
Puas jalan-jalan dan belanja, Dayana kini ikut bersama William memasuki sebuah kelab malam meski enggan. Dayana hanya ingin memastikan, apakah William benar punya wanita lain seperti apa yang Miley lihat waktu itu?
Kebetulan makan malam dengan Sebastian tidak jadi karena lelaki itu bilang masih harus mengerjakan sesuatu.
"Tunggu di sini. Aku akan bawa minum," titah William yang mengecup pipi Dayana sebelum pergi.
Dayana pun duduk sendirian di sofa, menatap banyak orang yang sedang menikmati hingar bingar keadaan dalam kelab malam itu.
Tanpa Dayana ketahui, William ternyata bukan mengambil minum untuk mereka. Dia malah berjalan menyusuri lorong dan langsung mencium bibir seorang wanita yang sudah menunggunya sedari tadi di sana.
"Kau sendirian?" tanya seseorang yang datang menghampiri.
Dayana mendongak melihat wajah oriental Jepang dari lelaki itu, tapi aksen bicaranya sangat Amerika.
"Aku bersama kekasihku. Dia sedang mengambil minum," sahut Dayana.
Lelaki itu duduk lalu meletakkan sebotol anggur merah yang membuat Dayana terbelalak. Ia tahu jika minuman itu sangat mahal dan langka, bahkan rasanya juga terkenal enak dibanding anggur lain.
"Aku tidak akan bisa menghabiskannya sendirian. Kau mau?" tawarnya.
"Kenapa kau mau mengajakku menghabiskannya denganmu?" tanya Dayana bertopang dagu di atas pahanya yang ditahan siku.
"Aku hanya melihatmu sendirian," balasnya santai. "Kekasihmu juga belum ke sini. Jadi kita bisa minum sebentar sampai dia datang."
Dayana manggut-manggut. Dia melirik tangan lelaki itu yang sudah bergerak menuang anggur merahnya ke gelas kosong yang ia sodorkan pada Dayana.
"Aku membelinya di sini dan katanya ini anggur langka. Karena penasaran, aku bahkan rela merogoh kocek tak sedkit untuk membelinya."
"Kau punya banyak uang," gumam Dayana lalu menempelkan sisi gelas ke bibir dengan tatapan terus terarah pada lelaki itu.
Tiba-tiba saja, wajah lelaki itu berubah menjadi wajah Arturo yang membuat Dayana tersedak sampai batuk.
"Are you okay?" tanyanya khawatir.
Dayana mengangkat sebelah tangan. "I'm okay."
"Jangan terlalu buru-buru. Kau bisa menyesap aromanya dulu sebelum menyentuh lidah dan turun di tenggorokanmu," tuntun lelaki itu ikut minum.
Dayana mulai minum dengan tenang berdasarkan usulan lelaki itu. Dia mengangguk setuju jika anggur merah itu sangat enak.
"Aku Danny Nakamoto," tuturnya ajak berkenalan.
"Dayana Harvey."
"Bagaimana minumannya? Kalau kau suka, aku akan membelikanmu satu lagi," tawar Danny.
Dayana mengangkat gelas lalu kembali meneguk cairan di dalamnya sampai habis. Dia bahkan menungkan anggur begitu saja tanpa izin yang punya. Namun nampaknya Danny tak masalah dengan itu.
__ADS_1
"I love it!" ungkap Dayana.
"Alright. Kau bisa menghabiskan itu dan nanti aku akan membeli lagi untukmu."
"Thank you." Dayana mengedipkan sebelah mata dengan wajah memerah yang sudah mabuk.
Danny mengamati keadaan. Matanya mengarah pada sosok William yang sudah muncul sambil membawa satu botol anggur.
"Miss Harvey, kau sepertinya sudah mabuk berat. Aku akan mengantarkanmu pulang," tawar Danny sambil menarik bahu Dayana agar bangun dari sofa.
Dayana hanya menghembuskan nafas dengan gumaman tak jelas. Kakinya mengikuti Danny begitu saja karena ia kira sedang dibawa William.
Sementara itu, William mengedarkan pandangan mencari sosok Dayana yang sudah tak ada di tempat. Dia berdecak kesal lalu duduk sendirian penuh emosi karena kiranya ditinggal begitu saja oleh sang kekasih.
Dayana merasa sangat mabuk dan lemah, tak seperti biasanya. Kali ini, mabuknya seakan kelewatan dan dia bahkan mengantuk.
Samar-samar, hanya ada langit-langit sebuah ruangan berwarna putih hingga wajah buram dari seseorang muncul di hadapannya.
Dayana mendengar suara dari jepretan sebuah kamera selama sesuatu membelai lengan dan meloloskan bajunya.
"Art..." gumam Dayana mencoba memanggil Arturo yang tak ada di sana.
"Artu... ro..." lirihnya di sisa kesadaran yang masih ada.
Sebuah cahaya dari flash kamera menyerang mata yang refleks membuat Dayana terpejam erat lalu tak sadarkan diri saat itu juga.
...----------------...
