
Alunan lembut musik dansa yang dimainkan oleh seorang pianis di tengah ruangan dansa itu membuat para tamu yang hadir dalam pesta kian menikmati setiap gerakan dansa yang mereka lakoni dengan pasangan masing-masing.
Ada pun mereka yang belum mempunyai pasangan sibuk menghibur diri masing-masing dengan cara meminum anggur seraya menonton para pasangan yang sedang berdansa mengikuti alunan irama.
Di sudut aula megah itu, nampak seorang pemuda tampan dengan segelas anggur merah ditangannya, menikmati dengan setengah hati pemandangan yang ada di hadapannya.
Pemuda itu nampak sangat mencolok dengan pakaian formal berwarna serba hitam yang ia kenakan, begitu kontras dengan warna kulitnya yang nyaris seputih kapas.
"Sayang sekali aku belum juga bisa mendapatkan pasangan seperti mereka," keluh William van de Beek, seorang pengusaha muda yang menjadi tuan rumah dalam pesta megah malam ini.
Wajah tampan dan ekonominya yang sudah mapan diusia muda tak menjamin William, atau yang akrab disapa Wim itu mudah mendapatkan pasangan.
Bahkan sampai saat ini pun Wim belum pernah sekali pun berkencan dengan seorang gadis.
Adonis Verhoeven, sahabat sekaligus asisten pribadi Wim tergelak geli mendengar ucapan Wim yang penuh dengan keputusasaan itu.
Lelaki berambut pirang nan bergelombang itu tersenyum meledek kepada Wim kemudian berujar.
"Kau memang sangat payah dalam urusan percintaan," ejek Adonis sambil tertawa.
Wim tersenyum masam, meneguk gelas berisi anggur miliknya hingga ia teringat akan sesuatu.
"Ah, apa kau ingat pada Nyonya De Haas?" tanya Wim kepada Adonis berusaha mengganti topik pembicaraan yang menjengkelkan itu.
"Nyonya pribumi yang cantik itu? Memangnya kenapa?" kini Adonis jadi penasaran kenapa Wim malah menanyakan wanita yang jelas-jelas sudah bersuami itu.
"Iya, Nyonya De Haas yang itu. Beliau pernah berkata ingin memperkenalkan anaknya kepadaku aku jadi penasaran seperti apa rupa anaknya itu," ucap Wim seraya mendudukkan dirinya, tetap menonton para pasangan yang sedang asyik berdansa.
Adonis mengangguk paham, ia pun teringat tentang pembicaraan yang pernah terjadi tempo hari itu. Secara pribadi pun ia mengagumi kecantikan milik Nyonya De Haas meski ia adalah seorang pribumi, ditambah lagi kemampuan berbisnis sang Nyonya yang tidak main-main membuat Adonis berdecak kagum dalam hati.
"Kudengar anaknya masih bersekolah, namun memiliki bakat yang luar biasa dalam bidang desain arsitektur. Bahkan rancangan desain dari pabrik gula milik keluarga De Haas dirancang sendiri oleh putri mereka itu," tutur Adonis, mengingat semua informasi yang ia dapatkan mengenai putri keluarga De Haas.
__ADS_1
Wim menyugar rambut cokelat gelap miliknya dengan jemari, membiarkan beberapa helaiannya terjatuh di atas kening mulusnya hingga ketampanan miliknya semakin terlihat jelas.
Sepasang manik kelabu bersorot tajam miliknya memandang ke segala penjuru aula pesta, mengamati semua tamunya dengan harapan ia dapat menemukan pasangan De Haas namun nihil.
Pasangan De Haas tidak datang ke pesta itu rupanya, membuat Wim menghela napasnya sedikit merasa kecewa.
Padahal sekarang ia sudah sangat penasaran dengan putri dari keluarga De Haas itu, yang pasti gadis itu bisa saja berkali lipat lebih cantik dari pada ibunya.
Wim mengusap dagu runcingnya menggunakan jari telunjuk, semakin merasa penasaran.
"Pandai menggambar ya? hmm, sangat menarik. kalau begitu kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang gadis itu."
"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Adonis bingung.
"Karena kau adalah ajudan sekaligus sahabatku, bukan? Lakukan saja perintahku, aku harus mendapatkan banyak informasi seputar gadis itu baru bisa menemuinya secara langsung," pungkas Wim tegas dengan tatapan tajam, membuat Adonis hanya bisa mengangguk menyetujui.
...****************...
"Mawar?" panggil Tuan De Haas pagi itu saat anak gadisnya tersebut sedang sibuk membantu Bibi Inem menata meja makan untuk sarapan.
