
Mawar bersenandung kecil dengan senyuman merekah sambil membasuh lembut tubuh mungil sang buah hati dengan air suam-suam kuku. Dengan begitu telaten, Mawar memandikan jagoan kecilnya yang sedang anteng seraya memainkan rambut pirang Mawar yang dibiarkan tergerai.
Lantunan lagu berbahasa Belanda yang dinyanyikan oleh Mawar membuat sang anak tersenyum dengan begitu lebar, seakan mengerti apa yang sedang dinyanyikan oleh sang Mama.
Seperti sang Papa, putra Van der Linen itu memiliki rambut sekelam sayap gagak yang sangat menawan. Hidungnya yang mancung diapit oleh kedua belah pipi yang amat menggemaskan, bibirnya merah merona bagaikan kulit apel segar di musim panas.
Sungguh, Oliver van der Linen terlahir dengan begitu sempurna. Agaknya, Tuhan sedang tersenyum saat sedang menciptakan Oliver.
"Oh, Oliverku sayang, kamu memang sungguh anak Mama yang sangat tampan seperti Papamu," gumam Mawar yang tengah mengeringkan tubuh Oliver van der Linen sang buah hati.
Oliver, nama yang memang sudah dipilihkan oleh Cecilion kala itu sebelum ajal menjemputnya jika anak mereka laki-laki.
Sementara jika anak mereka perempuan, mereka sepakat akan memberikan nama Olive, kedua nama yang sangat indah dan sarat akan makna baik.
Saat teringat kembali masa itu, Mawar sering kali tersenyum, setidaknya dia pernah merasa begitu bahagia dan dicintai oleh Cecilion sang belahan jiwa terkasih.
"Apakah anda sudah selesai memandikan Oliver, Nyonya?" tanya Saritem yang baru pulang dari pasar dengan tangan penuh dengan barang belanjaan.
"Sudah, Bu. Sekarang Ibu duduk saja sambil menjaga Oliver, biar saya saja yang memasak," tukas Mawar yang sudah sebal melihat Saritem yang sudah sibuk sekali sejak pagi buta.
"Tidak akan, Nyonya. Anda baru beberapa hari yang lalu melahirkan mana mungkin saya membiarkan anda memasak sambil berjongkok di depan tungku," protes Saritem tidak mau kalah.
Ya, Saritem memang sangat perhatian dan pengertian selayaknya seorang ibu membuat Mawar menyayangi wanita paruh baya itu dengan begitu tulus pun juga sebaliknya.
"Tapi, Ibu, jujur saja belakangan ini perasaan saya menjadi begitu gelisah," tutur Mawar lantas mengajak Saritem duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Apa yang agaknya mengganggu pikiran anda, Nyonya?" Saritem balas bertanya.
"Saya terpikirkan akan nasib Mama dan Papa saya di Batavia, Ibu. Selama bertahun-tahun saya dan suami tidak pernah sekali pun pergi ke Batavia lagi meski kami sama-sama merindukan orang tua kami," papar Mawar apa adanya, mengingat ia dan Cecilion memang tak pernah lagi menginjakkan kaki mereka di Batavia semenjak memutuskan untuk pergi dari sana demi bisa bersama.
"Apakah saya perlu pergi ke sana, Ibu?" kali ini Mawar juga meminta saran, membuat Saritem menghela khawatir.
"Saya rasa tindakan itu terlalu berisiko, Nyonya. Anda bisa saja mati ditembak oleh tentara Jepang jika nekat pergi ke Batavia," jawab Saritem mencoba menjelaskan rasa khawatirnya.
"Tetapi, saya rasa akan lebih aman jika Nyonya pergi menemui Tuan Goenawan sebab jaraknya juga tidak begitu jauh. Saya akan minta seseorang untuk menemani perjalanan Nyonya ke sana," imbuh Saritem.
Kakek! Benar, saat itu Mawar dan Cecilion yang kalut malah pergi jauh alih-alih berlindung di rumah Kakek yang seharusnya lebih aman.
"Ibu benar. Setidaknya jika Kakek dan Nenek telah tiada pun aku akan tetap lebih aman ketimbang pergi ke Batavia," sahut Mawar merasa setuju.
