Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 28 : Pesta


__ADS_3

Mobil milik keluarga De Haas melaju perlahan, membelah jalan utama kota Batavia hari itu menuju lokasi gedung tempat dilangsungkannya acara pernikahan Greg van Marwijk sahabat Mawar sejak kecil.


"Kenapa Greg cepat sekali menikah?" Mawar mendecak sebal, karena kalau sudah begitu dia tidak akan bisa bertemu dengan Greg kapan saja seperti sebelumnya.


Lagi pula semua orang tahu, Greg dan Mawar yang sudah bersahabat sejak kecil sehingga tak jarang mereka kerap kali disebut sebagai kakak beradik tak sedarah.


Mawar sebetulnya bahagia atas pernikahan Greg dengan Stevi, gadis pilihannya sendiri namun tetap saja ia merasakan sedikit perasaan mengganjal yang tak dapat ia ungkapkan.


"Cepat apanya? Greg sudah cukup umur dan memiliki pekerjaan tetap jadi menikah adalah hal yang sangat wajar," timpal Tuan De Haas dengan kalem, sementara Nyonya De Haas hanya terkekeh geli.


Nyonya De Haas tahu, anak gadisnya itu pasti merasa sedikit cemburu atas pernikahan sahabat sekaligus kakak angkatnya itu yang cukup tiba-tiba.


Namun, Mawar tetap nampak enggan mengatakannya kepada kedua orang tuanya.


"Huh, apa aku juga harus menikah setelah lulus sekolah?" tanya Mawar bertanya dengan muka masam, membuat Papa dan Mamanya hanya bisa terkekeh.


"Sudah sepatutnya seperti itu, sayang. Kamu tidak boleh sampai terlambat menikah," jawab Nyonya De Haas lembut, menoleh kepada Mawar yang duduk sendirian di bangku belakang mobil.


Tanpa terasa akhirnya mobil keluarga De Haas tiba di pusat kota Batavia, di depan gedung megah tempat acara pernikahan Greg van Marwijk dan Stevi van Berg digelar.


Nampak orang-orang dengan pakaian rapi berlalu lalang di depan gedung, bergantian masuk ke dalam gedung dipandu oleh beberapa orang panitia penyambut tamu.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya serta Nona De Haas. Tuan dan Nyonya Van Marwijk sudah menunggu Anda sekalian di dalam," sapa seorang panitia tampan berwajah Indo-Eropa dengan seulas senyum santun.


Pemuda itu kemudian mengantarkan keluarga De Haas untuk masuk ke dalam gedung mengingat mereka memang salah satu tamu penting dalam acara ini karena persahabatan mereka dengan keluarga Van Marwijk yang sangat dekat.

__ADS_1


Sejak keluarga De Haas masuk ke dalam gedung acara, mata orang-orang langsung tertuju kepada mereka secara otomatis. Para Nyonya Belanda yang ada di dalam gedung itu mulai bergunjing, mencemooh penampilan Nyonya De Haas meski pun sebenarnya tak ada yang salah dengan penampilan Nyonya De Haas yang menawan mengenakan kebaya itu.


Alasannya tetap sama, hanya karena Nyonya De Haas adalah seorang pribumi tak peduli seberapa kaya dan sukses dirinya, ia tetap saja salah di mata para orang Belanda yang selalu menganggap pernikahan antara Tuan dan Nyonya De Haas tidaklah pantas.


Tuan dan Nyonya De Haas yang sudah terbiasa dengan semua itu hanya berjalan dengan tenang, menyapa kembali para Tuan dan Nyonya yang menyapa mereka. Sementara Mawar hanya bisa diam, sesekali membalas sapaan beberapa pemuda yang ada di sana dengan seulas senyuman.


Tentu saja, para pemuda itu tertarik dengan kecantikan milik Mawar yang sangat menarik serta membius. Para pemuda itu bahkan sampai mengabaikan teman kencan yang mereka bawa hanya demi menyapa Mawar dengan harapan sang gadis akan tertarik.


