
Musik dalam sebuah kelab malam berputar memekak telinga. Namun di samping itu, semua orang di sana tampak menikmatinya. Ada yang berjoged sensual, saling menggoda, menari di tiang, dan mabuk-mabukkan.
Kaki Arturo berani berjalan di tengah hingar bingar kelab tersebut. Matanya mulai mengarah pada seorang lelaki yang sedang duduk di sofa dengan diapit dua wanita seksi.
"Who are you?" tanyanya ketika melihat Arturo duduk begitu saja di depan mereka.
"Kau yang membawanya ke rumah bordil malam itu?" tanya Arturo tanpa basa-basi.
Danny Nakamoto terdiam sejenak untuk berpikir. Ia melepaskan dua wanita seksi yang mengapitnya untuk pergi, membiarkan Arturo dan dirinya berbincang berdua.
"Siapa maksudmu? Aku tak pernah pergi ke tempat seperti itu," sahutnya dengan santai menuang minuman ke gelas.
Arturo terduduk bersandar dengan kedua kaki saling bertumpang. Ia sedikit membuka sebelah jaketnya sehingga netra Danny terarah pada sebuah senjata yang terselip di celana Arturo.
"Aku bisa langsung melubangi kepalamu di sini," ancam Arturo dengan wajah tenang. "Jadi berikan aku kejujuran. Kenapa kau membawanya ke tempat itu dan menyebarkan foto serta beritanya ke semua media?"
"Siapa kau?" tanya Danny menegakkan tubuh dengan kaku.
"Just answer my question!" seru Arturo lalu berdiri seraya mengarahkan pistol ke arah Danny yang membuat beberapa orang di sekitarnya menjerit takut.
"What the hell, man?" Danny menelan ludah takut melihat moncong pistol di depan wajahnya sendiri.
"Jawab atau aku akan--"
"A-aku hanya disuruh. Aku tidak melakukan apapun padanya di sana. Aku bersumpah!" ungkap Danny yang panik.
"Siapa yang menyuruhmu?" Arturo belum puas.
"A-aku tidak... tidak bisa memberitahumu."
Arturo mengambil botol wine yang langsung ia banting setengahnya ke meja sehingga ujungnya runcing dan menjadi senjata ampuh untuk membuat Danny kencing di celana.
"Aku bisa membunuhmu di tempat lain jika tak bisa di sini. Jadi jawab saja," desak Arturo.
"Okay. Okay. Chill, man! Aku akan memberitahumu," ujar Danny angkat tangan. "Aku hanya disuruh membawa wanita itu ke rumah bordil oleh... Rebecca. But i swear, tidak melakukan apapun selain berpura-pura tidur dengannya."
Arturo menarik pelatuk yang membuat Danny memejamkan mata sambil berteriak histeris sampai orang-orang di sana ikut tegang. Bahkan celananya sudah basah karena saking takutnya Arturo benar menembak kepala.
Ternyata hanya sebuah kelereng kecil yang keluar dari pistol itu. Arturo terus membidik Danny dengan kelereng lalu melempar pistol mainannya ke lantai.
"Thank you," ucap Arturo lalu berjalan pergi dari sana. Meski hanya pistol mainan, tapi Arturo berhasil membuat semua orang menyisi karena takut padanya.
Danny mengerang kesal melihat dirinya pipis di celana. Dia beranjak bangun mengumpat kepergian Arturo.
"F*CK!" teriaknya keras.
Sementara itu, Dayana berjalan masuk ke dalam sebuah restoran untuk menemui seseorang. Sudah ada seorang wanita yang terduduk sendirian di meja tengah yang kini Dayana dekati.
"Maafkan aku. Jalanan macet dan--"
"Kau sudah menikah?" potong wanita itu.
"Kau mungkin sudah tahu semuanya dari Rebecca. Aku tidak perlu--"
"Berani sekali kau menikah tanpa meminta restuku. Restu ayahmu. Kau sudah merasa tak punya orang tua?"
