Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 25 : Voogd Ridder


__ADS_3

Langit cerah pagi itu membuat Mawar De Haas bersenandung kecil, menikmati semilir angin pagi seraya mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Ada yang berjalan kaki seperti Mawar, ada pula yang menggunakan kendaraan seperti sepeda dan mobil tanda sibuknya kota Batavia sejak dulu.


Gadis berparas elok bak dewi itu sedang dalam perjalanan menuju sekolah, setelah ia dan sang Mama berhasil membujuk Papanya agar berhenti marah kepada Mawar dan membiarkan gadis itu kembali ke sekolah setelah beberapa hari ia absen.


Membujuk Tuan De Haas yang keras kepala memang sangat sulit kalau tanpa bantuan dari Nyonya De Haas sang istri, hal itu tentu saja membuat Mawar tak habis pikir bagaimana bisa Papa dan Mamanya tetap dapat selalu rukun meski memiliki kepribadian yang sungguh berbanding terbalik bagaikan air dan api.


Meski begitu, Mawar bahagia memiliki orang tua yang rumah tangganya sangat harmonis meski memiliki amat banyak perbedaan.


Hal itu tentu saja membuat Mawar juga ingin memiliki rumah tangga yang sama harmonisnya dengan sang kekasih kelak. Ya, perasaannya kepada Cecilion kian mengerat hari demi hari membuat Mawar merasa lebih bersemangat menjalani hari-harinya.


"Ah, apa yang aku pikirkan? Tidak seharusnya aku sudah memikirkan soal pernikahan! Aku dan Lio bahkan belum lulus dari sekolah!" Mawar berseru kepada dirinya sendiri sambil memukul pelan kepalanya menggunakan telapak tangan, berupaya menyadarkan dirinya sendiri.


"Hari yang cerah bukan, kekasihku? Seperti biasanya kamu terlihat sangat cantik," kata Cecilion yang tiba-tiba sudah berada di sisi kiri tubuh Mawar membuat gadis itu tersentak kecil, kaget karena kedatangan Cecilion yang tiba-tiba.


"Kamu membuatku terkejut!" seru Mawar, mencubit pelan perut Cecilion membuat sang adam terkekeh geli.


"Terkejut? Kamu pasti sedang melamun, 'kan? Jangan bilang kamu sedang memikirkan aku?"


goda Cecilion seraya menggamit pergelangan tangan Mawar dengan lembut, membawa sang pujaan hati berjalan sejajar dengannya.


"Hei, lepaskan! Aku malu kalau orang-orang tahu kalau kita ini adalah pasangan kekasih," bisik Mawar sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Cecilion.


"Kenapa harus malu? Toh, kita berdua 'kan memang saling menyukai," sahut Cecilion cuek sambil tetap menggenggam tangan Mawar sambil meneruskan langkah mereka menuju sekolah.

__ADS_1


Pipi kedua pasangan kasmaran itu nampak merah padam, begitu merona tanda bahwa keduanya masih sama-sama malu untuk memamerkan kemesraan mereka di depan banyak orang.


Merasa sekolah sudah tidak jauh lagi, Mawar dan Cecilion melepaskan genggaman tangan mereka lantas berjalan dengan sedikit jarak menuju kelas.


"Kenapa kalian berhenti bergandengan tangan? Padahal itu terlihat sangat romantis," ledek Kees yang sudah menanti pasangan baru itu tiba di depan pintu kelas.


"Kami tidak boleh bermesraan di sekolah," sahut Cecilion enteng sambil membawa Mawar untuk duduk di bangkunya.


Hal itu tentu saja menarik perhatian para siswa lain yang sedang ada di dalam kelas pagi itu. Mereka tentu jadi penasaran mengenai hubungan antara Mawar dan Cecilion setelah mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Kees.


"Tunggu dulu, memangnya apa hubungan kalian berdua?" tanya Anne dengan pandangan merendahkan yang ia tujukan kepada Mawar.


"Mawar adalah kekasihku, memangnya kenapa?" balas Cecilion dengan pandangan menantang.


