
Ini adalah pengambilan gambar terakhir sebelum Miley pergi dari stage karena mendengar teriakan berhenti dari sang fotografer. Ia berjalan hendak mengambil minum, tapi sosok Rebecca yang menghampirinya membuat Miley mengatur penampilan karena ingin mendapat kesan baik dan pujian.
"You did a good job, Miley."
Senyuman senang terulas di bibirnya. "Thanks."
"Cukup melelahkan bukan, kau bisa sampai di 5 besar ini?" tanya Rebecca.
Miley mengulum bibirnya berpikir. "Ya. Ini cukup melelahkan, tapi aku akan terus menunjukkan kinerja terbaikku agar bisa sepertimu."
"Aku terkesan kau mau sepertiku," ucap Rebecca tersenyum tipis. "Apa kau tahu kalau Dayana sudah menikah?"
Senyuman lebar Miley perlahan surut, tergantikan dengan kening berkerut kebingungan.
"A-apa? Dayana sudah menikah?"
Rebecca mengangguk. "Ya. Dia tidak memberitahumu? Oh, aku kira kalian sangat dekat. Tapi ternyata Dayana tak memberitahumu tentang pernikahannya? Dia kejam juga."
Miley menatap lantai dengan kosong. Ia berjalan pergi melewati Rebecca yang menyeringai puas dengan muslihatnya yang berhasil barusan.
Sudah beberapa kali dihubungi, Dayana tak mengangkat panggilan sama sekali. Padahal ia ingin memastikan perkataan Rebecca yang membuatnya kepikiran sampai sekarang. Sampai Miley tak fokus mengikuti kompetisinya yang membuat Rebecca diam-diam tertawa keras dalam benak.
Sementara itu, Dayana ternyata sedang berada di rumah sakit. Ia tak menyadari ponselnya yang berdering dalam tas karena sedang fokus mengkhawatirkan Arturo yang kini kelihatan sedih setelah mendapatkan berita tak mengenakan tentang ibunya.
Ingrid meninggal tadi pagi karena penyakit jantungnya. Hal itu membuat Arturo dan Dayana melesat pergi untuk melihatnya.
Di sana juga ada Olivia yang menangis hiteris dalam pelukan Damien. Lelaki itu cukup bisa diandalkan karena ternyata hadir dalam keadaan genting seperti ini.
"Hei," panggil Dayana lalu memeluk tubuh Arturo, memberikan elusan lembut di punggungnya.
"Ibumu akan sedih kalau kau seperti ini. Lihat aku, Art." Dayana menangkup wajah Arturo yang begitu terlihat kehilangan. "Ada aku di sini. Ibumu akan bahagia di sana."
Arturo mengangguk kecil lalu memeluk Dayana lagi. Mereka berdua begitu berkabung dirundung duka apalagi ketika pemakaman dilakukan.
Seharian itu Arturo banyak diam termenung di mana pun dirinya berada. Dayana tak bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkanya tenang dulu sendirian.
Namun ketika pemakaman dilakukan, sosok Rebecca memberanikan diri memunculkan batang hidungnya meski dari kejauhan. Dayana bisa tahu pasti jika wanita berkacamata hitam dengan tudung senada di dekat pohon itu adalah kakaknya yang tengah mengamati.
"Are you okay?" tanya Dayana memastikan. Arturo terdiam sendirian di ruang kerjanya. Bukan mengerjakan tugas berkutat di komputer, melainkan melamun.
"Kemarilah," titah Arturo. Dia membalikkan kursinya menghadap Dayana lalu memeluk perutnya dalam keadaan masih duduk.
"Aku tidak menyangka dia akan pergi secepat ini," katanya cukup lemah.
Dayana mengusap kepala Arturo dengan penuh kelembutan untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Sekarang aku hanya memiliki Olivia dan dirimu. Kau tidak akan meninggalkanku juga, kan?"
Tak ada jawaban yang bisa terucap dari mulutnya. Bahkan Arturo merasakan usapan di kepalanya sudah tak bergerak seperti sebelumnya.
"Kenapa kau diam?" Arturo melepas pelukannya lantas mendongak. "Kau akan meninggalkanku?"
Dayana menatap ke arah lain dengan gugup. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu setelah itu kau harus tidur."
Tubuh Dayana menghilang dari pandangan. Arturo memahami ekspresi Dayana ketika ditanya malah dialihkan ke topik lain.
Arturo tak ingin kehilangan Dayana yang sudah menjadi salah satu bagian dari hidupnya, sama seperti Ingrid dan Olivia.
Di sisi lain, Dayana melihat-lihat ponselnya ketika menunggu bathtub dipenuhi air hangat. Ia mendapatkan beberapa pesan dan panggilan dari Miley yang menyuruhnya untuk bertemu.
Keesokan harinya, Dayana pergi untuk menemui Miley di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.
"Mile!" panggil Dayana lalu duduk di depan Miley. "Apa acaranya sudah selesai? Kau menang?"
Miley menatap malas pada Dayana. "Kau sudah menikah?"
Pertanyaan itu sontak membuat Dayana terbeku selama beberapa saat, memikirkan dari mana sahabatnya itu tahu.
"Kupikir kita dekat dan bersahabat, Day. Tapi kau menyembunyikan pernikahanmu dariku? Kau selalu memberitahuku perihal semua lelaki yang kau pacari, tapi kau tak memberitahuku perihal suamimu? Pernikahanmu? Apa-apaan ini?"
...----------------...
