Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 26 : Langit Biru Batavia


__ADS_3

Anne tersenyum licik. "kalau begitu mari kita lihat sampai sejauh mana hubunganmu dan perempuan sampah itu dapat bertahan."


"Jangan mencoba untuk bermain-main denganku atau aku yang akan menghancurkan hidupmu sampai ke akar-akarnya," ancam Cecilion dengan mata berkilat, menyiratkan emosinya.


Namun, ucapan Cecilion tak lantas membuat membuat Anne merasa takut tetapi gadis itu justru merasa semakin tertantang.


Tanpa membalas ucapan Cecilion, Anne beringsut kembali ke bangkunya dengan seulas senyum mengejek.


"Sudahlah, Lio. Biarkan saja dia mengatakan apa yang dia mau tidak usah ditanggapi lagi," ucap Mawar dengan lembut, meraih punggung tangan Cecilion lalu menggenggam erat tangan kekasihnya.


Cecilion menghela napasnya dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya setelah mendengar ujaran lembut sang terkasih. Kees tersenyum lega, akhirnya ada seseorang yang mampu membantu Cecilion untuk mengendalikan emosinya.


Beberapa saat berselang, akhirnya Pak Vincent yang akan mengisi kelas hari ini datang dan menyapa para siswanya pertanda bahwa kelas hari ini akan segera dimulai.


"Apakah hari ini ada yang absen?" tanya Pak Vincent sambil menghitung jumlah muridnya dalam hati.


"Semuanya hadir, Pak Guru," jawab Kees dengan senyum sumringah khasnya.


"Bagus! Kalau begitu mari keluarkan buku matematika kalian kita akan mengerjakan dan membahas soal di halaman seratus tiga puluh lima bersama-sama," ucap Pak Vincent semangat, namun malah membuat para siswanya mendesah kecewa.


Ya, mereka semua menganggap matematika bukanlah pelajaran yang menyenangkan seperti apa yang dipikirkan oleh Pak Vincent sang guru matematika muda yang sangat brilian itu.


Kendati demikian, para siswa mau tak mau tetap membuka buku matematika mereka masing-masing dan memulai pelajaran hari ini.


...****************...


Sang mentari yang bersinar begitu terik di musim kemarau kali ini sukses membuat tubuh Cecilion berpeluh di tengah perjalanan kencan pertamanya dengan Mawar kali ini.

__ADS_1


Sepasang kekasih muda itu memutuskan untuk berkencan dadakan sepulang sekolah karena merasa bosan melakukan rutinitas yang sama saban hari meski sudah resmi menjadi sepasang kekasih.


"Ah, hari ini panas sekali. Apa kamu mau beli sesuatu yang segar?" tawar Cecilion kepada Mawar tatkala mereka melihat seorang tukang es cendol yang sedang menyandarkan dagangannya di bawah sebuah pohon besar.


Pedagang es cendol itu nampak sudah cukup sepuh, membuat Mawar teringat kepada Kakeknya yang tinggal di pulau seberang.


Lagi pula, Mawar juga sangat jarang bertemu dengan Nenek dan Kakeknya yang menetap di kota Palembang karena perjalanan ke sana memakan terlalu banyak waktu.


Jadi, jika mereka berniat mengunjungi orang tua dari sang Mama itu keluarga De Haas harus menyiapkan waktu senggang selama satu bulan yang tentunya akan sangat sulit mereka lakukan saat ini mengingat kesibukan pasangan De Haas yang semakin menjadi karena banyaknya urusan bisnis yang harus diurus.


Mawar mengangguk. "ide bagus. bagaimana kalau kita beli es cendol Paman itu?"


Cecilion tersenyum, setuju dengan ide dari Mawar. Keduanya lantas melanjutkan langkah berjalan menuju sang penjual es cendol dengan penuh semangat terlebih Cecilion sama sekali belum pernah minum es cendol.


"Paman, tolong buatkan es cendolnya dua ya," pinta Mawar sopan kepada sang penjual.


"Silakan menunggu sebentar, Nona," balas Paman itu kemudian.