"Apa?! Kamu berpacaran dengan sampah seperti dia? Hei, Cecilion van der Linen apa kamu tidak bisa menemukan gadis yang lebih baik?!" suara Anne meninggi, merasa begitu kesal mendengar pengakuan yang begitu mengejutkan dari Cecilion.


Mendengar Anne mengatakan hal yang sangat tidak pantas tentang kekasihnya, tentu saja membuat emosi Cecilion terpancing.


Pemuda tampan itu bangkit dari duduknya lantas memandang tajam kepada Anne.


"Kau bilang Mawar sampah? Apa kau lupa dari mana sumber harta orang tuamu yang tidak seberapa itu kalau bukan dari bantuan pinjaman dana dari Tuan dan Nyonya De Haas?" tekan Cecilion, membuat semua orang yang mendengarnya kontan kaget.


"Selama ini aku selalu menahan diri karena kau adalah perempuan, tapi kalau kau berani sampai melukai Mawar maka aku tak akan segan untuk balas melukaimu. Camkan itu baik-baik!" ucap Cecilion dengan pandangan yang begitu menusuk, hingga Anne kehabisan kata-katanya.


Sungguh, semua orang tidak menyangka bahwa Cecilion van der Linen yang selama ini sangat tenang dapat mengeluarkan emosi mengerikan seperti ini. Kees yang takut emosi Cecilion kian memuncak buru-buru mengusap punggung Cecilion berusaha membujuk pemuda itu agar tenang.

__ADS_1


"Kenapa kalian selalu memandang aku rendah, memperlakukan aku seperti sampah padahal aku tidak pernah melakukan setitik pun kesalahan kepada kalian?" tanya Mawar dengan derai air mata, sudah tak kuasa menahan beban yang selama ini ia pendam.


Orang-orang sering kali memperlakukan Mawar dengan sangat tidak adil, bahkan tak jarang ia mendapatkan tindakan diskriminasi.


"Mereka melakukan semua itu hanya karena merasa iri padamu, Mawar. Lihat? Mereka bahkan tak ada satu pun yang dapat menandingi dirimu dari segi apa pun," tukas Kees dengan tatapan tajam kepada Anne, mengingat gadis berambut cokelat itu kerap kali menjadi dalang dalam tindakan diskriminatif yang diterima oleh Mawar.


Terlahir dari Ayah Belanda dengan status sosial tinggi seta harta berlimpah tak menjamin kehidupan Mawar De Haas menjadi bahagia dan dihormati oleh orang banyak.


Orang-orang hanya datang kepadanya jika memerlukan bantuan dari Papa atau Mama Mawar, tak jarang membuat hati gadis itu merasa terluka.


Selama ini Mawar hanya memendam semuanya sendiri, ia enggan menceritakan semua yang ia alami kepada kedua orang tuanya.


Mawar tak ingin orang tuanya merasa khawatir atas apa yang ia alami.


"Apa katamu? Iri? Untuk apa aku iri kepada seorang putri yang lahir dari rahim Inlander yang rendahan dan bodoh itu?"


'BRAAAAKKK!'


Cecilion yang sudah semakin terpancing emosinya tanpa diduga menggebrak meja, membuat seisi kelas itu seketika hening merasa begitu tertekan dengan aura intimidasi yang dikeluarkan oleh lelaki tampan itu.


"Berhentilah mengatakan hal yang tidak masuk akal, Anne. Aku bisa menuntutmu kapan saja jika aku mau, apakah kau ingat siapa aku?" ucap Cecilion tegas.


Cecilion meraih tangan Mawar, menggenggamnya erat masih dengan pandangan setajam sebilah pedang baru seolah siap menguliti siapa pun yang berani mengganggu apalagi sampai melukai Mawar sang terkasih.


"Jangan melupakan batasanmu, Anne. Aku sama sekali tidak sungkan untuk melakukan apa pun untuk melindungi Mawar kekasihku yang aku cintai ini!"

__ADS_1


Anne tersenyum licik. "kalau begitu mari kita lihat sampai sejauh mana hubunganmu dan perempuan sampah itu dapat bertahan."


__ADS_2