Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 33 : Beledigd


__ADS_3

"Biar aku saja yang mengemudikan sepedanya," ucap Kees cepat, mengambil alih kemudi sepeda milik Cecilion ditengah kebingungan yang menyelimuti pemuda berambut hitam itu.


Sebenarnya apa yang terjadi sampai Kees bersikukuh enggan menjelaskan situasinya?


Tidak mau membuang lebih banyak waktu untuk berpikir terlalu jauh, Cecilion kontan mengangguk setuju dan membiarkan Kees mengambil alih kemudi sepeda barunya.


Dengan sigap, Kees mengayuh sepeda itu dengan kecepatan tinggi melesat menuju tempat yang bahkan tak terpikirkan oleh Cecilion sebelumnya.


"Sebenarnya ada apa, Kees? kenapa kamu mengajakku pergi terburu-buru seperti ini?" tanya Cecilion sekali lagi sambil memegang erat bahu Kees yang sedang mengendarai sepedanya.


"Bagaimana aku harus menjelaskannya ya..." Kees bergumam, namun terus mengayuh pedal sepeda itu dengan cepat beriringan dengan denyut jantungnya yang kini tidak beraturan karena emosi yang menguasai dirinya.


"Katakan padaku apa yang terjadi, Kees!" tekan Cecilion yang sudah mulai kehilangan kesabarannya, terlebih perasaan pemuda itu kini terasa sangat tidak tenang.


"Mawar... Kita harus cepat temukan dia, aku dengar dari Papaku bahwa ia akan segera dijodohkan dengan orang lain," tutur Kees ragu-ragu, sejujurnya ia tak sampai hati untuk mengatakan hal yang menyakitkan seperti ini kepada Cecilion namun ia sungguh tak memiliki pilihan lain.


Sepeda yang dikendarai oleh Kees akhirnya tiba di depan sebuah restoran mewah di pusat kota Batavia, tempat tujuan yang ada dalam pikiran Kees mengingat keluarga De Haas kerap kali mengadakan pertemuan di restoran itu.


"Aku akan masuk lebih dulu dan mencari Mawar," ucap Cecilion cepat yang hanya bisa ditanggapi dengan anggukan oleh Kees.


Meski napasnya tersengal sehabis mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi, Kees tetap bergerak cepat, ia menaruh sepeda milik Cecilion di pinggir halaman restoran dan menyusul Cecilion masuk ke dalam restoran.


Seumur hidupnya, baru kali ini Kees merasakan perasaan yang sangat tidak nyaman seperti ini. Sungguh, ia tidak rela kalau Mawar sampai harus menikah dengan pria lain selain Cecilion sahabatnya.


Cecilion mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan restoran bergaya Eropa itu, mencari keberadaan sang kekasih dengan perasaan berkecamuk.


Apa hubungannya dan Mawar akan berakhir dengan cara menyakitkan seperti ini?


Cecilion benar-benar merasa tidak siap kalau harus kehilangan Mawar yang begitu ia cintai.


"Mawar!" Cecilion refleks berteriak tatkala sepasang netra miliknya mendapati sang kekasih tengah duduk di pojok kiri ruangan restoran bersama kedua orang tuanya.


Selain kedua orang tuanya, ada pula dua orang pria asing yang tentunya berhasil mematik amarah dalam dada Cecilion.


Mendengar namanya diserukan oleh sang terkasih, mata indah milik Mawar kontan membulat tak percaya.


Bagaimana bisa Cecilion tahu bahwa dirinya ada di sini setelah sekian lama mereka tak bertemu?

__ADS_1


Dada Mawar berdebar kencang, semua rasa rindu yang ia pendam kini menguar di udara setelah ia memandang wajah sang terkasih.


Mawar tak kuasa melakukan apa pun kini, ia hanya bisa pasrah pada keadaan.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Cecilion seraya memandang penuh harap kepada Mawar.


Gadis cantik itu hanya bisa menggeleng dengan air mata yang sudah membasahi kedua pelupuk matanya. Ia sungguh tak berdaya.


"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu Tuan muda Van Der Linen, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Tuan De Haas dengan tegas.


"Aku kemari karena harus membawa kekasihku pergi dari sini," jawab Cecilion tak kalah tegas dengan mata menatap tajam kepada seorang pria yang sedang duduk berhadapan dengan Mawar dan keluarganya.


Tuan De Haas berdiri dengan air muka berapi-api, kedua tangannya menggebrak meja hingga menimbulkan suara yang luar biasa keras.


"Anakku tak akan pernah aku izinkan untuk berhubungan dengan siapa pun dari keluarga Van Der Linen, tak peduli sekalipun kau adalah putra tunggal dari gubernur kota ini!" murka Tuan De Haas sambil mengarahkan jari telunjuknya pada dada bidang milik Cecilion.


Cecilion hanya tersenyum mendengarnya, ia sekali pun tak merasa gentar meski sudah melihat amarah dari Tuan De Haas.


"Kalau begitu apa bisa Tuan tanyakan kepada putri Anda, hendaknya siapa yang dia pilih berdasarkan keinginan hatinya?" tantang Cecilion dengan tenang.