"Iya, saya rasa Ibu benar. Saya harus memperhatikan kenyamanan Oliver juga selama perjalanan nantinya."
...*****...
Hujan deras tiba-tiba mengguyur desa malam ini, membuat Mawar terjaga dari tidurnya.
Mawar diam, memperhatikan wajah apas Oliver yang sedang tertidur pulas dalam balutan selimut biru hasil rajutannya.
Helai rambut lebat Oliver yang masih begitu lembut sesekali nampak tersibak, tertiup oleh hembusan angin dari luar.
Sekarang sudah dini hari, namun mata Mawar yang sudah terlanjur terbuka itu rasanya begitu sukar untuk kembali terpejam.
__ADS_1
Dalam diamnya, Mawar kembali memikirkan semua hal yang terjadi kepada dirinya mulai dari yang membahagiakan hingga yang paling menyakitkan semuanya kembali terulang dalam memori Mawar malam itu.
Pertemuan pertamanya dengan Cecilion saat masih di sekolah yang begitu membuat Mawar berdebar, momen pernikahan mereka yang amat membahagiakan meski harus menikah tanpa restu dari orangtua mereka masing-masing sampai saat-saat terakhirnya bersama dengan Cecilion semuanya terekam jelas dalam memori Mawar hingga membuat wanita itu tanpa sadar menitikkan air matanya.
Sayang sekali, kebahagiaan rumah tangga keluarga kecil Van der Linen tidak bisa bertahan lebih lama.
Rasa sakit sekaligus sedih kembali memenuhi relung hati sampai menyesakkan dada Mawar, membuat tangisnya kian menjadi tak dapat terbendung.
Mawar merasa begitu terluka untuk menerima kenyataan bahwa rumah tangga yang ia bangun dengan begitu banyak cinta bersama Cecilion harus berakhir menjadi kisah yang terlalu memilukan bahkan sebelum Oliver terlahir ke dunia ini untuk merasakan pelukan hangat Papanya.
Hujan yang seharusnya membawa ketenangan itu justru malah datang dengan mambawa kembali luka yang selama ini Mawar berusaha sembuhkan dengan susah payah. Trauma menyakitkan itu masih tetap menghantui Mawar dikala dinginnya malam kembali mendekapnya seperti saat ini.
Penuh kelembutan, Mawar meraih tangan kecil milik Oliver yang masih tertidur pulas.
Oliver van der Linen, anak itu adalah satu-satunya tujuan Mawar agar tetap hidup lebih lama lagi demi tetap selalu menjaga buah cintanya dengan Cecilion van der Linen tersebut.
"Oliver, Mama rela melakukan apa saja asalkan kita bisa terus bersama-sama. Jangan sampai kamu meninggalkan Mama seperti dulu Papamu meninggalkan Mama ya, sayang. Mama tidak tahu bagaimana jadinya kalau hal mengerikan itu kembali terjadi," Mawar kembali bermonolog, memandang lekat kepada sang buah hati.
Halusnya kulit Oliver yang seputih susu itu membuat Mawar merasakan kehadiran Cecilion di dalam kamar ini, seolah-olah suaminya itu tengah ada bersama mereka saat ini. Bulu roma disekujur tubuh Mawar meremang samar ditengah tangisnya, membuat Mawar buru-buru menyeka air matanya menggunakan punggung tangan.
Mawar lalu kembali memasukkan tangan Oliver ke dalam selimutnya, menjaga agar anaknya itu agar tetap hangat dan tidurnya tidak terganggu.
"Cecilion, aku sudah berhasil bertahan hidup sampai hari ini dan melahirkan anak kita dengan selamat. Sekarang apakah aku boleh memenuhi janjiku kepadamu tempo hari?" gumam Mawar dengan pandangan terpusat pada cincin kawin milik Cecilion dalam genggamannya.
Deru suara hujan dan kelamnya langit malam kala itu menjadi saksi, bahwa besarnya cinta Cecilion van der Linen dan istrinya Mawar van der Linen tak akan luntur walau maut sudah memisahkan mereka dengan begitu kejam.
__ADS_1