Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 40 : Pebisnis Handal


__ADS_3

Dengan air muka datar bagai air danau, Cecilion menutup teleponnya menyudahi pembicaraan mengenai bisnis yang baru saja ia lakukan dengan salah satu pengusaha kolega bisnisnya.


"Tuan Sao, panggil kemari semua orang yang bertugas mengantarkan komoditas kita ke rekan bisnis sekarang juga tanpa terkecuali," titah Cecilion tegas tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatan miliknya yang berisi nama-nama orang yang telah ia selidiki belakangan ini.


Sejak awal, Cecilion sudah dapat mengendus sesuatu yang tidak benar di lingkungan perkebunan ini.


Maka dari itu, ia memutuskan untuk tidak mempercayai siapa pun dalam lingkungan kerjanya itu sepenuhnya termasuk Sao Qian asistennya sendiri.


Meski agak gelagapan, Sao Qian buru-buru bangkit dari duduknya dan mengangguk patuh.


"Tentu, Tuan. Saya akan segera kembali membawa mereka semua ke hadapan Tuan."


Cecilion mengangkat kepalanya, memandang sekilas Sao Qian.


"Tentu, tolong bawa mereka semua tanpa terkecuali."


Sao Qian kontan merinding mendengar perintah bernada dingin itu, suara sang Tuan amat berat menghantarkan ketegasan serta aura intimidasi yang begitu kuat.


Ketika itu juga, Sao Qian yakin bahwa atasan barunya itu bukanlah pemuda berwajah tampan biasa yang bisa ditipu dengan mudah.


Dengan gerakan terburu-buru, Sao Qian meninggalkan ruangan kerja untuk memanggil semua pegawai yang bertugas untuk mengantarkan hasil komoditas perkebunan ke semua kolega bisnis mereka.


Pria itu tak menyangka, hanya dalam waktu tiga hari Cecilion van der Linen sudah dapat menyadari sesuatu yang tidak wajar dalam bisnisnya.


"Kenapa Tuan Sao melangkah dengan buru-buru seperti itu?" tanya Jamal, salah seorang pegawai pribumi yang berada di lantai satu kantor mereka.


"Apa semua pegawai pengiriman ada di sini?" Sao Qian balas bertanya, sedikit membuat Jamal bingung karena ekspresi tegang sang atasan.


"Mereka semua sedang sibuk menyusun barang di dalam lokomotif, Tuan."


"Tolong panggilkan mereka semua kemari, katakan saja ada alasan darurat," tukas Sao Qian dengan napas memburu.


Walau terheran setelah mendengar ucapan Sao Qian, Jamal tetap menurut.

__ADS_1


Ia keluar dari kantor, bergegas memanggil semua pegawai pengiriman.


"Ada apa, Tuan Sao?" tanya salah seorang pegawai pengiriman yang baru tiba di hadapan Sao Qian.


"Tuan Van Der Linen memanggil kalian semua.


Ayo lekas, kita tidak boleh membiarkan beliau menunggu terlalu lama!" Sao Qian menyahut cepat, berjalan dengan langkah cepat menuju tangga yang menghubungkan kantor lantai bawah dengan ruang kerja Cecilion van der Linen.


Semua pegawai pengiriman itu kemudian saling memandang bingung, tak tahu apakah mereka pernah membuat kesalahan atau bagaimana sehingga atasan tertinggi itu langsung mencari mereka semua tanpa kecuali.


Tak punya pilihan lain, tujuh pria itu lantas berjalan menyusul langkah Sao Qian yang sudah berjarak beberapa meter di depan mereka.


Mereka semua berdecak kagum, baru kali ini dapat melihat keindahan kantor yang selama ini hanya boleh dimasuki oleh para pegawai admistrasi dan akuntan.


Kantor perkebunan ini memang berlantai dua, lantai pertama biasanya digunakan oleh para mandor dan pegawai lapangan sementara lantai dua digunakan oleh pegawai admistrasi dan akuntan, serta petinggi perusahaan.


Setelah tiba di ruang kerja Cecilion van der Linen yang pintunya tertutup, Sao Qian mengetuk pelan daun pintu besar berbahan kayu kualitas terbaik itu.


"Permisi, Tuan Van Der Linen. Saya sudah membawa semua pegawai pengiriman," ucap Sao Qian agak sedikit berteriak di ambang pintu.