"Siapa yang membawaku kemari?" monolog Dayana bertanya-tanya. Ia kembali membuka selimutnya kecil untuk mengamati keadaan tubuhnya yang tak terbalut apapun.
"Sial!" umpatnya ingin menangis. Meski suka tidur dengan beberapa lelaki, tapi Dayana tidak memberi toleransi jika ada yang menidurinya tanpa izin apalagi misterius seperti ini.
Jelas sekali, sekarang dirinya merasa telah dilecehkan. Buru-buru tubuhnya beringsut, memungut baju di lantai dekat ranjang untuk dikenakan.
Dayana keluar dalam keadaan sedih bercampur emosi. Dia berusaha mengingat semua, tapi fokusnya teralihkan pada tempat yang dipijakinya saat ini.
Ada banyak wanita berpakaian seksi yang melemparkan perhatian padanya ketika dilewati.
"Kenapa aku ada di tempat ini?" gumam Dayana mulai resah.
"ANYONE CAN HELP ME? WHY AM I HERE?" teriak Dayana di tengah semua wanita itu.
Namun semuanya malah diam dan beberapa berbisik seperti tengah membicarakannya.
"Hola, Sweety!" sapa seorang wanita dengan wajah menor dan gaun merah terbelah di bagian dada bahkan bagian bawahnya sampai ke paha.
"Hei, kau tahu siapa yang membawaku semalam ke sini? I can't... remember anything."
__ADS_1
Wanita itu merangkul Dayana. "Tenang dulu, Sweety."
"Tenang?" Dayana tersenyum miris. "Bagaimana aku bisa tenang? Aku tiba-tiba berada di rumah bordil dalam keadaan telanjang tadi. Apa aku harus tenang?"
"Kau datang bersama seorang lelaki semalam," jawabnya.
Dayana mengernyit. "Siapa? Kau tahu dia?"
"Aku tidak tahu. Dia hanya memberiku banyak uang lalu membawamu ke salah satu kamar." Wanita itu berpikir lagi. "Wajahnya seperti orang Jepang."
Danny Nakamoto?
Dayana ingat lelaki itu yang semalam menawarkannya minuman sampai dirinya mabuk. Alih-alih dibawa ke hotel, kenapa malah dibawa ke rumah bordil?
Pikiran Dayana pun penuh dengan Danny, mempertanyakan alasan lelaki itu mendekatinya semalam sampai melakukan semua ini. Setiap mengingat kondisinya pagi tadi, Dayana merasa ingin memukul-mukul diri sendiri.
"Kau ke mana saja?" tanya Arturo saat Dayana baru masuk ke apartemen dengan tatapan fokus berpikir.
"Aku lelah. Jangan menanyaiku dulu," sahut Dayana melenggang menuju kamar.
Arturo meletakkan kopi hangat dan majalahnya yang dibaca setelah melihat raut surut Dayana. Ia pun berinisiatif untuk masuk ke kamar menyanyai keadaan sang istri.
"Tidak ada yang mau kau jelaskan padaku?" desak Arturo.
Dayana melepas pakaiannya begitu saja di depan Arturo tanpa mempedulikan apapun. Melihat hal itu, Arturo hanya terdiam dengan rasa heran dalam benak.
Kini hanya tersisa pakaian dalamnya saja. Dayana berbalik lalu berjalan menuju Arturo untuk meraih tengkuk sehingga bibir mereka berdua saling menempel.
Arturo mendorong lengan Dayana sampai ciumannya terlepas. Beberapa kali Dayana mencoba meraih bibirnya lagi, tapi Arturo dengan cepat menahannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Arturo yang kini mencengkram lengan Dayana dan menahannya agar tak bergerak maju lagi.
Kedua mata Dayana berkaca menahan tangis. Kepalanya berpaling ke arah lain, seakan enggan menceritakan apapun untuk menjawab pertanyaan Arturo.
"Dayana, apa yang terjadi padamu?" tanya Arturo lagi.
"Aku tidak tahu. Aku hanya... merasa ingin kau membersihkanku saja," jawab Dayana tak Arturo pahami.
"Katakan padaku," kata Arturo yang kini maju mengikis jarak. Kepalanya menunduk mengamati mata berkaca Dayana.
"Aku... terbangun di rumah bordil dalam keadaan telanjang," ungkap Dayana mendongak dengan mata yang sudah berair.
Arturo tak memberikan komentar lain, hanya menatap mata Dayana dengan rautnya yang perlahan berubah seakan menahan sesuatu dalam hatinya saat ini.
"Kau ingat siapa yang melakukannya padamu?" tanya Arturo dengan nada yang sudah menekan rendah.
"Aku... tidak yakin. Tapi wanita itu bilang aku datang bersama Danny. Dia memberiku anggur merah semalam dan aku... tidak ingat lagi apa yang terjadi," jelas Dayana.
__ADS_1
Arturo menarik tubuh Dayana ke dalam pelukannya sehingga sebuah tangis tak bersuara pecah di dadanya. Dayana terisak, memeluk Arturo begitu erat.
"Aku akan mencari lelaki itu," kata Arturo mengecup pucuk kepala Dayana lalu semakin mengeratkan pelukan.