
Kesunyian yang mencekam kini menemani Cecilion yang hanya bisa berdiam diri dalam tempat persembunyiannya. Diam lelaki itu, membiarkan sunyi menelan dirinya hingga ia dapat mendengar suara detak jantungnya dengan begitu jelas.
Jejak air mata yang membasahi kedua belah pipinya buru-buru ia hapus menggunakan punggung tangan, tak mau dirinya menjadi nampak lemah.
Semua pintu dan jendela di rumah keluarga Van der Linen memang sudah dikunci, namun tentunya Cecilion tahu kalau para tentara Nippon itu sangat bengis lagi nekat.
Dengan detak jantungnya yang sudah berdebar dua kali lebih cepat, Cecilion menggenggam erat senjata api yang ada di tangannya.
Tak ada yang dipikirkan Cecilion kini selain cara untuk menyelamatkan sang istri dan anak yang sedang dikandungnya. Apa pun yang terjadi, Cecilion hanya ingin mereka yang ia cintai bisa pergi dengan selamat.
Saat sinar mentari mulai menyingsing di ufuk timur, menyinari bumi Nusantara suara yang ditakutkan oleh Cecilion akhirnya terdengar jua.
Deru suara mesin mobil terdengar jelas di depan kediaman keluarga Van der Linen, kian menambah tensi tegang dalam diri Cecilion.
Lelaki itu memejamkan matanya, mulai berdoa kembali kepada sang Maha Kuasa untuk mengabulkan setidaknya satu saja dari sekian banyak doa yang telah ia langitkan.
"Apa rumah ini milik orang Belanda?"
"Sepertinya iya. Tapi rumahnya nampak sepi."
Sayup-sayup Cecilion dapat mendengar suara orang bercakap-cakap di depan pintu utama rumahnya dalam bahasa Jepang yang untungnya dapat ia mengerti.
"Lebih baik kita dobrak saja, siapa tahu ada orang di dalam rumah ini."
"Jangan melakukan tindakan yang sia-sia! Lebih baik kita melanjutkan misi kita."
"Dia benar. Kita mana boleh membuang-buang waktu kalau tidak mau berurusan dengan amarahnya komandan."
"Ya sudah, ayo bergerak ke arah lain!"
Cecilion menghela napasnya tatkala mendengar percakapan orang-orang itu.
Suara deru mesin mobil militer itu kemudian kembali terdengar, menjauh dari kediaman keluarga Van der Linen.
"Aku harus berhati-hati dan menunggu sebentar, siapa tahu mereka berubah pikiran dan kembali ke sini," gumam Cecilion, kembali meraih senjatanya setelah sempat ia letakkan di atas lantai.
Setelah ia yakin suara mobil yang ditumpangi oleh para tentara Nippon itu telah benar-benar menghilang, ia melangkah terburu menuju kamarnya, mengambil tas berisi uang tunai yang memang sudah ia persiapkan dalam kondisi darurat seperti ini.
__ADS_1
Cepat-cepat Cecilion lalu beringsut menuju gudang tempat istrinya dan Sumi bersembunyi.
Mereka harus segera pergi dari rumah ini kalau tidak mau mati di tangan para tentara kejam itu bagaimana pun caranya.
Tiba di depan pintu gudang, Cecilion mengetuk daun pintu kayu tersebut.
"Istriku, ayo cepat buka pintunya kita harus pergi dari sini!" panggil Cecilion dengan suara yang ia tahan agar tidak sampai terdengar sampai ke luar rumah.
Mawar menempelkan telinganya di depan pintu lemari, mencoba mengenali suara yang barusan ia dengar takut kalau itu bukan benar-benar suara suaminya yang sejak tadi ia tunggu kedatangannya.
"Mawar Van der Linen, cepat buka pintunya! Kita harus segera pergi!" Cecilion berseru sekali lagi dengan suara tertahan.
Setelah yakin itu betul-betul suara sang suami, Mawar tanpa pikir panjang langsung keluar dari lemari tempatnya bersembunyi.
Wanita itu lantas menyuruh Sumi keluar, membantunya menemukan kunci gudang itu.
Sumi menelisik setiap jengkal lantai gudang itu, mencari keberadaan kunci yang terbuat dari logam itu agar mereka bisa segera bisa melarikan diri dari sini.
"Ini kuncinya, Nyonya! Ayo, lekas!" seru Sumi dengan suara tertahan, meraih pergelangan tangan sang Nyonya untuk segera mengikuti langkahnya agar mereka bisa segera keluar dari sini dan melarikan diri ke tempat yang lebih aman.
Pintu terbuka, hingga Mawar dan Cecilion merasa sedikit lega karena bisa kembali bersama.
"Kita harus segera pergi, cepat, kita lewat pintu belakang saja," titah Cecilion sambil memimpin jalan menuju pintu belakang.
