Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 41 : Langit Biru di Tanah Sumatera


__ADS_3

Suara dentingan halus hasil dari benturan kecil antara sendok dan permukaan gelas porselen di tangan Mawar memecah kesunyian, membuat Cecilion sang suami yang tengah asyik membaca koran berbalik memandang kepadanya.


"Apa yang sedang kamu buat?" sang adam bertanya dengan penasaran seraya melipat koran yang ada di genggamannya, meletakkan koran itu di atas meja kaca di hadapannya kemudian.


"Membuat teh melati. Kemarin Kakek sempat mampir sebentar kemari, memberikan aku beberapa kantung teh lalu aku menambahkan sedikit melati kering agar terasa lebih nikmat," jelas Mawar sambil menyodorkan gelas di tangannya kepada Cecilion.


"Cicipilah lebih dulu, aku yakin rasanya lebih nikmat dari teh biasa," titah Mawar lalu meracik satu gelas teh lagi untuk dirinya sendiri.


Cecilion hanya tersenyum tipis, meniup perlahan permukaan gelas pemberian istrinya.


Aroma unik perpaduan antara teh dan bunga melati menyapa indra penciuman milik Cecilion membuat senyum pemuda itu kian merekah.


Setelah merasa tehnya sudah cukup dingin untuk diminum, Cecilion mulai menyesap minuman hangat itu hingga mulut dan tenggorokannya merasakan sensasi tak biasa yang belum pernah ia rasakan dari minuman mana pun.


Oh, ternyata selera istrinya memang hebat!


"Ini benar-benar lebih dari sekedar nikmat, sayang! Kamu memang pandai meracik minuman lezat," puji Cecilion tepat setelah ia meminum segelas teh itu hingga tandas.


"Benarkah?" tanya Mawar tak percaya, lalu buru-buru mencicipi teh buatannya.


Ternyata apa yang dikatakan oleh sang suami benar adanya.


Teh itu terasa luar biasa, aromanya menggugah selera pun memberikan efek rileks pada tubuh membuat Mawar tersenyum puas.


"Aku tidak menyangka kalau rasanya akan senikmat ini!" Mawar berseru girang, mematik tawa geli dari Cecilion.


"Iya iya, teh buatanmu memang luar biasa. Kalau begitu mari kita langsung menyantap sarapan bukankah kita harus berangkat ke pasar hari ini? Paman Muhsin juga pasti sedang dalam perjalanan dari rumah Kakek," kata Cecilion panjang lebar.


Mawar mengangguk patuh.


Wanita muda itu lalu menggiring suaminya menuju meja makan tempat ia telah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Ada empat potong roti yang telah dipanggang dengan sempurna oleh Mawar di atas meja itu, tersaji dengan nikmat lengkap dengan aroma menggugah selera.


"Bagaimana bisa kamu memanggang roti dengan tingkat kematangan sempurna menggunakan kayu bakar?" Cecilion berdecak kagum, melihat hasil masakan sang istri yang luar biasa.

__ADS_1


"Aku hanya memperkirakan tingkat kematangannya, syukurlah jika kamu suka," balas Mawar sambil mulai memotong rotinya menggunakan pisau makan.


Aroma roti panggang yang nikmat membuat pasangan muda itu makan dengan lebih nikmat sambil berbincang ringan.


Mereka sungguh nampak seperti pasangan yang diberkati dari surga, benar-benar harmonis dan menyenangkan untuk dipandang.


"Apa kamu terpikir untuk memiliki anak dalam waktu dekat?" Cecilion bertanya seraya menyingkirkan alat makannya sebab roti panggang miliknya telah habis.


"Aku tidak mungkin menolak jika Tuhan sudah memberikan kita anugerah seindah itu," jawab Mawar dengan seulas senyum.


"Memangnya kamu sudah menginginkan kehadiran seorang anak?" Mawar balik bertanya kepada suaminya.


Cecilion menggeleng pelan. "untuk saat ini belum. aku ingin memperbaiki kehidupan ekonomi kita lebih dulu, namun jika Tuhan sudah berkehendak untuk memberikan satu tentu saja aku akan terima dengan senang hati."


Mawar setuju dengan ucapan suaminya.


Kehidupan ekonomi mereka belum terlalu stabil untuk memiliki seorang anak.


"Kurasa kamu memang benar, suamiku."