Miley berdecih tajam. "Aku tak mau mendengar alasanmu, Day. Kau bahkan tak mempedulikan perasaanku. Apa kau pernah merasa dikhianati oleh sahabatmu sendiri saat ada sesuatu yang disembunyikan? Apa kau lupa, Day? Kita selalu bermimpi untuk menghadiri pernikahan masing-masing, melakukan hal gila, dan berfoto bersama. Apa kau lupa itu?"
"Mile, aku benar-benar..." Dayana bingung hendak menjelaskannya. "Kau harus percaya padaku."
Miley beranjak berdiri padahal mereka belum memesan apapun untuk makan. Wanita itu sudah sangat kesal dengan Dayana karena pengkhianatannya itu.
"Tidak apa-apa tidak mengundangku. Semoga kalian hidup bahagia," harapnya agak dingin lalu melenggang pergi dari sana.
Dayana mengumpat kesal. Dia tak diberi kesempatan untuk menjelaskan dan malah ragu untuk memberitahu semuanya ketika kesempatan itu datang.
"Kau dimarahi sahabatmu, ya?" imbuh seseorang yang duduk begitu saja di kursi Miley sebelumnya.
Dayana mengangkat wajah dengan tatapan langsung mengarah pada Rebecca yang duduk dengan kacamata hitam bertengger di hidung.
"Kau yang memberitahunya?"
Rebecca angkat bahu santai. "Bukankah dia sahabatmu? Dia harus tahu semua."
"Apa maumu, Rebecca? Kenapa kau mengusikku?"
__ADS_1
"Dayana..." Rebecca bersandar di kursinya dengan angkuh. "Aku hanya ingin kau berpisah dengan Arturo lalu mengembalikannya padaku. Itu saja. Aku tak pernah memberikannya padamu, Day. Aku hanya menitipkan Arturo, tapi kau tak tahu dirinya mengambil dia."
"Kalau kau ingin mengambil Arturo, jangan membawa Miley ke dalam masalah kita. Ada apa denganmu, Bec?"
"Kau tahu, Day? Saat kecil aku sangat senang memiliki seorang adik sepertimu. Tapi semakin kau tumbuh, semakin banyak yang kau ambil dariku. Senyum kedua orang tuaku selalu diberikan padamu. Perhatian teman-temanku selalu diberikan padamu. Cinta dari lelaki yang kucintai, diberikan padamu. Aku lelah semuanya diambil olehmu, Day. Semenjak itu, aku ingin jadi lebih darimu. Aku bersumpah akan mendapatkan semuanya melebihi apa yang kau ambil dariku. And see? Everybody loves me, Day. But when i love Arturo, you take him," ungkap Rebecca panjang lebar.
"Kau iri padaku?" tanya Dayana menunjuk dirinya sendiri.
"Iri?" Rebecca tersenyum meremehkan. "Aku hanya marah padamu. Aku ingin membuatmu sengsara dan kehilangan semuanya, Day."
"Aku tak menyangka kau bisa sejahat ini, Bec. Selama ini aku mengagumimu sebagai seorang kakak, tapi kau melenceng dari harapanku."
Rebecca beranjak bangun dari duduknya dengan wajah sombong. "Jangan menaruh harapan pada manusia. Kau hanya akan kecewa, Day."
Rebecca pun pergi dari hadapan Dayana yang kini terduduk sendirian menahan emosi. Kebimbangan pun datang menghampiri. Dayana termenung di balkon apartemennya tanpa menyadari Arturo yang sudah pulang dari kantornya.
Lelaki itu melepas jas lalu berjalan menghampiri Dayana. Tangannya bergerak memeluk perutnya dari belakang yang membuat Dayana kaget.
"Kenapa kau melamun di sini?" tanya Arturo.
Dayana memejamkan mata menikmati ciuman hangat Arturo di pipinya. Setelah itu, ia membalikkan tubuh sehingga mereka berdua bisa saling berhadapan.
"Kau... berjanji kan memberi semua yang kumau?" tanya Dayana membelai kecil sisi wajah Arturo.
"Sure. Apa yang kau inginkan, hmm?"
Dayana menelan ludah, tak sanggup untuk mengatakannya. Namun ia harus melakukan ini agar Rebecca tidak mengusik dirinya dan membawa orang lain untuk mengancamnya.
"Aku ingin... kita berpisah," ungkapnya membuat pelukan Arturo melonggar.
"Aku sudah berjanji jika... pernikahan ini akan selesai sampai ibumu tiada," akunya menunduk, tak berani melihat respon Arturo.
"Kau minta berpisah denganku hanya karena ibuku meninggal?" Nada Arturo seperti menekan penuh emosi, bahkan kini tangannya sudah lepas dari pinggang Dayana.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya tak habis pikir.
"Dari awal pernikahan kita memang hanya untuk saling memanfaatkan. Kau menggunakanku hanya sebagai pengganti Rebecca dan untuk menyenangkan ibumu, kan? Sekarang lihat! Ibumu sudah tiada dan tugasku sudah selesai," ujarnya.
Arturo berkacak pinggang sebelah seraya mengusap wajahnya frustasi setelah mendengar itu.
"Apa ini karena Rebecca?"
Dayana sontak menggeleng. "Tidak. Tentu saja tidak. Aku meminta berpisah denganmu karena memang tugasku sudah selesai."
Kepala Arturo menggeleng. Kakinya melangkah pergi dari sana begitu lebar dan cepat sampai Dayana tak bisa mengejarnya.
__ADS_1
Arturo pasti akan menemui Rebecca, duga Dayana.