Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 48 : Pelarian


__ADS_3

Suara mesin perahu nelayan yang ditumpangi oleh Cecilion dan Mawar masih mengaum gagah, melewati perairan sungai Batanghari dengan kecepatan sedang membuat perasaan pasangan muda itu tetap resah meski sudah meninggalkan pusat kota Palembang.


"Kemana kita bisa bersembunyi, suamiku?" tanya Mawar dengan air muka tegang.


"Kita cari desa terdekat dulu, istriku. Kita sudah terlalu lama berada di atas perairan," jawab Cecilion sambil terus memandang ke depan, mencoba mencari dermaga di sekitar mereka.


Langit sudah mulai menggelap, berbarengan dengan suara gemuruh sang guntur yang memecah keheningan di antara pasangan suami istri Van der Linen itu.


Angin kencang juga mulai menerpa, menghadang pelarian sepasang suami istri itu dari pusat kota yang menjadi wilayah konflik.


Suara gemuruh yang kian ganas membuat Cecilion kian gelisah sebab tak jua menemukan tempat yang aman untuk menyandarkan perahu nelayan yang sedang mereka tumpangi saat ini.


"Suamiku, lihat! Di sana sepertinya ada dermaga!" ucap Mawar penuh harapan seraya menunjuk ke arah sebuah dermaga kecil, berjarak masih cukup jauh dari posisi mereka berada.


"Kamu benar, sayang. Tunggulah sejenak, aku akan segera menyandarkan perahu ini," timpal Cecilion dengan seulas senyum, berusaha sedikit menghibur sang istri.


Mawar sudah merasa sangat mual dan pusing, kehamilannya membuat wanita muda itu sedikit kehilangan daya tahan tubuhnya yang kuat sejak kecil tersebut.


Perahu nelayan tentu saja tidak bisa menambah kecepatan, membuat Cecilion hanya bisa mengarahkan kemudi ke arah dermaga kecil itu dengan sabar walau hujan sudah mulai turun dan membasahi tubuhnya.


"Tuhan... Aku mohon berikan kami kesempatan untuk hidup," gumam Cecilion yang suaranya sudah teredam oleh derasnya air hujan yang turun.


Air mata yang mengalir dari sepasang mata menawan milik Cecilion pun tersamar oleh air hujan, biar bagaimana pun juga ia harus melakukan segala cara demi menyelamatkan nyawa istri dan anaknya yang kini masih di dalam kandungan sang istri.


Lambat laun, perahu nelayan yang ditumpangi oleh sepasang suami istri Van der Linen tersebut bisa menepi di sebuah dermaga kecil.


Buru-buru Cecilion turun, mendorong perahu nelayan itu agar bisa segera bersandar di dermaga dengan benar.


"Ayo istriku, kita harus segera mencari tempat berteduh agar kamu tidak sakit," ucap Cecilion yang suaranya sudah mulai bergetar karena kedinginan.

__ADS_1


Mawar mengangguk, menerima uluran tangan dari sang suami lantas perlahan turun dari perahu nelayan yang sejak tadi mereka tumpangi.


Dinginnya tekanan suhu udara serta air sungai yang mengenai tubuh Mawar membuat calon ibu muda itu merinding namun tetap berjalan pelan mengikuti langkah Cecilion sang suami.


Tak jauh dari dermaga, Cecilion dan Mawar mendapati beberapa buah rumah sederhana berjajar dengan jarak agak berjauhan, menandakan bahwa ada kehidupan di sekitar sini.


Keduanya berjalan dengan hati-hati, mencoba mendekati rumah yang paling dekat dari jangkauan mereka.


"Sepertinya ada warga yang masih tinggal di sekitar sini," ucap Cecilion setelah kakinya menginjak halaman sebuah rumah sederhana berdinding kayu.


Namun, meski Cecilion berkata demikian hati Mawar berkata sebaliknya.


Perkampungan itu nampak begitu sepi, tak selayaknya sebuah kampung bahkan tak ada seorang pun yang nampak keluar dari rumah-rumah kayu sederhana itu.


Telapak tangan Cecilion mendorong pelan pintu kayu dari rumah sederhana itu, namun betapa terkejutnya ia saat mendapati rumah yang mereka datangi pintunya malah tidak terkunci.


