
Cecilion dan Kees saling bertukar pandangan bingung kemudian.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?
Tetapi, kedua pemuda itu memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut kepada dua orang Jongos itu.
Mereka lebih memilih untuk cepat-cepat menemui Mawar sebelum Tuan dan Nyonya De Haas kembali ke rumah.
"Baiklah saya dan teman saya akan kembali sebelum satu jam," ucap Kees santun.
Kedua Jongos itu mengangguk, kemudian membuka pintu untuk Kees dan Cecilion agar bisa masuk ke dalam kediaman mewah milik keluarga De Haas.
"Kira-kira apa yang terjadi ya, Kees?" bisik Cecilion dalam bahasa Belanda sambil melangkah mengikuti langkah Kees masuk ke dalam rumah.
Seperti yang dikatakan oleh Kees, para Babu dan Jongos senior yang bekerja di rumah itu banyak yang sedang libur. Mereka yang masih bekerja hari ini adalah para Babu dan Jongos muda yang nampaknya masih belum terlalu lama bekerja di rumah megah itu.
"Aku juga tidak tahu, Lio. Sepertinya hal yang terjadi pada Mawar ini cukup serius," balas Kees dengan bahasa Belanda pula.
Tentunya, mereka tahu kalau Babu yang tengah datang menghampiri mereka itu sama sekali tidak mengerti bahasa Belanda.
"Tuan muda sekalian betul teman Nona Mawar?" tanya Babu itu lembut mendayu-dayu, sepertinya ia juga terpesona dengan ketampanan kedua pemuda itu.
"Ya. Bisakah Anda mengantar kami bertemu dengan Mawar?" pinta Kees.
"Astaga, Tuan sopan sekali walau hanya bicara dengan seorang Babu. Tentu, mari ikuti saya."
Kees sebetulnya sudah hapal betul semua ruangan yang ada di rumah ini mengingat ia sudah sering menghabiskan waktu di rumah ini sejak kecil bersama Mawar dan Greg.
Namun, ia tetap menghargai inisiatif Babu muda berkebaya putih itu untuk mengantarkan mereka ke kamar Mawar.
"Nona Mawar, Nona Mawar! Tolong buka pintu kamar Anda, ada teman Anda yang datang berkunjung," panggil Babu itu nyaring sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Mawar yang berwarna merah muda.
"Ya! Kamu lekas kembali saja, kami harus belajar bersama," sahut Mawar setengah berteriak dari dalam kamarnya.
"Baik, Nona. Akan saya siapkan camilan."
Sang Babu lantas melenggang pergi, meninggalkan Cecilion dan Kees yang masih berdiri di depan pintu kamar Mawar menunggu sang empunya keluar dari kamar. Suara derik yang tak begitu menganggu kemudian terdengar seiring dengan terbukanya pintu kamar Mawar perlahan-lahan.
__ADS_1
"Astaga, apa yang kalian lakukan di sini?!" tanya Mawar kaget melihat keberadaan Kees dan Cecilion di depan pintu kamarnya.
Walau sedang terkejut pun, Cecilion tetap dapat menangkap kecantikan milik Mawar De Haas yang begitu khas. Gadis berparas ayu itu kini tengah menggunakan gaun santai selutut berwarna merah jambu, membiarkan rambut pirangnya yang panjang tergerai bebas begitu saja.
"Kami khawatir karena hari ini kamu absen tanpa keterangan," balas Kees cepat, menyadarkan Cecilion yang sedang terpana dengan kecantikan Mawar.
"Ya. Apa yang terjadi?" tanya Cecilion.
"Kalau begitu mari bicara dengan cepat di ruang tengah," ajak Mawar sambil memimpin jalan, sorot kedua obsidian biru indahnya nampak begitu waspada takut-takut ada Jongos atau Babu yang ada di dekat mereka.
Kees dan Cecilion mengangguk patuh, mengikuti langkah sang Nona rumah menuju ruang tengah yang ia maksud. Rumah ini memang berukuran terlalu besar untuk ditinggali oleh sepasang suami istri dan seorang putri. Saking luasnya, beberapa Babu yang baru mulai bekerja di sini sampai sempat tersesat di dalam rumah.
Setibanya di ruang tengah, Mawar lantas menyuruh kedua sahabatnya itu untuk duduk. Gadis itu berpikir bahwa ia harus segera menjelaskan permasalahannya dengan cepat sebelum kedua orang tuanya pulang.
"Jadi, apa yang membuatmu sangat waspada seperti itu?" tanya Kees seraya memelankan suaranya.
"Aku dan Papa berbeda pendapat karena sesuatu sehingga Papa jadi marah dan tidak mengizinkan aku keluar dari rumah," jawab Mawar dengan wajah tertunduk.
"Apa ini ada sangkut pautnya dengan Papaku?"
Pertanyaan dari Cecilion membuat Kees dan Mawar kompak memandang ke arah pemuda tampan berambut hitam itu.
"Kenapa kau baru pulang, Cecilion van der Linen?" tanya Nyonya Van Der Linen setibanya putra semata wayangnya itu di ambang pintu utama rumah mereka.