Selagi menunggu, Cecilion duduk di bawah pohon beralaskan karpet alami berupa rumput yang masih nampak segar di tengah panasnya musim kemarau tahun ini.


Pandangan pemuda tampan itu nampak menelisik keadaan di sekitarnya, mencoba mengamati hasil kerja sang Papa selama menjabat sebagai gubernur di kota Batavia ini.


"Apa yang sedang kamu cari?" tanya Mawar yang kemudian ikut duduk, menjajari Cecilion yang masih sibuk mengamati lingkungan sekitarnya.


Cecilion menggeleng, mengalihkan atensinya kepada gadis bernetra biru nan cantik di hadapannya.


"Tidak ada. Hanya saja aku sedang mengamati hasil kerja Papa siapa tahu selama ini dia hanya mempersulit rakyat seperti kata para petinggi pemerintahan," balas Cecilion apa adanya dengan seulas senyum masam.

__ADS_1


Dia tahu betul bahwa selama Tuan Van Der Linen berkuasa sebagai gubernur, Batavia tak mengalami perkembangan yang berarti. Malahan, banyak dari petinggi pemerintahan Hindia-Belanda yang terang-terangan ingin melengserkan kekuasaan sang Papa karena banyak hal yang tak mereka sukai dari sang gubernur.


"Papa dan Mamaku juga mengeluhkan hal yang mirip, makanya mereka enggan untuk membuat pabrik gula di sekitar Batavia," ucap Mawar, mengingat kembali penyebab ia dan Papanya sempat beradu argumen beberapa waktu lalu.


"Benarkah? pantas saja perekonomian Batavia perkembangannya tidak begitu signifikan, beliau melewatkan begitu banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi ekonomi Batavia," Cecilion menggeleng tak habis pikir, bingung dengan jalan pikiran Papanya yang sama sekali tak dapat ia mengerti.


"Papaku bilang terlalu banyak admistrasi dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun unit usaha besar di Batavia sekarang," Mawar berujar sambil menerima es cendolnya yang sudah jadi dari Paman penjualnya.


"Sayang sekali jika langit Batavia yang sangat biru ini kalau sampai mengalami krisis karena perbuatan Papaku," timpal Cecilion merasa sedikit kecewa dengan hasil kinerja Papanya sendiri sebagai gubernur di kota pusat pemerintahan Hindia-Belanda itu.


"Tapi bagaimana pun keadaannya, bagiku langit Batavia akan selalu berwarna biru dan indah jika aku selalu bersamamu," Mawar berujar lembut setelah menyesap sedikit es cendolnya yang terasa amat manis ini.


Cecilion tertawa canggung, merasa malu mendapati bahwa Mawar dapat berkata lebih romantis ketimbang dirinya selalu pihak lelaki.


Pemuda rupawan itu merogoh saku celananya setelah ia teringat telah memasukkan sesuatu ke dalamnya.


"Aku juga berpikir begitu, namun cepat atau lambat aku yakin orang tua kita akan segera mengetahui tentang hubungan kita berdua," Cecilion berujar setelah menemukan apa yang ia cari dari sakunya.


"Sebelum memikirkan itu, duduklah di depanku aku akan mengikatkan rambutmu kamu pasti merasa kegerahan." titah Cecilion sambil memamerkan pita cantik berbahan sutra dengan warna biru langit kepada Mawar.


"Kami sungguh bisa mengikatkan rambutku yang panjang ini?" ejek Mawar namun tetap berpindah duduk membelakangi Cecilion.


"Tentu. Aku mempelajarinya saat Mama sedang mengikat rambutnya sendiri," jawab Cecilion dengan semangat, mulai meraih surai lembut nan indah milik Mawar.


Rambut pirang milik Mawar terasa begitu halus dan berkilauan, membuat Cecilion semakin jatuh cinta ke dalam pesona seorang Mawar De Haas.


"Jika sampai hubungan kita diketahui oleh Papaku dan kita dipaksa untuk berpisah, apa boleh aku mengajakmu kabur?" tanya Cecilion tiba-tiba setelah membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2