Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 42 : Munajat Sepasang Kekasih


__ADS_3

Suara tapal kuda yang sedang berlari kecil terdengar cukup nyaring sore itu, membuat beberapa warga yang sedang bersantai di halaman rumah mereka sejenak mengalihkan atensi mereka kepada sumber suara.


Nampak sebuah kereta kuda yang dikendarai oleh Paman Muhsin memasuki kawasan pinggiran kota setelah sempat melewati jalan utama kota beberapa saat yang lalu.


Kereta kuda itu memang nampak agak mencolok, mengingat jarang ada kereta kuda yang lewat di kawasan itu.


Di dalam kereta kuda, Paman Muhsin tidak sendiri, di bangku penumpang yang ia bawa ada Cecilion dan Mawar lengkap dengan beraneka ragam barang yang mereka beli dari pasar Enam Belas Ilir tadi siang.


Ini adalah akhir bulan pertama keduanya sebagai pasangan suami istri, masih pengantin baru yang hangat dan mesra tak heran senyuman masih begitu merekah di wajah keduanya seolah tak dapat luntur.


"Oh, itu Tuan dan Nyonya Van der Linen! Lihatlah mereka memang sangat tampan dan cantik seperti sepasang malaikat," kata salah seorang wanita pribumi sepuh yang menyaksikan kereta kuda itu berlalu dengan tatapan kagum.


"Iya, Bibi benar. Mereka juga sangat baik dan ramah kepada siapa pun, aku jadi heran kenapa mereka memilih untuk tinggal di sini padahal Batavia tempat mereka berasal jauh lebih makmur," timpal salah seorang ibu muda yang sedang menyisir rambut anak perempuannya.


"Siapa bilang Batavia lebih makmur?" tanya seorang pria pribumi yang sedang mengelap jendela rumahnya.


"Aku pernah bekerja sebagai Jongos di sana, namun malah mendapatkan majikan yang sangat kasar sangat jauh berbeda dengan perangai Tuan Van der Linen yang begitu baik. Para Tuan dan Nyonya di sana sangat boros, suka menghamburkan uang karena suka berpesta sampai pagi. Tapi kudengar, gubernur Batavia itu memiliki seorang anak laki-laki yang hilang entah kemana," tambah pria itu kemudian.


"Benarkah itu? Bagaimana bisa anak seorang gubernur hilang begitu saja?" tanya sang ibu muda penasaran.


"Betul! Disaat bersamaan ada juga seorang pengusaha kaya raya yang kehilangan anak perempuan satu-satunya, aku pikir mereka melarikan diri bersama," ucap si pria masih sibuk mengelap jendela, asyik menuturkan cerita yang ia dengar saat masih bekerja di Batavia dua minggu yang lalu sebelum akhirnya kembali pulang kemari usai kontrak kerjanya habis.


"Apa mereka masih belum ditemukan?" tanya sang wanita sepuh.


Pria itu menggeleng. "belum, mereka belum berhasil ditemukan sampai akhirnya aku pulang kemari. sepertinya mereka melarikan diri ke tempat yang jauh hingga sulit ditemukan."


Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain kala itu cukup jauh, membuat beberapa warga terkadang memutuskan untuk berkumpul di satu rumah warga saat ingin berbincang satu sama lain membahas berbagai topik hangat.

__ADS_1


Kejadian seperti itu adalah hal lumrah ditemukan saban hari di berbagai daerah Nusantara.


Pasangan Van der Linen pun akhirnya tiba di rumah mereka dengan selamat.


Keduanya mulai menurunkan barang belanjaan yang begitu banyak dibantu oleh Paman Muhsin tak lupa langsung membawa semua belanjaan masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih sudah mengantarkan kami, Paman Muhsin. Kami ada sedikit buah tangan untuk anak dan istri Paman di rumah," ucap Cecilion santun sambil memberikan sekantung buah dan sayur kepada Paman Muhsin.


"Tidak perlu, Tuan... " Paman Muhsin tentu saja merasa tidak enak hati, sebab setiap kali ia mengantar Pasangan suami istri ini, mereka selalu memberikan oleh-oleh untuk anak dan istrinya.


