
Pagi itu, sudah nampak beberapa potong pakaian bayi untuk Oliver yang sudah berjajar di atas kasur setelah Mawar menerima sebuah bungkusan tak bertuan dari Saritem.
Mawar nampak bingung, siapa gerangan yang mengirimkan pakaian baru sebanyak ini untuk Oliver terlebih kini Mawar berada jauh dari sanak keluarganya.
"Siapa yang mengirimkannya, Bu?" tanya Mawar entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Saya juga tidak tahu, Nyonya. Bungkusan ini sudah ada di depan pintu saat saya hendak pergi ke pasar," jawab Saritem ala kadarnya, dengan air muka sama bingungnya dengan Mawar.
"Ini adalah hadiah kecil dariku untuk Oliver, saya akan merasa sangat sedih jika kamu menolaknya," ujar Mawar, membaca tulisan dari secarik kertas itu.
Maklum, di desa ini hanya ada beberapa orang saja yang bisa menulis dan membaca termasuk Mawar. Jadi, Saritem mana tahu apa isi dari secarik kertas tersebut.
"Tulisan tangan ini sangat indah, tapi kira-kira siapa yang bisa menulis dengan sangat bagus seperti ini, Ibu?" lagi-lagi pertanyaan Mawar hanya dibalas dengan gelengan tidak tahu oleh Saritem.
Mawar lalu mengambil satu setel pakaian mungil berwarna biru langit dengan senyuman merekah.
"Baiklah, saya merasa sangat berterima kasih kepada siapa pun yang telah berbaik hati memberikan pakaian-pakaian indah ini untuk Oliver. Saya sangat bersyukur, semoga Tuhan membalas kebaikannya berkali lipat," gumam Mawar seraya merapikan pakaian baru yang lainnya ke dalam lemari.
Pakaian-pakaian itu berbahan sangat bagus, membuat Mawar menduga bahwa siapa pun yang membelinya bukanlah orang sembarangan. Namun, agaknya siapa?
Seperti rutinitas di pagi hari biasanya, Mawar memandikan Oliver di halaman belakang rumah dengan air suam-suam kuku sembari menikmati segarnya udara desa.
"Olivier, menurutmu bagaimana kabar Oma dan Opa di Batavia? Apa mereka baik-baik saja di sana?" Mawar bertanya dengan air muka sedih kepada si mungil Oliver.
Seolah mengerti isi hati sang Mama, bibir Oliver mungil yang sedang direndam di dalam bak mandi kecil itu melengkung sedih.
"Mama merindukan Opa dan Oma-mu di Batavia namun rasanya kita sudah tidak mungkin lagi bisa kembali ke sana," imbuh Mawar masih dengan kesedihan tergambar jelas di wajahnya.
"Anda bisa pergi dengan saya jika anda bersedia, Nyonya," tawar Dokter Nathan yang entah datang dari mana.
Kemunculan sang adam yang tiba-tiba membuat Mawar tersentak kecil karena terkejut.
"Astaga! Kenapa anda tiba-tiba muncul?!" sergah Mawar.
__ADS_1
Dokter Nathan tergelak. "saya hanya sedang kebetulan lewat, tapi setelah mendengarkan ocehan anda saya menjadi tertarik."
Mawar mengangkat tubuh polos Oliver yang sudah bersih. "tunggulah di sini sejenak kalau begitu, saya juga ingin mengajak Oliver jalan-jalan setelah memakaikannya baju."
"Berjalan-jalan bersama? Ide bagus. Saya akan kembali lagi kemari dalam sepuluh menit, saya rasa akan lebih menyenangkan jika kita bersepeda saja," usul Dokter Nathan antusias.
"Baiklah, Dokter Nathan. Kalau begitu temui saya sepuluh menit lagi di depan rumah," putus Mawar sebelum akhirnya masuk dan menutup pintu belakang.
...*****...
Birunya sang cakrawala berlapis awan-awan kecil yang menghiasi nampak begitu indah, sungguh cuaca yang cerah secerah senyuman Dokter Nathan hari ini.
"Anda sudah siap pergi?" tanya Dokter Nathan setelah sepedanya memasuki halaman rumah Saritem.
Mawar mengangguk. "tentu, mari berangkat."
Dokter Nathan kemudian memutar sepedanya agar Mawar lebih mudah naik.
