Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 52 : Anugerah yang Dinantikan


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu, Mawar tetap berusaha melanjutkan hidupnya, menyibukkan diri dengan merajut dan menyulam setiap harinya.


Meski harus hidup dalam keadaan yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya sebelumnya, Mawar tetap bersyukur karena masih dipertemukan oleh Tuhan dengan orang-orang baik seperti Saritem dan warga desa lainnya yang selalu memperlakukan Mawar dengan begitu baik meski kini statusnya bukan lagi sang Nyonya.


"Kenapa Nyonya masih menyulam? Ini sudah petang, Anda harus segera beristirahat," celoteh Saritem saat mengetahui bahwa lentik jemari milik Mawar masih sibuk menyulam, hendak membuat motif bunga mawar pada selimut bayi yang cantik berwarna biru hasil rajutannya.


Mawar mendesah kecewa. "sedikit lagi akan selesai, Ibu. rasanya tanggung sekali kalau tidak saya selesaikan sekarang juga."


Saritem menghela, ya, wanita muda itu memang agak sulit dilarang untuk merajut dan menyulam belakangan ini.


Hal itu memang bagus untuk Mawar tetapi disisi lain Saritem tetap saja khawatir kalau Mawar akan kelelahan karena sering memaksakan diri.


"Baiklah, kalau begitu Nyonya selesaikan saja selimutnya saya akan masak untuk makan malam," Saritem menyahut sembari melenggang pergi menuju dapur.


Mawar hanya menanggapi dengan anggukan, kembali memusatkan atensinya pada hasil sulamannya yang sedikit lagi akan selesai.


"Sabar ya, Nak. Mama akan segera menyelesaikan selimut cantik ini untuk kamu," Mawar bergumam seraya mengusap perutnya yang sudah sangat buncit, tanda bahwa ia sepertinya bisa melahirkan kapan saja.


Warga desa bahkan sudah memanggil seorang dokter berkebangsaan Swiss yang kebetulan memang bermukim tak jauh dari desa mereka untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk Mawar.


Beruntung, semua hasil pemeriksaan Mawar selama ini selalu mendapatkan hasil yang baik --keduanya dalam keadaan yang sehat.


Tepat setelah Mawar merapikan peralatan sulamnya, tiba-tiba datang rasa nyeri luar biasa yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya merambati perut serta daerah kewanitaannya. Mawar meringis, memegangi perut buncitnya yang sudah terasa begitu keras. Sakit sekali, hingga Mawar tak kuasa menahan rasa sakit itu sampai air matanya pun ikut meleleh.


"Ibu Saritem... Ibu Saritem!" teriak Mawar yang sudah tak kuasa menahan rasa sakitnya.


Mendengar Mawar memanggil dengan suara yang tak biasa, Saritem buru-buru mematikan api dari tungku tanah liat miliknya lantas tergopoh-gopoh menghampiri Mawar yang sedang berada di kamar.


"Oh, astaga!" pekik Saritem tatkala ia melihat air ketuban sudah membasahi kedua kaki Mawar yang sedang menangis menahan sakit luar biasa yang menjalari dirinya.


"Anda akan segera melahirkan, Nyonya! Ayo, lekas kita ke tempat dokter Nathan!" Saritem berseru panik, membopong tubuh Mawar untuk berjalan ke luar rumah.


Dengan langkah tertatih-tatih, Mawar dibantu oleh Saritem untuk mencari siapa pun yang dapat membantu mengantarkan Mawar ke tempat dokter Nathan.


"Tolong! Tolong!" pekik Saritem setelah ia dan Mawar berhasil keluar dari rumah.


"Ada apa, Bibi?" tanya seorang pemuda yang kebetulan melintas di depan rumah Saritem.


"Tolong carikan bantuan, Jaka! Nyonya Van der Linen akan segera melahirkan!" seru Saritem panik yang akhirnya membuat sang pemuda berlari cepat, meminta bantuan kepada warga lain.

__ADS_1


Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya memang agak jauh, sehingga cukup memakan waktu jika harus ditempuh dengan cara berjalan kaki terlebih oleh Mawar.


Jaka berlari sambil terus berteriak bahwa Nyonya Van der Linen akan segera melahirkan, membuat para warga desa yang mendengarnya berbondong-bondong datang menuju rumah Saritem.


Dua orang pemuda desa bahkan berinisiatif membawa gerobak, sementara para ibu-ibu yang letak rumahnya paling dekat sibuk membantu Saritem menyiapkan berbagai kebutuhan untuk persalinan.


"Ayo, cepat bantu Nyonya naik ke gerobak!" perintah Pak Midun, sang kepala desa setelah melihat dua pemuda yang tengah mendorong gerobak.


Dibantu oleh beberapa orang warga, Mawar akhirnya berhasil duduk di atas gerobak yang langsung didorong tanpa membuang banyak waktu oleh para pemuda menuju kediaman dokter Nathan.


