MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
15. Belajar Membuka Hati


__ADS_3

"Kau kenapa?" tanya Arturo saat mereka berdua baru sampai di bandara, pulang dari Hawaii.


Dayana mengelus-elus perutnya dengan wajah lemas. "Aku merasa mual. Sepertinya semalam terlalu banyak minum."


"Ayo. Kau harus segera istirahat," ajak Arturo sebelum berjalan duluan menarik koper.


Dayana terdiam memandangi punggung tegak di depannya. Tak biasanya Arturo bicara selembut itu, tanpa ada unsur kesinisan, sindirian, atau ejekan.


Sesampainya di tujuan, Dayana harus kembali menarik kopernya sendiri dengan raut tak bersemangat saat memasuki gedung apartemen. Sementara Arturo bilang dia harus pergi ke kantornya, LUPSION, karena ada masalah yang terjadi terkait rancangan game yang sedang mereka kerjakan.


"Wait!" seru Dayana mulai mempercepat langkah karena dia tak mau lama menunggu lift.


Pintu lift terbuka lagi. Dayana masuk ke dalam, bergabung bersama seorang lelaki berkaos abu-abu.


"Miss Harvey?" panggil lelaki itu yang sukses membuat Dayana menoleh.


"Mr. Reeves!" Dayana tercengang. "Kenapa kau... bisa ada di sini?"


"Kemarin aku pindah ke sini. Kau tinggal di sini juga?"


Dayana mengangguk. "Aku ada di lantai 12. Di mana kau tinggal?"


"Di lantai 10." Sebastian tersenyum. "Wow. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini dan sekarang kita tinggal di satu gedung."


"Ini takdir," canda Dayana terkekeh. "Apa kau sudah mengadakan perayaan untuk kepindahanmu ini?"


Sebastian berpikir sejenak. "Aku biasanya tidak melakukan itu. Apa aku adakan saja perayaannya?"


Kepala Dayana mengangguk mantap. "Aku akan datang dan memberikan hadiah untukmu jika dapat undangan."


"Baiklah. Bagaimana kalau nanti malam?" Sebastian melirik koper yang Dayana bawa. "Kau sudah dari mana?"


"Aku sudah liburan," sahutnya.


"Oh. Apa seharusnya bukan malam ini? Mungkin sekarang kau perlu istirahat setelah perjalanan panjang liburan."


Dayana melambai santai. "Tidak perlu istirahat. Aku tidak lelah, kok. Aku akan datang malam nanti."


Ting!


Pintu lift pun terbuka. Sebastian bersiap untuk keluar, tapi kakinya berhenti di tengah lift.


"Aku ada di kamar 1005," ungkapnya.


Dayana mengangguk paham lalu melambaikan tangan. "Sampai jumpa nanti malam."


Sebastian pun menghilang dari pandangan setelah pintu lift kini kembali tertutup. Di dalam sana, Dayana begitu kegirangan mendapati dirinya kini akan sering bertemu dengan Sebastian.


Malam pun tiba.


Arturo pun cukup heran melihat Dayana yang bersenandung riang sambil memakai anting. Tubuhnya sudah terbalut dress selutut berwarna merah muda.


"Kau mau berpesta lagi?" tanya Arturo lalu menyesap kopinya.


"Kau tidak perlu tahu," ketus Dayana.


"Kekasihmu?" tanya Arturo seperti memastikan. "Kau bilang merasa mual dan mau istirahat."


Dayana menghela nafas lelah mendengar kalimat itu. "Sudah kubilang, kau-tidak-perlu-tahu. Kau obati saja lebam di wajahmu."


Ding! Dong!


Bel berbunyi. Dayana antusias membukakan pintu yang membuat Arturo beranjak pergi untuk melihat yang datang.

__ADS_1


"Ini paketmu, Miss." Ternyata seorang kurir menyerahkan sebuah bungkusan berwana coklat yang langsung Dayana peluk.


"Thank you," ucap Dayana sebelum akhirnya kurir itu pergi.