"Ada tugas sekolah yang harus aku kerjakan dengan Kees," balas Cecilion cepat, tak mengindahkan tatapan penuh selidik dari sang Mama.
Entah bagaimana bisa kedua orang tuanya yang memiliki sifat sangat mirip itu bisa menikah, pikir Cecilion. Tak jarang, pemuda itu merasa sangat tertekan mempunyai Papa dan Mama yang sikapnya sangat kaku dan tegas itu.
Tidak terpikirkan sekali pun oleh Cecilion untuk menceritakan kesehariannya sejak dulu kepada kedua orang tuanya.
Cecilion melangkah cuek menuju kamarnya, enggan menanggapi pertanyaan lebih lanjut dari sang Mama. Ia dibuat pening, kenapa konflik sang Papa sejak masih muda dengan Tuan De Haas tak kunjung usai? Ini tentu saja akan sangat berbahaya bagi hubungannya dengan Mawar.
Setelah berganti pakaian, Cecilion kembali keluar dari kamarnya untuk ikut serta dalam acara makan malam keluarga mereka yang akan dimulai sebentar lagi. Para Babu nampak sedang sibuk menata makanan di atas meja makan yang terbuat dari batu giok putih itu.
"Letakkan dagingnya di tengah," perintah Nyonya Van Der Linen tegas, mengarahkan telunjuknya ke tengah meja makan memberikan arahan pada Babu yang sedang membawa piring besar berisi daging.
Merasa puas, Nyonya Van Der Linen lantas menyuruh Cecilion duduk untuk memulai acara makan malam mereka. Cecilion hanya menurut dalam diam, menunggu kedatangan sang Papa yang baru saja pulang dari kantornya.
__ADS_1
Kerja lembur tak jarang dilakukan oleh Tuan Van Der Linen semenjak ia menjabat sebagai gubernur Batavia, membuat Cecilion dan sang Mama tak lagi merasa heran karena kepala keluarga mereka kerap pulang terlambat.
"Mari mulai makan malamnya," titah Tuan Van Der Linen yang baru saja datang ke meja makan.
Cecilion mengangguk, meraih peralatan makannya dalam keheningan yang menyelimuti mereka malam itu. Hubungan rumah tangga antara Tuan dan Nyonya Van Der Linen kian memburuk, seiring dengan sikap mereka berdua yang makin terlihat begitu kaku dan dingin satu sama lain.
Tangan Cecilion dengan piawai memotong irisan daging di atas piringnya, menikmati makan malamnya itu dengan perasaan tak menentu di tengah keheningan tak wajar diantara kedua orang tuanya.
"Papa?" panggil Cecilion yang sudah gatal bibirnya ingin bertanya.
"Ada apa?"
"Sebenarnya apa yang terjadi diantara Papa dan Tuan De Haas?"
Pertanyaan dari Cecilion sontak membuat Tuan Van Der Linen menghentikan makannya.
Dia menaruh garpu dan pisau yang ia pegang di sisi kiri dan kanan piring dengan sorot mata yang begitu tajam memandang putranya.
"Hentikanlah sekarang juga jika kau berhubungan dengan keluarga hina itu, Cecilion van der Linen."
Perkataan Papanya memang terdengar seperti tidak menghantarkan emosi apa pun, namun Cecilion paham betul bahwa itu adalah sebuah peringatan tegas.
"Aku hanya ingin tahu karena aku merasa sebagai putramu, Papa. Aku malu karena orang-orang terus membandingkan sikapmu yang semena-mena terhadap rakyat kecil itu dengan sikap dermawan Tuan De Haas," sahut Cecilion sambil tersenyum getir.
Air muka Tuan Van Der Linen makin muram, membuat Cecilion segera meneguk air minumnya sebagai penutup makan malamnya kali ini.
"Aku harap Papa selalu bersikap hati-hati karena orang-orang bisa menjatuhkan Papa kapan saja. Tapi setelah dipikir-pikir sepertinya berhubungan dengan Keluarga De Haas akan lebih menguntungkan. Terlebih, Tuan De Haas sangat setia kepada istrinya meski wanita itu adalah seorang Inlander," tambah Cecilion.
"Apa kau menyukai putri keluarga De Haas?" tanya sang kepala keluarga.
Cecilion tersenyum penuh arti. "usiaku memang belum genap delapan belas tahun, Papa. tetapi aku tahu mana yang lebih menguntungkan ketimbang mementingkan perasaan kepada seorang pemain opera."
Sindiran keras.
Cecilion kerap kali mendengar para orang Belanda terlebih staff pemerintahan membicarakan tentang hubungan cinta terlarang antara Papanya dengan salah seorang pemain opera di beberapa kesempatan.
"Ya, baiklah, aku sudah selesai. Terima kasih Papa dan Mama atas makan malamnya yang lezat."
__ADS_1
Hubungan sang Papa dengan Tuan De Haas nampaknya jauh lebih rumit dari pada yang ia pikirkan membuat nafsu makan Cecilion seketika menghilang.