"Bagaimana? Apa suasananya menyenangkan?" Cecilion bertanya sambil mengangkat hasil perburuan mereka di pasar, alias belanjaan hari ini dengan kedua tangannya.


Senyum Mawar merekah dengan cantik, menandakan wanita muda itu merasa senang.


"Tentu saja! Aku senang bisa berbelanja banyak hal dan memenuhi semua kebutuhan kita yang selama ini masih kurang," jawab Mawar riang.


Berbeda dengan sang suami yang tengah kerepotan dengan semua barang belanja mereka, Mawar malah sibuk berjalan sambil menikmati jajan pasar yang ada di kedua tangannya.


"Selama tinggal di Batavia kita belum pernah pergi ke pasar seperti ini," tambah Mawar sambil menyuapi suaminya jajanan pasar yang sejak tadi ia nikmati.


Cecilion mengangguk dengan mulut penuh, turut merasa senang melihat senyuman Mawar yang semakin cantik karena rasa bahagia itu.


Pasar Enam Belas Ilir yang terletak di pusat kota Palembang itu memang memiliki panorama yang unik yakni terbentang di tepi Sungai Musi di mana mereka dapat berbelanja sambil melihat kapal-kapal berbagai ukuran dan muatan berlalu lalang dari dekat, sebuah pemandangan unik yang tak pernah dilihat oleh Mawar dan Cecilion sebelumnya.


"Berapa harga ikannya, Bibi?" tanya Mawar kepada salah seorang Bibi penjual ikan sungai.

__ADS_1


"Harganya tiga gulden, Nyonya," jawab sang pedagang.


Mawar mengeluarkan uang dari tasnya, memberikan uang itu kepada Bibi penjual dengan seulas senyum.


"Ini uangnya, Bibi, tolong dibungkus ya," ucap Mawar santun.


Bibi penjual ikan sungai itu tentu saja terpaku karena kecantikan serta keindahan sopan santun yang Mawar miliki.


Namun, wanita paruh baya itu buru-buru membungkus ikan pesanan Mawar.


"Ini ikannya, Nyonya. Tunggu sebentar saya akan ambilkan kembaliannya," ucap si Bibi penjual sambil mencari uang kembalian untuk Mawar.


Mawar menggeleng dengan seulas senyum.


"Tidak perlu, Bibi. ambil saja kembaliannya."


"Terima kasih banyak, Nyonya. Semoga Tuhan selalu memberkati Anda dan keluarga," kata sang Bibi berterima kasih.


"Aku rasa Papa dan Mama mertua memang mendidik kamu dengan sangat baik," puji Cecilion.


"Papa mendidik aku dengan keras dan tegas, sementara Mama mendidik aku dengan lembut dan penuh kasih sayang, inilah yang membuat aku seperti memiliki dua sisi dalam diriku," terang Mawar seraya menuntun Cecilion untuk duduk di tepi sungai bersamanya.


Sejenak, Mawar ingin menikmati waktu senggang di luar rumah bersama suaminya mengingat selama ini Cecilion hanya sibuk bekerja sementara ia menghabiskan waktunya seorang diri di rumah.


"Kamu beruntung memiliki orang tua yang penuh kasih," Cecilion bergumam, membuat Mawar memusatkan atensi sepenuhnya kepada sang suami.


"Kamu tidak perlu mengungkit luka lama, suamiku. Jadikan semua yang pernah kamu alami di masa lalu sebagai pelajaran agar kelak kita dapat mendidik anak kita dengan baik dan menjalani hidup dengan lebih baik pula," tukas Mawar bijak, mengusap lembut patahan rahang indah bak pahatan milik Cecilion.


"Langit tanah Sumatera ini terlalu indah untuk kita isi dengan kesedihan, cintaku. Ingatlah perjuangan kita untuk sampai ke sini, Cecilion van der Linen."


Cecilion menyandarkan kepalanya pada bahu rendah Mawar. "aku tahu, tapi terkadang aku juga merindukan Mama sambil terus memikirkan bagaimana nasibnya setelah Papa menyakiti beliau seperti itu."


Mawar mengusap helaian surai suaminya dengan lembut, berusaha memberikan kekuatan meski dirinya sendiri pun merasa goyah akan rindu kepada Mama dan Papanya yang kini berada jauh di pulau seberang.


Tetapi, kini tak ada pilihan lain bagi Mawar dan Cecilion selain tetap bertahan dengan jalan hidup yang mereka pilih bersama apa pun konsekuensinya.

__ADS_1


__ADS_2