MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
02. Sepasang Suami Istri


__ADS_3

Dayana memijat-mijat pelipis saat kepalanya dirasa pusing. Apalagi melihat para wartawan itu masih ikut karena menduga Rebecca ada di sana, dengan terpaksa Dayana ikut pergi bersama Arturo menggunakan mobilnya.


"Alright, Sir. Kau bisa menurunkanku di depan," kata Dayana melepas penutup wajahnya.


"Di mana Rebecca?" tanya Arturo dengan nada tegas dan raut menyiratkan keseriusan yang tidak bisa diajak bercanda sama sekali.


"Aku tidak tahu," jawab Dayana malas. "Berhenti di sini."


"Kenapa kau tidak jawab saja dengan jujur di mana dia?!" bentak Arturo yang membuat Dayana tersentak kaget, merasakan kekesalan luar biasa dari lelaki itu. Matanya juga terlihat memerah dengan kening berkerut saat menoleh untuk membentakinya barusan.


"Turunkan aku..." lirih Dayana mencoba tenang.


Arturo pun menginjak pedal gas, menambah kecepatan mobilnya cukup tinggi yang melesat di sepanjang jalan.


"Kenapa aku harus menurunkan istriku di sini?" gumam Arturo berdecis.


Dayana menoleh padanya dengan rasa heran. "Aku bukan istrimu. Aku hanya menggantikan kakakku untuk menikah denganmu karena para wartawan sialan itu!"


"Aku mengucapkan namamu dalam janji pernikahan, begitu juga dirimu. Jadi tidak ada masalah jika kita sekarang sepasang suami istri karena kebodohan kalian berdua!" balas Arturo dengan rahang menggertak menahan amarah.


"Kebodohanku? Excuse me. Kau bisa membatalkan pernikahannya kalau tahu aku yang ada di sana, bukan Rebecca. Kenapa kau malah menyebut namaku?"


"Kau pikir pernikahan hanya main-main?" kata Arturo sambil sedikit menoleh pada Dayana. "Aku tidak ingin membuang uang dan waktuku sia-sia hanya untuk membatalkan pernikahan di depan seorang pendeta yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk ini."


"Alright. Terserah kau saja. Aku tidak merasa sudah menikah denganmu," ketus Dayana memalingkan wajah untuk menatap jalanan di luar sana.


Mereka berdua pun sampai di sebuah hotel bintang lima yang membuat Dayana melongo. Pasalnya, hotel mewah itu hanya ditempati oleh orang-orang penting dengan uang yang banyak.


Kini mata Dayana tertuju pada Arturo yang berdiri tegak menunggu pintu lift terbuka.


Dayana hanya mengetahui Arturo sekilas dari setiap perbincangan kecil bersama Rebecca. Itu pun dulu sebelum Rebecca menjadi sesibuk sekarang sampai jarang menemuinya dan kedua orang tua mereka.


Dayana tidak tahu, apa Arturo lelaki kaya raya?


"Apa pekerjaanmu?" tanya Dayana sambil mengikuti Arturo dengan langkah susah payah menyeret ujung gaun.


Arturo membuka pintu kamar hotelnya tanpa mau membalas pertanyaan tersebut.


"Kenapa kau tahu itu aku saat di altar tadi?" tanya Dayana pantang menyerah.


Arturo melepas jasnya yang ia sampirkan begitu saja ke sofa. "Dia bilang hanya kau yang akan datang. Aku juga tidak bodoh melihat tubuh Rebecca yang tiba-tiba berubah menjadi pendek dan kurus."


Cibiran itu membuat Dayana mendelik kesal pada Arturo. Dia terduduk di sofa dengan gerakan menghentak dan wajah tertekuk.


"Okay. Here's the deal," ucap Arturo berkacak sebelah pinggang di depan Dayana dengan ujung kain kemeja bagian lengannya sudah terlipat hampir mencapai siku.


"Aku bukan lelaki yang jahat setelah menikahi seseorang lalu membuangnya jika tidak diinginkan. Kau masih bisa menjadi tanggung jawabku dan tinggal bersamaku."


Tubuh Dayana perlahan tegak karena mulai tertarik dengan tawaran itu.


"Apa maksudmu?" tanya Dayana memastikan.


"Kita tetap sepasang suami istri."


Dayana tertawa geli mendengarnya. "Kau sangat ingin menikah denganku, ya, alih-alih dengan Rebecca? Kenapa? Kau tertarik padaku setelah Rebecca membicarakan tentangku selama ini?"

__ADS_1


Arturo melirik santai. "Untuk apa aku tertarik pada seorang wanita yang punya banyak lelaki dan suka memerah harta mereka?"


Kening Dayana berkerut dalam. Sepertinya bukan hal baik yang Rebecca bicarakan pada Arturo perihal dirinya.


"Jangan basa-basi. Kau juga mau memanfaatkanku, kan?" tuduh Dayana memicing.


"Kau dengan sukarela dimanfaatkan oleh kakakmu sendiri untuk menggantikannya menikah. Lalu kenapa aku tidak memanfaatkanmu juga sekalian?"


"But, wait." Dayana berpikir sejenak sambil menatap Arturo. "Kau bilang dari tadi tidak mau main-main dengan pernikahan. Tapi memilih menikah denganku, bukankah kau sama saja mempermainkan pernikahan yang kau agungkan itu?"


Arturo mengangkat bahu kecil. "Aku orang yang percaya kalau cinta akan tumbuh karena terbiasa."


Dayana termenung tak paham dengan jawaban Arturo barusan. Namun sebelum bisa melontarkan pertanyaan lagi, Arturo sudah melenggang pergi begitu saja.