"Kemari, duduk dekat Papa. Ada hal yang harus kita bicarakan," titah sang Papa membuat Mawar bertanya-tanya namun ia tetap patuh.
"Perihal apa itu, Papa?"
"Kamu 'kan sebentar lagi akan lulus sekolah, jadi Mama dan Papa sudah mempersiapkan hal untuk menjamin masa depanmu," ucap Tuan De Haas dengan air muka serius khasnya, membuat Mawar mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.
"Berhubung kamu belum bisa kembali ke Netherland untuk melanjutkan pendidikan setelah sekolahmu selesai, jadi Papa memutuskan untuk memilihkan jalan yang lain untuk kamu," tambahnya mencoba menarik inti pembicaraan dengan sebaik mungkin.
Mawar mengerlingkan bola matanya dengan malas, kemudian menghela napas panjang.
"Jadi intinya Papa mau menjodohkan aku dengan laki-laki yang sudah Papa pilih? Kenapa tidak langsung bilang saja?" Mawar bertanya dengan senyuman masam, sudah tak bersemangat mendengar perkataan Papanya yang terkesan bertele-tele itu.
__ADS_1
Pernikahan karena perjodohan diantara keluarga Belanda satu dengan keluarga Belanda lainnya memang sudah merupakan hal yang sangat lumrah terjadi, Mawar sendiri sudah tidak terkejut mendengar hal ini dari Papanya sendiri.
Mawar sudah menduga cepat atau lambat hal ini akan terjadi, terlebih keluarga De Haas memang memiliki bisnis yang sangat sukses dan tentunya membutuhkan rekan yang sepadan dengan jalan perjodohan seperti ini.
Tuan De Haas hanya bisa menghela, ia tahu akan sulit membicarakan hal ini dengan Mawar.
Bahkan, Nyonya De Haas saja belum apa-apa sudah menyerahkan saat diminta untuk membicarakan hal ini dengan Mawar secara langsung sehingga mau tak mau Tuan De Haas lah yang harus mengatakannya.
"Papa dan Mama hanya ingin kamu bahagia di masa depan, nak," balas Tuan De Haas membuat Mawar tertawa sarkas.
"Kenapa aku tidak boleh menikah dengan orang yang aku cintai seperti yang Papa dan Mama lakukan dulu?" dengan berani Mawar menanyakan hal itu, ia tahu kedua orang tuanya itu memang sama-sama saling mencintai.
"Aku akan menjadi sangat tidak bahagia jika harus menghabiskan sisa umurku bersama laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai, Papa. Aku mohon jangan egois seperti itu," tegas Mawar dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Meski Mawar yakin hubungannya dan Cecilion tak akan direstui oleh Papanya, apa mau dikata? Mawar sudah terlanjur sangat mencintai Cecilion begitu juga sebaliknya.
Akan sangat sulit bagi mereka untuk melupakan satu sama lain jika perasaan yang sudah terlanjur kuat itu dipisahkan secara paksa.
Melepaskan Cecilion yang sangat ia cintai kemudian menikah dengan laki-laki asing tentu saja akan sangat menyakitkan, membayangkannya saja Mawar tidak sanggup apalagi harus sampai menjalaninya.
"Tapi Papa punya alasan yang kuat, Mawar. Tolong dengarkan Papa dulu," Tuan De Haas berusaha kembali membujuk Mawar agar dapat melanjutkan pembicaraan mereka dengan tenang.
Mawar menggeleng kuat. "tidak bisa, Papa. aku tidak akan mau menikah dengan laki-laki pilihan dari Papa apa pun alasannya."
Tanpa menunggu jawaban dari Tuan De Haas, Mawar lantas bangkit dari duduknya kemudian beringsut pergi menuju kamarnya.
Tuan De Haas menghela panjang, ia sudah menduga Mawar akan merespon seperti itu.
Tapi apa boleh buat, ia tak memiliki banyak pilihan lain selain tetap menjalankan rencananya yaitu menikahkan Mawar dengan laki-laki yang sudah ia pilihkan setelah Mawar lulus dari sekolah.
Biar bagaimana pun juga, perusahaan gula milik keluarga De Haas yang sudah terlanjur tumbuh besar itu membutuhkan pewaris yang kompeten agar bisa terus beroperasi kedepannya.
__ADS_1
Tuan De Haas memandang sendu ke arah pintu kamar Mawar tatkala gadis itu membanting kuat pintu kamarnya.
"Seharusnya kamu mendengarkan dulu alasan Papa, Mawarku sayang...."