Namun, Mawar hanya menyikapi mereka dengan anggun dan tidak menunjukkan rasa ketertarikan. Ia tetap melangkah mengikuti Papa dan Mamanya serta pemandu mereka menuju tempat di mana Tuan dan Nyonya Van Marwijk telah menunggu.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya De Haas. Mari bersulang untuk pernikahan Greg putra kami," ucap Tuan Van Marwijk ramah, menyodorkan dua gelas berisi anggur merah kualitas terbaik kepada Tuan dan Nyonya De Haas.


"Bagus sekali, Paman. Kalian minum anggur di hadapanku yang belum cukup umur untuk minum," sarkas Mawar masih dengan suara lembutnya yang menyejukkan.


Tuan Van Marwijk tergelak, tak habis pikir bagaimana bisa Mawar berucap sarkas masih dengan tutur yang anggun seperti itu.


"Maafkan aku, anakku yang manis. Kamu bisa pergi minum soda atau minuman lain yang sudah tersedia di meja perjamuan," balas Tuan Van Marwijk kemudian.


Mawar mengangguk. "kalau begitu saya permisi dulu, silakan Anda semua menikmati acara minum-minumnya."


"Temui Greg setelah mendapatkan minumanmu, sayang," ucap Nyonya Van Marwijk mengingatkan yang lagi-lagi hanya dibalas dengan anggukan oleh Mawar.


"Siapa yang mendidik anak itu sampai bisa bersikap sedingin es begitu?" tanya Tuan Van Marwijk sambil terkekeh.


"Didikan dari Papanya, tentu saja," sahut Nyonya De Haas sambil tersenyum bangga.

__ADS_1


Ya, dia tahu bahwa putri semata wayangnya itu kerap kali menjadi buah bibir karena kecantikannya yang luar biasa serta sikapnya yang anggun sekaligus dingin.


Sementara Mawar kini tengah menjadi pusat perhatian di meja perjamuan, para pemuda yang sejak tadi memperhatikan Mawar dari kejauhan kini berupaya mendekat demi menarik perhatian gadis secantik dewi itu.


"Eum, halo, apakah aku boleh tahu siapa nama Nona?" tanya seorang pemuda Belanda tampan dengan rambut berwarna cokelat kemerahan sambil melangkah yakin mendekati Mawar.


Mawar meneguk sedikit minuman miliknya, melirik pemuda itu dengan tatapan tak berminat.


"Memangnya kamu akan benar-benar tertarik padaku meski tahu kalau aku adalah anak dari seorang wanita pribumi?" tanya Mawar dengan air muka tenang bak danau tak beriak.


Pemuda itu tentu saja menjadi kikuk setelah mendengar pertanyaan dari Mawar.


Jelas dia tidak menyangka kalau Mawar akan merespon seperti itu, berbeda dengan gadis kebanyakan yang akan salah tingkah jika disapa oleh pemuda tampan.


Mawar memperhatikan pemuda itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, mencoba memindai agaknya pemuda itu berasal dari keluarga mana.


Senyuman meremehkan lantas terbit di wajah cantik Mawar setelah tahu dengan jelas siapa orang tua dari pemuda itu.


"Oh, aku tahu, bukankah kamu adalah putra dari Tuan dan Nyonya Broughton yang kerap merendahkan martabat orang lain itu? Tolong ingatkan pada orang tuamu untuk tidak mengatakan hal yang macam-macam lagi mengenai orang tuaku," ucap Mawar tegas tanpa keraguan.


Para pemuda lain yang menyaksikan interaksi mengejutkan itu juga seketika menjadi ragu untuk mengucapkan kata-kata lebih banyak di depan Mawar. Gadis itu bukan gadis Indo-Eropa biasa, dia bahkan bisa membuat Peter Broughton yang terkenal playboy itu mati kutu.


"Jika kamu sungguh mau membuat aku tertarik padamu, berhentilah untuk mempermainkan para janda atau pun gadis lugu yang tidak tahu apa-apa," tukas Mawar sambil berlalu setelah ia melihat Cecilion sang kekasih datang menghampiri dirinya.


Wajah Peter Broughton kontan menjadi pucat pasi, seiring dengan langkah Cecilion yang mendekat kepada Mawar.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? berani-beraninya menggoda kekasihku," Cecilion berujar tegas dengan tatapan tajam bagai sepasang belati, mengingatkan kepada para pemuda itu untuk tidak mengganggu Mawar.


__ADS_2