
Suara gemuruh hujan yang bersahut-sahutan dengan petir malam itu tak membuat Cecilion dapat menghalau beban pikirannya.
Pemuda berambut sekelam langit malam itu duduk dalam diam di beranda rumah, memikirkan Mawar De Haas kekasihnya setelah beberapa hari mereka tak dapat bersua.
Bagaimana tidak? Cecilion dan sang Mama terpaksa angkat kaki dari rumah dinas gubernur yang selama ini mereka tempati karena prahara rumah tangga kedua orang tuanya kian memanas.
"Apa yang harus aku lakukan? Di sini tidak ada mobil," gumam Cecilion sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Meski masih tinggal di kawasan Batavia, tempat Cecilion tinggal saat ini letaknya cukup jauh dari pusat kota membuat ia membutuhkan waktu lebih banyak untuk sampai ke pusat kota tempat Mawar tinggal.
Kini Cecilion dilema, harus dengan apa dia pergi ke pusat kota agar bisa pergi ke sekolah dan menemui Mawar.
Kini Cecilion dan sang Mama tinggal di pinggiran kota Batavia di sebuah rumah cukup besar, rumah milik Nyonya Van Der Linen yang ia beli sendiri menggunakan setengah dari uang tabungannya.
Lamunan pemuda itu semakin jauh, memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa pergi ke pusat kota meski tidak memiliki mobil di rumah ini.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sampai serius sekali begitu?" tegur Nyonya Van Der Linen yang tiba-tiba sudah berdiri di sisi kanan tubuh putranya, mengamati anak semata wayangnya itu tengah melamun bahkan tak bergeming setelah petir menyambar dengan kencang beberapa saat lalu.
Cecilion menggeleng cepat. "aku tidak memikirkan sesuatu yang serius, Mama. aku hanya sedang mencoba memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa tetap datang ke sekolah."
Nyonya Van Der Linen menghela. "kamu benar, nak. tak lama lagi kamu akan lulus jadi Mama juga tidak bisa memindahkan kamu ke sekolah yang lebih dekat. maafkan Mama yang lupa memikirkan hal yang sangat penting itu."
Cecilion tersenyum tipis, menggamit lembut tangan sang Mama lantas mengusap perlahan punggung tangan halus milik wanita itu.
"Aku tidak apa-apa selagi Mama baik-baik saja. pasti masih ada solusi lain untuk masalah itu, Mama. Jangan terlalu khawatir," sahut Cecilion penuh pengertian.
Nyonya Van Der Linen jelas merasa terharu, meski ia tak memiliki cukup waktu untuk mendidik Cecilion sejak dini namun pemuda itu ternyata tumbuh dengan sangat baik.
Tak hanya berwajah rupawan, Cecilion juga memiliki sifat yang baik serta penyabar yang sama sekali tak pernah diduga oleh Nyonya Van Der Linen.
"Terima kasih sudah menjadi putra yang baik, sayang. Mama janji kehidupan kamu di sini akan menjadi jauh lebih baik meski tanpa bantuan dari laki-laki brengsek itu," lirih Nyonya Van Der Linen sambil mengusap surai lebat milik putranya dengan penuh sayang.
Baginya, hanya Cecilion harta berharga yang kini ia miliki dan beliau rela melakukan apa saja asalkan Cecilion dapat hidup dengan layak.
__ADS_1
Dalam diam, Nyonya Van Der Linen terus mengutuk suaminya itu agar tak dapat memiliki keturunan lagi selain dari dirinya tak peduli berapa pun banyaknya kekasih yang ia miliki.
Tubuh tinggi lagi tegap milik Cecilion lantas bangkit dari duduknya, merengkuh tubuh wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu dengan erat.
"Aku akan melakukan segalanya demi menjaga Mama," ucapnya penuh kesungguhan.
...****************...
Sepasang kaki jenjang milik Cecilion melangkah tak tentu arah dengan pandangan mengedar ke segala penjuru arah, hendak mencari solusi dari masalah baru yang kini ia hadapi.
Meski tabungan miliknya berjumlah besar, Cecilion tetap saja tidak dapat membeli sebuah mobil karena banyaknya regulasi yang berlaku untuk orang-orang yang hendak memiliki kendaraan beroda empat itu.
Naik kereta kuda? Itu tidak ergonomis, Cecilion tidak suka kalau ia tidak bisa menikmati waktunya berdua dengan Mawar jadi ia tidak mau menggunakan opsi yang satu itu.
