MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
12. Pergi Bulan Madu


__ADS_3

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dayana beringsut dari ranjang dengan hati-hati agar tak membangunkan lelaki setengah telanjang yang sedang tidur lelap di sebelahnya.


Tangannya pun bergerak terburu-buru mengambil tas lalu berjalan keluar dari sana tanpa mengenakan sepatu agar tak mengetuk lantai.


"Aku terlambat!" gumam Dayana berjalan dengan cepat menyusuri lorong setelah memakai sepatunya. Ia memesan taksi untuk mengantarnya ke sebuah aula besar dalam rangka menonton konser musik klasik bersama Sebastian.


Sesampainya di sana, Dayana cukup lega karena masih ada beberapa orang yang juga baru masuk. Ia langsung menghubungi Sebastian dengan resah, takut lelaki itu marah karena keterlambatannya.


"Kau terlambat, Miss Harvey."


Dayana langsung menengok ke belakang, mendapati Sebastian yang berjalan ke arahnya sambil melempar senyuman kecil.


"Ow, sorry. Kau sudah menunggu lama, ya?"


Sebastian angkat bahu. "Lumayan. Tapi aku bisa menikmati kopi hangat dulu selama menunggumu. Masuk sekarang?"


"Sure."


Dayana dan Sebastian pun masuk ke dalam aula. Mereka duduk di tengah beberapa penonton yang terlihat begitu serius selama pertunjukkan berlangsung.


Hingga akhirnya, pertunjukkan berganti pada seorang wanita penyanyi opera. Suaranya begitu menggelegar dan penuh penghayatan, sampai Dayana lihat jika wanita itu menangis.


Bertepatan dengan momen tersebut, Sebastian nampak mengatur duduk dan menatap wanita itu lebih intens dengan wajah sendu juga. Dayana menatap sisi wajah lelaki itu dengan dugaan jika mungkin saja Sebastian terbawa suasana dengan penampilan wanita itu.


Pertunjukkan pun selesai, diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan yang begitu meriah. Semua penonton keluar dari aula, termasuk Dayana dan Sebastian.


"Kau mau makan malam?" tawar Dayana. "Aku akan mentraktirmu."


Belum sempat Sebastian menjawab, wanita penyanyi opera tadi berjalan menghampiri mereka berdua.


"Sebastian!" panggilnya tersenyum cantik. "Aku tak menyangka kau akan datang melihatku."


"Penampilanmu terlihat cantik seperti biasanya, Ana."


"Thanks." Manik mata wanita bernama Anabela Hoover itu kini tertuju pada Dayana. "Kau bersama seseorang."


"Oh, hai. Aku Dayana Harvey." Sebelah tangannya terjulur untuk bersalaman.


"Aku Anabela Hoover. Senang bertemu denganmu, Dayana."


"Aku juga."


"Kalau begitu aku harus kembali dulu ke dalam. Nikmati waktu kalian, ya." Anabela pun pergi.


Dayana menoleh melihat Sebastian yang memandangi kepergian Anabela yang kini sudah tak terlihat.


"Dia temanmu?" tanya Dayana penasaran. "Dia sangat cantik dan punya suara bagus."


"Dia istri mendiang kakakku," jawab Sebastian yang membuat kedua mata Dayana sedikit melebar.


"Dia sudah... menikah? Mendiang kakakmu?"


Sebastian mengangguk. "Suaminya sudah tiada. Satu tahun yang lalu."


"Tapi rautnya tadi terlihat cerah," gumam Dayana mengingat senyum lebar Anabela.

__ADS_1


"Anabela memang seperti itu. Dia pandai menyembunyikan perasaannya," kata Sebastian tersenyum kecil namun pahit sambil membayangkan sesuatu.


"Apa makan malamnya jadi?" tanya Sebastian yang kini mengganti topik pembicaraan.


"Tentu saja," jawab Dayana mengulas senyum manisnya. "Ada restoran yang enak dekat sini."


"Okay."


Setelah puas menghabiskan waktu bersama Sebastian, Dayana pun memilih pulang dalam keadaan perasaan begitu senang. Sebastian lelaki yang baik dan menarik perhatiannya sedari tadi dan ia merasa nyaman.


"Besok kita akan langsung pergi," ucap Arturo yang sedang duduk di sofa depan sambil membaca sebuah koran.


"Pergi ke mana maksudmu?"


"Hawaii. Untuk bulan madu."


"Kau sudah bicara dengan Rebecca?" tanya Dayana malah beralih ke hal lain.


"Sudah. Aku tadi menemuinya dan kami bicara banyak, seperti yang kau inginkan. Sekarang giliranmu untuk melakukan keinginanku."


"Baiklah. Kita akan pergi besok," sahut Dayana yang berjalan pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Sementara itu, mata Arturo kembali tertuju pada salah satu berita di koran tersebut dengan foto seorang lelaki berjas tengah bersalaman dengan beberapa orang yang juga bersetelan formal.


...SEBASTIAN REEVES KINI RESMI MENJADI PEMEGANG RESETY MENGGANTIKAN JONATHAN REEVES...


"Sepertinya istriku sekarang sedang memancing ikan baru," gumam Arturo bersandar menutup koran.


...----------------...


