MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
14. Pembicaraan Yang Menyebalkan


__ADS_3

Dayana cukup kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan di tengah pesta yang dihadiri para wanita itu. Dia hanya minum sambil melihat dua wanita menari sensual yang disoraki oleh yang lain.


"Bagaimana dengan Arturo?" tanya Madison berhasil membuat Dayana tersadar dari lamunannya.


"Apa? Kalian tanya apa?" Dayana linglung, tak mengerti apapun.


"Tenaga Arturo. Sepertinya dia cukup gagah untuk membuatmu kelelahan seharian," goda wanita di sebelahnya.


Dayana hampir tersedak dengan ludahnya sendiri setelah paham inti pembicaraan mereka.


"A-aku tidak tahu," sahut Dayana tersenyum kaku.


"Aku sampai tak bisa berjalan sama sekali saat harus melayani Kevin," imbuh yang lain.


"Punya Hendrick juga cukup besar. Aku sampai kewalahan."


"Itu karena dia tidak puas denganmu."


Obrolan macam apa ini?


"Madison, bukankah kau dan Arturo sempat berpacaran? Kau pasti tahu bagaimana dia? Besar kah?"


Dayana berdeham kecil, semakin merasa canggung di tengah obrolan menjijikan itu. Sementara Madison mulai meletakkan gelasnya ke atas meja sebelum menjawab pertanyaan salah satu temannya barusan.


"Aku kelelahan beberapa hari dengannya. Dia cukup kuat, punya perut keras, bahu yang lebar, dada yang luas, dan bisa membuatmu menjerit keras saat bersamanya," katanya tersenyum.


"Oh, aku iri."


Madison mengangkat satu botol wiski ke arah Dayana. "Aku bercanda. Minumlah."


Dayana melirik gelasnya yang kosong kini dituangkan wiski oleh Madison.


"This is our time. Nikmatilah waktumu, Dayana."


Dayana mengangkat gelasnya lalu mulai menempelkan bibir ke sisinya untuk minum. Mereka pun bersenang-senang di dalam kapal pesiar tersebut.


Sementara itu, para lelaki yang ada di kapal berbeda tengah bersenang-senang seperti mereka berada di kelab malam. Di sana juga ada wanita yang bahkan menari telanjang pada sebuah tiang, bagai seekor ular yang sedang menggoda mangsa.


"Aku cukup kesal padamu karena sudah mendahuluiku menikah, Arturo," ungkap Sam.


Arturo meneguk minuman di gelasnya sampai habis. "Jangan menyalahkanku. Kenapa kau tidak menikahi Serena dari dulu?"


"Oh. Aku hanya ingin mencoba memahaminya dulu."

__ADS_1


"Tapi waktu pemahamannya sangat lama. Sampai 10 tahun," celetuk salah satu temannya terkikik.


"Wanita susah untuk dimengerti," kata Sam bersandar santai di sofa.


"Well, woman just want s*x," ujar lelaki berambut keriting bernama Jones yang sedang digoda oleh wanita berbikini duduk di sebelah pahanya.


"Begitu juga kita para lelaki," tambah Sam.


"Menikah tidak ada salahnya. Tapi jika kau sudah bosan dengan istrimu, kau bisa cari wanita lain agar puas," lanjut Jones yang membuat Arturo malah korek-korek kupingnya sendiri.


"Bagaimana dengan istrimu, Art?" Jones kini beralih pada Arturo dengan seringai kecilnya. "Kuamati istrimu punya barang yang bagus. Tidak besar, tapi sepertinya akan pas di tanganku. Wajahnya juga sangat menggoda, dan kalian lihat mulutnya tadi? Uh! Itu sangat--"


"Apa kau tidak merasa jijik dengan mulutmu sendiri, Jones?" potong Arturo menatapnya lurus dengan tajam.


Jones hanya tersenyum santai. "Jijik? Para wanita malah ketagihan dengan pelayanan mulutku. Benar kan, sayang?" Jones mencium wanita yang ada di pangkuannya.


"Ayolah. Ini pesta lajangku. Lebih baik kita melakukan permainan saja. Kalian mau?" tawar Sam coba menjadi penengah situasi yang mulai tegang itu.


"Aku yakin wanita itu ingin menggorokmu sekarang juga saat mendengar omong kosongmu tadi menghinanya sebagai wanita," lanjut Arturo yang tak mengindahkan tawaran Sam barusan.


"Kau munafik, Arturo. Kau juga berpikiran sama denganku, bukan? Kau menikahi wanita itu hanya ingin sesuatu darinya. Jika kau sudah puas dan bosan, kau pasti mencari wanita lain. Mengakulah saja. Di sini hanya ada kita, kau bisa jujur."


"Come on, guys. Jangan bertengkar di sini," cegah Sam. "Art, kau jangan marah. Jones sedang mabuk, jadi bicaranya melantur."


"Kau tidak lebih dari seorang lelaki murahan dan brengsek," ejek Arturo yang membuat Jones menegakkan tubuhnya sehingga wanita di pangkuannya beringsut pergi dari sana, enggan berada di tengah pertikaian.


