Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 34 : Perjalanan Jauh


__ADS_3

Sejauh mata memandang, baik Mawar mau pun Cecilion hanya bisa melihat laut biru yang membentang luas. Suara mesin kapal yang membelah lautan hari itu menjadi satu-satunya penyela diantara obrolan mereka mengenai tujuan yang harus mereka singgahi setelah kapal bersandar di dermaga nanti.


Sepasang sejoli itu benar-benar tak ragu mengambil langkah, mereka memutuskan untuk pergi ke pulau seberang demi mempertahankan cinta mereka yang terus membara itu tepat sebelum orang-orang bawahan orang tua mereka masing-masing mulai mencari keberadaan mereka.


"Kamu sungguh tidak menyesal sudah mengambil langkah sejauh ini?" tanya Cecilion seraya menyuapi Mawar dengan roti yang baru ia buka bungkusnya.


Mereka berdua pergi terburu-buru ke dermaga hari itu, mana sempat membawa perbekalan yang cukup. Itu pun Kees yang memberikan mereka dua bungkus besar roti untuk dimakan sepanjang perjalanan jauh itu.


Beruntung, Kees memberikan banyak bantuan agar Cecilion dan Mawar bisa pergi ke pulau seberang dengan lebih mudah.


Mawar menggeleng. "tentu tidak, aku sudah memikirkan keputusan ini selama berbulan-bulan. lagi pula aku mana mau menikah dengan laki-laki asing itu."


"Lalu, mau ke mana kita setelah ini?" tanya Cecilion yang sama sekali tak pernah pergi ke pulau Sumatera itu.


"Kapal ini akan membawa kita ke bagian selatan pulau Sumatera, di sana ada Nenek dan Kakekku namun entah mereka masih hidup atau tidak. Tapi yang pasti, rumah mereka cukup nyaman untuk kita singgahi beberapa saat," sahut Mawar.


Gadis itu sepertinya memiliki rencana yang lebih matang ketimbang Cecilion, membuat sang adam hanya bisa tersenyum bangga.


"Lantas bagaimana mungkin kita bisa tinggal bersama sebelum menikah?" itu pertanyaan yang mengganjal hati Cecilion sejak keberangkatan mereka.


"Jika Nenek dan Kakek atau setidaknya salah satu dari mereka masih hidup, kita bisa melangsungkan pemberkatan pernikahan di gereja karena mereka juga merupakan wali sah untukku," jawab Mawar optimis.


Peraturan dari pemerintah Hindia-Belanda memang melarang mereka para kaum Eropa yang bukan saudara kandung atau sepasang suami istri yang sah tinggal dalam satu rumah karena dianggap sebagai perzinahan.


Ya, hanya wanita pribumi yang telah dibeli oleh para Tuan Belanda bisa dijadikan gundik.


"Baiklah, kurasa kita tidak memiliki banyak pilihan," Cecilion menyahut pasrah, menyandarkan punggungnya pada dinding kapal.


Pemuda itu sungguh tak menyangka akan menikah di usia semuda itu, namun ia benar-benar tidak mau kehilangan Mawar.


Jadi tentu saja, menikahi Mawar lebih dulu adalah satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan.

__ADS_1


"Apa kamu menyesal?" kini giliran Mawar yang gantian bertanya.


"Sama sekali tidak. Kamu tidak usah khawatir, aku punya cukup uang untuk diberikan kepada pihak gereja agar mereka bisa mencatatkan pernikahan kita secara resmi," jawab Cecilion mantap sambil menatap lurus kekasihnya.


Mawar mengangguk, tersenyum lega akhirnya.


Meski menikah di usia muda bukanlah salah satu impiannya, namun apa boleh buat.


Dia benar-benar tak sanggup jika harus menikah dengan lelaki lain selain Cecilion.


"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan. Sekarang tidurlah, perjalanan kita masih panjang, sayang," bisik Cecilion seraya menyandarkan kepada Mawar pada bahu lebar miliknya.


Meski langit nampak biru dengan awan yang bergerak tenang, hati sepasang sejoli itu tentunya tidak begitu tenang.


Apa pun yang terjadi, Mawar dan Cecilion harus menghadapi resiko atas pilihan yang sudah mereka ambil ini.


...****************...


"Permisi, apakah Paman bisa mengantarkan kami ke rumah Tuan Goenawan?" tanya Mawar setibanya ia dan Cecilion di pusat kota Palembang usai menempuh perjalanan jauh menggunakan kapal.


