Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 37 : Percikan Api Dua Kubu


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti, namun keadaan Tuan dan Nyonya De Haas tetap tidak membaik.


Amarah, kesedihan serta kekecewaan terus menyelimuti hati pasangan paruh baya itu tak peduli sudah berapa banyak hari berlalu.


"Apa masih belum ada kabar dari orang-orang kita?" tanya Nyonya De Haas seraya menaruh kopi hangat buatannya di atas meja serambi rumah mereka pagi itu.


Tuan De Haas berdeham, membetulkan kancing paling atas baju mahalnya dengan perlahan.


"Belum ada, entah apa yang sedang mereka kerjakan hingga tidak melaporkan apa pun selama berhari-hari."


Nyonya De Haas menghela napasnya panjang, kian khawatir dengan putri semata wayangnya yang tak kunjung pulang itu.


Pikiran sang Nyonya sama sekali tidak bisa tenang, biar bagaimana pun juga anak itu melarikan diri bersama kekasihnya yang semakin membuat Nyonya De Haas risau.


"Apa kamu tidak terpikir untuk bekerja sama dengan keluarga Van Der Linen, suamiku? Siapa tahu mereka mengerahkan lebih banyak orang untuk menemukan putra mereka," ucap Nyonya De Haas setelah meneguk sedikit teh manis hangat miliknya.


"Mana mungkin orang sakit jiwa itu mencari putranya setelah dia lebih memilih untuk tinggal bersama seorang wanita sundal di rumahnya ketimbang dengan anak istrinya. Orang itu tidak mungkin mengkhawatirkan putranya walau anak itu mati," cerca Tuan De Haas mengingat fakta menyayat hati yang memang benar dilakukan oleh Tuan Van Der Linen.


Citra Tuan Van Der Linen sebagai gubernur Batavia memang sudah hancur setelah skandalnya yang suka main perempuan itu terbongkar belum lagi persoalan rumah tangganya yang penuh dengan intrik itu.


Ya, tak semua wanita sanggup berada di posisi Nyonya Van Der Linen, memiliki suami dengan tempramen buruk seperti Tuan Van Der Linen tentu saja bukanlah hal yang mudah.


Perkataan Tuan De Haas barusan memang terdengar kejam, namun Nyonya De Haas setuju sebab memang seperti itulah fakta yang ada.


Dari kabar yang Nyonya De Haas dengar, hanya Nyonya Van Der Linen yang sibuk mencari keberadaan putranya dengan bantuan beberapa koleganya.


"Laki-laki itu sungguh tidak punya hati," cibir Nyonya De Haas pelan sambil memotong kudapan manis di hadapannya untuk sang suami.


"Mereka menikah karena cinta satu malam saat masih tinggal di Netherland yang membuat wanita malang itu jadi hamil dan ya, mau tak mau dia harus menerima kenyataan bahwa ia mendapatkan suami yang seperti itu," imbuh Tuan De Haas saat teringat kembali fakta itu dari sumber terpercaya.

__ADS_1


Sejujurnya, Tuan De Haas sama sekali tidak membenci Nyonya Van Der Linen namun dendamnya terhadap Tuan Van Der Linen lah yang membuatnya bahkan tak mampu untuk sekedar bertatap muka dengan wanita itu.


"Kalau begitu aku akan mencoba bertemu dengan Nyonya Van Der Linen lain kali, siapa tahu dengan begitu kita bisa segera menemukan keberadaan Mawar," ucap Nyonya De Haas penuh harap.


"Itu bukan ide yang bagus, istriku," Tuan De Haas menyahut, memandang wajah cantik istrinya lurus.


Nyonya De Haas tersenyum lembut.


"Tidak perlu khawatir, suamiku. Aku akan bicara padanya sebagai sesama wanita kurasa dengan begitu kita bisa menemukan jalan terbaik untuk putranya dan juga putri kita."


...****************...


"Kau sama sekali tidak peduli sekali pun anakmu mati, hah?! Christopher, kau sungguh tidak punya hati!" cerca Nyonya Van Der Linen kepada lelaki yang kini masih berstatus sebagai suaminya itu.


Di depan serambi kediaman utama Tuan Van Der Linen, di hadapan banyak orang Nyonya Van Der Linen berteriak lantang tak peduli lagi dengan citra yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan susah payah tersebut.


