
Di luasnya bumi dan negara ini, haruskah Dayana bertemu dengan Damien dalam acara makan malam?
Saat ini, tatapan Dayana terus mengarah tajam ke arah Damien yang duduk di kursi makan depannya dengan senyum meledek. Lelaki itu ikut hadir makan malam sebagai kekasih Olivia.
"Mon Chéri, kau sudah lapar?" tanya Olivia yang merangkul lengan Damien manja.
Dayana memutar bola mata malas. Sebutan "Mon Chéri" selalui ia gunakan dulu sebagai panggilan sayang pada Damien.
"Aku sudah lapar ingin memakanmu, Ma Chéri," sahut Damien mengelus tangan Olivia.
Raut kesal segera Dayana hilangkan saat Ingrid dan Arturo datang. Melihat kehadiran Damien membuat Arturo mengamatinya selama beberapa saat. Dayana menduga mungkin Arturo sempat melihatnya sebentar ketika ia disembunyikan dalam toilet lalu terpaksa keluar setelah Dayana dan Damien selesai memadu kasih waktu itu.
Ah, memalukan!
"Aku senang melihat kalian berdua datang bersama pasangan masing-masing," ungkap Ingrid tersenyum lebar di wajah pucatnya.
"Kuharap kalian bahagia bersama. Ini yang aku inginkan untuk waktu yang lama. Melihat anak-anakku bahagia dan memiliki seseorang yang bisa menjaganya."
Dayana melirik tajam ke arah Damien, seakan mau memberi ancaman padanya jika saja ia hanya bermain-main datang ke sana sebagai kekasih Olivia.
Makan malam pun dimulai dengan tenang. Tak ada pembicaraan selain ocehan Damien dengan Olivia yang seakan ingin memperlihatkan kemesraan mereka di depan Dayana, Arturo, dan Ingrid.
"Uhuk! Uhuk!" Ingrid mulai terbatuk-batuk dan sesak nafas setelah mereka makan malam. Hal itu membuat Dayana dan yang lain khawatir.
"Kau harusnya istirahat," kata Arturo mulai bergerak untuk menuntun Ingrid berdiri.
"Aku akan membawa Mom dulu ke kamar," kata Arturo yang diangguki Dayana.
Kini tersisa dirinya, Damien, dan Olivia yang masih sedang saling menyuapi. Bukannya merasa iri dengan kemesraan itu, Dayana malah merasa mual ingin memuntahi makanan keduanya.
"Mon Chéri, tunggu sebentar. Aku mau ke toilet dulu," pamit Olivia.
"Jangan lama."
Damien pun ditinggal berdua bersama Dayana. Mereka kini saling melempar tatapan tajam, seakan mau membunuh satu sama lain.
"Aku terkejut bisa bertemu denganmu di sini," cetus Damien.
Dayana tersenyum sinis. "Aku lebih terkejut melihatmu, Damien. Kau hanya mempermainkan Olivia, kan?"
"Wait. Apa kau sekarang merasa cemburu?"
"Cemburu?" decihnya. "Untuk apa aku cemburu? Kau tak lihat tadi aku bersama suamiku yang lebih tampan dan seksi dibandingkan kau?"
Oh, Dayana merasa ingin menampar dirinya sendiri karena lancang membanggakan Arturo pada mantan kekasihnya itu.
"Damien, jangan berani-berani mempermainkan Olivia. Kalau aku tahu kau hanya menjadikannya mainan, aku akan membunuhmu!" ancam Dayana.
"Uh, aku takut," ejek Damien. "Terserah aku mau mempermainkan wanita atau tidak. Kau bukan siapa-siapa aku, jadi diam saja dengan suamimu itu!"
"Kau tidak lihat kondisi Mrs. Camucho tadi? Jika kau menyakiti Olivia, Mrs. Camucho yang akan lebih tersakiti," jelas Dayana agak berbisik.