Langit kota Palembang yang kini telah berangsur menggelap membuat Mawar hanya terpikirkan bahwa hanya kereta kuda yang dapat mengantarkan mereka dengan cepat menuju rumah Kakek dan Neneknya, atau lebih tepatnya rumah lamanya sebelum pindah ke Batavia.


"Tuan Goenawan yang pengusaha karet itu? Oh, tentu saja saya tahu, Nona dan Tuan. Mari naik akan saya antarkan," balas Paman kusir itu dengan seluas senyuman ramah di wajahnya.


Mawar mengangguk setuju, ia lantas dibantu oleh Cecilion untuk naik ke atas kereta kuda.


"Ngomong-ngomong, apa yang membawa Tuan dan Nona sampai mau mendatangi Tuan Goenawan?" tanya Paman kusir seraya mulai menjalankan kereta kudanya melewati jalanan kota yang mulai gelap.


"Beliau adalah Kakek saya, Paman," sahut Mawar santun membuat Paman kusir itu mengangguk paham.


"Ah, iya saya baru ingat kalau putrinya Tuan Goenawan memang menikahi seorang Meneer. Sangat menakjubkan bisa bertemu dengan Anda seperti ini, Nona."

__ADS_1


Sopan santun dan keramahan si Paman kusir cukup membuat Mawar dan Cecilion merasa takjub, belum pernah mereka menemui kusir yang tutur katanya sangat tertata seperti itu.


Berhubung rumah tujuan mereka memang letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota, Mawar dan Cecilion akhirnya tiba di rumah Tuan Goenawan sebelum langit sepenuhnya bertukar menjadi malam.


"Ini ongkosnya, terima kasih banyak ya Paman," kata Cecilion seraya menyodorkan uang dari sakunya kepada si Paman kusir.


"Terima kasih kembali, Tuan."


"Mari langsung masuk," ajak Mawar setelah mendapati sang Kakek tengah menyalakan lampu serambi rumahnya.


"Kakek!" Mawar berseru penuh kerinduan, memanggil sang Kakek yang masih berdiri dengan pandangan tak percaya di ambang pintu rumah.


Mawar merentangkan kedua tangannya dengan penuh sukacita, merengkuh tubuh renta milik sang Kakek berusaha melepas semua rindu yang telah sekian lama ia pendam.


"Kamu benar Mawar cucuku? Astaga, kamu sudah besar sekarang!" sang Kakek berseri-seri, menerima pelukan cucu satu-satunya itu.


"Siapa yang datang, Pak?" tanya Nyonya Goenawan yang merasa heran akan keramaian yang mendadak hadir di rumah pasangan tua itu.


"Ya ampun! Apa sekarang ajalku benar-benar akan tiba?!" Nyonya Goenawan tiba-tiba histeris tatkala ia mendapati sosok Cecilion yang begitu menawan tengah tersenyum hangat kepadanya.


"Huh? Apa yang nenek katakan? Dia adalah Cecilion van der Linen, calon suamiku!" Mawar berseru gemas, menarik tangan Neneknya untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Apa katamu? Calon suami?! Oh Tuhan, aku belum siap melepaskan cucu semata wayangku ini untuk berumah tangga!"


"Nenek harus siap, aku ini sudah dewasa tahu!"


Cecilion hanya bisa terkekeh geli melihat interaksi menggemaskan itu mengingat ia juga jarang berinteraksi dengan keluarganya sehangat dan sesantai ini.


"Mari masuk, hujan sepertinya akan segera turun," titah Tuan Goenawan, menuntun semua orang untuk masuk ke dalam rumah.


Gerimis memang sudah turun, ditemani dengan hembusan angin yang cukup kencang membuat Tuan Goenawan langsung menutup semua jendela dan pintu rumahnya dengan tergesa.

__ADS_1


Sementara Mawar, Cecilion serta Nyonya Goenawan asyik berbincang-bincang ringan ditemani satu teko teh hangat yang kebetulan baru selesai dibuat oleh sang nenek.


"Sebenarnya, apa yang membawamu kemari sampai rela jauh-jauh datang dari pulau seberang, Mawar cucuku?" tanya Tuan Goenawan dengan air muka serius, menuntut jawaban dari Mawar.


__ADS_2