Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 45 : Terkuaknya Aroma Mesiu


__ADS_3

Langit biru dengan sedikit awan yang menghiasi sang maha luas angkasa siang itu membuat senyuman indah Mawar kian merekah.


Cuaca hari ini sangat cerah, cocok untuk dinikmati di luar rumah.


Berdua, kini Mawar dan Cecilion berjalan-jalan di alun-alun kota Palembang yang letaknya tak jauh dari pasar Enam Belas Ilir guna meningkatkan waktu berkualitas untuk mereka sebagai pasangan suami istri.


Nampak banyak orang berlalu lalang, mulai dari para pribumi yang berjalan kaki membawa barang dagangan mereka, para pribumi yang hanya sedang berjalan-jalan hingga para kaum Eropa yang nampak duduk di atas bangku taman di beberapa sudut alun-alun dengan pakaian mereka yang sangat bergaya.


Meski perut Mawar sudah kian membesar, ia tetap antusias ketika diajak suaminya untuk jalan-jalan sekedar menikmati udara segar di luar rumah mereka.


Pasangan muda itu nampak sangat bahagia, terlebih kini mereka tinggal menanti kelahiran sang buah hati tercinta.


"Apa kamu mau beli es limun?" tawar Cecilion ketika sepasang netra karamel indah miliknya menangkap keberadaan seorang kakek penjual es limun tengah mendorong sepedanya perlahan beberapa puluh meter di depan mereka.


"Tentu saja aku mau! Aku sudah lama sekali tidak minum es limun," jawab Mawar antusias, memegang erat tangan suaminya agar lekas berjalan menghampiri kakek penjual es limun itu.


"Baiklah, baiklah. Ayo kita hampiri Kakek itu," ajak Cecilion, menarik lembut tangan sang istri guna menghampiri sang Kakek.


Kedua insan itu melangkah sedikit tergesa, mempersingkat jarak di antara mereka dan sang Kakek penjual es limun.


"Kakek, kami pesan es limun dua ya," ucap Cecilion santun setelah mereka tiba di depan sang Kakek.


"Tunggu sebentar ya, Tuan. Akan segera saya buatkan," sahut sang Kakek dengan guratan senyum yang hangat menghiasi wajahnya.


Semilir angin menerpa lembut helaian rambut Mawar, membuat senyuman Cecilion terbit memuja kecantikan sang istri dalam hatinya.


Ya, meski kini sedang hamil besar wajah Mawar tetap nampak cantik sekaligus menggemaskan bagi Cecilion.


Sang adam lantas duduk di samping Mawar, menanti es limun pesanan mereka selesai di buat.


Es limun, minuman kesukaan pasangan muda itu semenjak mereka masih tinggal di Batavia beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


Batavia, bagaimana kabar kota cantik itu sekarang? Sejujurnya mereka ingin kembali sekedar untuk mampir bertemu dengan Kees sahabat mereka untuk sedikit melepas rindu namun semuanya membutuhkan pertimbangan yang rumit.


"Ini es limun nya, Tuan dan Nyonya. Selamat menikmati," ujar sang Kakek santun, menyerahkan dua gelas es limun kepada pasangan Van der Linen muda.


"Terima kasih, Kakek. Ini uangnya, kembaliannya ambil saja untuk Kakek," Cecilion menyahut, menerima uluran dua gelas es limun sementara Mawar menyerahkan selembar uang kertas kepada Kakek.


"Tidak perlu, Tuan dan Nyonya, saya akan carikan kembaliannya..."


Air muka sang Kakek berubah, nampak merasa tak enak hati untuk menerima uang dari sepasang suami istri muda itu.


"Ambil saja untuk Kakek. Kami hanya ingin sedikit berbagi," balas Mawar seraya menggenggamkan uang yang ada di tangannya kepada sang Kakek.


"Terima kasih banyak, Tuan dan Nyonya... Sungguh saya tidak menyangka akan mendapatkan uang sebanyak ini padahal dagangan saya hampir tidak laku hari ini," kata si Kakek dengan mata yang berkaca-kaca sebab merasa terharu.


Mawar dan Cecilion merasa terenyuh melihat Kakek itu. Meski usianya sudah senja, beliau tetap bekerja keras berjualan es limun sambil berkeliling demi menyambung hidup.