__ADS_1
"Oh, Mom. Jangan terlalu keras. Semua orang melihat kita."
"Aku tidak peduli dengan orang lain. Kau sudah tak menganggapku sebagai ibumu, Dayana."
"Mom, ayolah. Aku akan menjelaskan--"
"Benar kata Rebecca. Kau sekarang sudah mulai berubah, tak peduli keluarga sendiri, dan melakukan apapun seenaknya. Kau bahkan berani mempermalukan keluargamu sendiri, Dayana. Aku tak pernah mengajarimu untuk bermain bersama banyak lelaki dan menjadi wanita yang..."
Dayana mengernyitkan kening dalam. "What?"
Elise mulai menitikan air mata. "Kau tak tahu kalau selama ini aku dan ayahmu menunggumu. Tapi lihatlah. Kau malah menjadi hidup seenaknya sendiri tanpa tahu malu."
"Mom!" seru Dayana mulai kesal.
"Dan satu hal yang membuatku... tak bisa berkata-kata lagi padamu, Dayana. Kau menggoda kekasih kakakmu sendiri agar bisa kau nikahi?"
"Apa?" Dayana beranjak bangun dengan emosi. "Itu tidak benar! Aku tidak pernah menggodanya agar menikah denganku. Rebecca sendiri yang melemparkan Arturo padaku, Mom! Apa kau tidak percaya padaku?"
...----------------...
Pintu mobil ditutup dengan keras. Dayana melangkah menghentak di sepanjang basement menuju lift karena terus teringat dengan perdebatan bersama ibunya di restoran tadi.
Namun kekesalan Dayana segera surut ketika melihat Sebastian yang baru saja pulang bekerja tengah berdiri menunggu lift terbuka. Kepala lelaki itu menoleh saat menyadari kehadiran Dayana, tapi raut wajahnya seakan dibuat tenang.
Keadaan menjadi canggung ketika Dayana berdiri di sampingnya, ikut menunggu lift terbuka.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau sudah memiliki suami," ungkap Sebastian mengelus tengkuk dengan raut tak enak.
Dayana menoleh. "No. Untuk apa kau minta maaf? Kau tidak salah. Aku yang harusnya... minta maaf karena sikapnya."
Sebastian terkekeh kecil memikirkan sesuatu. "Aku selalu terjebak dengan seorang wanita yang sudah menikah. Ini aneh."
"Apa kalimatmu ada hubungannya dengan Anabela?" tanya Dayana penasaran.
Pintu lift pun terbuka. Mereka sama-sama masuk ke dalam sambil melanjutkan perbincangan.
"Apa terlihat?"
Dayana mengulas senyum. "Tatapanmu padanya berbeda. Saat kita makan malam bersama, kau terus meliriknya seakan hanya ada kau dengannya di sana."
"Aku tak berbakat jadi seorang aktor," desah Sebastian pelan.
"Kenapa kau tidak mengungkapkan perasaan pada Anabela? Apa dia sudah punya lelaki lain?" tanya Dayana penasaran.
Sebastian menghembuskan nafas kecil. "Aku sudah memberitahunya, puluhan kali. Tapi... tidak berhasil. Anabela menyukai kesendiriannya sekarang dan masih berpikir jika hubungan dengan seseorang akan mengikat kebebasannya lagi. Aku tidak ingin memaksakan perasaan dia."
"Apa... dia masih memikirkan kakakmu?"
Sebastian termenung selama beberapa saat. "Mungkin aku mengingatkannya pada Jonathan," gumamnya pelan.
Dayana hendak bertanya lebih jauh perihal gumaman itu, tapi pintu lift sudah terbuka. Alhasil, pertanyaannya harus nyangkut di tenggorokan.
"Senang bisa bicara denganmu, Miss Harvey."
