
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part11
Aku dibonceng Bapak, sedangkan Marisa digendong mamah, naik motor Mang Jael. Aku duduk menyamping dengan paha rapat. Korset yang dipakaikan Mamah tadi cukup ampuh menahan bagian perut sampai panggulku hingga tidak terlalu sakit saat melewati jalan rusak dan berlubang.
Beberapa kali kami berhenti untuk istirahat. Duduk menyamping dalam waktu yang lama sungguh perjuangan yang luar biasa. "Sabar ya, Ning. Nanti di rumah, Mamah panggilkan Yayu buat ngurut kamu," ucap Mamah saat aku duduk meluruskan kaki di teras masjid.
"Yayu memang bisa ngurut, Mah?"
"Bisa. Sekarang dia yang biasa ngurut orang lahiran, Mak Nah kan sudah gak kuat."
Yayu adalah teman sekelasku waktu SD dulu, dia perempuan yang cantik dan sederhana. Dengannya aku dulu bercerita tentang cita-citaku untuk sekolah di kota, bekerja dan menikah dengan laki-laki kaya. Keinginan untuk memperbaiki nasib itulah yang membuat aku dan Yayu terpisah cukup lama. Ah, entah apa yang dikatakan Yayu nanti, saat melihatku seperti ini.
Bapak dan Mang Jael telah selesai shalat Asar, kami bersiap melanjutkan perjalanan takut kemalaman di jalan. Aku melepaskan Marisa dari pangkuan, kembali memberikannya pada Mamah.
Tiba di terminal Cimuncang, Bapak memperingatkanku untuk memperbaiki posisi duduk, dari sini ke rumah jalannya belum diaspal, hanya dilapisi batu krikil yang sebagian sudah terangkat dari tanah membuat lubang-lubang besar di tengah jalan. Beruntung hari ini tidak hujan sehingga jalan koral ini tak licin saat dilalui ban sepeda motor Bapak yang mulai gundul.
Sepanjang jalan pikiranku melayang ke masa beberapa tahun yang lalu saat Bapak mengantarkan aku untuk melanjutkan sekolah ke kota. Begitu besar harapan Bapak padaku, anak sulungnya. Tapi, semua bagaikan jauh panggang dari api, kini aku pulang dengan kekalahan. Bukan sebagai Ayuning yang membanggakan keluarga tapi pulang dengan rasa sakit lahir batin.
Lembayung senja telah nyata menutupi langit dengan warna keemasan, saat aku tiba di rumah Mamah, rumah masa kecilku yang tak banyak berubah. Berdinding bilik dengan atap genting yang menghitam. Aku meraup udara sepuasnya, mengisi organ pernapasanku yang sepanjang jalan tadi terasa sesak.
__ADS_1
"Kak, Ning!" Wening berseru dan menghambur ke pelukanku. Aku membalas pelukannya lebih erat.
"Biarkan Kakakmu masuk dulu De, jangan diganggu," usul Mamah.
Wening adikku mencebik, dia beralih pada Marisa digendongan Mamah.
"Masya Allah ... Marisa cantik sekali, percis banget bibinya," seloroh Wening percaya diri membuat semua tersenyum. Aku mencubit pinggang Wening, sambil berbisik di telinganya. "Narsisss teruuusss!" Wening cemberut pipinya menggelembung lucu.
Mamah seakan tak kenal lelah, perjalan jauh tidak membuatnya ingin beristirahat, selesai shalat Maghrib Mamah menyiapkan makanan untuk makan malam. Nasi hangat satu bakul, ayam kampung dengan bumbu serundeng, sayur daun labu dengan kuah santan membuat makan malam itu begitu istimewa. Rasanya telah lama sekali aku tak makan senikmat ini.
Aku menempati kamar Wening, membuat dia terpaksa tidur beralaskan kasur lantai yang tipis karena tempat tidurnya hanya bisa memuat aku dan Marisa. Aku merasa tentram, berada di tengah-tengah keluarga yang tulus menyayangiku, tapi tiba-tiba aku teringat Bang Rafi, saat ini pasti dia telah tiba di rumah Ibu.
"De, ada pesan atau panggilan dari Abangmu, gak?" Aku meminta Wening memeriksa ponselnya. Pesanku pasti telah dibaca Bang Rafi, tadi aku menuliskan nomor Wening agar dia mudah menghubungiku.
"Nggak ada, Kak."
"Oh...." Aku hanya menjawab sekilas, menyembunyikan rasa kecewa yang menggores hati.
'Mungkin Bang Rafi cape dan langsung tidur, dia belum sempat membaca pesanku,' pikirku, mencoba berprasangka baik, memutuskan untuk merapatkan selimut dan tidur.
Baru beberapa menit mataku terpejam, Marisa bangun dan menangis, diberi ASI pun tak bisa meredakan tangisnya. Mungkin ia tak enak badan karena telah melakukan perjalanan jauh. Beruntung malam ini aku tak sendirian. Mamah pindah ke kamar Wening, mengurut seluruh tubuh Marisa dengan minyak kelapa asli, putri kecilku pun akhirnya tidur nyenyak, begitu juga aku.
__ADS_1
Pagi hari Mamah telah menyiapkan air hangat untuk mandi Marisa, aku hanya diminta jadi penonton, tak boleh melakukan pekerjaan apapun. Wening berbaik hati untuk mencucikan pakaianku dan Marisa sebelum dia berangkat sekolah, adikku itu masih duduk di kelas delapan.
Aku kembali teringat Bang Rafi, mengambil ponsel Wening dan berharap ada kabar dari Bang Rafi, tapi lagi-lagi aku harus menelan rasa kecewa.
Aku menekan nomor Bang Rafi yang telah ku hapal di luar kepala. Hanya nada sambung pribadi dari ponselnya yang ku dengar, Bang Rafi tak mengangkat teleponnya. Aku mencoba lagi hingga beberapa kali.
"Halo...." Terdengar suara yang tak asing di telingaku, itu suara Ibu.
Aku langsung memutuskan sambungan telepon. Belum berani bicara dengan Ibu.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari nomor Bang Rafi.
[Ini kamu Ayuning kan?]
Aku hendak mengetik balasan, tapi pesan dari Ibu berikutnya telah muncul di layar.
[Gak usah telpon-telpon ke sini lagi! Kamu yang pergi dari sini, itu artinya kamu sudah memutuskan hubungan dengan anak saya]
Aku tersentak, kenapa masalahnya menjadi serumit ini....
__ADS_1