Ketimbang mengkhawatirkan nasib putranya yang sudah pergi menghilang entah kemana, pria itu justru semakin sibuk memanjakan wanita sundalnya itu dengan berbagai harta benda dan kemewahan disaat sang Nyonya rasanya hampir gila karena merisaukan putra mereka.


"Untuk apa aku peduli dengan anak sial itu? Dia bahkan berani membusungkan dadanya di hadapanku!" teriak Tuan Van Der Linen tidak kalah tinggi dari suara istrinya.


"Semua orang juga tahu kalau Cecilion putraku adalah anak yang baik! Sikapmu lah yang membuat anak malang itu menjadi seperti ini!"


Semua orang yang mendengar ucapan Nyonya Van Der Linen dalam hati membenarkan perkataan sang Nyonya.


Cecilion van der Linen memang anak yang baik dan cerdas meski sikapnya terkesan agak kaku namun ia tak pernah memperlakukan orang lain dengan buruk berbanding terbalik dengan sikap sang Papa yang selalu semena-mena terhadap orang lain.


"Aku yang mendidik anak itu seorang diri para Babu dan Jongos tahu betul soal itu, tak peduli apa kata orang lain tentang dirimu selama ini aku tetap menutup telinga dan selalu berusaha memberikan segalanya yang terbaik untuk Cecilion! Tapi lihat, kau menghancurkan semuanya!" ungkap Nyonya Van Der Linen dengan berderai air mata membuat para petinggi pemerintahan dan beberapa pegawai negeri yang berada di sana merasa iba.


Jika bukan karena jabatannya, orang-orang mana mau berada di sisi Tuan Van Der Linen yang egois dan kasar itu.

__ADS_1


Selama ini, mereka yang bekerja dengan Tuan Van Der Linen hanya menahan diri demi kelangsungan hidup mereka yang mencari nafkah dengan jalan bekerja dengan sang Tuan.


"Baiklah, tidak masalah jika kau tetap tidak mau peduli dengan Cecilion. Tapi, dengan ini aku bersumpah bahwa kau Christopher van der Linen tidak akan bisa punya anak lagi selain Cecilion van der Linen yang lahir dari rahimku!"


Semua orang yang mendengar perkataan Nyonya Van Der Linen yang penuh akan rasa sakit itu kontan tertegun. Itu sumpah yang benar-benar menggambarkan betapa banyak rasa sakit yang selama ini ditahan dalam hati oleh sang Nyonya.


"Kau boleh menikahi atau tidur dengan wanita lain sebanyak apa pun namun aku pastikan kau tidak akan pernah memiliki keturunan selain Cecilion putraku!" tambah Nyonya Van Der Linen sebelum akhirnya ia berbalik pergi.


Tuan Van Der Linen hanya tertawa menanggapi perkataan istrinya membuat orang-orang yang berada di sana hanya bisa menatap pria itu dengan tatapan tak percaya.


Bagaimana bisa Tuhan menciptakan manusia dengan hati yang sangat dingin seperti Tuan Van Der Linen ini? Dia bahkan tidak peduli meski istrinya sendiri menyumpahi dirinya seperti itu.


"Untuk kalian yang masih punya pekerjaan di sini lanjutkan saja, bagi yang sudah selesai kalian boleh pulang. Jangan ganggu aku karena aku harus bersenang-senang sekarang," kata Tuan Van Der Linen santai setelah mendengar sendiri sumpah yang dilontarkan oleh istrinya seraya melenggang masuk ke dalam rumahnya seolah tak terjadi apa-apa.


"Apa dia sudah gila?"


"Kurasa begitu, dia bahkan hanya tertawa setelah disumpahi oleh istrinya sungguh tidak waras."


"Kurasa aku akan pergi menemui Tuan lain untuk mencari pekerjaan baru, aku sungguh tidak mau ketularan sial."


"Kau betul, aku sangat mengerti bagaimana sakitnya hati Nyonya selama ini jadi kurasa aku akan berhenti bekerja di sini dalam waktu dekat."


Bisik-bisik para Jongos sore itu, tak mempedulikan para Tuan Belanda lain yang juga sedang tidak habis pikir dengan sikap Tuan Van Der Linen.


"Apa kita harus segera menghubungi pihak kerajaan di Netherland?" tanya Tuan Van Wijck seraya membetulkan letak kacamatanya kepada Tuan Van Mottman.


Tuan Van Mottman mengangguk setuju.


"Ya. Aku akan segera menghubungi perdana menteri untuk mengajukan proposal pergantian gubernur Batavia."

__ADS_1


__ADS_2