"Aku pergi!" pamit Dayana seraya keluar lalu menutup pintu.


Arturo kini berdiri dengan keheningan di sekitarnya yang menyelimuti.


Ding! Dong!


Mendengar suara bel berbunyi, Sebastian membukakan pintu hingga sosok Dayana kini terlihat. Perempuan itu memeluk sebuah kotak sambil melempar senyum lebar hingga deretan giginya terlihat.


"Untukmu," kata Dayana yang menyerahkannya pada Sebastian.


"Cukup berat. Apa yang kau berikan?" Sebastian agak menimbang-nimbang kotaknya.


"Itu anggur merah yang enak dan langka dari Australia."


"Thanks. Ayo masuk!" ajak Sebastian.


Dayana pun masuk dengan perasaan tak sabar. Ia mengedarkan pandangan mengamati unit apartemen Sebastian yang terlihat masih kosong tak berhias apapun, selain meja dan kursi.


"Kau belum memindahkan barang-barang dari rumahmu sebelumnya?" tanya Dayana sambil mengekori Sebastian.


"Aku tak punya banyak barang. Mungkin akan seperti ini saja," jawabnya.


"Aku seharusnya membelikanmu hiasan, bukan minuman. Agar kau memajangnya di sini."


"Kau tidak perlu repot-repot membelikanku hiasan, Miss Harvey. Aku sangat berterimakasih dengan hadiahmu ini," kata Sebastian lalu masuk ke dapur.


Langkah Dayana memelan ketika melihat punggung seorang wanita berambut sebahu yang sedang sibuk memasak di dapur. Wajah wanita itu terlihat saat tubuhnya berbalik.


"Halo, Dayana."


"Duduklah. Anabela yang memasak semua ini. Rasanya akan sangat enak," titah Sebastian.


Dayana duduk dengan perasaan tak enak. Dia kira hanya ada dirinya dan Sebastian untuk malam ini, tapi ternyata ada Anabela juga.


...----------------...


Makan malam terasa begitu canggung bagi Dayana saat ini. Ia menyuapi mulut dengan hati-hati, bahkan sesekali melirik Sebastian yang malah terlihat terus menatap Anabela.


"Kudengar dari Sebastian kalau kau juga tinggal di sini." Anabela melempar senyum hangat pada Dayana. "Aku senang mendengarnya. Bisa kau sesekali menengok Sebastian? Dia kadang lupa makan."


"Ana," panggil Sebastian seakan memberi isyarat agar dia berhenti.


"Tidak perlu khawatir. Kita mungkin akan sering bertemu dari sekarang," sahut Dayana berusaha santai.


"Baguslah." Anabela menghembuskan nafas lega. "Sudah berapa lama kau tinggal di sini?"


"Baru beberapa minggu," jawab Dayana. "Kau tinggal di mana, Ana?"


"Aku tinggal di Brooklyn, tapi sekarang pindah ke sini karena pekerjaanku. Lalu tiba-tiba anak ini ikut pindah ke kota ini juga," tunjuk Anabela pada Sebastian.


Sebastian rela pindah jauh hanya karena ingin bersama Anabela. Betapa mengesankannya hal itu bagi Dayana, tapi dia juga cukup kecewa karena sepertinya ada sesuatu di antara mereka berdua.


"Aku dengar kau sudah menikah. Apa yang terjadi dengan suamimu?" tanya Dayana penasaran.


Anabela terbeku dalam seketika, seakan sesuatu yang menyakitkan terbersit dalam pikiran hingga alisnya sedikit bertaut.


Dayana mengalihkan netranya pada tangan Anabela yang gemetar, membuat sendok yang dipegangnya jatuh ke piring. Tubuh Anabela beranjak bangun dengan tatapan sudah berkaca.


"Kalian lanjutkan dulu makan malamnya. Aku akan ke toilet sebentar," pamitnya lalu pergi.

__ADS_1


Dayana merasa bersalah melihat ekspresi Anabela tadi. Sepertinya ada hal yang menyakitkan perihal suaminya dan malah Dayana ungkit begitu saja.


