
Hari demi hari terus berganti hingga akhirnya tanpa terasa Cecilion dan Mawar telah menghabiskan waktu tiga tahun membina rumah tangga yang bahkan tanpa sepengetahuan kedua orang tua mereka masing-masing.
Tuan dan Nyonya De Haas sudah terlalu sibuk mengurus bisnis mereka yang semakin meroket hingga tak lagi sempat memikirkan keadaan anak mereka. Luar biasa, harta ternyata bisa membuat mereka melupakan sang buah hati.
Semua itu Mawar ketahui dari Kakek yang mendapatkan surat dari kedua orang tuanya beberapa jam yang lalu.
"Jadi bagaimana, Mawar? Apa Kakek katakan saja kalau kamu sudah hidup dengan bahagia di sini?" tanya Kakek yang nampak bimbang harus bagaimana membalas surat dari putri dan menantunya itu.
"Katakan saja kalau aku tinggal di rumah Kakek dan Nenek, jangan menyebut Cecilion. Aku tidak mau Papa terus dendam kepada Tuan Van der Linen. Aku yakin, Papa masih saja menyimpan dendam itu," balas Mawar seraya menaruh dua tangkai bunga sedap malam di dalam sebuah vas kaca berisi air dingin.
Mawar sangat suka bunga yang satu ini, jadi Cecilion hampir setiap hari membelikannya untuk sang istri sepulang bekerja.
Keadaan perusahaan juga kini semakin maju serta berkembang semenjak Cecilion memimpinnya dengan arif bijaksana.
Para pegawai merasa bahagia, pun selaras dengan hasil kerja mereka yang sangat memuaskan membuat perusahaan terus mengalami kenaikan keuntungan.
"Kamu yakin, Nak?" tanya sang Kakek ragu.
Mawar mengangguk dengan seulas senyum tipis.
"Iya, Kakek. Aku yakin dengan apa yang sudah aku katakan jadi Kakek tulis saja kalau aku bahagia bersama Nenek dan Kakek."
Perut Mawar kian hari semakin membuncit, pertanda bahwa ada satu kehidupan baru di dalam rahimnya setelah penantian cukup panjang yang ia dan Cecilion lalui.
Ini sudah minggu ke dua puluh sejak Mawar resmi dinyatakan hamil oleh dokter membuat sang wanita selalu melakukan segala aktivitasnya dengan hati-hati.
Tak jarang pula Kakek atau Nenek berkunjung ke rumahnya untuk sekedar menemani Mawar sekaligus memberikan sedikit bantuan walau di rumah itu sudah ada tiga orang Babu yang siap sedia melayani Mawar.
Meski sedang hamil besar, Mawar nampak tetap bersemangat mengajar, memberikan ilmu cuma-cuma kepada para anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi.
__ADS_1
Anak-anak yang diajarkan oleh Mawar pun merasa nyaman serta bahagia bisa mendapatkan ilmu dasar meski dengan cara yang berbeda.
Setelah Kakek rampung menulis surat untuk anak dan menantunya di Batavia, ia lalu menyuruh seorang Jongos untuk segera mengirimkannya melalui pos.
Pada zaman itu, proses kirim mengirim surat masih sangat rumit dan memakan waktu yang tidak sedikit belum lagi ongkos kirimnya yang cukup mahal.
"Kakek mau minum apa?" tanya Mawar setelah memanggil salah seorang Babu untuk menyiapkan minuman serta camilan untuk sang Kakek.
"Teh melati buatanmu masih ada? Kalau ada Kakek mau minum yang itu," balas Kakek dengan senyuman hangat khasnya.
Semua orang memang menyukai teh melati hasil racikan Mawar sebab rasanya yang begitu istimewa. Selain menyegarkan, teh melati racikan Mawar juga memberikan sensasi menenangkan membuat orang-orang yang pernah meminumnya akan langsung menyukainya.
"Aku masih punya banyak, Kakek. Tukiyem, tolong buatkan Kakekku teh melati dan bawakan juga semua camilan manis yang ada," ucap Mawar, memandang Kakek dan Tukiyem sang Babu bergantian.
