
Aroma menggugah selera khas roti panggang menguar dari dapur, tempat Mawar yang kini sedang sibuk memanggang roti tawar dibantu oleh Tukiyem, salah seorang Babu nya.
"Ya ampun, Nyonya! Anda tidak perlu memanggang rotinya. Saya bisa melakukannya sendiri, kalau Tuan tahu beliau pasti akan langsung memarahi saya," ucap Tukiyem tak enak hati saat melihat Mawar sibuk membalik roti panggang di hadapannya.
"Aku ingin melakukannya sendiri, Tukiyem. Kamu bisa lakukan pekerjaan yang lain. Cepatlah, rotinya akan segera matang jangan sampai suamiku tahu kalau aku yang memanggangnya sendiri," titah Mawar mutlak, membuat Tukiyem hanya bisa mengangguk.
Sungguh, sebenarnya Tukiyem merasa iri akan perhatian yang diberikan Cecilion kepada Mawar. Ia juga ingin memiliki suami atau Tuan yang mau menghidupi dirinya sebagai seorang Nyai.
Namun, sampai saat ini belum ada satu pun Londo
yang memilih dirinya untuk dijadikan Nyai apa lagi untuk memperistri.
Toh, ruang lingkup pergaulan Tukiyem dengan para kaum Eropa sangat sempit karena dia terlalu sibuk bekerja di rumah ini terlebih ia hanyalah seorang pelayan biasa bukan seorang putri bangsawan terkemuka.
Hari itu masih pagi sekali, bahkan sang mentari belum menampakkan eksistensinya.
Langit masih berwarna kelam bak sayap gagak, namun para Babu keluarga Van der Linen sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Ada yang sedang menyapu halaman, ada juga yang sedang membersihkan bagian dalam rumah dan satunya lagi sudah berangkat ke pasar menggunakan sepeda guna membeli pesanan dari sang Nyonya rumah.
"Selamat pagi istriku," sapa Cecilion sesaat setelah ia tiba di dapur.
Lelaki itu mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Mawar, sapaan mesra yang rutin mereka lakukan setiap harinya.
"Aku tak tahu bagaimana jadinya kalau kita dipisahkan. Aku sungguh tak bisa hidup tanpamu," gumam Cecilion dengan suara rendah, menyembunyikan wajahnya di leher Mawar.
Meski itu sedikit membuat Mawar merasa geli, namun ia menyukai tingkah suaminya yang terkadang sangat manja seperti seorang balita itu. Bagaimana pun, bagi Mawar itu adalah hal yang sangat manis.
"Jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi seperti itu, suamiku. Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan namun kita harus selalu mempersiapkan diri," balas Mawar seraya mengusap surai legam nan lebat milik sang suami.
Meski suara Mawar terdengar lembut sekaligus tenang, sang hawa sebetulnya sedang bergelut dengan batinnya sendiri dan berharap suaminya tidak mengetahui hal itu.
__ADS_1
Terlalu banyak hal yang ia cemaskan dalam pikirannya hingga Mawar tak bisa tidur dengan nyenyak semalam.
Cecilion mengangguk, mengulas sebuah senyuman yang begitu manis laksana madu untuk istrinya.
"Kamu benar. Baiklah, sayang, ayo kita sarapan," ajak Cecilion, menggamit tangan sang istri menuntunnya menuju meja makan.
Pasangan Van der Linen muda itu duduk berhadapan, mulai menyantap sarapan yang sudah tersaji di piring masing-masing berselimutkan keheningan pagi.
Diselingi percakapan ringan, pasangan itu menikmati rutinitas pagi mereka sebelum mulai melakukan aktivitas masing-masing seperti biasanya.
Sayup-sayup terdengar suara Babu yang sedang sibuk membersihkan dan merapikan segala sudut rumah itu.
Rumah keluarga ini selalu tenang, jauh dari keributan yang membuat siapa pun yang datang bertandang akan merasa betah.
Mawar dan Cecilion juga selalu memperlakukan para tetangga dengan baik, tak peduli dari status sosial mana mereka berasal yang tentunya membuat para tetangga sangat menyukai pasangan ini.
