
"Gosh! Kau mengagetkanku," gumam Dayana mengelus dadanya saat mendapati sosok Arturo yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu.
"Ke mana saja kau?" tanya Arturo dengan nada mengintrogasi.
Dayana berjalan abai melewati Arturo. Tak seharusnya lelaki itu mengurusi kegiatannya setelah ada perjanjian di antara mereka sebelumnya yang tidak boleh mempedulikan kehidupan masing-masing.
"Dayana!"
"Kau kenapa, sih?" erang Dayana yang kini berbalik berhadapan dengan tubuh Arturo yang menjulang tinggi.
"Jangan bilang kau pergi ke rumah kekasihmu dan tidur dengan mereka. Begitu?"
"Memangnya kenapa kalau iya? Kau marah? Cemburu?" sahut Dayana kesal. "Mr. Camucho, jangan bilang kau sekarang mulai menyukaiku?"
Arturo terdiam, tak memberikan jawaban yang cepat sehingga raut kesal Dayana surut perlahan.
"Tidak, kan?" Dayana coba memastikan. "Ya ampun. Kuperingatkan untuk tidak melakukan itu. Rebecca akan memarahiku habis-habisan kalau--"
Dayana terbeku saat Arturo dengan cepat meraih tengkuknya dan memberikan ciuman panas tanpa aba-aba. Kedua tangan Dayana sampai bergerak meremas bahu Arturo karena ciuman itu menekannya cukup dalam.
"Apa aku menyukaimu adalah sebuah kesalahan?" bisik Arturo di depan bibir Dayana.
"Tak ada wanita lain untuk kupikirkan saat ini. Hanya kau. Jangan membahas kakakmu yang sudah menjadi masa laluku. Sekarang hanya kau yang ada di hidupku dan aku tak ingin kau jatuh ke pelukan lelaki lain dengan mudah. Kau hanya boleh jatuh padaku. Suamimu."
Ungkapan itu membuat Dayana berani menatap mata Arturo. Menyelam ke dalamnya dan menemukan kesungguhan yang kini muncul menyentuh hati Dayana.
"Aku memang cemburu," lanjut Arturo lalu memiringkan kepala untuk kembali memagut bibir Dayana.
Namun belum sempat menempel, kegiatan mereka berdua dihentikan oleh dering ponsel dari dalam tas. Wajah mereka saling menjauh, memberikan kesempatan Dayana untuk mengangkat panggilan dari Thomas.
"Hei, Tom!" Senyuman canggung terlihat di wajah Dayana karena sosok Arturo yang masih berdiri menatapnya.
"Aku sudah ada di depan apartemenmu, sayang."
"APA?" Dayana mendadak panik. "T-Tom! Thomas! Kau... Kau jangan ke sana. Kembalilah. Aku akan datang ke tempatmu--"
"Terlambat. Aku sudah menekan belnya. Kenapa kau tidak membukakan pintu untukku?"
Sebelah tangan Dayana tepuk jidat. Kakinya berlari dengan cepat melewati Arturo begitu saja. Ia harus segera pergi ke apartemen Damien agar Thomas dengan Damien tidak bertemu meski rasanya akan sia-sia.
Taksi ditutup cukup keras. Dayana berlari memasuki lift dan keluar dengan langkah tergesa menuju ke kamar Damien yang ditempatinya dulu.
Selama Damien keluar, Dayana memang kadang mengizinkan Thomas dan William untuk berkunjung dan main di sana tapi dalam jadwal yang berbeda. Sialnya, sekarang dia sudah diusir dari sana sehingga Thomas dan William berpikir rumah Dayana masih unit tersebut.
Ditekannya bel beberapa kali hingga pintu dibuka oleh Damien. Senyuman lebar tercipta di bibir Dayana untuk menyapa, sayangnya harus kembali surut saat sosok Thomas muncul dari belakang Damien.
"Tom, aku--"
__ADS_1
"Kau benar-benar keterlaluan, Dayana." Thomas keluar dari unit tersebut dengan perasaan kecewa.
"Kau mengatakan semuanya pada dia?" tanya Dayana dengan bibir menipis kesal pada Damien.
"Kenapa, Ma Chérie? Kau kesal ya kalau kelakuan burukmu selama ini terbongkar? Makannya, jangan mempermainkanku."
Dayana tak memberi respon selain delikan tak suka pada Damien. Kakinya melangkah lebar menyusul Thomas yang sudah masuk ke dalam lift.
"Jangan sampai aku kehilangan Thomas," harap Dayana seraya masuk ketika pintu lift terbuka untuknya.
"THOMAS!" teriak Dayana memanggil. Namun mobil Thomas sudah melesat pergi dari pandangannya tanpa mau mendengar penjelasan apapun.
"Sial!" umpat Dayana sambil mendongak menatap tajam jendela kamar Damien di atas sana.
"DAMIEN, AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriaknya keras.
Sementara itu Damien hanya terduduk santai di sofa seraya menonton sebuah acara di dalam televisi. Dia mengulas senyum puas, tapi tiba-tiba memukul-mukul sofa lalu berdiri berkacak pinggang penuh emosi.