"Cepat, kawan-kawan! Kalau kita terlambat bisa berbahaya untuk Nyonya dan anaknya!" seru Jaka sambil mendorong gerobak seraya berlari, berusaha menyamakan kecepatan dengan dua orang temannya.


Perasaan mereka semua campur aduk antara khawatir sekaligus bahagia, menantikan kelahiran anak Van der Linen yang selama ini sudah ditunggu-tunggu.


"Dokter Nathan! Dokter Nathan!" panggil Jaka dengan suara lantang saat gerobak yang ia dorong bersama pemuda lainnya sudah memasuki pekarangan rumah sang dokter.


Mendengar namanya dipanggil dengan begitu kencang, Dokter Nathan yang sedang membaca surat kabar lantas beringsut keluar rumah dengan langkah tergopoh-gopoh.


Dokter muda itu membuka pintu rumahnya, dan betapa kagetnya ia saat mendapati hampir setengah dari warga desa datang memenuhi halaman rumahnya dengan seorang wanita yang sedang hamil tua duduk di atas gerobak.


"Dokter Nathan, tolong bantu Nyonya Van der Linen! saya rasa dia akan segera melahirkan," ucap Pak Midun cepat seraya membantu Jaka menurunkan Mawar dari gerobak.


"Biarkan saya yang membantu Anda, dokter Nathan," sahut Saritem cepat, lantas turut masuk dengan semua barang-barang yang sudah ia siapkan bersama ibu-ibu lainnya tadi.


Tubuh Mawar kemudian dibaringkan di atas bangsal dengan posisi siap melahirkan.


Jantungnya berdegup hebat, tegang sekaligus takut meski hari ini sebenarnya adalah hari yang telah lama ia dan Cecilion nantikan.


"Suamiku... Aku akan melahirkan anak kita, kumohon doakan aku agar semuanya bisa berjalan dengan lancar," lirih Mawar dengan mata terpejam seraya menggenggam erat cincin kawin milik suaminya.


Cincin kawin itu adalah satu-satunya milik Cecilion yang bisa Mawar genggam saat ini, berusaha mengumpulkan semua kekuatannya agar dapat melahirkan buah cinta mereka dengan selamat.


"Nyonya Van der Linen, dengarkan saya," kata Dokter Nathan meminta atensi Mawar.


Mawar mengangguk, bersedia mendengarkan arahan dari Dokter Nathan walau dengan wajahnya yang sudah basah oleh air mata.


"Pejamkan saja mata Anda jika merasa sulit. sekarang, tarik napas Nyonya dalam-dalam," Dokter Nathan sudah siap dengan peralatannya, berdiri di posisinya memberikan aba-aba kepada Mawar.


"Anda sudah siap, Nyonya Van der Linen?"

__ADS_1


"Ya, Dokter."


"Dalam hitungan ketiga, mari dorong, Nyonya!"


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!"


Mawar berusaha mendorong sekuat tenaganya agar sang buah hati bisa segera lahir, namun tenaganya masih belum cukup.


"Satu kali lagi, Nyonya Van der Linen. Ikuti aba-aba saya," ulang Dokter Nathan setelah melihat sudah ada pergerakan di sana.


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!"


Mawar memejamkan matanya, kembali mengeluarkan sisa tenaga yang ia punya berharap sekali lagi Tuhan bersedia menolongnya untuk kali ini saja.


Suara tangisan bayi yang melengking lalu memecahkan keheningan ruangan bersalin Dokter Nathan, membuat semua orang yang mendengarnya menghembuskan napas lega sekaligus rasa syukur mereka.


Dokter Nathan mengambil bayi yang masih berlumuran darah itu dengan seulas senyuman hangat, bersyukur kali ini bisa menyelamatkan dua nyawa sekali lagi.


"Nyonya Van der Linen, selamat. Anda telah melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan dan sehat," tutur Dokter Nathan yang membuat perasaan Mawar menjadi begitu bahagia.


"Terima kasih, Tuhan..." ucap Mawar lirih, mencium cincin kawin milik suaminya penuh syukur.


Dokter Nathan kemudian meminta Saritem untuk membersihkan bayi tampan itu, sementara ia memberikan perawatan pasca melahirkan kepada Mawar.


"Apa Anda baik-baik saja, Nyonya? Saya sudah mendengar semua ceritanya dari Pak Midun," tanya Dokter Nathan.


Mawar menghela. "saya tidak punya pilihan selain tetap baik-baik saja, Dokter. sekarang saya hanya bisa berharap bisa membesarkan buah hati kami dengan baik."


"Saya yakin Anda bisa, Nyonya. Saya akan selalu ada di sini jika Anda memerlukan bantuan," balas Dokter Nathan dengan seulas senyum.


Mawar balas menyunggingkan senyum meski wajahnya kini nampak sangat pucat layaknya mayat hidup.

__ADS_1


"Ya, Dokter Nathan, saya akan membutuhkan bantuan Anda tentu saja."


__ADS_2