
"Ya, baiklah, aku sudah selesai. Terima kasih Papa dan Mama atas makan malamnya yang lezat," pungkas Cecilion tiba-tiba setelah merasa nafsu makannya lenyap entah kemana.
Ia jadi semakin pusing setelah menyadari bahwa hubungan antara Tuan De Haas dengan Papanya itu lebih rumit dari perkiraannya.
Kedua belah pihak sama-sama enggan untuk saling menghubungi lebih dulu membuat Cecilion semakin kepikiran apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua kepala keluarga itu.
Cecilion bangkit dari duduknya dengan pikiran kacau, mengabaikan panggilan sang Mama dan memilih untuk langsung masuk ke kamarnya.
Kondisi keluarganya pun tak menunjukkan bahwa ada kemungkinan kebahagiaan yang akan datang membuat Cecilion kian terpuruk.
"Lihat? Semua perbuatanmu membuat aku semakin jauh dengan putraku!" Nyonya Van Der Linen berseru marah, menuding tajam kepada suaminya yang tetap melanjutkan makannya walau air mukanya muram.
"Harusnya kau juga menyadari mengapa kita jadi harus menjalani pernikahan yang tidak menyenangkan ini," desis Tuan Van Der Linen, meneguk minumannya kemudian.
"Kau tetap saja egois tak peduli berapa usiamu saat ini, Christopher!"
"Padahal sejak awal aku sudah bilang tidak mau menikah, tapi kenapa orang tuamu terus memaksakan pernikahan ini? Mereka memang sangat egois," imbuh Tuan Van Der Linen dengan senyuman merendahkan sambil berlalu meninggalkan istrinya.
"Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!"
"Apa pun yang kau katakan sekarang, aku sungguh tidak akan peduli, Suzanne."
Air mata menggenangi kedua pelupuk mata milik Suzanne, sang Nyonya Van Der Linen.
Penyesalan nampak tergambar jelas dari sepasang netra cantik berwarna hazel itu, ia merasa begitu menyesal karena telah mengambil keputusan sangat gegabah untuk menikah dengan Christopher van der Linen kala itu --atau lebih tepatnya, menyesali kebodohannya sendiri karena mau menyerahkan kesuciannya sebelum mereka resmi menikah.
Akibat kebodohannya sendiri itulah ia jadi berbadan dua diluar nikah, membuat orang tuanya mau tak mau harus memaksa orang tua Christopher untuk menikahi Suzanne yang sudah terlanjur hamil itu. Tak disangka oleh Suzanne bahwa pernikahannya akan berjalan dengan sangat menyakitkan seperti ini meski keluarga mereka memiliki harta berlimpah dan seorang putra yang luar biasa tampan.
__ADS_1
Hancur sudah hati sang Nyonya.
Ia sudah melakukan berbagai macam cara agar tetap dapat mempertahankan pernikahannya namun tetap saja tak ada perubahan berarti yang terjadi di dalam biduk rumah tangga mereka.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Bibi Odah, kepala Babu di kediaman keluarga Van Der Linen.
Buru-buru Nyonya Van Der Linen menyeka air mata yang membasahi kedua belah pipinya menggunakan punggung tangan, berusaha tetap terlihat setegar karang menghadapi realita hidupnya yang kian memilukan itu.
"Aku tidak apa-apa. Tolong bereskan semuanya aku akan langsung istirahat," ucap Nyonya Van Der Linen tegas meski suaranya tetap menghantarkan getaran kesedihan.
"Baik, Nyonya. Selamat beristirahat, kalau butuh apa-apa Nyonya bisa panggil saya," balas Bibi Odah santun seperti biasanya.
Nyonya Van Der Linen lantas berlalu begitu saja, terlalu banyak hal sudah mengganggu pikiran wanita malang itu sehingga ia kerap kali kehilangan fokus. Semua Babu dan Jongos di rumah itu tahu bahwa rumah tangga Tuan dan Nyonya mereka sedang berada diujung tanduk, namun mereka memilih untuk tidak ikut campur mengingat sikap pasangan suami istri itu yang memang sama dinginnya.
