Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 43 : Een wijze Leider


__ADS_3

Seperti senin pagi biasanya, Cecilion van der Linen sudah duduk manis di meja kerjanya dengan tumpukan dokumen dengan beragam isi di hadapannya, seolah menunggu giliran untuk ditinjau oleh sang Tuan.


"Bagaimana dengan perjanjian bisnis bersama perusahaan baru ini, Tuan? Apa Anda menyetujuinya?" Sao Qian bertanya pagi itu, sesaat setelah Cecilion menaruh dokumen yang tadi ia pegang ke atas meja.


Pandangan Cecilion kini menajam bak dua bilah pedang yang baru saja diasah, memandang ke arah Sao Qian. Tatapan itu nampak menghantarkan kemarahan yang amat kentara membuat lelaki yang lebih tua itu seketika ciut nyalinya hilang entah kemana.


"Perusahaan baru? Bukankah semua perusahaan yang ada di dalam dokumen ini adalah perusahaan fiktif yang kau buat untuk melakukan korupsi?" dingin Cecilion dengan pandangan yang semakin tajam kepada Sao Qian.


Selama dua pekan, Cecilion dibantu oleh Mawar melakukan penyelidikan terkait aliran dana tidak wajar yang keluar masuk dari kas kantornya.


Dan, diluar dugaan, Sao Qian yang selama ini dianggap loyal ternyata adalah otak dari semua tindak korupsi yang ada di perusahaan mereka.


"Perusahaan fiktif?" tanya Sao Qian pura-pura terkejut membuat Cecilion makin geram.


"Lalu, bagaimana kau bisa menjelaskan selisih keuntungan yang aku dan istriku temukan ini?" tantang Cecilion sambil membuka sebuah map yang berisi salinan laporan keuntungan perusahaan di hadapan Sao Qian.


"Dan juga bukti-bukti lain juga mengatakan bahwa kau menjual seperempat dari hasil perkebunan tanpa sepengetahuanku kepada perusahaan lain dengan harga yang tinggi," tekan Cecilion seraya membuka dokumen hasil serah terima yang lain, menunjukkannya kepada Sao Qian.


Sorot mata Cecilion terlihat berapi-api, berbeda dengan Sao Qian yang hanya bisa tertunduk tak dapat berkutik lagi usai melihat semua bukti-bukti dari kejahatannya.


"Permainanmu cukup sampai di sini, Sao Qian.


Aku tidak akan membiarkan kau melakukan yang lebih dari ini, aku juga sudah melayangkan gugatan terhadapmu jadi diamlah dan ikuti saja prosesnya," desis Cecilion berusaha mengendalikan emosinya.


Akhirnya, dengan langkah lunglai Sao Qian pergi meninggalkan ruang kerja Cecilion.


Kalau sudah begitu, hukuman yang akan diterima oleh Sao Qian tidaklah ringan bahkan bisa saja ia harus menebus kesalahannya dengan nyawa.

__ADS_1


Tindak korupsi yang dilakukan oleh Sao Qian memang sangat teliti dan cerdas, dia bahkan sampai menggunakan perusahaan fiktif, mengurangi gaji karyawan sampai menjual barang dari perusahaan tanpa sepengetahuan petinggi perusahaan lainnya.


Tentu saja, kerugian yang harus ditanggung perusahaan tidaklah sedikit bahkan sampai menyentuh angka puluhan juta gulden membuat Cecilion merasa pening.


Bagaimana caranya menutupi semua kerugian ini?


Ia dan Mawar memang sudah berhasil menyingkirkan Sao Qian dan para tangan kakinya, tetapi masih banyak hal yang harus Cecilion urus agar perusahaan mereka tidak semakin merugi.


"Sekarang aku hanya bisa meningkatkan kualitas dari karet hasil perkebunan demi menyelamatkan perusahaan dan kelangsungan hidup para pegawaiku," gumam Cecilion seraya memijat kedua pelipisnya.


Semua persoalan bisnis ini memang rumit bagi Cecilion, namun demi terus menjamin kehidupan Mawar sang istri tercinta ia rela bekerja keras bahkan sampai membawa sisa pekerjaannya ke rumah beberapa kali agar lebih cepat selesai.


