Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 54 : Dokter Nathan


__ADS_3

"Bagaimana kabar anda, Nyonya Van der Linen?" sapa Dokter Nathan ramah setibanya Mawar yang sedang menggendong Oliver di pekarangan rumahnya sore itu.


Mawar tersenyum lembut menanggapi, berjalan dengan anggun menuu serambi rumah sang Dokter.


"Berkat bantuan anda tempo hari saya merasa sangat baik. Oh, lain kali anda bisa memanggil saya hanya dengan nama depan," sahut Mawar masih dengan tutur anggunnya.


Walau pakaian yang ia kenakan membuat penampilan Mawar kini tak jauh berbeda dengan rakyat pribumi pada umumnya, namun jiwanya yang anggun tetap menonjol laksana seorang putri kerajaan.


Selain wajahnya yang masih begitu cantik layaknya seorang gadis muda, tutur kata Mawar begitu santun serta tertata lembut, membuat siapa pun yang bertemu dengannya menyukai ibu satu anak itu tak terkecuali Dokter Nathan.


"Apa itu bukan masalah?" tanya sang dokter merasa keliru.


"Kenapa harus menjadi masalah? Lagi pula suamiku sudah tiada jadi saya tidak akan merasa keberatan jika anda memanggil saya Mawar saja," jawab Mawar penuh akan yakin, membuat Dokter Nathan tersenyum.


"Itu memang masuk akal. Jika anda bilang anda masih perawan pun, saya yakin orang-orang akan percaya," canda Dokter Nathan sambil tergelak halus.


Mawar terkekeh menanggapi candaan Dokter Nathan. "rupanya anda bisa bercanda juga, Dokter Nathan."


"Mari masuk, saya akan memeriksa kesehatan anak anda," ajak Dokter Nathan seraya memimpin jalan menuju ruang periksa.


Selain tampan, Oliver juga merupakan anak yang sangat kalem serta tenang.


Anak itu jarang menangis sehingga Mawar tetap bisa beraktivitas dengan tenang seperti sebelum melahirkan.


Setiap hari Mawar merajut dan menyulam, hasil pekerjaannya itu kemudian dijual oleh Saritem di pasar. Dengan begitu, Mawar dapat membantu perekonomian di rumah Saritem karena merasa tidak enak hati sudah merepotkan Saritem selama ini.

__ADS_1


Dokter Nathan mengambil Oliver dari gendongan Mawar lantas mulai memeriksa kesehatan tubuh Oliver sesuai dengan urutan.


"Anak anda sangat tenang, jarang sekali aku menemukan anak yang setenang ini saat diperiksa," ucap Dokter Nathan kagum melihat Oliver yang begitu tenang.


"Saya pun sedikit heran, namun saya bersyukur sepertinya Oliver mengerti bahwa saya harus terus bekerja agar kami bisa tetap makan setiap hari," jawab Mawar dengan seulas senyum manis, membuat hati Dokter Nathan berdesir.


Seumur hidupnya, tak pernah Dokter Nathan menemukan perempuan secantik Mawar van der Linen sang janda muda di hadapannya itu bahkan saat ia masih menetap di Eropa.


"Apa anda tidak berpikir untuk menikah lagi, Nyonya? Saya rasa anda bisa mendapatkan hidup yang lebih baik kalau menikah kembali," Dokter Nathan mencoba memancing, mencari celah agar dapat lebih dekat dengan sang hawa.


"Saya belum memikirkan hal itu, Dokter Nathan. Bagi saya, bisa bertahan sampai sejauh ini pun saya sudah sangat bersyukur," sahut Mawar apa adanya, mengingat perjuangan Mawar untuk bertahan tidaklah mudah.


"Suamiku mati ditembak oleh tentara Jepang demi melindungi saya yang sedang hamil tua kala itu. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana kalau saya yang tidak selamat waktu itu," Mawar mulai berkisah, membuat Dokter Nathan yang sudah menyelesaikan rangakaian pemeriksaannya kepada Oliver memutuskan untuk menyimak.


"Lalu, apa yang terjadi?"