Ini adalah pengalaman pertama dokter muda itu membonceng seorang wanita dengan sepedanya, membuat Dokter Nathan merasa sedikit gugup.
"Baiklah, terima kasih."
Sepeda Dokter Nathan kemudian beringsut, membelah jalan desa yang di sisi kanan dan kirinya dihiasi dengan hijaunya sawah yang belum siap panen.
Angin berhembus sepoi-sepoi, menyapa helaian rambut pirang kecoklatan indah nan menawan milik Dokter Nathan.
"Apakah anda tidak akan terkena masalah jika membonceng seorang janda seperti saya, Dokter Nathan?" tanya Mawar memastikan, setelah sempat menyapa seorang warga yang mereka lewati.
"Masalah apa yang anda maksud? Saya hanya seorang bujangan yang kesepian," jawab Dokter Nathan sambil terkekeh kecil.
"Lelaki setampan anda tidak memiliki kekasih? Oh, jangan bercanda!" sangkal Mawar.
"Saya tidak sedang bercanda, Nyonya. Selama ini saya terlalu fokus pada pendidikan dan pekerjaan saya sampai tak sadar kalau usia saya sudah cukup untuk menikah," papar Dokter Nathan apa adanya.
__ADS_1
"Dulu saya menikah dengan suami begitu lulus sekolah hingga kami sama-sama tak masuk perguruan tinggi," aku Mawar, kembali terkenang akan langkah nekat yang ia pilih bersama Cecilion kala itu.
"Bukankah suami anda adalah putra dari gubernur Batavia kala itu?"
"Ya. Namun saya benar-benar mencintai suami saya terlepas dari harta atau jabatan orangtuanya."
"Saya tahu, Nyonya. Anda bahkan juga merupakan seorang putri dari pengusaha gula kaya raya," timpal Dokter Nathan, membuat Mawar terdiam sejenak.
Kala itu, cinta Mawar dan Cecilion memang begitu menggebu-gebu sampai mereka rela melakukan apa saja demi bisa tetap bersama.
"Kala itu kami hanyalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara hingga nekat melakukan apa saja demi bisa bersatu. Namun beruntung, semesta masih bersedia untuk memberikan kami sedikit waktu untuk berbahagia sebagai pasangan suami istri yang sah," sahut Mawar setelah cukup lama terdiam, menikmati perjalanan mereka dengan sepeda.
"Saya paham itu, Nyonya Van der Linen. Saya memang belum pernah memiliki kekasih tetapi saya paham bagaimana rasanya mencintai," balas Dokter Nathan sambil menepikan sepedanya.
Mereka sudah tiba di pasar yang memang tak begitu jauh dari desa.
Pandangan Mawar menelisik sekitar, ia sudah cukup lama tidak pernah pergi jauh dari rumah Saritem.
Pasar itu cukup ramai, banyak pedagang yang menjajakan berbagai macam jenis barang dagangan membuat Mawar kembali teringat akan ramainya pasar Enam Belas Ilir di Palembang yang kerap ia kunjungi bersama Cecilion dulu.
Dokter Nathan mengedikan dagunya, memberi isyarat pada Mawar untuk menautkan tangannya pada lengan pria itu agar mereka tidak terpisah.
"Anda sungguh tidak masalah digandeng oleh seorang janda?" tanya Mawar ragu-ragu.
"Demi Tuhan, berhentilah menyebut kata janda. Bagiku, anda adalah seorang gadis yang jauh lebih indah dari pada sang rembulan," jawab Dokter Nathan lugas.
"Tetapi--"
"Cukup, Mawar. Anda mau tetap diam seraya menikmati perjalanan ini atau terus mengoceh tapi menjadi kekasihku?" ancam Dokter Nathan dengan wajah kemerahan.
Tentu saja, mendengar ancaman yang sama sekali tidak menakutkan itu Mawar malah tertawa geli.
"Oh, lihat? Anda memanggilku dengan nama depan! Ya Tuhan, apakah aku masih secantik itu sampai-sampai dokter muda dan tampan ini mau menjadi kekasihku?" Mawar berujar sambil tertawa.
__ADS_1
Dokter Nathan menghela frustasi.
Ya, bermaksud menggoda seorang janda malah membuat dirinya dipermainkan oleh janda.