Di belakang rumah keluarga Van der Linen memang ada kebun sayur milik Mawar yang untungnya juga memiliki pohon besar dan beberapa semak belukar yang dapat dipakai untuk bersembunyi sementara.
Selain itu, tak jauh dari rumah mereka pun ada anak sungai cukup besar yang bisa menjadi rute paling aman untuk melarikan diri ke wilayah lain ketimbang menggunakan jalur darat.
"Tuan dan Nyonya! Cepat kemari!" panggil Pak Jujuk, salah seorang dari tetangga mereka yang kebetulan sedang ada dalam tepi sungai.
"Ada apa, Pak?" tanya Cecilion sambil berlari kecil menghampiri Pak Jujuk, salah seorang tetua pribumi di lingkungan mereka.
"Pergilah dengan perahu nelayan milik saya, Tuan dan Nyonya. Lekaslah! Saya yakin para tentara tadi akan segera kembali," titah sang pria paruh baya sambil menunjuk perahu nelayan miliknya yang sedang bersandar.
"Bagaimana dengan Bapak?" tanya Mawar yang sudah hampir menangis.
Mawar sungguh takut serta sedih, tak banyak yang dapat ia lakukan dalam situasi mencekam ini hingga ia kesulitan mengendalikan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Saya yakin tidak akan apa-apa, Nyonya. Mereka semua hanya memburu para orang-orang Belanda seperti Anda berdua," ucap Pak Jujuk.
"Jadi saya rasa Tuan dan Nyonya lebih membutuhkan perahu itu ketimbang saya. Jadi Anda berdua harus segera pergi sejauh mungkin dengan perahu itu," imbuh Pak Jujuk.
Tanpa pikir panjang, Cecilion menyerahkan beberapa ikat uang kertas dari tasnya kepada Pak Jujuk sebagai kompensasi.
"Terima kasih atas bantuannya, Pak. Saya akan membawa istri saya pergi sejauh mungkin dan mencari tempat yang aman," kata Cecilion kemudian.
"Saya tidak perlu uang ini, Tuan. Saya tulus membantu Tuan dan Nyonya yang selama ini selalu memperlakukan saya dengan baik," balas Pak Jujuk.
"Tolong terima saja uangnya, Pak. Kami akan langsung pergi, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Jujuk," timpal Mawar.
Pria itu hanya mengangguk, membantu pasangan muda itu untuk naik ke atas perahu nelayan miliknya. Beruntung, perahu itu memiliki mesin berbahan minyak yang tangkinya sudah terisi penuh lengkap dengan satu jerigen bahan bakar cadangan di sudut perahu.
Perahu ini cukup aman untuk mereka naiki, terlebih memiliki atap yang bisa sedikit melindungi mereka dari hujan atau teriknya sinar mentari.
Pak Jujuk kemudian menjelaskan secara singkat kepada Cecilion cara pengoperasian perahu itu, bagaimana cara mengendalikan dan mematikan mesin perahu itu dengan baik dan benar.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Pak Jujuk. Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan Bapak," ucap Cecilion penuh ketulusan.
"Bukan masalah, Tuan. Hati-hati dan jaga selalu Nyonya Van der Linen. Saya harap Anda berdua bisa selamat tiba di tempat tujuan," Pak Jujuk tersenyum lembut, khas seorang ayah.
"Tuan dan Nyonya, hati-hati di jalan. Saya hanya akan mengantarkan Anda berdua sampai di sini karena saya harus memastikan orang tua saya dalam kondisi aman terlebih dahulu atau tidak," ucap Sumi dengan berat hati.
Bagaimana pun juga, Sumi memiliki Ibu dan Bapak yang masih tinggal di desa tak jauh dari kediaman keluarga Van der Linen.
"Baiklah jika itu keputusanmu, Sumi. Kuharap kita bisa kembali bertemu di lain kesempatan," pungkas Mawar.
"Hati-hati selalu, Nyonya dan Tuan. Saya harap Tuhan selalu melindungi setiap langkah dari Anda berdua," Sumi tak kuasa menahan tangisnya.
Wanita muda itu tak menyangka, hari ini akan tiba, hari di mana ia harus berpisah dengan Tuan dan Nyonya yang sebaik pasangan Van der Linen.
Ia hanya bisa mendoakan segala kebaikan serta keselamatan untuk kedua majikannya tersebut.
"Kami pergi dulu, Pak Jujuk, Sumi. Jaga diri kalian," tutup Cecilion setelah ia dan Mawar sudah naik ke atas perahu nelayan.
Mesin perahu menyala, pertanda mereka akan segera melalui perjalanan panjang untuk kedua kalinya namun kali ini dengan harapan yang jauh lebih besar dan berat di dalam hati mereka.
__ADS_1