"Anda benar. Saya masih dibiarkan hidup pun karena saya seorang dokter yang masih dibutuhkan," imbuh sang dokter sambil membelai helaian rambut lembut Oliver yang mulai mengantuk.


"Sejujurnya, ada hal yang ingin saya lakukan namun saya masih harus menjaga Oliver terlebih dahulu," cicit Mawar, memandang sang buah hati yang sedang ada dalam gendongan Dokter Nathan.


"Apa yang ingin anda lakukan, Nyonya?"


"Ah, Dokter Nathan akan menjadi orang yang saya beritahukan lebih awal nanti kalau rencana saya sudah benar-benar matang," jawab Mawar dengan senyuman penuh misteri.


Wanita itu memang sangat menarik, membuat kedua sudut Dokter Nathan tertarik membentuk seulas senyum.

__ADS_1


"Ini pasti ada kaitannya dengan Jepang, bukan begitu?" tebak Dokter Nathan masih dengan senyuman yang belum memudar.


...*****...


Suara air mendidih terdengar nyaring dari panci di atas kompor membuat Dokter Nathan berlari kecil menuju dapurnya.


Malam sudah larut, namun sang dokter belum juga merasakan kantuk membuatnya memutuskan untuk menikmati segelas teh.


Dengan hati-hati, Dokter Nathan menuangkan air mendidih dari pancinya ke dalam gelas porselen berisi teh dan gula yang sudah ia persiapkan beberapa saat yang lalu.


Teh ditengah malam yang sudah larut bukanlah ide yang terlalu bagus, namun Dokter Nathan tak tahu harus melakukan apa lagi disaat perasaannya sedang kacau begini.


Pikiran pria itu terus saja tertuju kepada Mawar, merasa penasaran agaknya apa yang ingin dilakukan oleh sang hawa nantinya.


Dokter Nathan kemudian mengambil posisi duduk di meja makan, menatap gelas teh di hadapannya sambil menunggu teh itu menjadi sedikit lebih dingin untuk diminum.


"Hal berat yang sudah dilalui oleh Mawar waktu itu pasti membuatnya menjadi lebih sulit untuk membuka hati kembali," gumam Dokter Nathan, memandang kepada toples kaca berisi kukis almond pemberian Mawar tadi sore.


"Sebelum menikah namanya adalah Mawar de Haas, putri semata wayang hasil pernikahan dari seorang pria Netherland kaya raya dan seorang Inlander. Menarik, pantas saja kecantikan Mawar terlihat lebih mencolok," gumam Dokter Nathan sambil membaca catatan yang diberikan oleh salah seorang kenalannya terkait Mawar.


Sepasang netra biru Dokter Nathan kembali membaca catatan ditangannya dengan seksama. "Mawar de Haas dan Cecilion van der Linen, putra gubernur Batavia saat itu menikah setelah sepakat untuk meninggalkan Batavia bersama? Oh? Apakah pernikahan mereka tidak direstui? Ini diluar dugaanku, aku pikir dia menikah dengan suaminya karena perjodohan."


Dokter Nathan meraih gelasnya, perlahan meniup permukaan teh yang masih sedikit panas itu untuk mulai menyeruputnya.


"Terlahir dari orangtua kaya raya tak lantas membuat hidup Mawar sempurna rupanya. Kasihan sekali, dia bahkan harus menikah dengan laki-laki pilihannya sendiri jauh dari orangtuanya," Dokter Nathan kembali bermonolog, teringat akan pernikahan paksa dengan cara dijodohkan yang kerap dilakukan di Hindia-Belanda ini.

__ADS_1


Tak hanya para wanita pribumi yang kerap kali terpaksa melayani Tuan Belanda sebagai Nyai, para gadis keturunan Belanda juga kerap kali dipaksa oleh orangtuanya untuk menikahi lelaki yang sudah mereka pilih tanpa persetujuan anaknya hanya demi keuntungan bisnis atau tujuan lainnya.


"Mawar, apa pun yang akan kamu lakukan nantinya aku akan tetap ada di belakangmu jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi," ucap Dokter Nathan penuh tekad seraya memandang toples kaca milik Mawar.


__ADS_2