MARRIED CAMUCHO

MARRIED CAMUCHO
25. Maaf


__ADS_3

Rebecca membuka pintu tak sabar. Tangannya langsung dengan berani melingkar di tubuh Arturo untuk memberikan pelukan tanpa menariknya lagi untuk masuk agar bisa dilihat orang.


Rebecca tak akan lagi menyembunyikan semuanya dari orang-orang maupun media. Saat ini yang diinginkannya adalah bersama Arturo.


"Aku senang kau kembali padaku, Art."


Arturo melepas pelukan itu lalu menarik masuk Rebecca hingga pintu tertutup.


"Kau lihat beritanya? Aku sudah memberitahu semua orang kalau aku akan menikah. Denganmu," kata Rebecca dengan mata antusias.


"Kau benar-benar gila, Rebecca." Ucapan itu keluar dari mulut seorang Arturo.


"Berhenti mengusik hidupku, hidup Dayana, dan kehidupan pernikahan kami. Jangan mempengaruhi Dayana untuk berpisah denganku karena aku tak akan mengindahkan hal itu!" tegas Arturo yang membuat Rebecca tertohok.


"Art, Dayana hanya menikah denganmu sampai ibumu tiada. Setelah itu, kau tidak akan membutuhkannya lagi, kan? Bukankah kita akan kembali bersama setelah semuanya selesai?"


"Kau pikir ibuku adalah pasir waktu? Rebecca, melihat hal ini aku semakin yakin untuk tidak kembali bersamamu."


"Art, kau lupa bagaimana cinta kita dulu? Aku mencintaimu, kau mencintaiku. Kau tidak akan berubah gara-gara wanita murahan itu, kan?"


"Berhenti bicara soal cinta karena aku hanya mencintai Dayana!" tegas Arturo sehingga suasana hening setelahnya.


"Aku tak punya lagi sedikit pun cinta untukmu, Rebecca. Seluruh hidupku hanya untuk Dayana, dan jika kau memisahkanku dengannya, kau akan menjadi salah satu hal yang kubenci di dunia ini."


Rebecca menggertakkan gigi menahan kekesalannya mendengar kesungguhan Arturo ketika bilang mencintai Dayana. Ia tak pernah melihat lelaki itu seserius ini dan mengantakan cinta padanya dengan lantang seperti sekarang.


"Jadi aku mohon dengan sangat padamu, Rebecca. Lepaskan aku dan Dayana. Biarkan kami menjalani kehidupan tanpa ada bayang-bayang darimu yang menekan perasaannya. Jangan menyakiti adikmu sendiri," pinta Arturo.


Rebecca tersenyum pahit mendengar permintaan itu. Dia melenggang mendekati sofa lalu duduk dengan angkuh di sana.


"Adik?" Tawa sinis terdengar dari mulutnya. "Kau tidak tahu, Art? Dayana hanya anak pungut yang ibuku bawa. Dia bukan adikku. Dia hanya anak yang tak diinginkan dan dibuang oleh orang tuanya sendiri. Tapi lihatlah. Kau menginginkan wanita itu? Seleramu menjadi rendahan."


Arturo tak tahu menahu tentang Dayana anak pungut atau bukan, dia tak terlalu peduli menanggapinya. Dia hanya marah ketika Rebecca terus merendahkan Dayana tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Kau yang merendahkan seleraku, Rebecca. Sudahlah. Aku telah memberikanmu peringatan untuk kesekian kalinya. Jika kau berulah lagi, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu."


Rebecca membiarkan Arturo pergi dari apartemennya. Tapi setelah cukup lama lelaki itu tak ada, Rebecca menghempas semua yang ada di atas meja sampai berserakan di lantai. Dia berteriak begitu keras mengutuk semua yang menjadi penghalangnya saat ini, termasuk Dayana.


Enggan mendapati Dayana menghilang atau pergi, Arturo terburu-buru melajukan mobilnya sampai di atas kecepatan rata-rata. Dia tak ingin Dayana benar-benar pergi darinya meski ia tinggal sebentar seperti saat ini.


Dibukanya pintu kamar agak keras. Manik mata Arturo langsung terarah pada tubuh Dayana yang terbaring lelap di bawah selimut.


Melihat istrinya masih ada di tempat membuat Arturo terduduk di sisi ranjang dengan rasa frustasi. Tadi dirinya sudah seperti orang gila karena takut kehilangan. Kini kedua kakinya merasa lemas dan hanya terduduk di sana sambil menenangkan perasaan.


"Kau dari mana saja?" tanya Dayana yang memeluk leher Arturo dari belakang. Lelaki itu tak sadar barusan ranjang bergerak di belakangnya karena Dayana.


"Aku sudah... menemui Rebecca. Aku menjelaskan semuanya agar dia tak menggangu kita lagi."


Dayana terduduk menyisi menghadap Arturo dari belakang. Ia menangkup sebelah wajahnya dengan tatapan lekat mengamati.


"Rebecca hanya ingin miliknya kembali," kata Dayana hingga Arturo menoleh.


"Aku bukan miliknya. Aku milikmu." Arturo mengambil tangan itu lalu mengecup telapaknya cukup lama.


Setidaknya hal ini yang bisa Dayana lakukan sebelum dirinya pergi dari lelaki itu.