Nyonya De Haas berusaha menenangkan amarah suaminya, namun itu tetap tidak berhasil.


"Mawar, siapa yang kamu inginkan?" tanya Tuan De Haas masih dengan amarahnya.


"Cecilion van der Linen, Papa. Aku menginginkan dia tak peduli seberapa kaya William van de Beek yang ada di hadapanku ini," jawab Mawar tegas sambil berdiri, memandang penuh keyakinan kepada sang Papa.


Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya, Mawar beringsut pergi bersama Cecilion yang tentunya semakin menyulut emosi Tuan De Haas hari itu.


"Cepatlah pergi ke rumahku!" bisik Kees penuh penekanan setelah mendapati Cecilion dan Mawar keluar dari restoran.


Sebuah kebetulan yang menguntungkan karena rumah Kees letaknya sangat dekat dengan restoran ini sehingga mereka mudah untuk bersembunyi.


"Tidak bisa! Aku meninggalkan semua tabungan milikku di rumah!" seru Mawar yang teringat pada tabungan dan beberapa pakaian miliknya yang sudah ia siapkan untuk situasi darurat ini.


"Kalau begitu cepatlah naik," ucap Cecilion sambil menaiki sepedanya, "kita harus pergi sekarang sebelum orang tuamu menyusul!"


...****************...

__ADS_1


Tuan De Haas memandang nanar kepada sepasang burung yang sedang hinggap di dahan pohon besar di halaman depan rumahnya.


Emosi pria paruh baya itu kini campur aduk, antara amarah serta khawatir sebab Mawar benar-benar pergi dari rumah sejak kejadian itu.


Sepanjang hari Nyonya De Haas hanya menangis meratapi sikapnya yang terlalu memaksakan Mawar untuk menikah dengan Win tanpa memikirkan bagaimana perasaan putri semata wayangnya itu.


"Semua ini salahku..." ratap Nyonya De Haas sambil terus menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa hentinya.


"Sudahlah, sayang. Aku juga bersalah karena tidak pernah mau mendengarkan apa yang dia katakan mengenai perasaannya," balas Tuan De Haas lesu.


Tuan dan Nyonya De Haas sudah mengerahkan segala cara untuk mencari keberadaan putri mereka mulai dari mengandalkan bantuan polisi hingga meminta bantuan dari para kolega bisnis mereka namun belum ada hasil.


"Apakah aku masih bisa hidup tanpa putriku?" tanya Nyonya De Haas dengan penuh sesal.


Wajah sang Nyonya yang biasanya cantik berseri kini nampak memprihatinkan dengan mata sembab kemerahan dan hidungnya yang memerah bak terbakar.


Beliau sungguh tak menyangka kalau Mawar yang selama ini patuh akan mengambil langkah sejauh ini karena tak mau menerima perjodohan.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya De Haas," sapa seorang polisi yang baru saja tiba di kediaman keluarga De Haas.


"Apa kalian sudah mendapatkan informasi terkait putriku?" tanya Tuan De Haas.


"Sayang sekali belum, Tuan. Mereka benar-benar menghilang bahkan pasukan khusus yang dikerahkan oleh gubernur belum bisa menemukan mereka," papar sang polisi memberikan laporannya.


"Berapa lama lagi kalian akan bekerja?! Aku sungguh tidak bisa hidup tanpa putriku!" Tuan De Haas berseru marah, membuat para Babu yang sedang menyapu halaman depan rumah itu terkejut.


"Maaf, Tuan. Saya akan kembali bekerja, permisi,"


Polisi itu melangkah terburu, meninggalkan kediaman keluarga De Haas takut kalau amarah Tuan De Haas kembali meledak.


"Lihatlah, sekarang Tuan dan Nyonya nampak seperti orang gila," bisik Babu itu kepada rekan kerjanya sambil tetap bekerja menyapu daun kering di atas rumput halaman depan.


"Begitulah. Tetapi mereka sungguh harus membayar mahal atas keegoisan mereka sendiri, seharusnya mereka bertanya kepada Nona dahulu sebelum memutuskan untuk menjodohkannya dengan laki-laki asing yang bahkan belum pernah ia temui."


"Memangnya kau sudah pernah bertemu dengan Tuan muda Van Der Linen itu? apa dia jauh lebih tampan dari pada Tuan Van De Beek?"


"Sudah beberapa kali! Hei, dia sangat tampan seperti bukan manusia! Karena masih begitu muda dia memang belum sekaya Tuan Van De Beek, tapi kharismanya sungguh luar biasa hingga aku yakin ia bisa sukses melakukan pekerjaan apa saja."

__ADS_1


Diam-diam, para Babu dan Jongos di rumah itu memang memberikan dukungan kepada Mawar untuk mempertahankan cintanya kepada Cecilion.


Mereka kini hanya bisa berharap kalau Mawar dan Cecilion bisa berlindung dengan aman di suatu tempat dan memulai kehidupan baru mereka yang lebih baik.


__ADS_2