"Sialan! Selama ini dia diam-diam selingkuh di tempat tinggalku sendiri?"
...----------------...
Hanya William yang tersisa. Liam, Damien, dan Thomas sudah pergi darinya sehingga kini asupan keuangan Dayana otomatis juga berkurang meski ada juga pemasukan dari Arturo yang cukup banyak.
Helaan nafas keluar dari bibir Dayana. Sekarang dirinya merasa kesepian, karena Miley juga sedang sibuk melakukan kompetisi modelnya yang sudah disiarkan. Alhasil, Dayana harus jalan-jalan dan belanja sendiri.
Lift terbuka. Dayana dan Sebastian hanya saling melihat sejenak sebelum akhirnya lelaki itu ikut bergabung.
"Good morning," sapa Sebastian.
"Morning." Dayana menoleh dengan tatapan mengamati. "Aku tidak tahu... Apa ini benar dirimu, Mr. Reeves?"
Sebastian menunduk melihat penampilannya sendiri yang terbalut pakaian formal.
"Kau biasanya hanya memakai kaos santai yang membentuk otot-- Maksudku, kau biasanya kasual. Tapi sekarang terlihat seperti karyawan kantoran."
Sebastian tersenyum kecil. "Apa tidak cocok untukku?"
Dayana kembali mengamati Sebastian. "Sepertinya kau cocok memakai apapun. Kau tampan."
"Thanks."
Sebastian kembali menghadap ke depan, begitu pun dengan Dayana yang kini diselimuti keheningan di antara keduanya.
"Kau mau ke mana?" tanya mereka berdua secara bersamaan sehingga menciptakan gelak tawa di antara keduanya.
"Kau dulu." Sebastian mempersilahkan.
__ADS_1
"Kau mau ke mana memakai pakaian begini?" tanya Dayana penasaran. "Apa kau memang pekerja kantoran? Kukira kau seorang pekerja lepas yang tidak berpakaian kaku seperti ini."
Sebastian membuka lebar tangannya untuk memperlihatkan penampilan secara lebih jelas.
"Aku memang pekerja lepas. Tapi sekarang menjadi kantoran."
"Benarkah? Di mana kau bekerja?"
"RESETY. Lebih tepatnya, aku bekerja di cabang yang ada di sini."
Kedua mata Dayana terbelalak. "RESETY? Bukankah itu perusahaan yang cukup besar? Wow. Kau luar biasa bisa bekerja di sana."
"Benarkah?" Sebastian menatap ke depan dengan tatapan yang berbeda. "Aku merasa seperti bukan diriku."
Dayana mengamati sisi wajah Sebastian yang kini berubah menjadi sendu.
"Mau makan malam?" tanya Dayana yang membuat Sebastian menoleh dengan kerutan kecil di keningnya.
"Maksudku nanti. Ini masih pagi. Aku ingin mengajakmu makan malam. Ada restoran yang enak di sekitar sini," jelasnya.
Sebastian berpikir sejenak sampai lift terbuka di lantai basement. Mereka berdua masih berdiri di dalam lift, menunggu jawaban dari Sebastian.
"Baiklah."
"Okay?" Dayana coba memastikan dengan mata berbinar senang.
Sebastian mengangguk sambil melangkah beriringan keluar dari lift. Mereka berdua berbincang santai saat hendak menuju ke mobilnya masing-masing.
Hingga mata Dayana tak sengaja melihat sosok Arturo yang baru keluar dari mobil. Lelaki itu kembali lagi untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
"Aku akan menghubungimu nanti," kata Dayana saat hendak berpisah dengan Sebastian yang sudah membuka mobilnya.
"Sampai jumpa nanti, Miss Harvey," katanya tersenyum kecil.
Dayana mengangkat sebelah tangan. "Sampai jumpa."
Sebastian pun melesat pergi bersama mobilnya dari basement. Setelah lelaki itu tak terlihat, Dayana berjalan cepat menuju mobilnya untuk menghindari Arturo.
Ungkapan Arturo kemarin terus membayangi pikiran Dayana sampai dirinya tidur tak nyaman semalaman. Wajah Arturo yang serius mengatakan bahwa Dayana satu-satunya wanitanya sekarang, membuat dada Dayana berdebar kencang.
"Kau sedang berusaha mendekati lelaki tadi?" tanya Arturo ketika Dayana membuka pintu mobil.
"Bukan urusanmu," ketusnya saat menjawab.
"Kau pandai sekali menemukan lelaki seperti itu."
Dayana menghela nafas kasar. "Terimakasih atas sanjunganmu, Mr. Camucho. Tapi aku tidak tertarik sama sekali untuk mengobrol lama denganmu karena kekasihku William sudah menunggu."
__ADS_1
Arturo menunduk menatap jam tangannya lalu pergi tanpa berkomentar apapun lagi. Syukurlah jika lelaki itu mengalah duluan karena Dayana saat ini sedang buru-buru untuk pergi menemui William, sang kekasih yang tersisa.