...****************...


"Apa yang bisa kita makan sekarang? Di sekitar sini tidak ada apa pun yang bisa dimasak," ucap Mawar pagi itu.


Semalaman hujan deras disertai petir mengguyur tempat ini, membuat Cecilion dan Mawar terpaksa bermalam di sana meski dengan perasaan was-was.


"Betul juga. kita juga tidak bisa membuat api jadi sepertinya kita harus mencari sesuatu yang bisa dimakan di luar," sahut Cecilion memutuskan seraya mengenakan kembali pakaiannya yang sempat mereka gunakan sebagai bantal untuk tidur.


Tubuh Mawar rasanya pegal bukan main, mengingat mereka semalam hanya tidur di atas sebuah bale yang terbuat dari bambu sungguh berbanding terbalik dengan nyamannya tempat tidur yang biasa mereka gunakan di rumah.


Namun Mawar tidak bisa mengeluh, masih bisa selamat sampai detik ini saja sudah berkah yang luar biasa baginya.


"Aku sama sekali tidak menyesal menjadi istrimu, Cecilion Van der Linen," lembut ujaran kalimat itu keluar dari bibir Mawar, membuat Cecilion kontan membalikkan badannya menghadap sang istri.

__ADS_1


Pria tampan itu tidak mengatakan apa pun, ia hanya merengkuh tubuh Mawar ke dalam dekapan hangatnya seraya mengucapkan janji tak tersirat mencoba memberikan ketenangan kepada sang pujaan hati.


"Maafkan aku yang belum bisa melakukan banyak hal berarti untukmu, Mawar," kata Cecilion pelan, suara yang terdengar begitu halus menyapa indera pendengaran Mawar.


Kedua tangan Mawar mengeratkan rengkuhan hangat itu, berusaha saling menguatkan satu sama lain dengan sang suami mencoba melewati semua rintangan ini bersama.


"Kamu sudah memberikan semua yang terbaik untukku, Cecilion. Aku mohon jangan mengatakan hal yang seperti itu," sahut sang hawa lembut, mengusap rahang tegas milik sang suami sembari memandang keindahan ciptaan Tuhan tersebut penuh cinta.


Tetapi, sebelum mereka benar-benar bisa bernapas lega tiba-tiba suara letupan senjata api terdengar begitu menggelegar mengoyak kesunyian yang sejak tadi menemani mereka.


"Cepat bersembunyi, istriku! Aku akan mencari tahu ada apa di sana," titah Cecilion yang kali ini ditentang oleh Mawar.


"Jangan bercanda! Aku tidak akan membiarkan kamu keluar sendirian!" tekan Mawar dengan air muka cemasnya.


"Tidak akan terjadi apa pun, istriku. Aku berjanji," balas Cecilion mencoba meyakinkan istrinya agar membiarkan Cecilion melihat keadaan di luar.


"Kali ini kamu harus mendengarkan aku, suamiku! Bisa saja saat kamu keluar dari sini tentara Nippon yang lain akan bisa menangkap aku dengan mudah!" bantah Mawar yang kini matanya sudah basah oleh rembesan air mata.


Sungguh, ia tidak mau kehilangan suaminya, belahan jiwa yang selama ini menjadi satu-satunya tempatnya mengadu dan berlindung dari kejamnya dunia.


Biar bagaimana pun, bagi Mawar lelaki di hadapannya tersebut adalah dunianya, tempat ternyaman bagi Mawar yang tak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.


"Aku mohon, Cecilion Van der Linen... Sekali ini saja dengarkan perkataanku, aku hanya ingin kita berdua bisa selamat bersama-sama," pinta Mawar yang kini wajahnya sudah basah oleh jejak air mata.


Cecilion lantas terhenyak.


Terdiam lelaki itu sesaat, membiarkan istrinya menangis di dalam pelukannya.


Cecilion lalu berbisik. "percayalah kepadaku, sayang. aku akan melindungi dirimu bagaimana pun caranya, tak peduli sekali pun aku yang harus mati tapi kamu harus tetap hidup dan melahirkan anak kita dengan selamat."

__ADS_1


__ADS_2