"Kembali kasih, Kakek," sahut pasangan Van der Linen dengan seulas senyum tulus yang terpatri di wajah rupawan mereka.


"Tapi, Tuan dan Nyonya saya memiliki sedikit saran untuk Anda berdua jika berkenan untuk mendengarkan saran dari saya," ucap si Kakek dengan suara yang lebih pelan kali ini.


"tentu kami akan mendengarkan. saran mengenai apa itu, Kakek?"


"Sebaiknya Tuan dan Nyonya segera kembali ke Netherland," ucap si Kakek sambil berbisik.


Alis Cecilion terangkat sebelah. "memangnya ada apa, Kakek?"


"Saya dengar, penjajah baru dari Timur sudah mulai datang. Saya harap Tuan dan Nyonya segera bisa menyelamatkan diri."


"Apa?!"


...****************...

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan cuaca tadi siang, malam ini hujan turun dengan begitu derasnya bersahut-sahutan bersama suara gemuruh lantang dari sang guntur.


Hujannya sangat deras, meredam semua suara yang ada sehingga mereka hanya dapat mendengar suara hujan dari luar rumah.


Cecilion mendesah resah, menutup semua jendela dan pintu rumah mereka tanpa terkecuali.


Perasaan pria itu begitu was-was, teringat kepada ucapan Kakek penjual es limun yang ia temui tadi siang serta perkataan dari salah seorang kolega bisnisnya tadi sore.


"Kamu kenapa, sayang? Mengapa wajahmu nampak begitu khawatir?" tanya Mawar ikut khawatir, mengamati perilaku suaminya yang kini nampak seperti orang ketakutan.


"Aku dengar orang-orang kerdil dari Timur telah tiba, istriku! Kita harus sembunyi, kudengar mereka telah membantai banyak sekali orang di pulau Jawa!" papar Cecilion sambil menutup tirai jendela rumahnya.


Mawar jelas terkejut mendengar perkataan dari sang suami, terlebih desas-desus inilah yang hampir satu pekan penuh telah di dengar oleh Mawar dari berbagai sumber, mulai dari para tetangga hingga dari para bangsawan kolega.


Ini gawat, secepatnya mereka harus pergi dari negeri ini demi keselamatan mereka.


"Jadi kita harus bagaimana, suamiku?" tanya Mawar harap-harap cemas, buntu akal harus bagaimana dalam keadaan mencekam seperti saat ini.


"Kita tidak punya pilihan lain selain mencari tempat bersembunyi dan berlindung. Jika kita pergi ke Netherland pun mereka pasti akan tahu dan menangkap kita sebelum berhasil pergi," balas Cecilion.


Pria itu hanya mengkhawatirkan keselamatan istri dan calon buah hatinya saat ini.


Orang-orang kerdil dari Timur itu sangat keji, membantai para korban tanpa ampun bagaikan iblis penghantar maut, membuat Cecilion merinding tatkala mendengar ceritanya dari sang kolega.


Mawar menghela napasnya panjang, sama khawatirnya dengan sang suami.


"Jika aku pergi bekerja, tutuplah semua pintu dan jendela. Jangan pernah keluar dari rumah, kalau pun ada keperluan di luar minta tolong saja kepada para Babu. Mengerti?" perintah Cecilion mutlak yang hanya bisa dibalas dengan anggukan oleh Mawar.


Cecilion kemudian mematikan lampu ruang tamu rumahnya, merangkul bahu Mawar untuk mengajaknya lekas beristirahat di kamar mereka walau kini perasaannya sangat tidak tenang.


Rasa khawatir serta takut kini menjadi satu dalam benaknya terlebih saat ini tak banyak hal yang dapat Cecilion lakukan untuk melindungi dirinya dan keluarga kecilnya tersebut.

__ADS_1


Kalau sudah begini, Cecilion hanya bisa berdoa seraya mencari tempat persembunyian sempurna agar anak dan istrinya itu bisa tetap selamat.


Dalam diamnya, Cecilion memanjatkan doa berusaha merayu sang Maha Kuasa agar mau menyelamatkan keluarganya dari kengerian ini.


__ADS_2