
Mawar melangkahkan kakinya terburu-buru menuju kamarnya tidak mempedulikan apa yang kini sedang Papanya pikirkan tentang dirinya.
Yang jelas kini Mawar merasa sangat kecewa setelah mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Papanya.
"Kenapa Papa begitu egois?" lirih Mawar sambil duduk di sudut ranjangnya.
Itu merupakan salah satu tempat favoritnya saat sedang merasa sedih atau stress.
Hanya di kamar inilah Mawar bisa sepenuhnya menjadi dirinya sendiri tanpa perlu bersusah payah untuk menahan segala gejolak emosi di dalam hatinya.
Tak banyak yang bisa diungkapkan oleh Mawar dengan kata-kata, ia hanya duduk dengan kepala tertunduk seraya menangis bahkan hingga bahu sempit miliknya bergetar samar memperjelas betapa dalam rasa kecewa yang kini dia rasakan.
Mawar hanya mencintai Cecilion seorang, kenapa ia harus menikah dengan laki-laki asing yang bahkan belum dia kenal itu?
Apa tidak ada pilihan lain yang bisa Mawar lakukan seolah-olah ini adalah pilihan terakhir yang harus ia lakukan untuk Papanya?
Rasa kecewa yang mendalam itu mendorong Mawar untuk tetap diam, menikmati tangisnya hingga mengabaikan panggilan dari orang-orang di depan pintu kamarnya termasuk sang Mama.
Hari minggu yang seharusnya menyenangkan itu menjadi hari yang sangat kelabu bagi Mawar, membuat gadis itu enggan melakukan apa pun kecuali meratapi nasibnya yang selalu berada di posisi yang tidak menguntungkan itu.
Sejak kecil Mawar kerap menjadi korban perbuatan diskriminatif dari teman-temannya di sekolah yang tentunya menyakiti hati gadis malang itu namun tak banyak yang Mawar bisa lakukan.
Mawar yang cantik namun malang itu hanya bisa diam, tak membalas perbuatan teman-teman sebayanya yang terkadang sangat menyakitkan itu.
Ada yang mengolok-olok Mawar dengan kata-kata menyakitkan hanya karena Mamanya adalah seorang pribumi, ada pula yang sampai bertindak mengerikan hingga berani menyerang fisik Mawar secara langsung karena rasa iri mereka kepada Mawar yang selalu berhasil mencuri perhatian para kaum adam sebab kecantikan miliknya.
Mawar yang malang harus tumbuh dengan lingkungan sekolah tidak sehat seperti itu hingga gadis itu jadi tak banyak menampilkan emosinya karena sudah terbiasa menahan setiap emosi yang ia rasakan meski itu sangat menyakitkan lagi melelahkan. Dibalik kecantikannya yang paripurna, Mawar harus menghadapi semuanya seorang diri.
"Apa yang harus aku lakukan, Cecilion?" rintih Mawar ditengah tangisnya yang sangat memilukan itu, tangis yang selama ini ia tahan diam-diam.
"Mawar, ayo makan dulu... Jangan begitu nanti kamu malah sakit, Nak," bujuk Nyonya De Haas sambil menempelkan keningnya di daun pintu kamar Mawar.
Namun hal itu tetap saja tidak mengubah pendirian Mawar, ia tetap saja tak bergeming menikmati tangisnya tak peduli sudah berapa banyak kalimat bujukan yang telah dilontarkan oleh sang Mama.
__ADS_1
Mawar yang sudah terlanjur kecewa itu lalu bangkit dari duduknya, menghapus jejak air matanya dengan kasar menggunakan kedua punggung tangannya.
Gadis itu lalu merunduk, mengeluarkan sebuah tas besar yang selama ini ia simpan dengan rapi di bawah ranjangnya.
"Apa iya aku harus melakukannya dalam waktu dekat?"
...****************...
"Dasar anak sial!"
Satu lagi teriakan kasar menyapa indera pendengaran Cecilion, berbarengan dengan sebuah tamparan keras yang dilayangkan oleh sang Papa.
Cecilion tetap mematung di tempatnya, memandang nyalang kepada lelaki yang selama ini ia hormati itu membiarkan rasa sakit bercampur dengan panas itu menjalari pipi kanannya yang mulus hingga menimbulkan jejak kemerahan yang sangat kentara.
"Kalau aku adalah anak sial lalu apa dirimu itu, Papa? Berani-beraninya Papa membawa wanita hina itu ke rumah kita!" teriak Cecilion yang sudah tak mampu menahan emosinya.
Cukup sudah. Ini semua sudah keterlaluan!
Di belakang tubuh Cecilion ada sang Mama yang sedang menangis tersedu-sedu, tak mampu menerima kenyataan bahwa suaminya sudah semakin keterlaluan hingga berani membawa wanita simpanannya ke dalam rumah keluarga mereka.
