
Tidur nyenyak Dayana harus terbangunkan oleh dering ponselnya yang ditaruh di atas nakas. Ia mengerang kesal mencari benda pipih itu untuk mengangkat panggilan dari seseorang.
Arturo ada di sana, sedang bercermin memakai kemejanya lalu bergerak mengambil ponsel Dayana yang terus berbunyi untuk menerima panggilan.
"Hello?" sapa Arturo.
Mendengar suara Arturo yang mengangkat panggilannya membuat Dayana mengadah dengan nyawa masih setengah terkumpul.
"Kemarikan ponselku," erang Dayana yang menarik-narik ujung baju Arturo.
"Wow. Siapa kau? Kenapa kau memegang ponsel kekasihku?"
Arturo menunduk menatap Dayana yang malah kembali tidur.
"Aku suaminya," aku Arturo yang membuat orang di dalam telepon terkejut.
"What? Mana Dayana kekasihku? Beraninya kau--"
Arturo menjauhkan ponsel dari telinga saat ia sedikit berjongkok untuk bicara pada Dayana.
"Ini dari kekasihmu."
Kedua mata Dayana sontak terbuka dan langsung bangun lalu mengambil alih ponsel dari tangan Arturo. Dilihatnya panggilan dari William yang ternyata masih terhubung.
"William!" panggil Dayana tersenyum canggung meski tak akan lelaki itu lihat.
Sementara itu, Arturo kembali bercermin di kaca lemari untuk mengatur penampilannya.
"Siapa pria tadi? Dia bilang dirinya adalah suamimu. Apa ini? Kau bisa menjelaskannya?"
Sebelah tangan Dayana bergerak memijat pelipis. "No, honey. Tadi hanya... pelayan hotel yang lancang mengangkat panggilanku."
"Kau di hotel?"
Dayana memejamkan mata karena ia sudah salah mengambil alasan.
"Y-ya. Aku pergi dengan Miley untuk jalan-jalan bersama dan kami menginap di hotel."
"Aku sudah pulang dan sebentar lagi mau ke apartemenmu."
"What?" Tubuh Dayana sontak beringsut dari ranjang karena terkejut. Pasalnya, ia sudah tidak tinggal lagi apartemen milik Damien setelah mereka memutuskan hubungan.
"No! No, honey. Aku... Aku yang akan pergi menemuimu. Kau pasti capek kan setelah melakukan perjalanan jauh? Jadi, aku yang akan datang ke sana."
"Baiklah. Cepat kemari. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga," balas Dayana lalu panggilan berakhir.
__ADS_1
"Jujur saja, Miss Harvey..." Arturo berbalik ke arah Dayana yang buru-buru mau ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"What?" Dayana melemparkan tatapan malasnya.
"Aku tidak suka jika kau kembali ke rumahku dengan membawa bau dari tubuh lelaki lain."
"Apa urusannya denganmu? Aku juga tidak akan peduli jika kau datang ke sini sambil membawa wanita lain untuk tidur bersama sekali pun. Poin utama kita saat ini adalah tidak mengurusi kehidupan masing-masing."
"Sepertinya kau lupa sedang menginjakkan kaki di rumah siapa," sindir Arturo.
"Terserah kau saja," geram Dayana.
Di tengah perdebatan itu, ponsel Dayana kembali berdering. Dia mengangkat panggilan tanpa melihat kontak yang tertera di layar.
"Miss Harvey?"
Dayana menjauhkan ponsel untuk melihat deretan nomor yang terasa pernah dihubunginya.
"Ya. Siapa ini?" Dayana mau memastikan.
"Sebastian Reeves."
"Ow, Mr. Reeves!" seru Dayana yang membuat Arturo menoleh seakan tertarik dengan sesuatu.
"Aku hanya ingin memastikan kau akan datang ke konsernya atau tidak. Aku tak mau kau membuang-buang uang jika berakhir tak datang."
"Sure. Aku akan datang. Tiketnya juga sudah kubeli. Jadi kita bisa langsung bertemu saja nanti malam."
"See you, Mr. Reeves."
Dayana mengulum senyum senang setelah mendapat panggilan dari Sebastian.
"Sepertinya kau punya banyak kekasih di luar sana," cetus Arturo bermaksud menyindir.
"Ayolah. Sampai kapan kau mau mengurusi jumlah kekasih yang kumiliki?" Dayana memicing. "Kau mulai berlagak seperti seorang suami yang mau memergoki istrinya selingkuh."
"Memang itu kenyataannya," sahut Arturo santai. Kakinya melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Dayana yang termangu di tempat dengan respon lelaki itu.
"Ada apa dengannya? Dia membuatku merinding."
...----------------...
Dengan langkah lebar tapi tenang, Arturo mulai memasuki sebuah restoran Cina yang cukup besar dan populer di kalangan orang-orang berstatus tinggi.
Bukan hanya ingin makan malam, Arturo ke sana untuk menemui Rebecca seperti yang Dayana minta sebelumnya.
"Art!" panggil Rebecca bangun dari duduk untuk menyambut Arturo yang masuk ke dalam ruang VIP tertutup di restoran tersebut agar mereka berdua bisa makan dan berbincang dengan tenang.
