Mawar De Haas

Mawar De Haas
Bab 50 : Langkah Mawar


__ADS_3

Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya dimana Mawar sudah tampil dengan cantik mempesona, kini keadaan nampak jauh berbeda selaras dengan langit yang masih saja setia menjatuhkan rintik air hujan sejak kemarin.


Hujan tidak deras memang, tetapi mampu membuat tubuh ringkih Mawar menggigil.


Masih dengan wajah kuyu, pagi itu Mawar sudah nampak sibuk menggali tanah menggunakan cangkul guna menguburkan sendiri jenazah sang suami yang telah tak bernyawa sejak kemarin.


Walau tenaga wanita itu tidaklah banyak, namun akhirnya dia berhasil menggali lubang yang cukup dalam untuk memakamkan suaminya sendiri, sebuah kenyataan yang bahkan tak pernah terlintas dalam benak Mawar seumur hidupnya.


Air mata Mawar juga tak kunjung reda walau semalaman suntuk telah berlalu, dia terus menangisi kepergian sang suami terlebih dengan cara yang sangat menyakitkan seperti ini.


"Maafkan aku, suamiku sayang. Aku tidak bisa menguburkan jasadmu dengan lebih layak lagi," sesal Mawar setelah berhasil menurunkan jasad Cecilion dengan sangat hati-hati ke dalam lubang kubur.


Tidak hanya kepergian suaminya saja yang sangat melukai hatinya, melihat jasad Cecilion yang harus dikuburkan dengan cara seperti ini juga begitu menyakiti hati Mawar.


Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa kenyataan menyakitkan sekaligus menyedihkan ini harus menimpanya.


Mawar lalu memposisikan tangan Cecilion yang sudah kaku di atas dada bidangnya, tak lupa melilitkan kalung salib yang selama ini selalu digunakan oleh Mawar di antara jemari Cecilion.


Wanita muda itu memejamkan matanya sejenak, berdoa kepada Tuhan agar menempatkan suaminya di tempat yang terbaik.


"Selamat tinggal, Cecilion Van der Linen, suamiku. Semoga kita bisa kembali bertemu di surga setelah semua hal yang harus aku urus di dunia ini selesai," bisik Mawar di telinga kanan Cecilion, seperti yang biasa mereka lakukan semasa sang suami masih hidup.


Usai mengucapkan begitu banyak kata perpisahan, Mawar berusaha menguatkan hatinya seraya mulai menutupi jasad Cecilion dengan tanah meski air matanya kian deras mengalir.


Kenyataan ini terlalu menyakitkan, Mawar bahkan tidak yakin ia bisa bertahan lebih lama lagi setelah ini.


"Demi anak kita, aku harus kuat. Terima kasih sudah memilihku sebagai belahan jiwamu," tutup Mawar setelah selesai memakamkan suaminya.


Emosi Mawar begitu berkecamuk saat ini, begitu banyak perasaan yang bercampur aduk dalam hatinya kini. Namun, lagi-lagi ia tidak memiliki pilihan lain selain tetap bertahan.


Dengan kasar, Mawar menghapus jejak air matanya menggunakan punggung tangan.


"Sekarang sudah bukan saatnya bagiku untuk bersedih. Aku akan berjuang untuk balas membunuh tentara iblis itu setelah anak kita lahir," ucap Mawar tegas, lalu mulai melangkah meninggalkan makam Cecilion.

__ADS_1


Meski langkah Mawar nampak lunglai, namun ia tetap menguatkan dirinya untuk tetap melangkah karena gemuruh dendam sudah menguasai hatinya saat ini.


...****************...


Langkah demi langkah membawa Mawar hingga ia berhasil tiba di sebuah perkampungan lain, namun kali ini perkampungan itu masih nampak hidup.


Ada beberapa warga yang sedang sibuk bercengkrama satu sama lain, begitu hangat hingga membuat Mawar kembali teringat akan keluarganya yang kini entah bagaimana nasibnya.


"Permisi, Nyonya..." ucap Mawar lesu dengan sisa tenaga yang sudah nyaris habis.


Tubuh Mawar sudah benar-benar lemas, mengingat sudah dua hari ini dia sama sekali belum makan apa pun.


"Ya ampun! Bukankah Anda ini Nyonya Van der Linen?!" ucap salah seorang wanita paruh baya setelah menyadari keberadaan Mawar.


"Itu benar, Nyonya. Bolehkah saya meminta sedikit makanan? Saya rasa saya akan segera pingsan," kata Mawar lirih dengan suara yang bahkan sudah nyaris tidak terdengar.