"Tolong terima saja, Paman. Kami terlalu banyak membeli buah dan sayur. Sampaikan salamku kepada Bibi dan adik-adik ya, Paman," pungkas Mawar dengan lembut lagi santun, membuat Paman Muhsin menerima pemberian mereka.


"Terima kasih banyak, Tuan dan Nyonya Van der Linen. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda berdua," tutup Paman Muhsin kemudian pamit undur diri.


Hari yang telah beranjak senja membuat Mawar dan Cecilion langsung masuk ke dalam rumah tak lupa menutup dan mengunci semua pintu serta jendela yang ada di rumah mereka.


"Kakek bilang Paman Muhsin punya tiga orang anak dan mereka semua masih kecil. Tentunya mereka butuh asupan gizi yang cukup," jawab Mawar seraya menyusun bahan makanan yang telah dibawa masuk oleh sang suami ke dalam lemari penyimpanan makanan.


"Apakah ada diantara mereka yang sudah masuk sekolah?" Cecilion kembali bertanya, memperhatikan sang istri yang memusatkan atensinya pada bahan-bahan makanan.


"Tidak ada yang bersekolah, Nenek juga pernah bilang bahwa kehidupan mereka terlalu miskin untuk sekedar mendapatkan pendidikan," Mawar menjawab dengan sedih.


"Sungguh malang, padahal ayahnya bekerja sejak pagi hingga malam namun belum juga cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka," Cecilion juga nampak sendu, merasa simpati terhadap kehidupan keluarga kusir mereka.


Kemiskinan bukanlah hal baru.


Pada masa itu, orang yang kaya akan dengan mudah untuk menjadi semakin kaya sementara orang-orang miskin akan terus diperdaya, dipekerjakan dengan gaji yang tidak sesuai hingga akhirnya hidup mereka semakin sengsara.

__ADS_1


Mawar sebetulnya sedih kenapa negeri yang kaya raya ini penduduk aslinya malah harus hidup dibawah garis kemiskinan.


Biar bagaimana pun, Kakek, Nenek dan Mamanya adalah orang pribumi seperti mereka hanya saja bernasib sedikit lebih beruntung.


"Katakan saja pada Paman Muhsin besok untuk membawa anaknya kemari pada hari sabtu. Aku ingin mengajarkan cara menulis dan membacanya kepada anak-anak Paman Muhsin," ucap Mawar penuh ketulusan.


Sejenak, Cecilion terdiam memandang lekat kepada sang istri mencari tahu agaknya apa yang ada di pikiran wanita muda itu.


Namun setelah itu Cecilion menyadari, yang ingin istrinya lakukan adalah berbagi kebaikan dengan caranya sendiri.


Senyuman bangga terlukis di wajah apas milik Cecilion kemudian, ia mengangguk memberikan persetujuan.


"Ya. Aku akan mengatakannya pada Paman Muhsin besok. Setiap hari sabtu aku akan pulang lebih awal agar bisa ikut membantumu mengajarkan anaknya Paman Muhsin dan beberapa anak lain," ucap Cecilion.


"Beberapa anak lain?" tanya Mawar agak bingung.


"Tentu. Aku akan mengundang juga anak-anak tetangga kita yang tidak mampu untuk bersekolah untuk belajar di sini. Tidak banyak kok, hanya ada tiga orang, bagaimana?"


Mawar mengangguk setuju. "tentu. aku harap, setelah ini kehidupan mereka semua akan menjadi lebih baik, suamiku."


"Semoga saja, istriku. Kita harus menanamkan kebaikan sebanyak-banyaknya selagi Tuhan memberikan kita kesempatan," imbuh Cecilion.


Senyum kembali terpatri di wajah Mawar.


Dia sungguh merasa bangga serta bahagia bisa memiliki suami berhati malaikat seperti Cecilion van der Linen ini.


"Iya. kamu benar, suamiku. Tidak ada hal lain yang lebih penting selain berbuat kebaikan."

__ADS_1


Pasangan itu kemudian mulai berdiskusi membahas rencana yang akan mereka lakukan mulai pekan depan tersebut, dengan satu harapan bahwa sedikit uluran tangan dari mereka berdua dapat membantu negeri ini agar dapat terlepas dari cengkraman penjajahan suatu saat nanti.


__ADS_2