Yang kini ada di pikiran Cecilion saat ini hanya dua, yaitu bagaimana cara agar ia bisa selalu membahagiakan istrinya serta bagaimana caranya agar perkebunan yang sudah dipercayakan oleh Kakek dan Nenek kepadanya ini bisa semakin maju berkembang.


Pria muda itu meneguk segelas air putih kemudian, mencoba mendinginkan tensi darahnya yang sudah nyaris mendidih karena Sao Qian tadi.


"Udin, cepat kemari," panggil Cecilion setelah menyadari keberadaan Udin, salah seorang pegawai serabutan di kantornya yang sedang membersihkan koridor kantornya.


"Bagaimana hasil panen kemarin?" tanya Cecilion, memandang pegawainya itu lurus.


"Jumlahnya melimpah dan kualitasnya juga bagus, Tuan Van der Linen. Kami juga sedang melakukan panen gelombang kedua," jawab Udin berusaha untuk tidak tegang berhadapan dengan atasannya tersebut.


Cecilion mengangguk paham, agaknya ia harus mampir ke kebun setelah makan siang.


"Bagus. Kalau begitu tolong katakan pada semua pegawai bahwa kalian akan mendapatkan kenaikan gaji sebesar sepuluh persen. Kembalilah bekerja."


"Terima kasih banyak, Tuan. Semoga Tuhan selalu memberkati Anda sekeluarga, saya permisi," balas Udin dengan wajah yang nampak lebih cerah karena senyuman lebar menghiasi wajahnya.

__ADS_1


...****************...


Cuaca terik siang itu tidak menyurutkan niat Cecilion van der Linen untuk langsung meninjau kegiatan panen para pegawai kebunnya hari ini.


Ditemani oleh Paman Muhsin dan beberapa asisten lain, ia masuk ke area perkebunan miliknya dengan berjalan kaki.


Topi putih bundar nampak menghiasi kepala Cecilion, sedikit menghalau panas yang mengenai wajah rupawan miliknya.


"Ya ampun, Tuan! Kenapa Anda sampai kemari? Apa laporan dari mandor kami kurang jelas?" tanya seorang buruh khawatir saat menyadari kehadiran Cecilion di antara mereka.


Cecilion tersenyum tipis. "bukan begitu. aku hanya ingin bertemu dengan orang-orang yang sudah bekerja keras untukku selama ini."


Semua buruh itu lantas menghentikan pekerjaan mereka. Tentu, mereka semua tak menyangka jika Tuan baru mereka yang sangat tampan itu mengatakan hal demikian meski awalnya mereka pikir Cecilion van der Linen hanyalah pria Belanda yang kasar lagi bengis.


Diluar dugaan mereka semua jika Tuan inilah yang menaikkan gaji mereka tanpa kecuali yang pastinya membuat semua orang yang bekerja dibawah naungan perusahaan pimpinan Cecilion van der Linen merasa begitu bersyukur.


"Kalian sudah bekerja sangat keras hingga hasil panen yang kita dapatkan pada musim kali ini sangat melimpah. Terima kasih banyak," imbuh Cecilion dengan santun, semakin membuat orang-orang yang ada di sana terkesiap.


Paman Muhsin tersenyum, merasa bahagia sekaligus bersyukur bisa memiliki Tuan yang sebaik lelaki muda itu.


Cecilion van der Linen, diusianya yang bahkan belum menginjak usia dua puluh tahun itu ia mampu menjadi pemimpin yang sangat baik bagi semua pegawainya.


"Kami hanya melakukan pekerjaan kami, Tuan Van der Linen. Sebelumnya perkenalkan nama saya Ngadiman, ketua para buruh kebun di perkebunan ini," balas seorang pria paruh baya dengan seulas senyuman hangat.


"Senang bertemu kalian semua. Apakah masih ada karet yang perlu di panen?" tanya Cecilion pada Ngadiman.


"Iya, Tuan Van der Linen. Kami akan melanjutkan panen gelombang ketiga besok sekaligus menjadi panen terakhir pada musim ini," terang Ngadiman.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Sabtu depan, kalian semua datanglah ke rumahku. Aku akan mengadakan jamuan makan malam untuk semua pegawai aku harap kalian semua hadir," ucap Cecilion masih dengan nada ramahnya.


Semua orang mengangguk senang, sebab baru kali ini mereka yang merupakan para rakyat jelata diundang langsung oleh Tuan mereka untuk menikmati perjamuan.


__ADS_2