...----------------...


"No. No. No," gumam Arturo seraya menyusuri semua ruangan apartemennya untuk mencari Dayana. "Dayana, di mana kau?"


Untuk kedua kalinya, Arturo dikejutkan dengan ketidakhadiran Dayana ketika kedua matanya terbuka. Ia langsung panik, bangun mencari dan menghubungi Dayana. Namun wanita itu telah pergi entah ke mana.


Saking cemasnya, Arturo sampai pergi mencari ke unit Sebastian. Dia menekan bel pintu dengan tergesa hingga Sebastian yang sudah siap dengan setelan kerja membukanya.


"Mr. Camucho?" Kedua alis Sebastian saling bertaut. "Ada apa?"


"Kau melihat istriku?" tanyanya dengan mata sedikit melirik ke belakang Sebastian untuk mencarinya.

__ADS_1


"Miss Harvey? No. Aku tidak melihatnya."


"Baiklah. Maaf mengganggu waktumu," kata Arturo yang melenggang pergi begitu saja. Sebastian memandangi kepergiannya dengan penuh dugaan.


Tanpa Arturo ketahui, Dayana kini tengah berada di rumah kedua orang tuanya. Ia duduk dengan canggung ketika Elise dan Benjamin hanya diam menunggu Dayana menjelaskan semuanya.


"Maafkan aku, Mom. Dad. Aku tak bermaksud menyembunyikan pernikahan dari kalian," kata Dayana yang tertunduk.


"Aku memang sudah menikah, tapi... Ini terpaksa. Rebecca saat itu menghubungiku untuk mengundangku ke pernikahannya yang rahasia. Tapi ternyata... Di sana sudah ada banyak wartawan yang mau meliputnya. Rebecca tak ingin pernikahan itu diketahui publik karena... Dia ingin mempertahankan gelar perawannya. Lalu Rebecca meminta bantuanku untuk menggantikannya menikah dengan Arturo. Dan sekarang, aku harus menjalani pernikahan ini dengannya," jelas Dayana.


Benjamin menggenggam sebelah tangan Elise yang terlihat mengikis kuku karena gelisah. Ia mengangguk kecil pada Elise, memberikan isyarat untuk istrinya itu agar tenang.


"Aku bersumpah, Mom. Dad. Aku tidak pernah berniat untuk merebut kekasih Rebecca. Aku pikir akan baik-baik saja, tapi setelah menjalaninya sampai sekarang... Perasaan kami berubah."


"Tidak ada salahnya seseorang jatuh cinta," imbuh Benjamin dengan tatapan lembutnya. "Aku tidak akan menyalahkanmu, Day. Kau sudah berniat baik membantu kakakmu, tapi mungkin kebaikanmu dibalas dengan kau mendapatkan cinta dari lelaki itu. Itulah yang membuat Rebecca marah."


"Aku adalah seorang ibu, tapi kalian berdua banyak menyembunyikan sesuatu dariku. Mulai menjauh dariku. Kami hanya ingin kalian berdua masih menggunakan kami sebagai orang tua kalian." Elise menunduk sedih mau menangis.


"No, Mom. Maafkan aku. Aku tak bermaksud menyembunyikan apapun. Aku hanya... merasa malu jika terus merepotkan kalian berdua, makannya aku pergi."


"Kau adalah anak kami, Dayana. Begitu pun Rebecca. Kami tidak akan pernah membedakan kalian berdua. Kami tidak pernah merasa direpotkan karena inilah tugas orang tua," imbuh Benjamin.


"Maafkan aku, Mom. Dad..." lirih Dayana seraya menghampiri kedua orang tuanya itu lalu memeluknya. Dia memejamkan mata menikmati pelukan kepada orang tuanya setelah sekian lama pergi dari mereka.


"Kami sangat merindukanmu, Dayana," ungkap Elise menangkup wajah Dayana sementara Benjamin mengelus kepalanya.


"Kau pasti sangat kesulitan karena kakakmu sekarang." Elise melemparkan tatapan sendu pada putrinya itu.


Dayana mengulas senyum lembut pada Elise maupun Benjamin, seakan-akan tengah memberitahu, "Aku baik-baik saja, Mom. Dad."


Setelah berhasil menjelaskan dan memperbaiki hubungan dengan keduanya, Dayana pun berniat untuk pergi meski Elise sudah beberapa kali menyuruhnya menginap.


Kini giliran Miley yang harus diberi penjelasan. Dia tak ingin sahabatnya menjauh hanya karena ada yang disembunyikan. Dayana pun pergi ke apartemen Miley untuk bertemu, tapi sahabatnya itu tidak ada di sana.

__ADS_1


Sudah banyak pesan dan panggilan yang diberikan, tapi Miley tak menjawabnya sedikit pun. Dayana kecewa dengan itu. Dia terduduk dramatis di depan pintu kamar apartemen Miley untuk menunggunya datang setelah diberi pesan panggilan agar mereka berdua bertemu.


Lama menunggu di sana, Dayana sampai tak sadar ketiduran dengan posisi duduk bersandar di pintu. Dia akan menunggu di sana sampai Miley datang lalu mereka berdua bisa bicara.


__ADS_2