Langkah demi langkah itu akhirnya membawa Cecilion hingga sampai ke sebuah toko sepeda yang membuat Cecilion tersenyum penuh arti.
Ya, walau menaiki sepada memerlukan perjuangan yang lebih keras jika dibandingkan dengan mobil dan kereta kuda namun sepeda adalah solusi yang sempurna bagi Cecilion saat ini.
"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa sang pemilik toko ramah saat menyadari kehadiran Cecilion yang begitu menawan di tokonya.
Lelaki tua keturunan Tionghoa itu mengamati Cecilion dengan decak kagum dalam hatinya, tak pernah ia menjumpai manusia setampan Cecilion selama puluhan tahun dalam hidupnya.
"Tolong tunjukkan koleksi sepeda terbaik Anda yang bisa dipakai untuk membonceng, Tuan," sahut Cecilion santun, berkat ajaran dari Kees.
Pria tua itu mengangguk. "mari masuk, Tuan. saya memiliki beberapa model yang sepertinya akan sangat cocok untuk Anda."
Cecilion berjalan masuk ke dalam toko, mengikuti langkah sang pemilik toko hingga ia mendapati berbagai macam ukuran dan warna sepeda tersedia di dalam toko itu.
"Silakan dilihat-lihat dulu, Tuan. Ini adalah semua koleksi terbaik yang saya punya," ucap lelaki tua itu seraya merentangkan tangannya ke arah semua koleksi sepedanya yang sedang dilihat oleh Cecilion.
Cecilion mengamati dengan seksama setiap sepeda yang sudah berjajar rapi di hadapannya itu.
Dalam hati dia menimbang-nimbang, agaknya yang mana yang sesuai untuk ia pakai sehari-hari agar bisa ke sekolah dan bertemu dengan Mawar setiap hari seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Baiklah, saya ambil yang warna hitam ini, Tuan," kata Cecilion mantap setelah menemukan sepeda yang sesuai dengan seleranya.
Tanpa perlu melakukan kegiatan tawar menawar, sang Tuan toko sendiri sudah sepakat untuk memberikan harga diskon kepada Cecilion karena pemuda tampan itu adalah pelanggan tertampan yang pernah dia jumpai selama puluhan tahun menjadi pemilik toko sepeda.
Cecilion jelas senang dan berterima kasih mendapatkan harga yang sedikit miring, ia lalu membayar sepedanya itu dengan sedikit terburu karena tak sabar ingin segera pergi ke pusat kota.
Sepeda itu dikayuh oleh Cecilion dengan hati senang, melewati jalanan kota Batavia seraya menikmati semilir angin yang menerpa helaian rambut serta kulitnya.
Sambil bersenandung kecil Cecilion menikmati perjalanannya menuju pusat kota meski itu cukup jauh dan memakan waktu.
Tak pernah Cecilion sangka sebenarnya bahwa kekuatan cinta akan membuatnya sampai rela melakukan hal ini hanya demi menemui kekasihnya.
Namun ia tak merasa menyesal barang sedikit, Cecilion merasa bahagia bisa melakukannya demi Mawar yang ia cintai.
Rasa lelah bahkan tak dirasakan oleh Cecilion, ia menikmati proses ini hingga tanpa terasa akhirnya ia berhasil tiba di depan gerbang sekolah.
"Ternyata aku mampu juga melampaui jarak sejauh itu hanya dengan bermodalkan sepeda," gumam Cecilion yang bangga kepada dirinya sendiri.
"Cecilion van der Linen, kamu kah itu?!"
Cecilion yang merasa terpanggil kontan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dengan penasaran.
"Ada apa, Kees?"
"Darurat! Ayo cepat kita pergi sekarang juga, aku akan menjelaskannya di perjalanan!"
"Hei tunggu dulu, setidaknya katakan padaku apa yang terjadi?!"
"Cepatlah, Lio! Kita tidak punya waktu!" sentak Kees, membuat Cecilion terkejut sekaligus bingung melihat sikap sahabat karibnya itu.
"Biar aku saja yang mengemudikan sepedanya," ucap Kees cepat, mengambil alih kemudi sepeda milik Cecilion ditengah kebingungan yang menyelimuti pemuda berambut hitam itu.
Sebenarnya apa yang terjadi sampai Kees bersikukuh enggan menjelaskan situasinya?
__ADS_1