__ADS_1
Damien memutar bola mata malas. "Kau berlebihan, Dayana. Kau hanya tidak ingin aku berpacaran dengan Olivia makannya kau menuduhku yang tidak-tidak agar hubungan kami tidak berjalan baik. Kau masih mencintaiku, kan?"
"Apa? Aku? Masih mencintaimu?" Dayana bergidik jijik. "Sejak kapan aku mencintaimu?"
"Ayolah. Kau hanya sedang mengelak." Damien sedikit memajukan tubuhnya menatap Dayana. "Well, aku bisa menerimamu lagi jika kau mau kembali padaku. Kita bisa kembali seperti dulu, Dayana. Kau dan aku, Ma Chéri."
"Apa?" imbuh Olivia yang sudah terbeku di ambang pintu masuk ruang makan.
Dayana memejamkan mata seraya memijat pelipisnya. Olivia terlihat syok mendengar sebagian percakapan Dayana dengan Damien yang membuat hubungan keduanya terbongkar.
"Kau... mantan kekasih dia?" tanyanya sambil menunjuk Dayana.
"Olivia, kami hanya--" Kalimat Dayana terpotong.
"Kami hanya berpacaran selama satu tahun," sahut Damien santai. "Ayolah. Itu tidak penting lagi, Ma Chéri. Dia sudah menjadi istri kakakmu, bukan?"
"Satu tahun?" Olivia tercengang.
Damien memang kekasih Dayana yang paling lama dibanding yang lain. Lelaki itu cukup baik dan peduli sebelum akhirnya Dayana diputuskan karena ketahuan sudah menikah dengan Arturo.
"Damien, aku mendengarmu bicara ingin kembali dengannya tadi," kata Olivia kesal.
"Ada apa ini?" tanya Arturo yang baru saja datang karena mendengar keributan.
Olivia berjalan menghentak mengambil tasnya yang ada di kursi sebelah Damien. "Tanya saja pada istrimu yang merupakan mantan dari kekasihku!" sinisnya sebelum melenggang pergi dari sana.
Dayana menoleh pada Arturo yang sedang berdiri menatap dirinya dan Damien bergantian.
"Art, tadi tidak seperti yang kau dengar," tutur Dayana mencoba menjelaskan saat mereka berdua sampai di apartemennya.
"Aku hanya ingin memberi peringatan pada Damien untuk tidak mempermainkan Olivia. Tapi lelaki itu... malah bicara melantur yang membuat Olivia salah paham mendengarnya."
Arturo membuka kancing kemeja teratasnya sambil menanggapi penjelasan Dayana dengan santai.
"Kau tidak marah, kan?" tanya Dayana memiringkan wajah mengamati Arturo.
"Apa kau masih punya kekasih lain lagi?" tanya Arturo yang membuat kerutan di dahi Dayana.
"No. Aku sudah mengakhiri hubungan dengan semuanya. Aku tak memiliki siapapun lagi sekarang," akunya.
Arturo mengangguk. "Okay."
"Okay?" Dayana tanpa sadar melangkah mengikuti Arturo yang masuk ke dalam kamar mandi.
"Bicaralah padaku. Aku tidak ingin kalian semua salah paham dan--"
Tiba-tiba Arturo berbalik lalu menutup pintu yang ada di belakang Dayana. Ia mengukung tubuh Dayana di sana dengan kemeja sudah terbuka lepas dari kancingnya sehingga Dayana bisa melihat otot di dada dan perut Arturo dengan jelas.
"Aku senang kau menjelaskannya padaku. Itu artinya kau sudah mulai mempedulikan perasaanku," ujar Arturo.
Dayana melipat tangan di depan dada. "Kau diam hanya ingin menggodaku? Astaga!"
__ADS_1
"Kau mau ke mana?" tanya Arturo lagi ketika Dayana berbalik untuk membuka pintu.
"Aku mau keluar. Untuk apa aku di sini?"
Arturo menarik pinggang Dayana sehingga tubuh mereka berdua saling menempel. Dia memberikan kecupan singkat di pipi Dayana.
"Kau juga harus mandi," bisiknya.