"Kenapa lagi, Bi?" tanya seorang Babu muda seraya menumpuk piring-piring kotor di atas nampan yang ia bawa.
"Saya sejujurnya kasihan melihat Nyonya yang selalu diperlakukan kasar dan dingin," timpal salah seorang Jongos yang baru saja datang, bermaksud mengambil air minum dengan cangkir kaleng di tangannya.
"Pernikahan mereka juga dari awal bukanlah hal yang didasari oleh cinta, setahuku, mereka dulu bertemu secara tidak sengaja dan melakukan cinta satu malam tapi karena mereka sama-sama ceroboh akhirnya Nyonya malah hamil," tutur sang Babu muda.
"Huh! Dari mana kamu tahu hal seperti itu?" tanya Bibi Odah dengan suara berbisik.
"Saya tahu dari Babu keluarga Van Doornik, keluarga Van Doornik 'kan dulu bertetangga dengan orang tua Nyonya," balas Babu muda itu tanpa keraguan meski tangannya sibuk memungut piring dan gelas kotor dari atas meja makan.
"Lalu, mereka menikah karena Nyonya sudah terlanjur hamil?" tanya sang Jongos.
"Ya. Maka bukanlah hal yang mengejutkan kalau melihat rumah tangga mereka yang sangat jauh dari kata harmonis ini. Menyedihkan, tenyata aku hanyalah anak hasil dari cinta satu malam," Cecilion tiba-tiba menyela, membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan membeku di tempatnya masing-masing.
__ADS_1
Wajah tiga orang kacung itu nampak pucat pasi seperti mayat, membuat Cecilion hanya bisa tersenyum tipis.
"Kenapa kalian diam? Ayo, ceritakan lebih banyak mengenai orang tuaku agar aku bisa tahu semuanya dari sumber yang berbeda," tantang Cecilion dengan air muka tenang khasnya.
Semua cerita yang ia tahu mengenai orang tuanya selama ini sangat berbanding terbalik dengan cerita dari para pelayan itu, membuat Cecilion jadi penasaran mana yang benar di antara keduanya.
Yang ia tahu, Papa dan Mamanya dulu menikah hanya karena mereka memang saling mencintai.
"Ampun, Tuan muda... Maafkan kami bertiga..." Bibi Odah, menunduk dalam-dalam di hadapan Cecilion diikuti oleh kedua bawahannya.
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa kepada kalian bertiga Justru aku malah sangat penasaran dengan cerita yang kalian bahas barusan," Cecilion berucap tenang, kedua tangannya bersedekap di depan dada bidangnya.
"Anda serius, Tuan muda?" tanya Bibi Odah memastikan sekali lagi.
"Aku tidak akan menjatuhkan hukuman kepada kalian jika kalian dapat membuktikan kebenaran dari perkataan kalian barusan," Cecilion menjawab dengan santai.
Keluarga Van Doornik yang tinggal tak jauh dari rumah mereka memang adalah tetangga lama dari Nyonya Van Der Linen jadi kemungkinan besar apa yang dikatakan oleh para pelayan itu benar.
Lagi pula, hamil diluar nikah memang merupakan sebuah aib besar yang harus ditutupi dengan rapat kala itu.
"Babu dari keluarga Van Doornik yang mengatakan semua itu, Tuan. Saya mendengar langsung bahwa Nyonya Van Doornik yang menceritakan hal itu kepada beberapa Babu yang bekerja di rumah mereka," terang si Babu muda dengan hati-hati.
"Kalau begitu katakan pada Nyonya Van Doornik kalau aku ingin bertemu dengannya secara langsung besok siang sepulang sekolah untuk memastikan kebenaran dari kata-kata yang dia sampaikan secara sembarang itu," balas Cecilion penuh minat, membuat tiga pelayan itu hanya bisa menelan ludah karena tegang dan terlalu takut.
"Tawaran itu hanya berlaku sekali, jika kalian bertiga tidak sanggup aku akan dengan senang hati menentukan hukuman untuk kalian," ancam Cecilion dengan seulas senyum dingin.
Tiga pelayan itu menelan ludah, namun akhirnya terpaksa mengangguk karena takut dihabisi oleh sang Tuan Muda.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Tuan Muda."