturo sudah pamit untuk pergi ke unitnya. Sedari tadi, Arturo melayangkan tatapan meneliti pada Dayana yang bersikap tidak seperti biasanya.


"Kau ada masalah?" tanya Arturo setelah mereka menginjakkan kaki di unit hunian.


"Tidak. Aku tidak ada masalah apapun. Aku hanya... kelelahan," aku Dayana lalu melenggang masuk ke dalam kamar.


Arturo tak bodoh. Apa alasannya Dayana kelelahan ketika wanita itu hanya diam di rumah tanpa pekerjaan berat apapun?

__ADS_1


Ada sesuatu yang sedang Dayana sembunyikan, pikirnya menduga.


Keesokan harinya, Arturo yang baru bangun tidur sudah mendapati Dayana tak ada di sampingnya. Bahkan wanita itu juga tak ada di ruangan apartemen mana pun hingga tak mengangkat panggilan sama sekali.


Arturo semakin cemas. Ia hampir mau pergi untuk mencari sebelum matanya menemukan secarik kertas yang tertempel di kulkas.


^^^Aku pergi ke rumah orang tuaku dulu.^^^


^^^Don't miss me.^^^


^^^Dayana^^^


Tanpa Arturo ketahui, Dayana sekarang sedang berdiri di depan sebuah pintu apartemen. Bukannya menekan bel, dia malah menggedor-gedor pintu dengan keras sambil berteriak, "REBECCA! KELUAR!"


Tak ada sahutan dengan gedoran, tangannya kini menekan bel beberapa kali hingga pintu dibuka oleh Rebecca yang terlihat seperti baru bangun tidur mengenakan lingerie tipis.


"Aku ingin--" Kalimat protes Dayana terpotong ketika melihat seorang lelaki dari belakang Rebecca yang keluar melewatinya begitu saja.


"Kau sudah tidur dengan lelaki tadi?" tunjuknya ke arah kepergian lelaki itu. "Damn! Kau melakukan pembohongan publik, Bec."


Rebecca menarik Dayana masuk ke dalam unitnya agar mereka bisa bicara tenang tanpa takut ketahuan media atau orang lain di luar sana.


"Ada apa kau kemari? Mengganggu saja!"


Dayana mencoba menenangkan perasaannya terlebih dahulu.


"Jika aku berpisah dengan Arturo, kau janji tidak akan mengganggu Miley?"


"Sure."


"Satu lagi. Jujur padaku, Bec. Kau yang menjebakku ke rumah bordil dan menyebarkan berita itu?"


"Kau keterlaluan, Bec. Kau tak seharusnya melakukan ini karena kau sendiri yang membuat Arturo bersamaku. Jadi jika aku dan Arturo seperti ini, jangan menyalahkanku! Menangislah sendirian karena kebodohanmu yang hanya ingin mempertahankan cap perawanmu yang bullshit itu!" seru Dayana meninggi sebelum akhirnya keluar dengan raut jengkel.


...----------------...


Dayana terduduk di kursi dengan payung cukup besar depan sebuah cafe seraya menikmati minuman dinginnya. Dia menunggu seseorang yang kini muncul tanpa izin apapun duduk di kursi kosong depannya.


"Well, kau sudah sadar ingin kembali padaku?"


Dayana meletakkan minumannya. "Never."


Damien bersandar santai, cukup kecewa dengan jawaban singkat itu. "Kenapa kau mengangajakku bertemu?"


"Kau bilang pamanmu memiliki agensi dengan model-model ternama di Prancis?"


Damien mengangguk santai lalu mengambil minuman Dayana begitu saja untuk diteguk.


"Aku akan meminta bantuanmu," ucap Dayana agak berat hati mengatakannya, apalagi pada mantan kekasihnya sendiri.


"Kau bilang tak mencintaiku, tapi kau membutuhkanku."


"Ayolah, Damien. Aku bahkan membutuhkan tukang salon untuk memotong rambutku. Apa itu berarti aku mencintai mereka?"


Damien hanya terkekeh lalu kembali menyeruput minuman milik Dayana.