Dayana merinding mendengar hal itu. Membayangkan mandi bersama di sana membuat tenggorokannya naik turun menelan ludah, apalagi bathtub dan shower di sana seakan sudah melambaikan tangan agar keduanya segera beraksi. Dayana merutuki pikiran liarnya saat ini.
"A-aku nanti saja."
"Nanti?" Arturo menciumi bibir Dayana. "Bagaimana bisa nanti? Kau sudah masuk ke sini dan aku tak akan membiarkanmu keluar."
"Baiklah. Aku akan mandi," cetus Dayana pada akhirnya membalas ciuman panas Arturo.
Keesokan harinya, Dayana yang sedang terbaring malas di sofa sendirian mendengar bel apartemen berbunyi. Ia berjalan mendekati pintu dan melihat interkom terlebih dahulu untuk mengetahui tamu yang berkunjung.
"Rebecca?" gumam Dayana terheran. Tangannya pun bergerak membuka pintu yang membuat Rebecca langsung masuk dan...
Plakkk!
Satu tamparan keras berhasil mendarat di wajah Dayana yang menciptakan rasa panas dan perih secara bersamaan.
Dayana melempar tatapan bingung. "What the hell, Bec? Kenapa kau tiba-tiba menamparku?"
"Puas? Kau puas sudah merenggut semuanya dariku? Puas sudah merenggut dan merubah Arturo?"
"Kenapa kau tiba-tiba begini?" tanya Dayana masih tak mengerti dengan sikap Rebecca.
"Kau membuatku dan Arturo menjauh, Day! Kau merenggut milikku! Kau sudah merenggut kasih sayang orang tuaku, merenggut teman-temanku, dan sekarang kau berani merenggut Arturo-ku. Kau hanya anak adopsi, Day! Jangan lancang ingin hidup dengan mengambil semuanya dariku!"
"Aku tak bermaksud merenggut apapun darimu, Bec. Kenapa kau begini?" Tenggorokan Dayana mulai sakit apalagi setelah mendengar cacian Rebecca yang menyebutnya anak adopsi.
"Kau hanya anak yang dipungut ibuku di tempat sampah. Jangan beraninya sampah sepertimu mendapat berlian. Kau seharusnya sadar diri, Day!" bentak Rebecca.
"Aku selalu berusaha membuatmu senang dengan membantumu mendapatkan apa yang kau mau. Aku selalu berusaha membuatmu terkesan, tidak bilang tidak pada perintahmu, dan rela melakukan apapun termasuk menggantimu di pernikahan saat itu. Aku sudah sadar diri dari dulu, Bec. Aku bahkan memilih pergi dari orang tua kita bukan karena ingin mengejar langkahmu. Aku hanya... tidak ingin membebani mereka lagi, Bec. Aku memang hanya anak adopsi. Kau puas?" tutur Dayana panjang lebar.
"Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu itu, huh?" Rebecca berdecih tajam. "Aku seharusnya tak mempercayakan Arturo padamu. Kau memang wanita penggoda murahan yang berani membuat malu keluargaku."
Dayana mengepal tangannya menahan kesedihan dan kekesalan dengan setiap hinaan yang Rebecca lontarkan.
"Dengar ini, Dayana. Jika kau tidak segera menceraikan kekasihku, aku bisa dengan mudah merubah mimpi sahabatmu itu menjadi mimpi buruk!" ancamnya yang membuat kepalan tangan Dayana melonggar.
"What?" Dayana tak mengerti. "Kenapa kau membawa orang lain ke dalam pertengkaran kita?"
Rebecca tersenyum penuh akal bulus. "Temanmu itu Miley Spencer, kan? Well, aku bisa saja mempermalukan dan membuat dia tak bisa meraih mimpinya. Sama sekali."
Dayana terdiam dengan raut khawatir karena kini Rebecca berhasil mengancamnya menggunakan Miley.
"Pikirkan ini baik-baik. Berpisah... atau sahabatmu menjadi korbannya."
__ADS_1