Sao Qian yang biasanya angkuh itu hanya bisa menelan rasa kesalnya dalam diam, tak memiliki pilihan lain selain kembali turun dan mengikuti perintah sang Tuan.


"Baik Tuan, saya undur diri."


Beberapa saat setelah Sao Qian menjauh, para pegawai pengiriman kemudian masuk ke dalam ruang kerja Cecilion dengan hati-hati.


Mereka tidak mau mengeluarkan sedikit pun suara, takut sang Tuan merasa terusik.


"Duduklah kalian semua. Saya harus menyelesaikan sedikit berkas ini terlebih dahulu," perintah Cecilion masih dengan nada dinginnya.


"Baik, Tuan," tujuh pria itu menyahut hampir bersamaan kemudian.


Setelah memberi tanda pada beberapa dokumen mencurigakan dan menandatangani dokumen penting untuk jual beli, Cecilion bangkit dari duduknya lantas beringsut mendekati para pegawai pengiriman yang telah menanti dengan hati berdebar itu.

__ADS_1


"Saya bisa menaikkan gaji kalian hingga dua kali lipat mulai bulan ini juga jika kalian semua mau berkata jujur kepada saya," ucap Cecilion tegas dengan aura intimidasi yang begitu kuat, membuat para pegawai pengiriman itu kompak menelan ludah.


...****************...


"Kenapa wajahmu suram sekali?" Mawar bertanya seraya memijat kedua bahu tegap milik suaminya yang terasa tegang tersebut.


Keduanya sedang bersantai di serambi rumah malam itu, ditemani dengan sepiring camilan manis dan kopi pemberian Nenek yang sempat mampir ke rumah mereka beberapa jam yang lalu.


Hanya Nenek sendiri, sementara Kakek sedang sibuk bekerja di perkebunan sawit.


Cecilion menghela napas panjang, berbalik memandang sepasang netra biru seindah berlian milik sang istri.


"Sayang, ada banyak petinggi perkebunan yang melakukan korupsi," ucap Cecilion lesu membuat Mawar kontan saja terbelalak tak percaya.


"Apa katamu? Korupsi? Bagaimana bisa kamu menyadarinya secepat itu?" tanya Mawar yang langsung mengambil posisi duduk di sebelah suaminya.


"Iya. Aku sudah menemukan beberapa bukti dan kesaksian dari pegawai lain, namun aku rasa itu masih kurang kuat untuk aku menyingkirkan para pegawai itu apalagi mereka sudah bekerja bertahun-tahun," jawab Cecilion resah.


Mawar mendecak geram, bagaimana bisa para pegawai itu melakukan korupsi meski telah diberikan pekerjaan dengan gaji yang layak?


Sungguh tidak tahu malu, Mawar jadi ingin menghukum mereka dengan tangannya sendiri.


"Aku belum membicarakan hal ini dengan Kakek, tapi kurasa Kakek sudah tahu dan ingin aku yang menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri," imbuh Cecilion lantas menyeruput perlahan kopi hitam miliknya.


"Bagaimana bisa kamu mengetahui hal itu dalam waktu kurang dari satu pekan?" Mawar kian penasaran mengenai kemampuan bisnis suaminya yang luar biasa itu.


Bagai alat pendeteksi logam yang andal, ia bisa langsung menyadari adanya tindak korupsi di lingkungan kerjanya membuat Mawar kagum.


"Uang yang diterima oleh pihak keuangan kantor datanya tidak sama dengan yang ada di pembukuan. Tentunya aku langsung curiga dan menyelidiki semuanya secara diam-diam hingga menemukan semakin banyak kejanggalan," tutur Cecilion sambil memberikan buku jurnal keuangan miliknya kepada Mawar.


Mawar membaca dengan seksama, memahami setiap angka dan kalimat yang ditulis oleh Cecilion dalam bahasa Belanda itu.


"Semua data ini memang tidak masuk akal, pantas saja Kakek menyerahkan perkebunan ini kepadamu," kata Mawar geram, mengingat angka korupsi yang ia temukan memang berjumlah tidak sedikit.

__ADS_1


Cecilion tersenyum lembut, mencoba menetralkan emosi sang istri. "kamu tidak usah khawatir, aku akan segera menyelesaikannya agar usaha perkebunan kita semakin maju serta berkembang."


__ADS_2