"Aku butuh bantuanmu. Tapi bantuan itu akan datang saat aku darurat membutuhkannya. Ini hanya salah satu opsi saja. Jaga-jaga bila aku... Ya melakukan hal yang bodoh," cicitnya yang tak dimengerti Damien.

__ADS_1


"Bisakah nanti kau memasukkan seorang temanku ke sana?" Pintanya penuh harap. "Dia juga seorang model yang bagus. Dia akan bekerja dengan baik karena ini mimpinya. Kau mau, kan?"


"Wow. Look at this!" Damien tertawa kecil. "Aku tak pernah melihatmu merengek untuk orang lain begini."


"Berhentilah menggodaku, Damien. Aku serius!"


"Okay. Anything you want, Ma Chéri," ucapnya seraya mengedipkan sebelah mata.


Seharian menunggu kabar dari Dayana sampai Arturo tak fokus dengan pekerjaannya saat di kantor. Namun ketika dirinya pulang ke apartemen, wanita itu tiba-tiba ada di sana sedang berusaha memasak sesuatu di dapur.


"Hai, Art!" sapanya berbalik. Senyuman lebar nan manis terulas di bibir Dayana yang memakai celemek abu-abu.


"Oh, God!" Arturo berjalan dengan cepat untuk meraih tubuh Dayana ke dalam pelukannya.


Dayana mencoba menahan rasa sesak karena dekapan lelaki itu cukup erat seperti mau meremukkan tubuhnya.


"Art, kau mencekikku," ucap Dayana memberitahu.


"Sorry." Arturo melonggarkan pelukannya lalu mengamati Dayana dari kepala sampai bawah.


"Kau ke mana saja? Kau tidak menghubungiku seharian ini."


Dayana mencabut note yang ditempelnya di kulkas. "You see? Di sini tertulis don't miss me. Aku pergi menemui Mom dan Dad sebentar."


"Kau tiba-tiba tidak ada saat aku bangun. Aku pikir--"


"Aku membuatkanmu makan malam," sela Dayana yang berbalik untuk kembali memasak supnya.


Arturo memeluk Dayana dari belakang, menyandarkan dagu di bahunya sambil sesekali mencium sisi wajahnya. Hal itu membuat Dayana terkikik geli dan mengomeli Arturo.


Malam yang sangat indah dengan kehangatan cinta di antara dua insan yang memadu kasih. Kini, Dayana hanya menatap Arturo yang sedang tidur begitu lelap bak bayi. Tangannya membelai kecil sisi wajah tegas itu sehingga kedua mata birunya terbuka.


"Melihat apa yang kau suka, hmm?" goda Arturo dengan suara rendah nan berat.


"Aku suka wajah tampan," gumam Dayana menangkup sisi wajah Arturo yang menunduk membalas tatapannya. "Do you love me?"


Arturo terdiam sejenak untuk mencari tahu alasan Dayana tiba-tiba menanyakan hal itu.


"Yes, i do."


"Kau akan memberikan apapun yang kumau?"


Kedua alis Arturo menukik. "Ada apa denganmu?"


"Jawab saja."


"Baiklah. Iya, aku akan memberikan apapun yang kau mau."


Dayana tersenyum puas. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Arturo dan mengatur kepala agar nyaman terbaring di dada bidangnya.


"Tentang rumah di Brooklyn... Aku serius. Aku akan mengajakmu tinggal di sana," kata Arturo dengan tangan mengelus lembut lengan Dayana.


"Aku sengaja membelinya untuk kutinggali dengan istriku suatu hari nanti. Dan sekarang, aku sudah bersamanya. Kita bisa pindah ke sana untuk membuat kehidupan yang baru," tambahnya. Namun Dayana hanya diam dengan tatapan termenung menatap dinding.


"Dayana?" panggil Arturo karena tak ada sedikit pun respon dari wanita yang ada didekapannya itu.


"Apa? Maaf, aku barusan tertidur. Jadi... tidak terlalu mendengarkanmu."

__ADS_1


Arturo menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua yang tak berjarak. Dia semakin menarik tubuh Dayana lalu memejamkan mata untuk tidur.


"Ayo kita tidur," ajaknya.


__ADS_2