
Cecilion lalu berbisik. "percayalah kepadaku, sayang. aku akan melindungi dirimu bagaimana pun caranya, tak peduli sekali pun aku yang harus mati tapi kamu harus tetap hidup dan melahirkan anak kita dengan selamat."
Tangis Mawar kian tersedu mendengar bisikan sang suami, sungguh, wanita itu pasti tak akan sanggup jika harus melanjutkan hidupnya tanpa sang suami di sisinya.
Namun, kini mereka tak banyak memiliki pilihan hingga mau tak mau harus melakukan segala cara agar ada yang bisa tetap hidup.
Buah hati mereka adalah satu-satunya alasan bagi pasangan muda itu untuk berusaha tetap bertahan dan melakukan berbagai cara agar mereka bisa tetap bertahan.
"Tunggulah di sini dengan tenang, istriku. Aku hanya akan pergi melihat keluar sebentar," imbuh Cecilion, menepuk-nepuk lembut punggung istrinya.
Sang hawa akhirnya hanya bisa mengangguk, mengalah untuk mengikuti ucapan suaminya. Dengan berat hati wanita cantik itu melepaskan pelukannya, berharap di dalam hati agar mereka bisa segera meloloskan diri dari situasi yang sangat mengerikan ini.
Langkah lunglai diambil oleh Mawar kemudian, ia beringsut menuju bale tempat mereka tidur semalam sementara Cecilion mulai beranjak keluar dari rumah itu dengan hati-hati.
Mawar memandang nanar ke arah lantai tanah yang ada di bawah kakinya, sibuk bergumul dengan isi kepalanya sendiri meski air mata masih begitu jelas membasahi wajahnya yang begitu ayu tersebut.
Wanita itu kini nampak begitu menyedihkan, pakaiannya nampak sedikit kotor karena harus tidur di tempat yang tidak bersih, terlebih ia belum makan apa pun selain sarapannya kemarin.
Perut Mawar rasanya sangat lapar sekaligus perih, rasanya ia tak akan sanggup bertahan lebih lama lagi sebab rasanya sangat menyakitkan.
"Tunggu sebentar ya, sayang. Papamu akan segera kembali lalu kita akan makan yang banyak," gumam Mawar seraya mengusap perutnya sendiri.
Mawar menghela napas panjang, air mukanya nampak begitu resah hingga nampak bulir-bulir keringat sebesar biji jagung menghiasi kening mulusnya. Keadaan mencekam ini benar-benar membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.
"Lihat! Di sana ada orang Belanda!"
"Itu dia! Ayo cepat tangkap dia!"
"Hei, jangan mencoba untuk kabur!"
Mendengar suara itu, buru-buru Mawar bangun dari duduknya dengan sisa tenaga yang dia miliki meski tenaganya sudah tidak banyak lagi.
Melihat ada sebuah kayu balok yang cukup besar di balik pintu, Mawar buru-buru mengambil kayu itu berharap ia bisa menggunakan kayu itu dengan bijak.
__ADS_1
"Oh, tidak! Jangan sampai mereka menangkap suamiku!" gumam Mawar sambil berjalan dengan hati-hati mendekati jendela rumah guna melihat apa yang terjadi.
Namun, harapan Mawar hanyalah tinggal harapan semata. Cecilion Van der Linen, sang suami kini sudah diamankan oleh tiga orang tentara Nippon tak jauh dari rumah tempat Mawar bersembunyi.
Tangan-tangan keji para tentara itu mulai memukuli tubuh Cecilion yang tak bersalah, dan tentunya itu membuat Mawar naik pitam.
Tanpa pikir panjang, wanita yang tengah hamil besar itu keluar dari rumah persembunyiannya dengan kayu balok dalam genggaman tangannya.
Sepasang mata yang biasanya bersorot teduh itu kini nampak berapi-api, menyuarakan emosinya yang sudah menggelegak.
"Tidak, istriku, jangan mendekat!" teriak Cecilion dalam bahasa Belanda.
Namun, Mawar tidak menggubris teriakan suaminya. Ia hanya ingin berusaha menyelamatkan suaminya agar mereka berdua bisa pergi bersama-sama setelah ini.
Para tentara bertubuh kerdil namun bengis dan kejam itu lantas mengalihkan atensi mereka kepada Mawar yang tengah melangkah tanpa ragu mendekati mereka.
"Jangan pukul suamiku!" Mawar berseru marah, mengayunkan balok kayu yang ada di tangannya tanpa ragu kepada tiga tentara Jepang itu.
