MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
07. Mulai Pindah Tempat


__ADS_3

"Kau yakin ibumu memberiku baju yang benar?" tanya Dayana yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan sebuah dress lingerie berwarna abu-abu dari Ingrid.


Arturo yang sedang membuka satu persatu kancing kemeja untuk bersiap mandi pun menoleh pada Dayana untuk sekilas mengamati penampilannya.


"Mereka hanya ingin memastikan hubungan kita," kata Arturo memberikan kerutan dalam di dahi Dayana yang tak paham.


"Mereka ingin tahu apakah aku benar tidur denganmu atau tidak," tambahnya coba menjelaskan.


"What the hell? Ada apa dengan mereka?" keluh Dayana yang berjalan ke depan cermin lemari untuk melihat penampilannya sendiri.


Setelah membersihkan diri, keduanya bersiap untuk tidur. Dayana maupun Arturo hanya duduk bersandar bersebelahan di ranjang tanpa bicara sepatah kata pun.


"Baiklah. Aku akan tidur duluan," kata Dayana mengatur tubuhnya berbaring dengan selimut tebal.


"Kau suka membaca?" tanya Dayana saat matanya melirik ke arah rak buku di dalam kamar tersebut.


"Lumayan," sahut Arturo.


"Sudah berapa tahun aku tak membaca buku?" gumam Dayana mengira-ngira terakhir kali dirinya membuka buku untuk dibaca.


Arturo melirik ke arah bayangan bergerak dari sela pintunya di bagian bawah. Dia tidak bodoh. Pikirannya langsung tertuju pada Olivia atau Ingrid yang mungkin sedang menguping di depan pintu.


"Alright, Miss Harvey. Sepertinya kau harus melakukan tugasmu," kata Arturo yang kini berada di atas Dayana.


"Ada apa denganmu?" tanya Dayana agak horor dengan posisi mereka saat ini.


"Mendesahlah dengan keras seperti saat kau bersama lelaki Prancis itu," titah Arturo.


"What?" Maksudnya saat bersama Damien?


"Sepertinya mereka sedang menguping. Kamarku juga tidak kedap suara," jelasnya sambil menegakkan tubuh untuk melepas kaos sehingga bagian atasnya kini telanjang.


Dayana menelan ludah melihat proporsi tubuh Arturo yang begitu gagah dan berotot, bahkan lebih bagus dari semua kekasih Dayana selama ini. Melihat perut kotak-kotaknya membuat tangan Dayana bergerak ingin menyentuhnya, tapi dia segera sadar.


"Aku tidak mau!" tolaknya memalingkan wajah.


"Kalau kau tidak mau berpura-pura, aku bisa saja sekarang benar membuatmu mendesah bahkan lebih keras dari saat kau bersama lelaki itu," ucap Arturo bagai ancaman yang membuat bulu kuduk Dayana langsung merinding.


Di luar sana, ada Olivia yang sedang menempelkan telinga di pintu untuk memastikan keadaan Arturo dan Dayana. Jika benar suami istri, tidak mungkin mereka berdua menyia-nyiakan sebuah kamar luas untuk digunakan bercinta apalagi itu kamar Arturo.


"Cepat!" desak Arturo.


Dayana berdeham untuk mengatur tenggorokannya dulu. "Aww!"


Arturo sedikit mengangkat kepala karena heran mendengar rintihan kilat tersebut.


"Aku bilang mendesah. Aku bukan mencubitmu."


Dayana melirik tajam. "Mereka tidak akan lihat. Jika kita ada di posisi begini, aku tidak bisa mendesah dibuat-buat. Kau mau mempermalukanku, ya?"


"Astaga. Kau sepertinya sedang mengujiku sekarang," geram Arturo yang kini bergerak menarik selimut dari tubuh Dayana bahkan sudah memegangi paha Dayana yang membuatnya menjerit.

__ADS_1


"Lebih keras," titah Arturo.


Olivia yang sedari tadi menguping pun mulai mendengar ******* dari dalam kamar. Ia semakin penasaran dan masih ingin membuktikan.


"ARTURO! AHH, TOLONG. AKU AKAN... AKAN SAMPAI. ARTURO..." teriak Dayana yang kini terduduk di ranjang dengan bergelung selimut karena bajunya sudah lepas teronggok ke lantai, sementara Arturo berdiri menatapnya datar.


"Puas?" bisik Dayana dengan bibir menipis kesal.


Arturo mengangkat bahu santai lalu pergi membuka pintu yang membuat Olivia tersungkur masuk.


Dayana melemparkan ekspresi kaget seakan tengah ketahuan berbuat sesuatu bersama Arturo.


"So-sorry. Aku tadi hanya... hanya ingin memastikan kalian sudah tidur atau belum. Mom yang menyuruhku," ungkapnya berbohong.


"Kami akan tidur. Ada yang mau kau pastikan lagi?" tanya Arturo.


Olivia sudah mengamati keadaan di dalam kamar Arturo yang begitu berantakan, bahkan baju mereka ada di lantai. Kecurigaannya perlahan berkurang. Dia pun pamit pergi dari kamar Arturo yang kini kembali ditutup.


"Ya ampun. Ini benar-benar konyol!" gumam Dayana tak habis pikir dengan aksi mereka tadi.


Arturo memungut satu per satu pakaian mereka yang ada di lantai. Ia memberikan baju tidur Dayana lalu memakai kaosnya lagi untuk menutupi tubuh atletis itu.


"Itu tidak akan konyol jika kita benar-benar melakukannya," cetus Arturo membuka pintu lalu pergi dari kamar tanpa bilang apapun lagi.