Para wanita pribumi itu tentu saja merasa iba, mereka kemudian buru-buru membawa Mawar masuk ke salah satu rumah yang paling dekat dengan pintu masuk menuju desa mereka.


Rumah itu memang sederhana, dengan dinding kayu serta lantai tanah yang bahkan terasa tidak rata saat diinjak.


"Setidaknya makanlah ini, Nyonya. Maaf saya tidak memiliki makanan yang lezat," ucap wanita paruh baya sang pemilik rumah sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk ikan goreng kepada Mawar.


Sementara salah satu rekannya menaruh satu sebuah gelas dan cerek air di atas meja kayu di hadapan Mawar.


"Terima kasih, Nyonya," balas Mawar dengan air mata yang kembali merembes di kedua pelupuk matanya.


"Panggil saja kami Ibu, Nyonya. Kami sangat berterima kasih karena selama bertahun-tahun Anda dan Tuan sudah mau memberikan kami pekerjaan layak dengan gaji yang tinggi juga," sahut wanita yang paling tua seraya menuangkan air minum ke dalam gelas untuk Mawar.


"Tetapi, kemana Tuan Van der Linen, Nyonya?"


Sungguh, Mawar tidak menyangka bahwa tetap akan ada manusia yang sudi memperlakukan dirinya dengan sebaik ini.


Tangis Mawar kembali pecah, hatinya bagai ditusuk oleh ribuan belati setelah teringat kembali pada Cecilion sang suami.

__ADS_1


"Makanlah setidaknya sedikit saja, Nyonya. Kasihanilah bayi Anda," bujuk wanita paruh baya lainnya.


Tiga wanita paruh baya itu tentu saja merasa kasian melihat Mawar, seorang wanita yang sedang hamil tua yang beberapa waktu yang lalu masih berstatus sebagai Nyonya mereka.


Ketiganya memang pernah bekerja di perkebunan milik Cecilion dan Mawar dalam waktu yang lama, tentu saja mereka semua mengenal pasangan suami istri Van der Linen dengan baik.


Mawar hanya mengangguk, mencoba untuk makan meski ia sudah benar-benar tidak memiliki sedikit pun selera untuk makan.


Air mata masih membasahi kedua belah pipinya, namun Mawar tetap meneruskan makannya hingga perutnya yang sudah terasa sangat perih itu terisi.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Saritem, ini adik-adik saya Suti dan Susi mereka berdua kembar, Nyonya," ucap Ibu Saritem dengan seulas senyum hangat.


"Panggil saja saya Mawar, Ibu. Tidak perlu menyebut saya Nyonya," ucap Mawar santun seperti biasanya walau suaranya sudah menjadi sangat pelan.


Ketiga wanita sepuh itu mengangguk patuh, lalu sang sulung kembali bertanya.


"Lalu, bagaimana bisa Anda sampai kemari?"


"Palembang sudah disergap oleh tentara Nippon di seluruh wilayahnya. Mereka bahkan sudah melenyapkan suamiku," tutur Mawar pilu, luka di hatinya yang masih begitu basah itu kembali menganga lebar.


Semua orang yang mendengar ucapan Mawar kontan terkejut, mereka semua tidak menyangka bahwa sang Tuan kini telah tiada dan meninggalkan istrinya yang tengah hamil tua ini.


"Saya sampai kemari karena terus berjalan tanpa tujuan, Ibu... Saya baru saja kehilangan suami saya dan menguburkan jasadnya sendirian," tutur Mawar dengan air mata yang kembali bercucuran.


Kini, ketiga wanita itu tahu mengapa kini Mawar nampak sangat kacau dan berantakan.


Pakaian dan riasan yang biasanya selalu melengkapi kecantikan Mawar kini tak terlihat, mereka hanya melihat Mawar dengan gaun lusuh yang sudah sangat kotor dengan noda darah dan tanah.


"Kalau begitu Nyonya bisa tinggal bersama kami di sini. Jangan sungkan-sungkan, lagi pula Nyonya akan segera melahirkan jadi tetaplah di sini."


"Apa saya tidak membebani kalian?" tanya Mawar sangsi.


"Sama sekali tidak, Nyonya. Kami harap Nyonya mau tinggal di sini setidaknya sampai Nyonya sudah melahirkan nanti."

__ADS_1


Mawar menyeka air matanya, tak kuasa menahan haru. "terima kasih banyak, Ibu... Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan kalian semua."


"Bukan masalah besar, Nyonya. Anda dan suami sudah banyak sekali berbuat kebaikan kepada kami semua jadi tidak perlu merasa sungkan begitu," balas Saritem seraya memberikan selembar kain kepada Mawar.


__ADS_2