"Aku akan mandi dulu," pamitnya meninggalkan Dayana dengan rasa bingung.


...----------------...


Dayana menyembulkan kepala dari pintu kamar mandi. Dia melihat ke arah Arturo yang sedang berdiri di balkon, mengangkat panggilan dari seseorang sambil marah-marah.


"Aku harus menghubungi Liam," gumam Dayana berjalan ke arah ranjang dengan hanya memakai jubah mandi dan handuk kecil melilit kepala.


Ditekannya salah satu kontak di ponselnya untuk dihubungi. Liam Young, sang kekasih yang harusnya ditemui Dayana malam ini.


"Baby?" panggil Dayana seraya terduduk di ranjang.


"Oh, gosh. Kau di mana? Aku menunggumu di sini."


"Sorry, Babe. Aku sedang ada masalah jadi akan datang telat. Kau sudah lama menunggu di sana?"


Dayana terkekeh geli. "Baiklah. Aku akan bersiap datang ke sana. Kau masih mau menungguku, kan?"


"Sure."


"Kau harus bersiap-siap," cetus Arturo yang membuat Dayana mengakhiri panggilan Liam dengan terburu-buru.


"Kenapa kau tiba-tiba bicara? Aku sedang menelpon--"


"Cepatlah pakai bajumu. Mereka sudah menunggu," desak Arturo yang berjalan santai menuju pintu untuk pergi.


"Mereka? Mereka siapa?" tanya Dayana penasaran dengan mebgekori Arturo. "Kau tidak lihat? Aku tak bawa baju selain baju pernikahan tadi."


Helaan nafas lelah keluar dari mulut Arturo. Badannya kembali berbalik menuju ke lemari, mengeluarkan sebuah gaun berwarna mocca dengan belahan V di bagian dada dan punggung terbuka.


"Sejak kapan ada gaun itu di sana?" pikir Dayana bertanya-tanya.


"Pakai ini. Kuberi kau waktu 20 menit untuk bersiap-siap."


Dayana melongo. "20 menit? Kau kira aku bukan wanita? Mana cukup 20 men--"


"Mau kupakaikan gaunnya?" tawar Arturo yang sontak membuat Dayana memeluk dirinya sendiri.


"Kau mesum. Pergi sana!" usir Dayana yang mendorong tubuh Arturo hingga keluar dari kamar, sehingga pintu pun ditutup dengan mudah.


Satu jam berlalu.

__ADS_1


Dayana bersenandung senang menatap dirinya yang berbalut gaun indah nan mahal dari Arturo.


"Wow. Dari mana dia mendapatkan gaun ini?" Dayana tiba-tiba terdiam. "Apa dia orang kaya?"


Ceklek!


Pintu pun dibuka. Dayana tersentak kaget saat melihat Arturo berdiri dengan bersandar punggung di tembok dekat pintu.


"What are you doing?" tanya Dayana melempar tatapan aneh.


Arturo kembali menegakkan tubuh. "Kuberi waktu 20 menit, kau malah keluar satu jam lebih. Wanita memang tidak ada bedanya," gumam Arturo sebagai sindirian yang Dayana dengar.


"Kubilang 20 menit tidak akan cukup," sahutnya memutar bola mata malas.


Baru beberapa langkah, Dayana mendengar ponselnya berdering dari dalam tas kecilnya. Ia segera merogoh benda pipih itu lalu terkejut mendapati nama Liam.


"Oh, baby. I'm sorry," kata Dayana memijat kecil pelipisnya.


"Kau di mana? Aku sudah menunggumu lama di sini."


"Aku..." Dayana melirik Arturo yang berjalan mendahuluinya dengan santai untuk masuk ke dalam lift.


"... Aku tidak bisa datang. Aku ada di rumah sakit untuk menjenguk nenekku."


Terdengar decihan kecil dari Arturo saat Dayana bergabung masuk ke dalam lift.


"Nenekmu?"


"Iya. Tidak ada yang menunggunya selain aku. Maafkan aku ya, Baby."


"Baiklah. Kita bisa merencanakan makan malam lagi nanti."


"Okay, Baby. I miss you," rengek Dayana manja.


"Miss you too, Honey."


Setelah mengakhiri panggilan, tatapan Dayana beralih pada Arturo yang menatapnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"What?" tanya Dayana.


"Aku hanya ingin memperingatkanmu. Ketika kita sampai di tempat tujuan, jangan dulu menerima panggilan dari para kekasihmu itu."


"Kenapa? Kau iri ya karena kekasihmu nyatanya kabur entah ke mana sekarang," ledek Dayana.


Arturo tak menanggapinya. Dia hanya terus berjalan menuju mobil yang terparkir di basement, bahkan selama perjalanan pun kelihatan santai.


"What-the-hell?" gumam Dayana melongo kaget melihat bangunan restoran di depannya.


"Kenapa? Kau baru pertama datang ke sini?"


Bukan begitu. Restoran yang mereka berdua datangi adalah tempat yang seharusnya Dayana bertemu dengan Liam.


Kepanikan seketika melanda. Dayana langsung menyembunyikan wajah dihalangi oleh tas kecil yang dia pegang. Arturo nampak tak peduli dengan keanehan Dayana karena saat ini ia harus segera menemui orang-orang yang sedang menunggunya.


"Siapa mereka?" bisik Dayana ketika mengikuti Arturo yang berjalan mendekati sebuah meja.

__ADS_1


"My mom and my sister," jawab lelaki itu yang membuat Dayana sontak membeku.


__ADS_2