Namun ya, meski semua orang menyukai pasangan Van der Linen, mereka tetap menjaga jarak karena mengetahui bahwa kedekatan mereka dengan orang Belanda sangat rawan menjadi pemicu pertikaian dengan sesama kaum pribumi.
Tak jarang, hal seperti itu berlaku sebaliknya.
"Tuan! Nyonya! Cepatlah pergi berlindung!" teriak Sumi dari ambang pintu utama rumah.
Ketenangan rumah mendadak berubah menjadi mencekam, seiring dengan teriakan Sumi yang sangat nyaring barusan.
"Ada apa, Sumi?! Kenapa kau berteriak begitu?" tanya Cecilion yang panik, buru-buru beringsut menuju bagian depan rumah mereka.
"Para tentara Nippon sudah mengepung wilayah ini! Kita sudah tidak bisa melarikan diri lagi, cepatlah cari tempat bersembunyi!" papar Sumi dengan napas tersengal.
"Lalu di mana Tukiyem dan Denok?" tanya Mawar, mencari dua rekan Sumi yang sudah tidak ada di dalam rumah.
"Mereka belum kembali sejak pergi ke pasar, Nyonya... Saya sungguh mengkhawatirkan mereka," cicit Sumi dengan ketakutan sekaligus kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Mawar yang air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.
Sungguh, ia tak menyangka bahwa kejadian ini akan benar-benar terjadi.
Demikian juga dengan Cecilion, ia sama sekali belum mempersiapkan apa-apa untuk melindungi dirinya dan sang istri.
"Kalian berdua masuklah ke dalam lemari yang paling besar di gudang. Ada dua lemari besar aku yakin itu cukup untuk menyembunyikan diri kalian sementara hingga para tentara Nippon itu pergi, cepat! Kita tidak punya banyak waktu!" perintah Cecilion, menuntun istrinya menuju gudang rumah mereka.
"Lalu bagaimana denganmu?!" tanya Mawar histeris dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.
"Aku bisa bersembunyi di ruang kerjaku, bukankah letaknya cukup tersembunyi? Lagi pula aku punya sepucuk senjata api yang aku simpan di sana," jawab Cecilion yang langsung membuka pintu sebuah lemari paling besar di dalam gudang rumah mereka.
Lemari besar yang terbuat dari kayu jati, Cecilion yakin itu dapat menyembunyikan istrinya untuk sementara.
Sumi lalu masuk ke lemari yang lainnya, menutup pintu lemari tempatnya sembunyi sambil terus berdoa semoga Tuhan masih membiarkan dirinya selamat dari pembantaian mengerikan tersebut.
"Masuklah, istriku. Jangan keluar dari rumah sebelum suasana benar-benar sunyi, aku akan segera kembali menjemputmu," ucap Cecilion seraya mencium puncak kepala Mawar, menyiratkan rasa cintanya yang begitu dalam kepada sang istri.
"Kamu harus kembali, suamiku!"
"Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, istriku," sahut Cecilion sambil menutup lemari tempat Mawar bersembunyi.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, Cecilion keluar dari gudang lalu mengunci pintu gudang dari luar tak lupa melemparkan kuncinya kembali ke dalam gudang dengan harapan istrinya bisa selamat.
Tiba di ruang kerjanya, Cecilion langsung mengunci pintunya dari dalam.
Buru-buru, dia meraih sepucuk senjata api yang selama ini ia simpan di dalam laci meja kerjanya.
Dengan terampil, Cecilion mengisi selongsong peluru pistol jenis revolver itu.
Setelah merasa persiapannya matang, ia lantas menyembunyikan diri di balik sofa panjang dengan posisi berjongkok.
__ADS_1
"Tuhan... Aku mohon selamatkan anak dan istriku. Jika memang hari ini adalah hari di mana aku harus berpulang ke pangkuan-Mu maka aku rela. Namun, aku mohon selamatkan mereka..." lirih Cecilion yang sudah tak mampu menahan air matanya.