Dayana bodoh!


"I'm sorry, Mr. Reeves. Aku tadi tidak bermaksud--"


"It's okay, Miss Harvey. Anabela hanya... butuh waktu sebentar untuk menenangkan perasaannya sekarang. Aku akan bicara dengannya nanti."


Makan malam pun berlanjut. Anabela sudah kembali dalam keadaan kedua matanya yang sembab seperti habis menangis.


Saat makan malam selesai, Sebastian pergi ke kamarnya dahulu untuk mengangkat panggilan dari seseorang. Sementara itu, Anabela mulai membersihkan piring kotor dibantu oleh Dayana.


"Ana, aku minta maaf soal... pertanyaanku tadi. Tidak seharusnya aku bicara begitu padamu," ungkap Dayana merasa bersalah.


Anabela menoleh sambil mengulas senyum. "It's okay, Dayana. Aku baik-baik saja. Hanya saja... Aku kadang terpikirkan sesuatu."


Dayana menatap tangan Anabela yang masih sedikit gemetar. "Semua orang punya beragam kenangan. Tidak apa-apa kalau kau merasa takut pada kenangan itu."


Anabela tersenyum. "Kau benar. Aku memang sedang takut. Kau pasti sudah mendengarnya dari Sebastian kalau suamiku sudah tiada."


Kepala Dayana mengangguk kecil.


"Aku punya hubungan yang buruk dengan suamiku. Aku jadi paham kalau tidak selamanya yang dipilih dengan alasan cinta... Akan mencintai kita kembali. Bukankah cinta adalah tentang kebebasan? Tidak ada tekanan, paksaan, dan aturan yang menyesakkan."


Anabela mendapati raut wajah Dayana yang berubah menjadi sendu dan iba. Sebelah tangannya pun menempel di kening dengan tawa renyah.


"I'm sorry, Dayana. Aku malah jadi curhat padamu."


Tanpa disangka, Dayana malah memberikannya pelukan hangat yang menenangkan. Tangannya bahkan mengusap lembut punggung Anabela seakan ingin memberi obat tenang untuk rasa takut dan sedihnya.


"Wow. Apa yang terjadi setelah kutinggal sebentar?" cetus Sebastian saat melihat Anabela dan Dayana sedang berpelukan.


"Aku sedang memberikan obat tenang padanya," jawab Anabela ketika pelukan itu terlepas.


"Thanks," ungkap Anabela tersenyum lebar.


"Karena semuanya sudah selesai, aku akan pulang," pamit Dayana yang kini mengambil tasnya di kursi untuk bersiap pergi.


"Miss Harvey, wait!" cegah Sebastian yang kini menahan sebelah tangan Dayana.


"Ya?" Mata Dayana melirik ke arah pergelangannya yang kini dipegang Sebastian.


"Maukah kau... menemaniku membeli beberapa barang untuk menghias rumah ini?"


Ajakan tiba-tiba itu membuat Dayana mengerjap, cukup kaget. Sementara Anabela kembali bergerak membereskan piring yang telah dicucinya dengan kedua sudut bibir terangkat membentuk senyuman.


"Sure," balas Dayana.


Pegangan di tangan pun terlepas. "Okay. Aku akan menghubungimu nanti."


"Okay." Dayana mengulum senyum lalu pergi keluar dari unit apartemen Sebastian.


Kini tersisa Anabela dan Sebastian di dalam sana dengan keheningan yang tersisa.


"Kalau begitu giliranku untuk pergi," ujar Anabela berjalan mengambil tas di sofa depan.


"Aku akan mengantarmu pulang, Ana."


"No. It's okay, Sebastian. Aku bisa pulang sendiri. Kau masih saja khawatir padaku dengan berlebihan."


"Bukan begitu, Ana..."


"Aku baik-baik saja," balas Anabela lalu mengelus bahu Sebastian dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Aku senang kau mendengar saranku. Bukankah menyenangkan belajar membuka hati pada orang lain? Dayana wanita yang baik, Sebastian."


__ADS_2