Tubuh Sebastian sudah keluar dari lift sehingga Dayana dengan cepat membuat lift kembali terbuka.
__ADS_1
"Mr. Reeves!" panggilnya membuat Sebastian berbalik. "Apa... kita masih bisa berbincang? Kau bisa meminta pendapat atau saranku berkaitan dengan Anabela."
Kedua sudut bibir Sebastian terangkat. "Thanks."
Setelah menyelesaikan urusannya, Arturo kembali ke apartemen. Dia mendapati Dayana sudah terbaring dengan lelap di atas ranjang. Tubuhnya beringsut menaiki ranjang, meski hati-hati, tapi pergerakan Arturo membuat kedua mata Dayana terbuka.
"Kau sudah pulang," gumam Dayana yang menangkup sisi wajah Arturo dalam keadaan mata masih mengantuk.
Arturo mengatur tubuhnya nyaman berbaring di ranjang lalu menarik Dayana ke dalam dekapan. Lengan kirinya dijadikan bantalan untuk kepala Dayana.
"Tidurlah lagi," titah Arturo seraya mengelus-elus punggung Dayana untuk kembali menidurkannya.
Namun Dayana yang terpejam malah tersenyum. Ia mengangkat sedikit tubuhnya untuk memberi kecupan di tulang rahang Arturo yang ditumbuhi janggut kecil.
"Alright, kau sudah berhasil mengganggu tidur nyenyakku, Mr. Camucho." Dayana meraba kecil bibir Arturo. "Wanna play?"
Kedua alis Arturo terangkat. Dia menatap mata Dayana yang semakin mendekat saat mereka berciuman dalam keadaan tubuh yang masih terbaring menyamping.
Rahangnya direngkuh semakin menunduk, sementara sebelah tangan Arturo mulai bergerak ke bawah selimut yang membuat Dayana menggeram hingga menggigit keras bibir bawah Arturo.
"Aww! Kau menggigitku," rintih Arturo sedikit mengangkat wajahnya.
Dayana sedikit terengah saat membalas mata biru Arturo yang mengarah padanya. "I don't... wanna play."
Kening Arturo berkerut heran. "Kau sendiri yang mengajakku bermain."
"Just... do it," erangnya frustasi.
Arturo menyeringai penuh kemenangan. Ia menyibak selimut lalu bergerak ke atas tubuh Dayana dan bibir keduanya kembali saling menyatu.
Setelah pergulatan panas malam itu selesai, keduanya terbaring mengistirahatkan diri. Tubuh Dayana sudah tertidur di dekapan Arturo dalam keadaan memberikan pelukan juga padanya.
Sementara Arturo mulai mengambil ponsel di atas nakas menggunakan sebelah tangannya yang bebas. Ia melihat pesan dan panggilan yang cukup banyak dari Rebecca.
^^^Art, aku merindukanmu.^^^
^^^Aku ingin bertemu denganmu.^^^
^^^Aku selalu memikirkanmu.^^^
^^^Kau harus tahu kalau aku sangat mencintaimu.^^^
^^^Aku selalu menunggumu di sini.^^^
^^^Datang dan kembalilah padaku.^^^
^^^Aku selalu mencintaimu, Art.^^^
"Kenapa belum tidur?" lenguh Dayana setengah sadar.
Arturo kembali meletakkan ponsel ke nakas lalu mengatur kepala Dayana agar semakin didekapnya erat sehingga tubuh telanjang mereka berdua di bawah selimut kembali saling menempel. Setelah tahu Rebecca yang memfitnah Dayana dengan menyewa orang lain, Arturo sudah berniat tak akan lagi menggubris rasa kasihan pada Rebecca.
"Tidur lagi. Aku akan tidur," kata Arturo yang mengecup kening Dayana lalu memejamkan mata untuk mulai tidur.
Di tengah ketenangan itu, ponsel Arturo kembali bergetar menerima beberapa pesan dari Rebecca.
__ADS_1