"Aku tidak peduli sekali pun aku harus mati, tapi aku tak akan rela jika kalian menyakiti suamiku!" pekik Mawar semakin marah saat pukulannya tak mengenai satu pun tentara itu.
Mawar tetap tak gentar. Ia terus mengayunkan balok kayu di tangannya dengan membabi buta, berharap setidaknya satu saja dari serangannya dapat mengenai orang-orang jahat tak berperikemanusiaan itu.
'BUUUKKKKHHHH!'
Akhirnya, satu serangan telak mengenai dua orang sekaligus yang membuat Mawar buru-buru menarik tangan suaminya agar bisa bangkit dari posisi duduknya.
Wajah tampan Cecilion kini terlihat memprihatinkan dengan luka lebam serta beberapa tetes darah menghiasi beberapa titik wajahnya.
"Cepat, kita harus pergi!" pekik Mawar, berusaha tetap menuntun langkah sang suami walau tertatih.
'DOOOOOORRR!'
Langkah Cecilion Van der Linen terhenti, berbarengan dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Tidaaaaakkk! Bertahanlah, suamiku!" teriak Mawar histeris, berusaha membantu Cecilion yang sudah jatuh tersungkur di atas tanah sekuat tenaganya.
"Larilah, istriku... Aku rela mati sekarang juga asalkan kamu bisa selamat..." kata Cecilion dengan suara yang sudah parau, berusaha meraih wajah istrinya dengan tangannya yang sudah basah oleh darah.
Tentara Nippon yang tidak terkena pukulan Mawar itu berhasil melukai Cecilion tepat di jantung lelaki malang tersebut.
Darah yang terasa hangat itu terus mengalir deras membasahi tubuh Cecilion yang kini juga mulai membasahi gaun Mawar.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Cecilion Van der Linen!" tangis Mawar semakin menjadi, namun ia sungguh tak dapat melakukan apa pun.
Walau rasa sakit yang kini sedang dirasakan oleh Cecilion sangatlah luar biasa tetapi lelaki itu tetap berusaha tersenyum untuk yang terakhir kalinya di hadapan sang istri tercinta.
Cecilion tahu, hari ini adalah akhir dari hidupnya dan ia sudah merasa benar-benar gagal melindungi istrinya yang amat ia cintai.
"Sudah terlambat, sayang... Pergilah... Aku tidak akan bisa menemanimu lebih lama lagi... Terima kasih sudah sudi menjadi istriku... Mawar de Haas.. Aku sangat mencintaimu... Kuharap kita bisa kembali bertemu di kehidupan selanjutnya, cintaku..."
Senyuman indah milik Cecilion perlahan mulai pudar, seiring dengan hilangnya kesadaran lelaki itu sepenuhnya.
Tangan Cecilion yang tengah membelai pipi Mawar pun terjatuh, bersamaan dengan helaan napasnya yang terakhir, terasa begitu hangat namun menyakitkan.
Cecilion Van der Linen, lelaki tampan itu telah kembali ke pangkuan Tuhan dengan cara yang sangat menyakitkan.
Tetapi, Cecilion sama sekali tidak menyesali hal itu, ia hanya bisa menjaga Mawar sampai di sini walau kini nyawanya sudah terenggut.
"Tidaaaaakkk! Aku mohon jangan ambil suamiku, Tuhan! aku mohon jangan!"
Teriakan serta tangisan Mawar menjadi satu pagi itu, menyuarakan rasa sakit yang ia alami dengan begitu tegas dan nyata.
"Kembalikan suamiku, Tuhan! Aku tidak akan bisa hidup tanpa suamiku! Aku mohon, Tuhan!" teriakan Mawar kian pilu, terdengar begitu menyakitkan bagi alam.
Langit yang tadinya terang mulai menggelap, menghantarkan awan hujan yang akhirnya turun membasahi Bumi Sriwijaya seolah turut merasakan pilunya hati Mawar.
Mawar kembali merengkuh tubuh suaminya yang sudah tak lagi bernyawa, berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk menerima takdir pahit lagi menyakitkan ini meski air mata tak hentinya keluar dari pelupuk mata indahnya.
__ADS_1
Tubuh Cecilion yang saat ini sudah kaku dan dingin itu membuat tangis Mawar terdengar semakin memilukan lebih dari hal menyedihkan mana pun.
"Bagaimana pun caranya, aku akan membunuh mereka semua yang telah menghilangkan nyawa suamiku!" seru Mawar tatkala dendam sudah merasuk ke dalam hatinya.