"What? Kau bilang apa barusan?"


"Kau tidak tuli, Jones."


...----------------...


"Ow, hati-hati!" seru Serena sambil membantu Dayana yang berjalan terombang-ambing karena mabuk setelah banyak minum.


"Aku bisa sendiri. Lepaskan aku," pinta Dayana yang bergerak menjauh dari Serena.


Kedua kapal itu berhenti di tempat yang sama. Semua wanita dan lelaki mulai bertemu satu sama lain di sana. Dayana menunggu Arturo di dekat sebuah tiang yang ia jadikan sandaran untuknya berdiri tegak.


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Arturo yang menarik tangannya begitu saja.


"Wait. Aku tidak--"


"HEI, ARTURO!" teriak Jones dengan wajah yang sudah babak belur. "AKU AKAN MERASAKANNYA NANTI. DIA AKAN MENDESAH KERAS JIKA BERSAMAKU!"

__ADS_1


"Pergi sana, Jones!" bentak Arturo yang membuat Dayana bengong di tengah rasa mabuknya.


Sementara itu, Madison hanya berdiri mengamati Dayana dan Arturo yang mulai memasuki mobil lalu melaju pergi dari sana.


"Apa pestanya selesai? Oh, aku ingin minuman itu lagi," oceh Dayana. "Apa kita akan pulang? Aku mau ke sana lagi. Ayo kita ke pesta itu lagi."


Arturo hanya diam dengan tatapan fokus ke jalan, tapi tangannya memegang setir begitu erat seakan sedang menahan amarah.


Tak mendengar jawaban Arturo, Dayana mulai menoleh. Ia menyipitkan mata lalu menggeseknya saat melihat beberapa luka seperti bekas tonjokan di wajahnya.


"Ada apa dengan wajahmu, huh?" Dayana menarik wajah Arturo agar menoleh padanya. "Ada yang memukulmu? Siapa yang memukulmu? Wajahmu... Merah-merah."


"Diamlah!" geram Arturo menghempaskan tangan Dayana. Namun Dayana malah kembali memajukan setengah tubuhnya untuk mengamati babak belur di wajah Arturo.


"Oh, sayang sekali. Kau harus diobati. Wajahmu... tidak boleh begini. Akan sakit," ocehnya menepuk-nepuk sisi wajah Arturo.


"Bisakah kau diam? Aku sedang menyetir," tegas Arturo yang mulai kesal.


Dayana menghembuskan nafas kasar lalu bersusah payah melepas sabuk pengamannya. Tiba-tiba ia beranjak ke depan Arturo, duduk di pangkuannya sampai Arturo banting setir untuk berhenti. Hampir saja ia menabrak pembatas jalan jika telat menginjak rem.


"Ada apa denganmu?"


Dayana menangkup wajah Arturo dan mengamati setiap lukanya. "Kau terluka. Wajahmu akan sakit kalau dibiarkan. Siapa yang sudah memukulimu?"


"Ini bukan urusanmu!" Arturo memalingkan wajah ke arah jendela. "Kembalilah ke kursimu."


"Kau tahu? Aku sering terluka saat kecil sampai menangis karena rasanya sakit. Lalu ibuku selalu memberikan obat yang ampuh untuk menyembuhkannya sebelum aku diberi obat luka," tutur Dayana masih dalam keadaan mabuk.


Arturo mulai menghadapkan wajahnya kembali ke depan. Ia menatap Dayana yang sedang menatap salah satu luka di sudut bibir Arturo bekas pukulan keras dari Jones saat mereka berdua berkelahi tadi.


"Ibuku bilang akan sembuh. Untuk apapun lukanya, akan sembuh jika diberi obat itu."


"Apa obatnya?" tanya Arturo mulai penasaran.


Dayana memajukan wajah, mengecup lembut satu persatu luka pukulan di wajah Arturo dan berakhir di sudut bibirnya. Arturo hanya diam mendapatkan beberapa kecupan itu. Kini, Dayana memeluk tubuhnya dan memberikan tepukan pelan di punggung lebar Arturo.


"Ini akan menenangkan lukamu..." gumam Dayana yang perlahan memejamkan mata untuk tidur.


Arturo mulai menggerakkan kedua tangannya untuk membalas pelukan itu. Ia membiarkan Dayana mendekapnya seperti seekor bayi koala.


Selama ini, Arturo belum pernah mendapatkan pelukan hangat seperti ini saat dirinya terluka fisik ataupun batin. Selama berpacaran dengan Rebecca, Arturo hanya merasa seperti seorang asisten bukannya kekasih. Mereka berkencan secara sembunyi-sembunyi takut ada media yang mengambil gambar.


Makan malam, menonton film, jalan-jalan... Semuanya terasa hampa karena pikiran mereka bukan pada hubungan yang sedang dijalani, melainkan pada pekerjaan.

__ADS_1


"Terimakasih untuk pelukannya," kata Arturo yang semakin mengeratkan dekapan sehingga Dayana melenguh di sela tidurnya dalam dekapan hangat itu.


__ADS_2