
Rebecca kembali membubuhkan lipstiknya ke bibir di depan cermin rias. Tak lama dari itu, bel apartemennya berbunyi. Dengan penuh antusias, Rebecca berlari kecil membuka pintu yang kini memperlihatkan sosok Arturo.
"Welcome!" sambutnya lalu menarik Arturo masuk dengan tak sabar. Setelah pintu tertutup, Rebecca langsung memeluk tubuh Arturo untuk menyalurkan segala kerinduannya selama ini.
"Aku senang kau benar datang ke sini. Aku sangat merindukanmu, Art."
Arturo memegang kedua lengan Rebecca untuk mendorong pelukannya lepas. Kerutan di kening Rebecca pun tercipta apalagi saat melihat raut Arturo yang berbeda dari biasanya.
"Kau ingat saat aku bilang tak akan memaafkanmu jika menyakiti Dayana?" tutur Arturo dengan serius.
"Sekarang aku tahu semuanya. Aku bisa melihat sifatmu yang sebenarnya, Rebecca. Kukira kau memang egois karena ingin mempertahankan mimpimu, makannya aku melepaskanmu dengan lapang dada. Tapi ternyata, egoismu dalam segala hal. Kau bahkan melakukan hal kotor untuk menyakiti adikmu sendiri."
Rebecca sedikit mundur dengan ekspresi yang sudah menajam menahan emosi saat tahu Arturo datang ke tempatnya bukan untuk membalas pesan kerinduannya semalam.
"Aku melakukan ini untuk merebutmu kembali, Art. Kau milikku. Hanya milikku! Dayana hanyalah penggantiku saja sementara. Kau tidak seharusnya mencintai wanita murahan penggoda sepertinya. Kau hanya mencintaiku, Art!"
Arturo menghela nafas. "Hubungan kita sudah berakhir, Rebecca. Berakhir saat kau pergi di hari pernikahan itu. Terimalah semuanya dan biarkan aku dengan Dayana hidup dengan nyaman."
"Kau mengusirku? Dari kehidupanmu?" Rebecca tercengang mendengarnya. "Baiklah. Biar aku perlihatkan kesungguhanku padamu, Art. Sebesar apa aku mencintaimu, akan kuperlihatkan padamu."
Tanpa disangka, Rebecca menarik turun kedua tali dress yang bertahan di bahunya sehingga lolos jatuh teronggok di lantai sekitar kakinya. Arturo tak memberi komentar apapun, hanya melihat Rebecca yang kini mengenakan pakaian dalam saja. Kaki telanjangnya melewati dress di lantai untuk mengikis jarak dengan Arturo.
"Aku tidak peduli lagi dengan gelarku sebagai dewi perawan dan sebagainya. I don't care about that! Aku akan memberikan semuanya hanya untukmu, Art. Ambillah diriku dan buatlah aku menjadi milikmu sepenuhnya," ungkap Rebecca yang mulai melingkarkan kedua tangan di leher Arturo lalu berjinjit untuk menggapai bibir lelaki itu.
"Berikan dirimu pada lelaki lain, Rebecca," ucap Arturo yang membuat gerakan Rebecca terhenti.
"Aku bukan milikmu. Hanya Dayana yang saat ini memilikiku seutuhnya. Dia yang sekarang menjadi bagian dari hidupku dan kau seharusnya tidak menjadi murahan di depan lelaki yang sudah beristri."
Arturo melepaskan Rebecca agar menjauh darinya. Lelaki itu menatap Rebecca sejenak sebelum akhirnya pergi tanpa pamit.
Tubuh Rebecca hanya mematung di tempatnya berdiri, memandangi kepergian Arturo yang sudah menghilang dari balik pintu. Bersamaan dengan itu, kasih sayang dan kepedulian yang pernah Arturo berikan juga ikut menghilang. Kini berganti dendam.
"Kau hanya milikku, Art. Aku tidak akan membiarkan Dayana mengambil milikku lagi," monolognya mengepalkan kedua tangan erat.
Sementara itu...
"Oh, Day. Aku merasa sangat lelah. Aku ingin segera berakhir dalam keadaan menang."
Dayana terkekeh mendengar curahan hati Miley. "Kau harus bertahan, Mile. Kau pasti akan menang. Ini mimpimu, kan?"
"Aku ingin sekali berada di tempat Rebecca berdiri. Dia sangat anggun dan cantik ketika menjadi juri di sini. Kau tahu? Matanya sangat tajam dengan kesalahan kecil sekali pun."
Ah, Rebecca. Dayana sedikit malas mendengarnya, tapi ia berusaha menahan perasaan itu demi Miley.
"Do'akan aku, Day. Aku pasti akan memenangkan ini dan menjadi model yang mendunia. Kalau aku lanjut sampai babak final dan memenangkannya, aku akan mentraktirmu makan malam yang banyak. Aku tak sabar dengan keputusan akhirnya nanti."
"You promise?"
"I promise!"
__ADS_1
Pintu lift terbuka bersamaan dengan panggilan mereka berdua yang berakhir. Sosok Sebastian ikut bergabung seraya melempar senyum pada Dayana.
"Kau mau ke mana?" tanya Dayana setelah mengamati penampilan Sebastian yang kembali kasual hanya mengenakan kaos berjaket.
"Aku ingin membeli beberapa hiasan di dinding," sahutnya.
"Mau kutemani?" tawarnya hati-hati. "Maksudku... Aku waktu itu sudah berjanji menemanimu membeli hiasan untuk tempat tinggalmu."
Sebastian berpikir sejenak untuk menimbang, takut dirinya kembali ada dalam kesalahpahaman mengingat Dayana adalah wanita bersuami.
"Kau tidak keberatan?" tanya Sebastian memastikan.