Hati wanita mana yang tidak akan tercabik-cabik melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain di depan matanya sendiri, apalagi di dalam rumahnya sendiri? Suzanne van der Linen sudah tidak sanggup lagi, ia sudah tak kuat lagi menahan luka yang selama ini terus ditorehkan oleh suaminya.
"Oh, sekarang kau sudah berani melawan Papamu sendiri? bagus! itu pasti adalah hasil didikan dari wanita yang tidak tahu diri ini!" pekik Tuan Van Der Linen marah, menunjuk ke arah istrinya sendiri.
Cecilion menarik kerah baju sang Papa.
"Kenapa Papa selalu menyalahkan Mama atas segala hal yang terjadi, hah?! Mengapa Papa tidak pernah berkaca dan memperbaiki setiap masalah yang Papa timbulkan sendiri?!"
"Sudahlah, Lio. Kita lebih baik pergi saja dari rumah terkutuk ini," ucap sang Mama lirih dengan napasnya yang bahkan kini tersengal, berusaha menenangkan emosi Cecilion yang sudah sampai ke ubun-ubun itu.
"Tapi aku harus membuat Papa sadar, Ma! Apa yang dia lakukan itu salah mana mungkin aku tinggal diam?" balas Cecilion tak terima.
"Percuma saja, anakku. Mau sekeras apa pun kita berusaha kalau niat untuk berubah tidak bersumber dari hatinya sendiri maka semuanya akan tetap sia-sia," imbuh Nyonya Van Der Linen seraya menarik pergelangan tangan putra semata wayangnya itu agar melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Papanya sendiri.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang Mama yang terdengar begitu memohon, Cecilion memutuskan untuk mengalah dan melepaskan kerah baju Papanya yang ia genggam dengan erat hingga nyaris sobek itu.
"Baiklah, selamat menikmati harta hasil korupsi dari Papaku, Nyonya yang tidak tahu diri," tekan Cecilion dengan senyuman meremehkan kepada wanita selingkuhan sang Papa yang anehnya malah ikut menangis dengan dramatis.
Cecilion tak memiliki pilihan lain selain pergi dari rumah itu bersama sang Mama.
Ia tentu saja tidak mau terus hidup seperti itu, tertekan karena orang tuanya memiliki rumah tangga yang sangat berantakan.
"Aku akan segera mengurus perceraian kita, selamat tinggal," ucap Nyonya Van Der Linen tegas, bertekad untuk melepaskan diri selamanya dari sang suami yang selama ini bahkan tak pernah memberikan ia setitik pun kebahagiaan itu.
"Kau pikir aku akan melepaskan dirimu begitu saja?" tantang Tuan Van Der Linen.
"Kenapa tidak? Aku bisa dengan mudah menggugat dirimu di Netherland atas semua yang sudah kau lakukan padaku sejak dulu," balas Nyonya Van Der.
"Ayo, Cecilion. Kita harus pergi sebelum kita terkena sial seperti dirinya," pungkas Nyonya Van Der Linen sambil menarik lembut tangan kokoh milik Cecilion untuk keluar dari rumah itu.
Dengan berat hati Cecilion melangkah meninggalkan rumah itu, mengikuti langkah sang Mama demi kebaikan bersama.
Sebagai laki-laki, Cecilion merasa apa yang dilakukan oleh Papanya sangatlah keji dan tak pantas untuk dimaafkan.
Dia jadi tak habis pikir bagaimana bisa Mamanya bertahan hidup dalam rumah tangga yang kacau seperti itu.
"Lio, maafkan Mama karena kamu harus terlahir dalam keluarga yang sangat kacau ini," lirih sang Mama dengan pandangan penuh sesal membuat hati Cecilion terasa semakin sakit.
Cecilion menggeleng. "itu bukan salah Mama, aku juga tidak bisa memilih di keluarga mana aku dilahirkan."
Wanita paruh baya itu lantas memeluk putra semata wayangnya itu dengan erat, merasa begitu menyesal karena sudah melewatkan terlalu banyak momen berharga yang seharusnya ia habiskan bersama anak tampannya ini.
"Berjanjilah pada Mama bahwa kelak kamu akan memperlakukan istrimu dengan baik, Cecilion van der Linen," pinta sang Mama sambil menatap lamat-lamat wajah tampan anaknya itu.
"Aku berjanji atas nama Tuhan, Mama. Aku tidak akan menyakiti istri dan anakku kelak jika aku sudah mendapatkannya."
Meski mengucapkannya dengan penuh kesungguhan, Cecilion tetap saja merasa ada yang mengganjal di dalam lubuk hatinya.
__ADS_1