__ADS_1
Kehidupan Rebecca sebagai seorang model sekaligus aktris ternama membuatnya dikejar-kejar media untuk mencari berita. Tak jarang Rebecca harus mengendap, bersembunyi, bahkan menyamar hanya untuk pergi ke suatu tempat jika dirinya ingin santai atau bermain, termasuk saat dirinya mau berkencan dengan Arturo.
"Aku senang kau datang ke sini. Aku sangat merindukanmu, Art."
Arturo terduduk di kursi dengan pembatas meja makan bulat di tengah dirinya dengan Rebecca. Seakan tahu jika kehidupan mereka kini juga harus dibatasi setelah tak saling memiliki.
"Aku ke sini karena Dayana yang memintanya," lontar Arturo.
Raut wajah Rebecca terlihat tak suka mendengarnya, tapi ia coba sembunyikan rasa itu dengan senyuman.
"Kita pesan makanan dulu, ya? Kau selalu suka Jian Bing di sini. Kau ingat saat pertama kali kita datang ke sini--"
"Rebecca, aku ke sini bukan untuk bernostalgia denganmu," potong Arturo yang membuat air muka Rebecca berubah. Tangannya yang tadi hendak membuka buku menu pun kini perlahan menutupnya.
"Art, bukankah kau keterlaluan?" Rebecca menatap sendu. "Aku tak bisa menahan rasa rindu padamu, makannya aku menghilangkan rasa bersalahku karena tak sabar ingin menemuimu. Semua kenanganku bersamamu akan selalu teringat, termasuk di tempat ini."
"Aku juga ingat semua kenangan bersamamu di sini. Tapi sekarang aku tak punya hak untuk mengulas masa lalu. Aku sekarang punya masa depanku sendiri, Rebecca. Kau tak ingat kalau kau lah yang sudah mengantarkan Dayana padaku? Dia lah yang bersamaku sekarang. Jadi aku tidak akan tertarik untuk mendengar kerinduan seseorang yang sudah mempermainkan perasaanku yang tulus ingin memilikinya. Melindunginya. Bersamanya," ungkap Arturo panjang lebar.
Kedua mata Rebecca sudah berkaca saat mengamati wajah Arturo yang serius dengan semua kalimatnya.
"Baiklah, aku akan langsung saja." Arturo mengatur duduk agar lebih nyaman dan intens.
"Aku ingin kita melepas satu sama lain dengan baik-baik. Aku tak akan membahas alasan kau pergi begitu saja di hari pernikahan dan menyuruh adikmu sendiri untuk menikah denganku. Aku tak akan menyalahkanmu lagi. Aku hanya ingin memberitahumu kalau kehidupanku baik-baik saja sekarang. Kau juga harus baik-baik saja dan fokus dengan apa yang sedang kau perjuangkan."
"Art..." lirih Rebecca setelah termenung dengan menahan tangis. "Apa kau memiliki perasaan pada Dayana? Adikku?"
Arturo menghembuskan nafas kecil lalu bangkit dari duduknya. "Well, sekarang dia istriku."
Rebecca ikut bangkit dengan cepat. "Tapi kau tahu Dayana, Art. Dia tak akan pernah mau mencintaimu. Dia punya banyak lelaki di luar sana bahkan tidur dengan mereka hanya untuk mengeruk uangnya. Dia bukan wanita baik-baik. Dia hidup dari pekerjaannya sebagai wanita murahan--"
Arturo langsung menoleh dengan lirikan tajam seakan ingin membunuh seseorang yang membuat Rebecca terdiam.
"Jangan pernah kau merendahkan istriku!" tegas Arturo menggertak.
Rebecca tersenyum miris. "Kau hanya ingin memanfaatkannya untuk menyenangkan ibumu saja, kan? Makannya kau tak mau peduli seberapa buruk dan menjijikannya Dayana."
"Aku lebih jijik pada seseorang yang berbicara buruk tentang keluarganya sendiri tanpa tahu malu," balas Arturo.
"Ini yang menjadi salah satu alasanku berlapang dada untuk melepaskanmu, Rebecca. Rasa angkuh dan egoismu."
"Angkuh? Egois?" Rebecca tertawa pahit. "Setidaknya aku menjaga kesucianku dengan baik daripada istrimu yang ke sana kemari mengangkang menggoda banyak lelaki. Menjijikan!"
"Aku terkesan dengan gelarmu sebagai dewi perawan yang suci. Kau sangat menghayatinya," kata Arturo.
"Aku tak ingin berdebat denganmu lagi, Rebecca. Aku akan pergi," pamitnya yang keluar, meninggalkan Rebecca dengan nafas memburu emosi padanya.
Teriakan keras penuh amarah pun terdengar dalam ruangan. Rebecca mengacak-acak semua barang yang ada di atas meja saking murkanya dengan pembicaraan dirinya bersama Arturo.
__ADS_1
"Sial!" umpat Rebecca menggebrak meja cukup keras.
Untuk kesekian kalinya, dia merasa sangat marah karena yang seharusnya menjadi miliknya kini kembali pergi diambil Dayana.