Dayana mengangguk dengan senyuman tipisnya.
...----------------...
"Kau suka hiasan dinding seperti apa? Mural, stiker, lukisan, atau ukiran kayu?"
Langkah Sebastian terhenti ketika mereka sudah berada di depan toko hiasan. "Mmh, mungkin hiasan dinding lukisan. Bagaimana menurutmu?"
Dayana ikut berpikir seraya membayangkan setiap sudut rumah Sebastian yang diingatnya.
"Itu bagus. Apa kita mau membeli lukisannya di toko saja atau kau mungkin punya pelukis kesukaanmu?"
"Kita beli saja di toko," balasnya kembali berjalan ke dalam toko tersebut.
Namun mata Dayana tak sengaja menoleh melihat sosok William yang sedang berjalan merangkul seorang wanita.
Sebastian kembali keluar, melihat Dayana yang berjalan cepat menyebrangi jalanan menghampiri sepasang kekasih di sana.
"Dayana!" William melepas rangkulannya pada wanita itu dengan raut panik.
"Oh, come on, William. Jangan pura-pura kaget seperti itu. Aku tahu kau bersama wanita lain," kata Dayana santai. Ia merogoh sesuatu dari tasnya yang ternyata kunci mobil.
"Ini milikmu. Aku ingin mengembalikannya padamu." Ia memang sudah berniat ingin mengembalikannya hari ini.
William menerima kunci itu dari tangan Dayana dengan raut bingung. Bukannya dimarahi karena kepergok selingkuh, Dayana malah melempar senyum dan menepuk bahu wanita itu sebelum akhirnya pergi.
William memandangi kepergian Dayana yang menghampiri Sebastian lalu mereka menghilang memasuki toko.
"Kau bisa bertanya kalau penasaran," kata Dayana saat merasakan tatapan Sebastian yang penuh tanda tanya besar.
"Aku seharusnya tidak perlu tahu. Itu kehidupan pribadimu."
Dayana berjalan santai melihat-lihat beberapa dekorasi di sana. "Dia kekasihku sebelum aku menikah. Aku hanya mengembalikan mobil yang kau perbaiki itu."
"Ow." Sebastian mengerjap beberapa kali. "Jadi aku memperbaiki mobilnya?"
"Tidak apa-apa. Aku akan menggantinya untukmu." Dayana nyengir.
__ADS_1
Seharian itu, Dayana dan Sebastian jalan-jalan membeli berbagai hiasan. Setelah itu, mereka memutuskan untuk kembali pulang ke unitnya masing-masing.
Namun di saat itu pula, Dayana dan Sebastian bertemu dengan Arturo di basement. Lelaki itu baru pulang bekerja dengan kerah bajunya yang sudah terbuka dan jas dipegang di tangan begitu saja.
"Art," panggil Dayana menahan takut karena saat ini dirinya seakan sedang ketahuan selingkuh bersama lelaki lain.
Arturo hanya diam menatap Dayana dan Sebastian bergantian karena keduanya keluar dari mobil yang sama.
"Ke mana mobilmu?" tanya Arturo malah pergi ke topik lain.
"Aku tadi... mengembalikannya," sahut Dayana seraya menghampiri Arturo.
Sebastian merasa canggung di tengah situasi itu. Ia bahkan semakin canggung lagi melihat Arturo memberikan ciuman tiba-tiba pada Dayana lalu merangkul pinggangnya mesra.
"Aku pernah melihatmu, Sir." Arturo mengajak Sebastian bicara.
"Kita belum berkenalan dengan baik saat itu," sahut Sebastian seraya menjulurkan sebelah tangannya untuk mengajak berkenalan.
"Sebastian Reeves."
Arturo membalasnya. "Arturo Camucho."
"Alright, Sir. Aku hanya meminta Miss Harvey mencarikan beberapa hiasan yang bagus untuk tempat tinggalku."
"Sepertinya kalian belanja banyak," ucap Arturo mengamati banyaknya barang yang sedang Sebastian pegang. Bahkan beberapa masih ada di dalam mobil.
"Need a help?" tawarnya yang membuat Dayana menoleh karena merasa aneh.
"Sure. Terimakasih untuk bantuanmu, Sir."
Arturo dan Sebastian pun membawa semua barang belanjaan sampai ke unitnya yang ada di lantai 10. Sementara Dayana hanya mengikuti dengan raut aneh melihat Arturo yang begitu tenang, tak seperti saat pertama bertemu Sebastian.
"Terimakasih untuk bantuan kalian," ungkap Sebastian setelah barang belanjaan ada di tempatnya. "Mungkin kita bisa makan malam bersama. Aku tidak enak menerima bantuan kalian begitu saja."
Arturo mengangguk dengan mudah. "Okay."
"Okay?" gumam Dayana seakan tak percaya.
"Tapi malam ini aku dan istriku harus pergi menghadiri makan malam keluarga," lanjut Arturo.
"Oh, tidak apa-apa. Mungkin besok?"
Kepala Arturo lagi-lagi mengangguk. Mereka berdua pun pamit pergi setelah membantu Sebastian. Dayana masih terus mengamati Arturo sesampainya mereka di dalam lift.
"Kenapa kau membantunya membawakan barang begitu saja?" tanya Dayana penasaran. "Kau tidak... marah?"
Arturo tersenyum simpul. "Aku hanya ingin tahu di lantai mana dia tinggal."
Dayana menelan ludah. Ternyata bukan tanpa alasan Arturo rela membantu lelaki yang sudah ketahuan pergi berdua bersama istrinya.
__ADS_1
Arturo hanya ingin mengetahui tempat tinggal Sebastian agar dirinya bisa memastikan Dayana tak aakn ketahuan pergi ke sana.