"Baik, Nyonya. Akan segera saya buatkan," balas Tukiyem patuh.
Rumah yang Mawar dan Cecilion tempati kini sudah nampak jauh berbeda, dari yang dulunya hanya rumah yang memiliki perabotan sedikit kini telah berubah menjadi salah satu rumah paling mewah di kawasan itu.
"Bagaimana kabar Nenek?" tanya Mawar kembali mengalihkan atensi kepada sang Kakek.
"Nenekmu sedang sibuk berkebun di taman belakang rumah. Ia menanam banyak sekali bunga," beber Kakek dengan air muka sedikit masam, beliau memang agak kesal dengan hobi baru istrinya itu.
Mawar terkekeh geli, ya, ia tahu kalau Kakek kurang menyukai hobi baru Nenek.
"Kakek harus terus mendukungnya kalau begitu. Banyak melakukan gerakan ringan seperti berkebun di taman itu sangat bagus untuk kesehatan Nenek," kata Mawar setengah menggoda Kakeknya.
"Hah... Andai kamu tahu, Mawar! Nenekmu bahkan sampai menghabiskan ribuan gulden hanya untuk membeli bibit dan pupuk," gerutu Kakek yang semakin membuat Mawar tertawa.
Usai bercakap-cakap ringan, sepasang Kakek dan Cucu itu lantas beringsut menuju serambi rumah setelah mendengar suara kereta kuda yang datang mendekat.
__ADS_1
Itu pasti Cecilion yang sudah pulang dari kantornya diantar oleh Paman Muhsin.
"Selamat sore, Kakek," sapa Cecilion santun dengan seulas senyum lembut sambil turun dari kereta kudanya.
"Selamat sore. Lekaslah mandi lalu bergabung bersama kami untuk menikmati nikmatnya teh melati racikan Mawar," sahut Kakek.
"Apa kamu masih melakukan pekerjaan rumah? Bukankah aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu melakukannya?" tanya Cecilion cepat, membuat Mawar hanya bisa menghela.
Semenjak kehamilan Mawar, Cecilion menjadi sangat protektif terhadap istrinya bahkan mengenai hal-hal kecil sekali pun.
"Aku tidak membuatnya sendiri, suamiku. Tukiyem yang membantu aku membuat teh untuk Kakek," sahut sang hawa dengan tenang.
"Kalau begitu aku mandi dulu," pungkas Cecilion setelah merasa mendapat jawaban yang ia inginkan.
"Lelaki itu benar-benar menyebalkan," Mawar merutuk pelan setelah suaminya melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bukannya menyebalkan, cucuku sayang. Cecilion hanya mau anak yang kamu kandung ini tumbuh sehat tanpa satu kekurangan apa pun," balas sang Kakek berusaha menghibur cucu semata wayangnya itu, mengingat ia pun pernah berada di dalam posisi Cecilion.
"Kakek yakin Cecilion hanya ingin kamu dan bayimu selalu sehat dan aman, jadi tolong turuti saja apa yang ia katakan," bujuk Kakek sambil memetik sekuntum bunga mawar merah yang tumbuh subur di halaman rumah keluarga Van der Linen itu dengan tangan kosong.
Kuntum bunga itu bertingkat-tingkat begitu rapat sangat indah dipandang, mekar dengan sempurna lengkap dengan warna merah merona setara dengan kecantikan Mawar sang cucu.
"Kakek dan Nenek juga hanya selalu mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua," imbuh Kakek sambil menyelipkan bunga cantik itu di sela telinga Mawar, menambah kecantikan sang wanita muda.
"Namun sejujurnya ada sesuatu yang membuat aku merasa resah belakangan ini, Kakek," gumam Mawar, memandang sang Kakek lurus.
"Katakan apa yang membuatmu resah, Nak?"
"Soal kedatangan para penjajah baru. Aku sempat mendengar desas desusnya sejak beberapa hari yang lalu. Aku khawatir mereka akan datang, Kakek."
__ADS_1
Kakek lalu termenung, memikirkan kekhawatiran Mawar yang agaknya memang masuk akal mengingat ia juga sempat mendengar desas desus yang sama.