...----------------...


Keesokan harinya, Dayana dan Arturo sudah pamit pergi dari rumah Ingrid dengan mobilnya masing-masing. Setelah mendengar informasi dari Olivia tentang apa yang dilihatnya semalam, Ingrid mulai menaruh kepercayaan sepenuhnya pada Arturo dan Dayana.


Dayana pun masuk ke dalam unitnya dengan hati tenang. Namun nampaknya ketenangan itu tak bertahan lama saat ia melihat Damien sudah terduduk di sofa.


"Damien? Sejak kapan kau... ada di sini?"


"Kau dari mana saja?" tanya Damien menatap lurus pada Dayana yang masih berdiri depan pintu.


"A-aku... Aku habis menginap di rumah Miley," jawabnya bohong.


Damien merogoh ponsel dari saku celana untuk menunjukkan sesuatu. "Tadi aku tak sengaja melihat sebuah berita tentang pernikahan adik dari Rebecca Harvey. Rebecca mengucapkan nama Dayana. Itu kau?"


"Da-Damien, aku bisa jelaskan--"


"Jawab saja, iya atau tidak?"


Dayana berusaha mengulas senyum. "Aku memang adiknya Rebecca, tapi aku bisa jelaskan tentang pernikahan itu."


"Ah, ternyata memang benar kau. Aku sempat berpikir kalau wanita dalam foto di acara itu bukan kau, hanya mirip saja."


"Damien, kami memang menikah. Tapi ini tidak seperti yang kau kira. Aku dan lelaki itu--"


"Sudah jelas semuanya," potong Damien yang kini terbangun dari duduknya.


"Apanya yang sudah jelas?"

__ADS_1


"Hubungan kita. Aku tak pernah berpikir untuk melakukan affair dengan istri orang," katanya.


"Maksudmu... kita putus?" tanya Dayana memastikan.


"Aku tak perlu menjelaskan apapun lagi. Kau mengaku sudah menikah dan sekarang aku tak bisa mempertahankanmu lagi. Kau bisa pergi."


Dayana melongo. "Pergi? Kau... Kau mengusirku?"


"Bawa semua baju dan barangmu dari sini. Kau bisa menyimpannya bersama suamimu," titah Damien menunjuk ke sekitar.


"Damien," panggil Dayana merengek.


"Jangan menangis di sini. Aku yang harusnya menangis karena kau khianati seperti ini, Dayana."


Alhasil, Dayana harus menarik koper sambil memeluk akuarium bulat yang berisi satu glowfish berwarna merah yang dibelinya bersama Damien sebagai hiasan beberapa bulan lalu.


Entah ke mana sekarang Dayana harus tinggal. Dia tak ingin pergi ke rumah orang tuanya karena tak mau mendengar ocehan mereka apalagi jika terus membandingkannya dengan Rebecca.


"Hai!" sapa Dayana tersenyum lebar sampai rentetan giginya terlihat oleh Arturo yang hendak pergi ke kantornya untuk bekerja.


Arturo menggerakkan bola mata mengamati beberapa barang bawaan Dayana.


"Sudah lama aku tak ke sini. Wah, kau merapikan unitmu?" oceh Dayana sambil masuk begitu saja melewati Arturo. Kopernya juga diseret masuk.


"Kau diusir?" tanya Arturo menutup pintu.


"Aku akan tinggal di sini," cetus Dayana berbalik tersenyum padanya. "Aku kan istrimu. Jadi aku bisa tinggal di sini bersamamu."


"Seperinya berita itu membuatmu mulai kehilangan semua kekasihmu," ucap Arturo menghela nafas kecil.


"Sudah kubilang, aku yang akan lebih dirugikan di sini kalau orang lain tahu."


"Baiklah. Aku akan pergi ke kantor dulu," pamit Arturo kembali membuka pintu untuk pergi. Namun dia berhenti sejenak ingin memberikan peringatan pada Dayana.


"Kau boleh masuk ke semua ruangan, kecuali ruang kerjaku."


"Okay, suamiku!" balas Dayana nyengir karena terlalu senang Arturo baik padanya.


Arturo pun pergi sehingga Dayana bisa lebih leluasa berjalan-jalan di unit apartemen yang ternyata lebih luas dari milik Damien sebelumnya. Dia membuka pintu kamar secara perlahan untuk menyimpan barang bawaan di sana, termasuk ikannya yang disimpan di atas lemari laci yang tak jauh dari pintu.


"Apa ini ruang kerjanya?" gumam Dayana penasaran saat melihat ada pintu lagi di dalam kamar tersebut selain kamar mandi.


Saking penasaran, Dayana memutar kenop yang ternyata tak dikunci sama sekali. Ia sedikit menyembulkan kepala untuk mengintip keadaan di dalamnya.


Benar. Ruangan itu adalah ruang kerja Arturo. Ada sebuah meja dengan satu layar komputer di atasnya bersama perangkatnya.


Dayana lancang masuk ke dalam, berjalan menjelajah di setiap sisi termasuk melihat beberapa buku yang tersedia di rak dekat meja.


"Apa ini?" Dayana membuka sebuah kardus agak besar yang ternyata berisi beberapa foto Arturo bersama Rebecca.


Dayana mengamati salah satu foto, melihat kedekatan Arturo yang ternyata terlihat lebih ekspresif saat masih bersama Rebecca.

__ADS_1


Arturo merangkul mesra Rebecca sambil sedikit tersenyum. Dayana belum pernah melihat hal itu pada diri Arturo sekarang.


__ADS_2