Dayana tak terlalu menanggapi tujuan sebenarnya pergi ke sana bersama Arturo. Ia sekarang fokus pada tujuannya untuk liburan jalan-jalan di Hawaii tanpa mau memikirkan kalimat honeymoon.


Mereka langsung menuju ke kamar hotel yang sudah dipesan sesampainya di Hawaii. Dayana tak hentinya berdecak kagum, apalagi saat mengetahui kamar hotelnya ini langsung memberikan pemandangan pantai Honolulu.


"Kau sedang di mana, Day?" tanya Miley dalam panggilan.


Dayana merebahkan diri di ranjang king size yang begitu empuk. "Aku sedang di Hawaii."


"Hawaii?! Dalam rangka apa kau ke sana?"


"Honey-- Maksudku liburan."


"Dengan William?"


Dayana melirik ke arah Arturo yang sedang berjalan menyeret koper untuk disimpan dekat lemari.


"Ya. Dengan William."


"Enaknya. Aku juga ingin liburan berdua dengan kekasihku. Kalau aku jadi kau, aku akan puas bercinta di sana. Hell! Itu akan jadi liburan yang hot."


Dayana memutar bola mata malas. "Jika kau ingin menuangkan fantasi liarmu, carilah laki-laki yang mau diajak liar bersamamu, Mile."


"Sudahlah. Aku tak mau mendengar olok-olokmu lagi, Day. Semoga liburanmu menyenangkan di sana," pamit Miley sebelum akhirnya panggilan berakhir.


Siang itu, Dayana langsung pergi jalan-jalan ke pantai dengan mengenakan bikini merah terbuka yang hanya menutup bagian dada dan bawahnya saja seperti ****** *****.

__ADS_1


"Liburan yang menyenangkan," monolog Dayana berbaring di kursi santai sambil menyeruput jus jeruknya. Kacamata hitam bertengger di hidung sehingga cahaya matahari tidak langsung menyilaukan mata.


"Sepertinya kau hanya mau bermalas-malasan datang ke sini," kata Arturo yang tiba-tiba datang berdiri di samping Dayana.


Dayana sedikit mengangkat kacamata untuk melihat sosok yang sedang bicara dengannya.


"Pergilah! Jangan mengganggu waktu berhargaku yang tenang ini," usirnya.


Arturo menoleh pada beberapa lelaki yang lewat sambil menatap lapar pada Dayana.


"Apa tujuanmu datang ke sini adalah untuk menggoda semua lelaki di Hawaii?" cibir Arturo.


Dayana menghembuskan nafas kecil. "Anggap saja begitu. Kau juga pergilah. Goda semua wanita di sini dan tiduri mereka."


"Jika aku ingin, aku akan meniduri mereka semua di sini," sahut Arturo santai.


"Excuse me, Sir." Dayana setengah bangun dengan wajah kesal. "Lebih baik kau pergi daripada menghalangi cahaya matahariku."


"Baiklah. Aku tak akan mengganggu waktu berhargamu ini," katanya lalu pergi.


Dayana sangat bersenang-senang seharian itu, bahkan dia mengikuti pesta yanh diadakan di sebuah bar tepi pantai. Beberapa lelaki sudah banyak menggoda dan mengikutinya selama di pesta tersebut.


Musik berputar memekakkan telinga. Mereka berjoged tanpa masalah, menikmati malam yang begitu meriah di sana.


"Hei, girl. Kau berasal dari mana?" tanya seorang lelaki yang ikut berjoged di belakang Dayana yang sudah mabuk.


"Aku dari Seattle," jawab Dayana tanpa mempedulikan pinggangnya tengah disentuh lelaki yang menggodanya sekarang.


"Kau sangat cantik. Kau sendirian ke sini?"


"Ya. Aku sendirian."


Lelaki itu memiringkan kepala untuk mencium leher Dayana saat merasa ada kesempatan di tengah keramaian itu.


"Jauhkan mulut baumu itu darinya," cegah Arturo yang menahan wajah lelaki itu dengan telapak tangannya.


"What the hell, Man? Memangnya kau siapa?" tantang lelaki itu dengan kesal karena kesempatannya hilang.


"Arturo!" pekik Dayana tersenyum lebar menyambutnya. "Kemari! Kau harus bersenang-senang di sini."


Arturo masih menatap tajam lelaki itu sampai bisa mengusirnya karena rasa dominasi yang kuat dari tatapan tersebut.


Kini, Arturo hanya diam penuh kesabaran ketika Dayana sibuk berjoged sensual di depannya.


"Come on, Arturo. Just shake your body with music. Jangan kaku," titah Dayana sambil mengalungkan kedua tangan di leher Arturo.


"Kau mabuk. Kita pergi saja dari sini."


"Pergi?" Dayana tersenyum menggoda. "Kau yakin?"


Arturo menunduk menatap wajah Dayana selama beberapa saat. Tubuh wanita itu menempel padanya yang berbalut kaos saat berjoged mengikuti musik.


Tangan Arturo bergerak perlahan melingkar di pinggul Dayana yang masih bergerak.


Karena mabuk berat Dayana hanya terus berjoged seperti orang gila, membiarkan Arturo yang kini sedang menempelkan hidung di lehernya seakan tengah menikmati aroma manis dari kulit bersinar itu.

__ADS_1


__ADS_2